Mengapa Musa mengizinkan perceraian?

Hari Minggu ke-27 dalam Masa Biasa [B]
6 Oktober 2024
Markus 10:2-16

Orang-orang Farisi sekali lagi menguji Yesus. Kali ini, mereka mengajukan pertanyaan tentang perceraian. Namun, Yesus melakukan sesuatu yang tidak terduga. Dia ‘mengubah’ hukum perceraian. Mengapa Yesus “menghapus” hukum perceraian?

Yesus menjawab para Farisi dengan menanyakan dasar dari hukum perceraian ini. Orang-orang Farisi menunjuk Musa sebagai sumber hukum karena dia mengizinkan perceraian selama sang suami memberikan surat cerai kepada istri (lihat Ul. 24:1). Kemudian, Yesus membalas, “Karena kekerasan hatimu, maka Ia menuliskan perintah ini kepadamu. Tetapi sejak awal penciptaan, ‘Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan’.” (Mar 10:5-6) Yesus menegaskan bahwa perceraian bukanlah kehendak Allah, tetapi Musa terpaksa mengizinkannya karena “kekerasan hati” bangsa Israel. Namun, apakah kekerasan hati ini?

Kita perlu tahu bahwa bangsa Israel pada zaman Musa sangat terbiasa dengan praktik-praktik hidup Mesir kuno, termasuk perceraian. Di Mesir kuno, pernikahan pada dasarnya adalah acara pribadi, bukan agama. Pasangan itu sendiri yang mengatur pernikahan. Mereka akan menceraikan pasangan mereka jika mereka tidak lagi melihat pernikahan mereka menguntungkan. Tapi perceraian bukanlah satu-satunya solusi. Jika seorang pria merasa istri pertamanya tidak lagi menarik, ia dapat menikahi istri yang lain tanpa harus menceraikan istri pertamanya.

Ketika Tuhan membebaskan bangsa Israel dari Mesir, Tuhan memperkenalkan kembali kehendak-Nya bahwa pernikahan itu kudus dan merupakan bagian dari rencana Tuhan bagi pria dan wanita. Pernikahan tidak hanya didorong oleh faktor biologis atau budaya, tetapi juga didirikan oleh Allah sendiri. Oleh karena itu, Allah menetapkan bahwa pernikahan haruslah monogami dan tidak dapat diceraikan. Namun, memperkenalkan rencana awal Allah kepada bangsa Israel kuno terbukti sulit. Memang, bangsa Israel secara fisik telah dibebaskan dari Mesir, tetapi mentalitas mereka tetap diperbudak. Orang Israel mungkin dapat menerima pernikahan monogami, tetapi menambahkan persyaratan lain, yaitu ‘tidak boleh bercerai’ terlalu berlebihan dan terlalu cepat bagi mereka. Musa tahu bahwa jika dipaksakan, bangsa Israel akan melakukan lebih banyak pemberontakan, dan bahkan para pria akan membunuh istri mereka untuk menyingkirkan mereka. Oleh karena itu, Musa mentolerir perceraian selama hak-hak para wanita terlindungi melalui surat cerai.

Sekarang, ratusan tahun setelah Musa, Tuhan menganggap bahwa waktunya telah tiba untuk membawa kehendak asli Tuhan ke dalam pernikahan. Oleh karena itu, Yesus datang bukan untuk ‘mengubah’ hukum perceraian, melainkan untuk memperkenalkan kembali kehendak Allah yang asli. Selain itu, Yesus juga membawa Roh Kudus untuk menciptakan kembali hati manusia, dari hati batu menjadi hati yang lembut. Sekarang, pilihan ada di tangan kita. Akankah kita mengikuti kehendak Tuhan dalam hidup dan pernikahan kita dengan mengandalkan kasih karunia-Nya, atau sebaliknya, akankah kita menjadi keras kepala dan mengikuti rancangan kita sendiri?

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan untuk refleksi
Apakah kita berhati keras dan menolak kehendak Allah dalam hidup kita? Bagaimana kita memahami pernikahan? Apakah pernikahan merupakan kebutuhan biologis, konvensi sosial, atau sesuatu yang dilembagakan secara ilahi? Bagaimana perasaan kita tentang pernikahan? Apakah itu sebuah beban, kewajiban, atau berkat? Apa yang ingin kita capai dalam pernikahan? Apakah kesenangan, kesejahteraan, kenyamanan, atau kekudusan? Apa yang kita lakukan ketika kita menghadapi kesulitan dalam pernikahan? Apakah kita melihat pernikahan tanpa perceraian sebagai sebuah kutukan atau jalan menuju surga?

Dosa dan Kasih Allah

Minggu ke-26 dalam Masa Biasa

29 September 2024

Markus 9:38-48

Beberapa orang tidak suka berbicara tentang dosa. Beberapa orang berpikir bahwa dosa tidak lagi relevan di dunia modern. Konsep ini merupakan pembatasan terhadap kebebasan dan kreativitas manusia. Sebagian orang lainnya melihatnya sebagai karangan Gereja untuk mengendalikan umatnya, terutama melalui rasa takut. Mereka yang berdosa akan dihukum di neraka! Yang lain menganggap bahwa berbicara tentang dosa tidak sesuai dengan Allah, yang adalah kasih. Bagi beberapa imam dan pengkhotbah, topik ini bahkan menjadi tabu untuk diwartakan. Namun, ini semua adalah kesalahpahaman. Pemahaman yang benar tentang dosa akan membawa kita pada penghargaan lebih penuh akan kasih Allah. Lalu bagaimana kita harus memahami konsep dosa?

Pertama, pemahaman dasar tentang dosa adalah pelanggaran terhadap hukum Allah, dan Allah membuat hukum-Nya bukan untuk membatasi kebebasan kita, tetapi justru sebaliknya. Hukum-hukum itu dibuat untuk melindungi kita dari bahaya, ancaman, dan bencana. Ini adalah tanda kasih Allah. Setiap pelanggaran terhadap hukum Allah membawa konsekuensi yang menghancurkan. Itu menghancurkan diri kita sendiri, orang lain, dan dunia. Aborsi membunuh bayi-bayi tak berdosa, menghancurkan panggilan kudus menjadi seorang ibu, dan memperlakukan tubuh perempuan yang suci sebagai alat belaka. Pornografi dan masturbasi tampaknya tidak terlalu menjadi masalah karena merupakan sesuatu yang ‘pribadi’. Tapi masturbasi menyebabkan masalah kesehatan mental karena kita semakin membutuhkan lebih banyak hormon dopamin (hormon kesenangan) untuk memuaskan kita. Kita tidak lagi bisa puas dengan hal-hal yang biasanya memuaskan kita, dan kita menjadi ketagihan. Sekali lagi, hal ini menyebabkan kita melihat tubuh kita dan orang lain hanya sebagai alat untuk memberikan kesenangan. Dengan mengikuti hukum-hukum Tuhan, kita tidak hanya menghindari bahaya dalam hidup kita tetapi juga berjalan di jalan kebahagiaan sejati.

Kedua, dosa adalah kontradiksi dari kasih Allah. Allah itu kasih, dan Dia mengasihi kita melebihi apa yang dapat kita bayangkan. Sebagai sang Kekasih Ilahi, Dia menghendaki hal-hal yang terbaik terjadi pada kita, dan Dia menghendaki kita untuk bersatu dengan-Nya sebagai satu-satunya yang dapat memuaskan hasrat kita yang tak terbatas. Namun, cinta sejati tidak memaksa dan memberikan kebebasan untuk memilih dan mengasihi Dia. Robot dapat mematuhi semua perintah kita, tetapi tidak ada kasih karena robot tidak memiliki kebebasan. Seekor anjing Labrador dapat mematuhi kita dan memberikan pelukan penuh emosi, tetapi ini bukanlah cinta sejati, melainkan insting seekor anjing untuk melekat pada pemiliknya untuk bertahan hidup. Kita memiliki kebebasan sejati. Sayangnya, kita menyalahgunakan kebebasan kita untuk memilih sesuatu yang lebih rendah dari Allah dan, dengan demikian, melanggar hukum-Nya. Oleh karena itu, dosa adalah pilihan radikal untuk berpaling dari Tuhan. Neraka bukanlah hukuman Allah, melainkan keputusan kita untuk terpisah dari Allah, kebahagiaan sejati kita.

Oleh karena itu, ketika membaca Injil, kita segera menyadari bahwa jika ada satu hal yang paling dibenci oleh Yesus, itu adalah dosa. Dia tahu betul apa itu dosa dan apa akibatnya bagi kita manusia. Adam dan Hawa berdosa, dan mereka membawa seluruh umat manusia ke dalam spiral kegilaan dan keputusasaan. Yesus datang ke dunia ini untuk menawarkan pengampunan dosa dan menunjukkan kasih Allah di kayu salib sehingga kita dapat tergerak untuk bertobat. Yesus mengasihi dan dekat dengan orang-orang berdosa karena Dia menghendaki mereka untuk menerima pengampunan Allah.

Oleh karena itu, mewartakan tentang dosa dan pertobatan serta berdoa bagi orang-orang berdosa adalah turut ambil bagian dalam misi Yesus dan kasih Allah. Namun, jika kita menghindar dari memberitakan pertobatan dan bahkan mempromosikan konsep yang salah tentang dosa, kita mungkin pantas untuk dilempar ke laut dengan batu kilangan.”

Surabaya

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan untuk refleksi:

Bagaimana kita memahami konsep dosa? Apakah kita berbicara tentang dosa dan pertobatan, atau apakah kita berusaha menghindarinya? Apakah kita terus mengevaluasi dan mengoreksi diri kita sendiri? Apakah kita sering mengunjungi sakramen pengakuan dosa? Apakah kita mengundang orang lain untuk merefleksikan kasih dan pertobatan Allah?

Keagungan yang Sejati

Minggu ke-25 dalam Masa Biasa [B]

22 September 2024

Markus 9:30-37

Pertanyaan tentang menjadi besar atau agung adalah pertanyaan yang paling sering muncul di benak para murid dan juga di benak kita. Apakah yang dimaksud dengan menjadi besar? Apakah kebesaran yang sesungguhnya? Apa yang membuat kita menjadi hebat? Apakah Yesus mengajarkan kita untuk mengejar keagungan, atau apakah Dia menghindarinya?

Para murid berdebat di antara mereka sendiri, “Siapakah yang terbesar? Dan pertanyaan ini tidak muncul begitu saja, melainkan karena Yesus menyatakan jati diri-Nya. Dalam bab sebelumnya, Yesus menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Dia adalah Kristus atau Mesias yang dinanti-nantikan oleh bangsa Israel. Namun, Yesus menjelaskan lebih lanjut bahwa Mesias ini harus mengalami penolakan, penderitaan, dan kematian. Sayangnya, para murid tidak memahami kebenaran ini dan tetap bertahan dalam keyakinan lama mereka. Mereka mengira Yesus adalah Mesias seperti Raja Daud, yang akan memimpin Israel menuju kemenangan melawan musuh-musuh mereka. Mesias tidak hanya harus membebaskan Israel dari penindasan Romawi, tetapi juga membawa kemakmuran ekonomi, kebebasan beragama, dan pembaharuan. Berpikir bahwa seorang Mesias akan menderita dan kalah adalah hal yang tidak dapat dipahami dan tidak dapat diterima.

Namun, Yesus mengambil kesempatan ini untuk mengajarkan tentang arti keagungan yang sebenarnya. Yesus tidak menentang gagasan kebesaran atau memiliki otoritas atau kekuasaan. Sebaliknya, Yesus menjelaskan bahwa untuk mencapai kebesaran yang sejati, seseorang harus menggunakan kuasa dan otoritasnya untuk melayani dan menjadi yang terakhir. Namun, apa yang dimaksud dengan melayani? Apakah cukup dengan bergabung dan melibatkan diri kita dalam program-program amal atau kerasulan? Apakah melayani sekedar berarti memberikan sumbangan kepada orang miskin atau Gereja?

Setelah Yesus mengajar para murid tentang keagungan yang sejati, Dia melakukan sesuatu yang luar biasa. Dia menempatkan seorang anak kecil di tengah-tengah para murid-Nya dan memberkati anak itu. Dia berkata, “Barangsiapa menyambut seorang anak kecil seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia tidak menyambut Aku, melainkan Dia yang mengutus Aku.” Dari sini, kita dapat menyimpulkan bahwa untuk menjadi besar adalah dengan menerima seorang anak kecil di dalam nama Yesus. Lalu, di manakah kita menerima seorang anak kecil di dalam nama Yesus? Jawabannya adalah di dalam keluarga.

Menjadi orang tua, ayah, dan ibu adalah panggilan keagungan sejati. Menerima anak-anak kecil yang lemah dalam sukacita, membesarkan mereka dalam iman, dan akhirnya mempersembahkan mereka kepada Tuhan, semua ini membutuhkan pengorbanan seumur hidup. Hal ini secara praktis mengubah kita menjadi hamba yang rendah hati. Kebesaran ini tidak membuat kita menjadi terkenal, kaya secara materi, berkuasa secara politik, atau cantik secara fisik. Bahkan, kita menjadi sebaliknya! Tetapi hal ini memungkinkan kita untuk menerima Yesus dan Bapa dalam hidup kita. Yesus tampaknya berbicara tentang masa depan di mana anak-anak kecil ditolak dan bahkan dibunuh.

Akhirnya, keagungan sejati tidak ada di bumi ini, melainkan di surga. Tidak heran jika dalam tradisi Katolik, orang-orang kudus terbesar di surga adalah Maria, ibu Yesus, dan Yusuf, ayah angkat Yesus. Baik Maria maupun Yusuf menerima bayi kecil Yesus dalam hidup mereka dan membesarkan-Nya dengan penuh kasih dan sukacita. Mereka menjadi contoh utama kebesaran sejati.

Manila

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan untuk refleksi:

Bagaimana kita memahami keagungan sejati? Apakah kita berusaha untuk menjadi hebat? Apakah kita melayani orang lain? Bagaimana caranya? Apakah kita juga berkorban untuk orang lain? Apa saja yang kita korbankan? Apakah kita menyadari menjadi orang tua sebagai panggilan hebat? Bagi para orang tua, bagaimana kita menerima dan mengasihi anak-anak kita? Pengorbanan apa yang kita lakukan untuk anak-anak kita? Apakah kita sadar bahwa kita harus membawa anak-anak kita kepada Allah? Bagi mereka yang belum menikah, bagaimana kita menerima dan mengasihi anak-anak kecil dalam hidup kita?

Sola Fide dan Surat Yakobus

Hari Minggu ke-24 dalam Masa Biasa [B]

15 September 2024

Yakobus 2:14-18

Ketika Martin Luther memisahkan diri dari Gereja Katolik, ia mulai menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa asli Jerman. Namun, ia tidak hanya menerjemahkan tetapi juga memilah-milah kitab-kitab dalam Alkitab. Dia menempatkan beberapa kitab di bagian lampiran, bukan di tempat biasanya, dan salah satunya adalah Surat Yakobus. Ia menjuluki surat tersebut sebagai ‘surat jerami’.  Untungnya, orang-orang Kristen pada umumnya tidak mengikuti rekomendasi Luther ini, dan tetap melihat surat itu sebagai kanonik atau bagian dari Kitab Suci. Pertanyaannya: mengapa Luther ingin menghapus surat ini dari Alkitab?

Alasan Luther melihat surat St. Yakobus sebagai ‘jerami’ atau tidak berguna adalah karena surat tersebut tidak sesuai dengan teologinya atau pemikirannya. Dalam kata pengantar untuk terjemahan Perjanjian Baru yang dibuatnya pada tahun 1522, ia berkomentar bahwa surat tersebut ‘tidak memiliki sifat Injili sama sekali’. Ia menilai bahwa surat tersebut bertentangan dengan keyakinannya akan keselamatan hanya melalui iman (dalam bahasa Latin, sola fide). Salah satu ayat yang menentang ide sola fide adalah Yakobus 2:24. “Kamu tahu, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.”

Untuk memahami lebih jauh apa yang dimaksud oleh ayat ini, pertama-tama kita harus memahami ‘sola fide’. Martin Luther percaya bahwa manusia dibenarkan di hadapan Allah hanya karena iman. Ketika kita berdosa, bagi Luther, kodrat kita benar-benar hancur, dan kita ditakdirkan untuk masuk neraka. Namun, pengorbanan Yesus di salib menyembunyikan kodrat kita yang rusak ini, dan kita dibenarkan karena Allah tidak melihat kita, tetapi Yesus di salib yang menutupi kebobrokan kita. Yang perlu kita lakukan adalah memiliki iman atau percaya kepada janji keselamatan Allah melalui Yesus Kristus. Luther menyangkal bahwa perbuatan yang kita lakukan, tidak peduli seberapa baik perbuatan itu, akan bermanfaat bagi pembenaran kita.

Sementara itu, Yakobus, saudara Tuhan kita dan juga uskup Yerusalem, menulis suratnya sekitar 1500 tahun sebelum Luther. Memang, ia tidak secara khusus menulis untuk menentang Luther, tetapi secara kebetulan, ia menulis untuk menentang mereka yang memiliki mentalitas seperti Luther. Selain membahas beberapa masalah dalam komunitasnya, seperti diskriminasi terhadap orang miskin, terutama dalam perayaan Ekaristi (2:1-6) dan pelanggaran Sepuluh Perintah Allah (2:6-13), Yakobus juga mengkritik beberapa orang yang mengklaim beriman kepada Yesus Kristus tetapi mengabaikan perbuatan cinta kasih. Iman yang didasarkan pada akal budi dan keyakinan tidaklah cukup untuk keselamatan. Yakobus mengajarkan bahwa iman yang menyelamatkan akan terwujud dalam kasih. Di sini, Yakobus sependapat dengan Santo Paulus yang mengatakan bahwa keselamatan terjadi melalui “iman yang bekerja oleh kasih” (Gal. 5:6).

Akhirnya, Yakobus juga mengajarkan apa yang Yesus ajarkan kepada murid-murid-Nya. Dalam Injil hari ini, Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya, “Siapakah Aku?” Simon Petrus dengan tepat menjawab, “Engkau adalah Kristus.” Namun, pengakuan iman Petrus mengandung kebenaran yang lebih mendasar. Yesus mengajarkan bahwa mereka harus memikul salib mereka untuk mengikuti Kristus. Iman kepada Yesus mensyaratkan salib kita, yaitu pengorbanan kasih. Tidaklah cukup membiarkan Yesus memikul salib-Nya sementara kita duduk manis dan menyaksikan pengorbanan-Nya. Kita juga perlu mengambil bagian dalam salib-Nya.

Surat Yakobus adalah pengingat untuk tidak memilih ayat-ayat Alkitab yang sesuai dengan teologi kita, melainkan untuk hidup sesuai dengan ajaran Yesus, yang diturunkan kepada para rasul.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan panduan:

Apakah kita beriman kepada Allah? Bagaimana kita memahami iman kita? Apakah kita menghidupi iman kita dalam karya kasih? Apa saja perbuatan kasih yang kita lakukan untuk mengekspresikan iman kita? Apakah kita mampu menjelaskan iman kita kepada orang-orang yang bertanya? Apakah kita membagikan iman kita? Bagaimanakah kita membagikan iman kita? Apakah orang-orang menjadi lebih dekat dengan Allah karena iman kita? Atau Apakah orang-orang menjauh dari Allah karena kita?

Firman yang Menyelamatkan

Minggu ke-23 dalam Masa Biasa [B]

8 September 2024

Markus 7:31-37

Yesus melakukan banyak mukjizat, dan Ia melakukannya dengan berbagai cara. Kadang-kadang, Ia menggunakan kontak fisik untuk melakukan mukjizat. Namun, cara yang paling umum adalah dengan mengucapkan kata-kata. Yesus menghardik dan mengusir setan dengan perkataan-Nya (Mar. 1:25). Yesus menyembuhkan dan mengampuni dosa orang lumpuh dengan perkataan-Nya (Mar 2:5). Dalam Injil hari ini, Yesus menyembuhkan orang tuli dengan mengatakan ‘Efata’ (Mar 7:34), dan masih banyak lagi mukjizat-mukjizat lainnya. Pertanyaannya adalah, mengapa Yesus memilih menggunakan sabda-Nya untuk melakukan mukjizat-Nya? Apakah hanya sekedar untuk menyatakan fakta, atau ada sesuatu yang lebih dari itu?

Dengan melakukan mukjizat melalui sabda-Nya, Yesus menyatakan bahwa sabda-Nya memiliki otoritas yang sama dengan sabda Allah. Pada mulanya, Tuhan menciptakan dunia melalui firman-Nya yang penuh kuasa, bahkan untuk menciptakan sesuatu dari ketiadaan. “Jadilah terang,” dan terang itu pun jadi. Ketika Yesus berkata, “Enyahlah!”, setan-setan itu terikat dan taat pada perkataan-Nya. Ketika Yesus berkata, “Talitakum,” seorang gadis muda dibangkitkan dari kematian. Ketika Yesus berkata, “Efata!” seorang yang tuli dan bisu dapat mendengar dan berbicara. Sabda Yesus mengungkapkan identitas dan otoritas ilahi-Nya.

Sama seperti Allah membagikan kuasa firman-Nya kepada Adam, sehingga Adam dapat menamai makhluk-makhluk lain dan memiliki otoritas atas mereka, demikian pula Yesus membagikan firman-Nya yang penuh kuasa kepada Gereja-Nya. Yesus berkata kepada Petrus, “Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga dan apa yang kau ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kau lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga (Mat. 16:19).”  Mengikat dan melepaskan adalah istilah para rabi untuk otoritas mengajar, dan Petrus, sang Paus pertama, mengajar dengan menggunakan kata-kata yang mengikat kita bahkan sampai di surga. Yesus juga berkata kepada murid-murid-Nya, “Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni dan jikalau kamu menahan dosa orang, dosanya tetap ada (Yoh. 20:22-23).” Dengan mengambil bagian dalam sabda ilahi Yesus, para rasul berbagi misi untuk menyembuhkan dan menguduskan.

Sebagaimana Yesus mewariskan firman ilahi-Nya kepada para rasul-Nya, para rasul juga mewariskan firman yang sama kepada para penerus mereka dari generasi ke generasi. Kita, Gereja Katolik, memiliki kata-kata ilahi ini. Setiap kali seorang imam mengulangi kata-kata konsekrasi, “Inilah Tubuh-Ku” dan “Inilah Darah-Ku”, Yesus hadir secara nyata dalam Ekaristi. Setiap kali, dalam pengakuan dosa, seorang imam mengucapkan, “Aku melepaskan engkau dari dosa-dosamu,” dosa-dosa kita sungguh diampuni.  Setiap kali, seorang imam (atau bahkan seorang awam) menuangkan air ke dahi kita dan berkata, “Yohanes, aku membaptismu dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Amin,” kita terlahir sebagai ciptaan baru.  

Namun, firman ilahi ini bukan hanya milik para imam. Kata-kata ini adalah milik setiap anggota Gereja-Nya. Ketika seorang pria dan seorang wanita mengucapkan persetujuan dan janji pernikahan mereka, maka terciptalah kesatuan pernikahan yang tak terlihat namun tak terpisahkan. Ketika orang tua memberkati anak-anak mereka dengan tanda salib di dahi mereka, berkat Tuhan sungguh ada pada anak-anak ini. Misi kita adalah untuk menguduskan dunia, dan kita diperlengkapi untuk memenuhi tugas ini karena Yesus telah mempercayakan firman ilahi-Nya kepada kita.

Surabaya

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan untuk refleksi:

Bagaimana kita menggunakan kata-kata kita? Apakah kita membangun dan memberkati orang lain dengan kata-kata kita? Apakah kita menyakiti dan menghancurkan orang lain dengan kata-kata kita? Bagaimana kita membawa orang lain lebih dekat kepada Tuhan melalui kata-kata kita? Apakah kata-kata favorit kita? Apakah itu kata-kata yang baik dan membangun? Apakah firman Allah mengubah kita? Apakah kita sering mendengar dan membaca firman Allah dalam Alkitab?

Memahami Hukum Tahir-Najis

Hari Minggu ke-22 dalam Masa Biasa [B]

1 September 2024

Markus 7:1-8, 14-15, 21-23

Orang-orang Farisi mengkritik Yesus dan murid-murid-Nya karena tidak membasuh tangan sebelum makan. Kritik ini bukan berasal dari kepedulian mereka terhadap higenitas, melainkan untuk menghakimi ketaatan Yesus pada hukum tahir-najis, terutama berdasarkan tradisi para tua-tua. Namun, apakah hukum tahir-najis itu? Mengapa hal itu begitu penting bagi orang Farisi? Lalu, mengapa Yesus memilih untuk tidak mematuhinya?

Meskipun tidak sepenuhnya tentang moralitas (tentang tindakan yang baik atau salah), hukum tahir-najis merupakan bagian integral dari Taurat. Hukum tahir-najis menentukan apakah seorang Yahudi secara ritual bersih (tahir) atau kotor (najis). Artinya, ketika orang Yahudi tahir, mereka akan diizinkan untuk memasuki area Bait Allah di Yerusalem dan kemudian mempersembahkan kurban. Ketika mereka dapat mempersembahkan kurban, mereka menyembah Tuhan Allah dan menerima berkat-berkat seperti pengampunan dosa dan persekutuan dengan Tuhan dan sesama orang Yahudi. Seorang Yahudi dapat menjadi najis melalui kontak fisik dengan berbagai hal seperti mayat, cairan tubuh (darah menstruasi, air mani pria), hewan tertentu (babi, unta, serangga tertentu, dll) dan penyakit kulit (kusta). Jika mereka menjadi najis, mereka harus melakukan ritual pemurnian, biasanya dengan membasuh diri dengan air. Dengan demikian, hukum tahir-najis bermaksud untuk memastikan bahwa mereka dapat memasuki tempat kudus dengan layak.

Namun, pada zaman Yesus, hukum tahir-najis meluas hingga ke luar Bait Allah dan bahkan mengatur kehidupan sehari-hari mereka. Hukum tahir-najis menjadi penanda identitas bangsa Yahudi, yang membuat mereka berbeda dengan bangsa-bangsa lain. Oleh karena itu, orang Yahudi harus selalu tahir, bahkan ketika mereka berada jauh dari Bait Allah, dan satu kelompok yang paling ketat menerapkannya adalah orang Farisi. Hukum tahir-najis juga berkembang dan menjadi kompleks karena para guru atau para rabbi menambahkan interpretasi mereka. Hukum tahir-najis menjadi sebuah sistem yang rumit yang mencekik orang-orang sederhana dan bukannya membantu mereka untuk menjadi layak bagi Bait Allah, tempat kediaman Tuhan.

Yesus menyadari tujuan sebenarnya dari hukum tahir-najis, dan dengan demikian, Yesus tidak mengikuti ekses yang dipaksakan oleh orang-orang Farisi. Namun, Yesus tidak hanya menentang ajaran orang Farisi yang berlebihan, Dia juga menyatakan bahwa hukum tahir-najis telah mencapai tujuannya. Jika tujuan dari hukum tahir-najis adalah untuk menjaga orang-orang yang tidak layak memasuki Bait Allah karena Bait Allah adalah tempat kudus Tuhan, tetapi sekarang, Yesus, Tuhan yang telah menjadi manusia, tidak lagi berada di Bait Allah, tetapi di tengah-tengah umat-Nya. Dia menyentuh orang kusta dan membuatnya menjadi tahir. Dia menjamah perempuan dengan pendarahan dan membuatnya menjadi tahir. Akhirnya, Yesus akan mati di kayu salib, dan tubuh-Nya akan menjadi sumber kenajisan, namun Dia bangkit, dan tubuh-Nya menjadi sumber kekudusan.

Yesus adalah Imanuel, Tuhan beserta kita. Tidak ada lagi hukum tahir-najis. Namun, Yesus juga mengajarkan dengan tegas bahwa meskipun kita tidak lagi terikat oleh hukum tahir-najis, berbuat dosa atau terpisah dari Allah tetap menjadi pilihan kita. Sekarang, setiap detik dalam hidup kita, setiap tempat yang kita datangi, dan semua yang kita lakukan adalah kesempatan untuk bersama dengan Yesus atau jauh dari-Nya.

Surabaya

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan untuk refleksi:

Apakah kita menyadari kehadiran Tuhan dalam hidup kita? Di mana dan kapan kita menyadari kehadiran Tuhan dalam hidup kita? Apakah kita sadar bahwa Tuhan menyertai kita? Apakah kita sadar bahwa setiap pilihan adalah kesempatan untuk memuliakan Dia? Apakah kita mengotak-kotakkan Tuhan hanya di Gereja atau di waktu-waktu doa? Apakah kita sadar bahwa dosa-dosa membuat kita najis dan jauh dari Allah? Apakah kita tahu bahwa kita tidak dapat menerima perjamuan kudus ketika kita bertahan dalam dosa-dosa berat kita? Apakah saya pergi ke pengakuan dosa secara teratur?

Tunduklah pada Suamimu (?)

Hari Minggu ke-21 dalam Waktu Biasa [B]
25 Agustus 2024
Efesus 5:21-32

Dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, Santo Paulus memerintahkan para istri untuk tunduk pada suami mereka, tidak hanya dalam hal ekonomi atau membesarkan anak tetapi dalam segala hal. Ajaran Santo Paulus ini tampak ketinggalan zaman, tidak relevan lagi dan bahkan salah. Bukankah perempuan dan laki-laki itu setara? Mengapa para istri harus taat kepada suami dalam segala hal? Apakah para wanita hanyalah budak dari suami mereka?

Pertama, kita perlu mengetahui konteks historis dari Paulus. Pada masa itu, wanita memang dianggap tidak setara dengan pria. Kecuali beberapa perempuan yang luar biasa, perempuan diperlakukan sebagai milik laki-laki. Sementara pria bekerja di luar, wanita tinggal di rumah. Para istri harus mengurus rumah, melahirkan anak, dan membesarkan mereka. Umumnya, perempuan tidak memiliki hak atas warisan, apalagi memiliki hak politik. Itu adalah waktu yang buruk bagi perempuan untuk hidup.

Paulus menyadari situasi ini dan menantangnya. Bagaimana? Dia menulis surat yang tidak hanya ditujukan kepada suami, tetapi juga ditujukan kepada para istri! Pada waktu itu, wanita tidak menerima surat, dan jika mereka menerima surat, surat itu harus melalui suami mereka. Dengan tindakan sederhana ini, Paulus tidak hanya menantang mentalitas budaya pada masa itu`, tetapi juga menegaskan tujuan awal Allah. “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut citra-Nya, menurut citra Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka (Kej. 1:27).” Baik laki-laki maupun perempuan diciptakan menurut citra Allah, dan dengan demikian, memiliki martabat yang sama sebagai anak-anak Allah.

Namun, Paulus juga mengakui bahwa meskipun pria dan wanita memiliki martabat yang sama, mereka memiliki peran dan fungsi yang berbeda. Secara biologis, pria secara fisik lebih kuat dan, dengan demikian, bertanggung jawab untuk melindungi dan menafkahi. Sebagai perbandingan, perempuan memiliki karakter untuk memberi dan memelihara kehidupan. Baik pria maupun wanita saling melengkapi satu sama lain. Pada saat yang sama, hubungan timbal balik ini menciptakan sebuah komunitas kecil bernama pernikahan, dan keluarga. Dan, seperti kelompok atau komunitas lainnya, pernikahan mengandaikan adanya tatanan dan hirarki agar dapat berfungsi dengan baik. Kata ‘tunduk’ yang digunakan oleh Santo Paulus dalam bahasa Yunani adalah ‘ὑποτάσσω (hupotasso)’ yang secara harafiah berarti ‘di bawah pada sebuah tatanan’. Oleh karena itu, ‘tunduk’ berarti berada di bawah tatanan yang tepat. Tidak heran jika Santo Paulus memulai dengan sebuah perintah kepada suami dan istri, “Hendaklah kamu tunduk yang satu kepada yang lain sebagai tanda hormatmu kepada Kristus!” karena keduanya, suami dan istri, harus berada di bawah tatanan yang benar. Namun, tatanan macam apa?

Di sinilah kontribusi unik Paulus. Suami dan istri adalah seperti hubungan antara Yesus dan Gereja, mempelai-Nya. Seperti Yesus, suami adalah kepala dan figur otoritas. Namun, Paulus juga mengingatkan kita bahwa tatanan yang mengatur Yesus dan Gereja-Nya adalah kasih. Demikian juga, otoritas yang diberikan kepada para pria adalah untuk mengasihi istri mereka. Pria mengasihi istri mereka sampai mati, dan hanya dengan kematian mereka dapat memimpin istri mereka dalam kekudusan. Tanpa mati terhadap diri mereka sendiri, otoritas pria berubah menjadi tatanan yang penuh teror, dan wanita akan memberontak. Pernikahan menjadi tidak bahagia dan bahkan runtuh. Hanya ketika pria dan wanita menundukkan diri mereka pada tatanan kasih, mereka akan mencapai tujuan pernikahan, yaitu kekudusan.

Surabaya
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan untuk direnungkan:
Untuk para suami: bagaimana Engkau mengasihi istrimu? Apakah Engkau rela mati untuk istrimu? Siap mati untuk Kesombongan, kemarahan, keegoisan? Apakah pernah Engkau menyakiti istrimu? Apakah Engkau meminta maaf kepada istrimu ketika Engkau melakukan kesalahan? Apakah Engkau memimpin istrimu ke dalam kekudusan? Bagaimana Engkau memimpin istrimu ke dalam kekudusan? Apakah Engkau seorang kepala/pemimpin keluarga yang baik?

Untuk para istri: bagaimana Engkau mengasihi suamimu? Apakah Engkau menaati suamimu? Apakah Engkau menolong suamimu untuk menjadi suami dan ayah yang baik? Bagaimana Engkau menolong suamimu untuk hidup dalam kekudusan? Apakah Engkau pernah menyakiti hati suamimu?

Kenapa Maria Diangkat ke Surga?

Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga

15 Agustus 2024 [B]

Lukas 1:39-56

Hari ini Gereja merayakan hari raya Maria Diangkat ke Surga. Melalui perayaan ini, Gereja mengingatkan kita bahwa Maria, bunda Tuhan kita, ketika perjalanan hidupnya berakhir di bumi, jiwa dan raganya diangkat ke dalam kemuliaan surgawi. Namun, sebuah pertanyaan mungkin muncul: mengapa Maria harus naik ke surga dengan jiwa dan raganya segera setelah kematiannya, sementara kita semua, harus menunggu sampai penghakiman terakhir? Bukankah ini sedikit tidak adil?

Alasannya adalah kasih. Santo Thomas Aquinas mengajarkan bahwa kasih mencari persatuan dengan yang dikasihi (lihat ST. I.II. q.28 a.1). Secara sederhana, ketika kita mengasihi seseorang, kita berharap agar kita selalu dekat dengan orang tersebut, dan dengan menjadi dekat, kita dapat memiliki lebih banyak kesempatan untuk mengasihi. Semakin kita mengasihi, semakin kita dipersatukan, dan semakin kita dipersatukan, semakin kita mengasihi. Contoh yang baik adalah orang tua yang baik. Mereka selalu ingin dekat dengan anak-anak mereka karena dengan dekat, mereka dapat lebih mengasihi anak-anak mereka dengan cara melindungi, menyediakan, dan mendidik anak-anak mereka.

Demikian juga, mereka yang mengasihi Allah berusaha untuk bersama dengan Allah. Ketika kita mulai mengasihi Allah, kita mulai meluangkan waktu untuk berdoa dan menghadiri Ekaristi setiap hari Minggu. Kita mulai membaca Alkitab dan belajar tentang iman kita. Ketika kita bertumbuh dalam kasih, kita menghabiskan lebih banyak waktu dengan Tuhan, lebih banyak waktu dalam doa, lebih sering mendengarkan Misa, terlibat dalam pelayanan dan dalam komunitas. Namun, kita juga menyadari bahwa kesatuan kita dengan Tuhan tidaklah sempurna di dunia ini. Kita perlu bekerja atau bersekolah. Kita perlu mengurus keluarga kita. Kita perlu mengurus urusan duniawi yang tak ada habisnya. Hati dan kasih kita pun terbagi.

Namun, ada satu orang yang mengasihi Allah secara total dan tidak terbagi bahkan di dunia ini. Dia adalah Maria. Hidupnya sepenuhnya didedikasikan untuk mengasihi Yesus, bahkan sejak sebelum kelahiran-Nya hingga akhir hayat-Nya di kayu salib. Dia tidak pernah terpisah dari Yesus dalam kehidupannya di dunia. Dan dengan demikian, ketika ia meninggal dunia, kasihnya yang luar biasa, yang disempurnakan oleh rahmat Allah, tidak hanya menarik jiwanya tetapi juga tubuhnya ke dalam persatuan dengan Allah.

Diangkatnya Maria ke surga mengajarkan kepada kita bahwa persatuan dengan Allah di surga dimulai dengan kasih kita di bumi. Semakin kita mengasihi Allah di bumi ini, semakin mudah kita ditarik ke surga. Namun, bagaimana kita dapat mengasihi Allah lebih dalam jika kita juga harus mengurus hal-hal duniawi? Memang, kita tidak dapat berdoa setiap saat, tetapi kita dapat selalu menyenangkan hati Allah dengan berbuat baik dan menghindari dosa dalam segala hal yang kita lakukan. Kita juga dapat mengasihi Allah melalui kasih terhadap sesama. Melalui kehidupan moral yang baik, kita dipersatukan dengan Tuhan bahkan dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun kita tidak selalu sadar akan Tuhan setiap saat, kita tahu bahwa hidup dan tindakan kita berorientasi pada Tuhan.

Surabaya

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan panduan:

Apa yang ada di benak Saya ketika Saya mendengar Maria Diangkat ke Surga? Apa yang Saya pahami tentang dogma Maria ini? Apakah tiga dogma Maria yang lain? Apakah Saya memiliki hubungan khusus dengan Maria?

Bagaimanakah Saya mengasihi Allah? Seberapa kuatkah kasih Saya kepada Allah? Bagaimana Saya meningkatkan kasih Saya kepada Allah? Apakah Saya sering berdoa? Bagaimana cara Saya berdoa? Apakah Saya menjalani kehidupan moral yang baik? Apakah Saya menyenangkan hati Allah dalam tindakan Saya sehari-hari? Apakah Saya mengetahui hukum-hukum Allah? Apakah ada dosa yang sedang Saya hadapi sekarang?

Melampaui Rekam Jejak

Minggu ke-19 dalam Masa Biasa [B]

11 Agustus 2024

Yohanes 6:41-51

Salah satu cara untuk menilai seseorang adalah dengan melihat rekam jejaknya. Rekam jejak ini bisa sesuatu yang positif seperti prestasi akademis, keterampilan yang dimiliki, atau pengalaman kerja yang baik, tetapi bisa juga negatif seperti kinerja yang buruk atau terlibat dalam perilaku yang tidak etis. Menilai seseorang dari rekam jejaknya adalah hal yang wajar dan sah-sah saja, namun ketika kita memperlakukan rekam jejak ini sebagai ukuran absolut, kita bisa menghancurkan hidup dan masa depan orang lain. Inilah yang juga yang dialami oleh Yesus.

Alasan mengapa banyak orang Yahudi menolak Yesus bukan hanya karena klaim-Nya bahwa Dia adalah roti hidup yang sulit diterima oleh akal budi, tetapi juga karena Dia adalah anak seorang tukang kayu yang miskin. Tentu saja, banyak yang bergumul dengan kebenaran tentang memakan daging Yesus, namun beberapa orang Yahudi mengenali latar belakang keluarga Yesus dan percaya bahwa mustahil bagi seorang tukang kayu miskin dari desa kecil di Nazaret untuk mengatakan hal-hal tersebut. 

Namun, ini hanyalah separuh dari cerita. Sebelum Yesus membuat klaim yang menakjubkan ini, Yesus membuktikan bahwa diri-Nya dapat dipercaya dengan melakukan mukjizat yang luar biasa, yaitu memberi makan lebih dari lima ribu orang. Namun, beberapa orang dengan mudah melupakan tanda itu karena mereka tidak dapat meninggalkan prasangka mereka dan menjadikan ‘rekam jejak’ Yesus yang terbatas sebagai satu-satunya alat ukur. Oleh karena itu, mereka menghakimi Yesus sebagai pembohong atau orang gila.

Meskipun benar bahwa rekam jejak dapat berbicara banyak, bukan berarti seseorang tidak dapat berubah. Jika seseorang miskin secara ekonomi, bukan berarti dia akan tetap miskin selamanya. Kita memiliki banyak kisah miliarder yang memulai dari nol. Sebut saja JK Rowling, Jan Koum, dan Steve Jobs. Kebenaran ini bahkan lebih nyata lagi dalam kehidupan iman. Orang-orang berdosa dan bahkan musuh-musuh Kristus yang tersentuh oleh rahmat dan kasih Allah berubah menjadi orang-orang kudus. Kita memiliki Santo Paulus yang dulunya menganiaya Gereja perdana, Santo Agustinus yang dulunya hidup dalam dosa, dan Beato Bartolo Longo yang dulunya adalah seorang pendeta setan.

Hal ini memberi kita pelajaran penting bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan, dan bagi mereka yang terbuka pada rahmat dan kasih Tuhan. Ketika kita menghadapi orang-orang yang sulit dalam keluarga atau komunitas kita, apakah kita langsung menghakimi mereka sebagai orang yang tidak memiliki harapan, atau apakah kita mengerahkan lebih banyak usaha untuk membantu, mendengarkan atau setidaknya berdoa untuk mereka? Ketika kita melihat seseorang jatuh ke dalam dosa, apakah kita mengutuk mereka atau kita meluangkan lebih banyak waktu untuk mengoreksi mereka, atau setidaknya mendoakan pertobatan mereka? Ketika kita melihat diri kita sendiri tidak layak di hadapan Allah, apakah kita menyerah dalam keputusasaan, atau apakah kita berdoa lebih keras dan memohon belas kasihan Allah?

Surabaya

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Two Breads that We Need

18thSunday in Ordinary Time [B]

August 4, 2024

John 6:24-35

We are created as creatures of body and soul. Thus, to survive and thrive, our body and soul must be nourished. Feeding our bodies is quickly done through bread or other physical foods. Yet, how do we nurture our souls? What kind of ‘food’ do we need to give to our soul so that it will not perish?

For us Catholics, the answer is obvious. The Body of Christ in the Eucharist is the bread of heaven that nourishes our souls. As Jesus Himself declared, “Very truly I tell you, unless you eat the flesh of the Son of Man and drink his blood, you have no life in you (John 6:53).”  However, the real challenge is that we are often tempted, just like people of Israel, to prioritize only the earthly bread. How many of us choose to skip Sunday Mass for work or leisure?

Another challenge is that we often confuse the true living bread with the worldly things that only satisfy our bodies. We tend to equate spiritual things with emotional things. After all, both come ‘from inside’, forgetting that emotional needs remain part of bodily constitutions. Thus, we thought we were spiritually nourished when we felt emotionally charged through different religious experiences. Admittedly, to attend the Mass and to receive the Holy Communion is not always an emotion-filled experience. Yes, some of us feel incredible sensations during the Eucharist, but many are enduring ‘dryness.’ The Mass does not seem to satisfy our deepest longing.  No wonder some begin looking for other options, places, or activities that give us more sensations. We are treating religious activities as no different from other emotionally satisfying events.

The last challenge is trading our spiritual food for our bodily needs. We seek Jesus so that He may satisfy our physical needs. We go to the Church and ask Jesus to heal our sickness, solve our financial problems, or resolve our family issues. Indeed, it is okay to bring our problems to the Lord. After all, He also takes care of us. But, sometimes, we become preoccupied with our problems and then forget the real purpose of the Eucharist, which is to feed our souls. It is like the Jewish people in the Gospel who wanted to make Jesus king because of their stomach and political needs and not for the divine bread.

So, how do we know that our soul is growing through the bread of life? The answer is charity. We know our grace is working in us when we can love more and sacrifice more. We become more patient with difficult people around us. We anticipate the needs of others. We continue to do good things even without recognition. Our souls can only grow and do great things when the bread of life constantly nourishes us.

Surabaya

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP