Hidup Bakti

Hari Minggu ke-28 dalam Masa Biasa [B]

13 Oktober 2024

Markus 10:17-30

Gereja memahami kisah Yesus dan orang kaya ini sebagai salah satu dasar alkitabiah dari panggilan hidup bakti (consecrated life). Namun, apakah hidup bakti itu? Bagaimana kisah ini menjadi inspirasi bagi kita?

Hidup bakti adalah sebuah cara hidup yang radikal untuk mengikuti Yesus. Pada masa kini, kita dengan cepat mengenali pria dan wanita ini sebagai orang-orang yang mengenakan jubah khas, hidup selibat (tidak menikah), dan tinggal di dalam komunitas seperti pertapaan atau biara. Bentuk hidup ini disebut sebagai hidup bakti karena para pria dan wanita ‘membaktikan’ hidupnya untuk mencintai Tuhan secara lebih radikal. Namun, mengapa mereka harus menjalani kehidupan seperti ini? Untuk menjawabnya, kita perlu melihat lebih dekat kisah Yesus dan orang kaya.

Ada seorang pria yang menyadari bahwa ada sesuatu yang mendasar yang kurang dalam hidupnya. Ketika Yesus datang, hatinya tahu bahwa Yesus tahu jawabannya. Ia bergegas mendatangi Yesus dan bertanya kepada-Nya bagaimana caranya untuk mendapatkan hidup yang kekal. Yesus menunjukkan perintah-perintah Allah, terutama yang berkaitan dengan mengasihi sesama (jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, dan hormatilah orang tuamu). Dengan segera, orang itu mengatakan kepada Yesus bahwa ia telah setia pada hukum-hukum ini. Yesus memandangnya dengan penuh perhatian dan mengasihinya karena keberaniannya untuk datang kepada-Nya. Yesus tahu bahwa orang ini tidak pernah melanggar perintah-perintah Allah, tetapi dia juga tidak memenuhi perintah pertama dan yang paling penting, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu (Ul 6:5).”

Namun, Yesus tidak hanya mengatakan kebenaran ini secara langsung, tetapi merumuskannya kembali menjadi sesuatu yang lebih konkret dan radikal: “Kasihilah Aku (Yesus) dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.”  Panggilan ini bersifat radikal karena mengharuskan orang tersebut untuk meninggalkan segala sesuatu yang dimilikinya dan berjalan bersama Yesus dalam perjalanan menuju salib. Ini radikal karena undangan Yesus bertentangan dengan pemahaman umum pada masa itu bahwa menjadi kaya adalah tanda berkat Tuhan (lihat Ul. 28:1-14; Ams. 10:22). Ini adalah hal yang radikal karena seluruh waktu, tenaga, perhatian, bahkan hidup kita adalah untuk Yesus.

Pria ini tidak pernah merugikan orang lain, mencuri apalagi membunuh, mungkin juga pergi ke sinagoge setiap hari Sabat untuk beribadat, dan sesekali pergi ke Yerusalem untuk mempersembahkan kurban di Bait Allah. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, ia terpanggil untuk mengasihi Allah secara total. Sayangnya, ketika Yesus menawarkan kesempatan itu kepadanya, ia menghindar karena ia memiliki banyak harta. Apakah orang ini akan dihukum? Tentu tidak! Dia tidak akan dihukum dan akan tetap menjadi pewaris hidup yang kekal. Tetapi ia juga tidak dapat memenuhi kerinduan terdalamnya untuk mengasihi Allah secara radikal.

Pada masa kini, mengikuti Yesus secara radikal ini termanifestasi dalam diri pria dan wanita yang secara total memberikan diri mereka kepada Yesus dan Gereja. Para pria dan wanita ini tidak menikah, sehingga mereka dapat mendedikasikan waktu mereka untuk berdoa dan melayani. Mereka bekerja atau menerima donasi bukan untuk menjadi kaya, melainkan untuk mendukung kehidupan dan pelayanan mereka. Akhirnya, mereka dengan bebas menyerahkan kebebasan mereka untuk mengasihi Allah dan umat-Nya lebih penuh. Namun, Gereja memahami bahwa panggilan ini bukan untuk semua orang.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan untuk refleksi:

Apakah kita mengasihi Allah secara total dan radikal? Apakah kita mengasihi Allah terlebih dahulu, atau kita mengasihi diri kita sendiri terlebih dahulu? Apakah yang menghalangi kita untuk mengasihi Allah? Uang, kekayaan, profesi, ketenaran, hobi, atau hal-hal lain? Apakah kita dipanggil ke dalam hidup bakti? Apakah kita siap untuk menjawab ya atas panggilan Yesus?

Why did Moses allow divorce?

27th Sunday in Ordinary Time [B]

October 6, 2024

Mark 10:2-16

The Pharisees once again put Jesus to the test. This time, they asked the question of divorce. However, Jesus did something unexpected. He ‘changed’ the law of divorce. Why did Jesus “erase” the law of divorce?

Jesus responded by inquiring about the foundation of this law of divorce. The Pharisees pointed to Moses as the source of the law as he allowed divorce by giving a certificate of divorce to the wife (see Deu 24:1). Then, immediately, Jesus fired back, “For your hardness of heart he wrote you this commandment. But from the beginning of creation, ‘God made them male and female.’” (Mar 10:5-6) Jesus made clear that divorce is not the will of God, but Moses was forced to permit it because of “the hardness of heart.” But what is this hardness of heart?

We recall that the Israelites in the time of Moses were so used to the ancient Egyptian practices including divorce. In ancient Egypt, marriage was primarily a private and cultural event, not religious. The couple themselves governed marriage. They would divorce their partner if they no longer saw their marriage viable. But divorce was not the only solution. If a man found his first wife no longer attractive, he could marry another wife without divorcing the first woman.

When God liberated Israelites from Egypt, God reintroduced His will that marriage is holy and part of God’s plan for men and women. Marriage was not just biologically or culturally driven but divinely instituted. Thus, God decreed that marriage must be monogamous and indissoluble. Yet, introducing God’s original plan to the ancient Israelites proved difficult. Indeed, the Israelites were physically liberated from Egypt, but their mentality remained enslaved. The Israelites were somehow able to accept monogamous marriage, but to add another requirement, that is, ‘no divorce’ was too much and too soon. Moses knew that the Israelites would commit more rebellions, and even men would kill their wives to get rid of them. Thus, Moses conceded that divorce should be allowed if the women were sufficiently protected through the divorce certificate.

Now, hundreds of years after Moses, God deemed the time has come to bring the original will of God into marriage. Thus, Jesus came not to ‘change’ the divorce law but to reintroduce God’s authentic will. Moreover, Jesus also brought the Holy Spirit to re-create human hearts, from the heart of stones into the heart of flesh. Now, the choice is ours. Will we follow God’s will in our lives and marriage by relying on His graces, or will we instead become stubborn and follow our own design?

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Questions for reflection

How do we understand marriage? Is it a biological necessity, social convention, or divinely instituted? How do we feel about marriage? Is it a burden, obligation, or a blessing? What do we want to achieve in marriage? Is it pleasure, welfare, comfort, or holiness? What do we do when we encounter difficulty in marriage? Do we see marriage without divorce as a curse or a path to heaven?

Mengapa Musa mengizinkan perceraian?

Hari Minggu ke-27 dalam Masa Biasa [B]
6 Oktober 2024
Markus 10:2-16

Orang-orang Farisi sekali lagi menguji Yesus. Kali ini, mereka mengajukan pertanyaan tentang perceraian. Namun, Yesus melakukan sesuatu yang tidak terduga. Dia ‘mengubah’ hukum perceraian. Mengapa Yesus “menghapus” hukum perceraian?

Yesus menjawab para Farisi dengan menanyakan dasar dari hukum perceraian ini. Orang-orang Farisi menunjuk Musa sebagai sumber hukum karena dia mengizinkan perceraian selama sang suami memberikan surat cerai kepada istri (lihat Ul. 24:1). Kemudian, Yesus membalas, “Karena kekerasan hatimu, maka Ia menuliskan perintah ini kepadamu. Tetapi sejak awal penciptaan, ‘Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan’.” (Mar 10:5-6) Yesus menegaskan bahwa perceraian bukanlah kehendak Allah, tetapi Musa terpaksa mengizinkannya karena “kekerasan hati” bangsa Israel. Namun, apakah kekerasan hati ini?

Kita perlu tahu bahwa bangsa Israel pada zaman Musa sangat terbiasa dengan praktik-praktik hidup Mesir kuno, termasuk perceraian. Di Mesir kuno, pernikahan pada dasarnya adalah acara pribadi, bukan agama. Pasangan itu sendiri yang mengatur pernikahan. Mereka akan menceraikan pasangan mereka jika mereka tidak lagi melihat pernikahan mereka menguntungkan. Tapi perceraian bukanlah satu-satunya solusi. Jika seorang pria merasa istri pertamanya tidak lagi menarik, ia dapat menikahi istri yang lain tanpa harus menceraikan istri pertamanya.

Ketika Tuhan membebaskan bangsa Israel dari Mesir, Tuhan memperkenalkan kembali kehendak-Nya bahwa pernikahan itu kudus dan merupakan bagian dari rencana Tuhan bagi pria dan wanita. Pernikahan tidak hanya didorong oleh faktor biologis atau budaya, tetapi juga didirikan oleh Allah sendiri. Oleh karena itu, Allah menetapkan bahwa pernikahan haruslah monogami dan tidak dapat diceraikan. Namun, memperkenalkan rencana awal Allah kepada bangsa Israel kuno terbukti sulit. Memang, bangsa Israel secara fisik telah dibebaskan dari Mesir, tetapi mentalitas mereka tetap diperbudak. Orang Israel mungkin dapat menerima pernikahan monogami, tetapi menambahkan persyaratan lain, yaitu ‘tidak boleh bercerai’ terlalu berlebihan dan terlalu cepat bagi mereka. Musa tahu bahwa jika dipaksakan, bangsa Israel akan melakukan lebih banyak pemberontakan, dan bahkan para pria akan membunuh istri mereka untuk menyingkirkan mereka. Oleh karena itu, Musa mentolerir perceraian selama hak-hak para wanita terlindungi melalui surat cerai.

Sekarang, ratusan tahun setelah Musa, Tuhan menganggap bahwa waktunya telah tiba untuk membawa kehendak asli Tuhan ke dalam pernikahan. Oleh karena itu, Yesus datang bukan untuk ‘mengubah’ hukum perceraian, melainkan untuk memperkenalkan kembali kehendak Allah yang asli. Selain itu, Yesus juga membawa Roh Kudus untuk menciptakan kembali hati manusia, dari hati batu menjadi hati yang lembut. Sekarang, pilihan ada di tangan kita. Akankah kita mengikuti kehendak Tuhan dalam hidup dan pernikahan kita dengan mengandalkan kasih karunia-Nya, atau sebaliknya, akankah kita menjadi keras kepala dan mengikuti rancangan kita sendiri?

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan untuk refleksi
Apakah kita berhati keras dan menolak kehendak Allah dalam hidup kita? Bagaimana kita memahami pernikahan? Apakah pernikahan merupakan kebutuhan biologis, konvensi sosial, atau sesuatu yang dilembagakan secara ilahi? Bagaimana perasaan kita tentang pernikahan? Apakah itu sebuah beban, kewajiban, atau berkat? Apa yang ingin kita capai dalam pernikahan? Apakah kesenangan, kesejahteraan, kenyamanan, atau kekudusan? Apa yang kita lakukan ketika kita menghadapi kesulitan dalam pernikahan? Apakah kita melihat pernikahan tanpa perceraian sebagai sebuah kutukan atau jalan menuju surga?

Sin and God’s Love

26th Sunday in Ordinary Time

September 29, 2024

Mark 9:38-48

Some people do not talk about sin. Some think that sins are no longer relevant in the modern world. The concept is a restriction on human freedom and creativity. Others see it as the Church’s invention to control its faithful, primarily through fear. Those who sin will be punished in hell! Others perceive that to talk about sin is incompatible with God, which is love. For some priests and preachers, the topic even becomes taboo to preach. Yet, this is all a misunderstanding. The proper understanding of sin will bring us a full appreciation of God’s love. Then how must we understand the concept of sin?

Firstly, the basic understanding of sin is a violation of God’s law, and God made His laws not to limit our freedom but rather the opposite. They are to protect us from harm, danger, and disasters. Every violation of God’s law brings catastrophic consequences. It destroys ourselves, others, and the world. Abortion kills innocent babies, destroys the holy vocation of motherhood, and treats sacred women’s bodies as mere tools. Masturbation seems less of a problem since it is something ‘personal’. But masturbation leads to mental health problems as we carve more and more dopamine (pleasure hormone) to satisfy us. Again, this causes us to see other people as mere tools to give us pleasure. By following God’s laws, we are not only avoiding harm in our lives but also walking on the path of happiness.

Secondly, sin is the contradiction of God’s love. God is love, and He loves us beyond our imagination. As divine Lover, He wills the best things happen to us, and He wills us to be united with Him as the only one who can satisfy our infinite desire. However, true love does not coerce and gives freedom to choose and love Him. Robots can obey all our orders, but there is no love since robots do not have freedom. A Labrador can abide by us and give us affectionate dog hugs, but this is not true love but a dog’s instinct to cling to his owner for survival. We have that true freedom. Unfortunately, we abuse our freedom to choose something much lesser than God and, thus, violate His laws. Therefore, sin is a radical choice to turn away from God. Hell is not God’s punishment but rather our decision to be separated from God, our true happiness.

Therefore, reading the Gospel, we immediately recognize that if there is one thing that Jesus hated the most, it is sin. He knows well what sin is and what it does to us humans. Adam and Eve sinned, and they brought the entire human race into a spiral of madness and despair. Jesus came to this world to get forgiveness of sin and to show God’s love on the cross so that we may be moved into repentance. Jesus loves sinners and not their sins in the sense that He wills them to embrace God’s forgiveness.

Therefore, preaching about sin and repentance and praying for sinners participates in Jesus’ mission and God’s love. But if we shy away from preaching repentance and even promote a fallacious concept of sin, we may deserve to be ‘thrown into the sea with miles stone’.

Surabaya

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Questions for reflection:

How do we understand the concept of sin? Do we speak about sins and repentance, or do we try to avoid it? Do we continue to evaluate and correct ourselves? Do we visit the sacrament of confession often? Do we invite others to reflect God’s love and repentance?

Dosa dan Kasih Allah

Minggu ke-26 dalam Masa Biasa

29 September 2024

Markus 9:38-48

Beberapa orang tidak suka berbicara tentang dosa. Beberapa orang berpikir bahwa dosa tidak lagi relevan di dunia modern. Konsep ini merupakan pembatasan terhadap kebebasan dan kreativitas manusia. Sebagian orang lainnya melihatnya sebagai karangan Gereja untuk mengendalikan umatnya, terutama melalui rasa takut. Mereka yang berdosa akan dihukum di neraka! Yang lain menganggap bahwa berbicara tentang dosa tidak sesuai dengan Allah, yang adalah kasih. Bagi beberapa imam dan pengkhotbah, topik ini bahkan menjadi tabu untuk diwartakan. Namun, ini semua adalah kesalahpahaman. Pemahaman yang benar tentang dosa akan membawa kita pada penghargaan lebih penuh akan kasih Allah. Lalu bagaimana kita harus memahami konsep dosa?

Pertama, pemahaman dasar tentang dosa adalah pelanggaran terhadap hukum Allah, dan Allah membuat hukum-Nya bukan untuk membatasi kebebasan kita, tetapi justru sebaliknya. Hukum-hukum itu dibuat untuk melindungi kita dari bahaya, ancaman, dan bencana. Ini adalah tanda kasih Allah. Setiap pelanggaran terhadap hukum Allah membawa konsekuensi yang menghancurkan. Itu menghancurkan diri kita sendiri, orang lain, dan dunia. Aborsi membunuh bayi-bayi tak berdosa, menghancurkan panggilan kudus menjadi seorang ibu, dan memperlakukan tubuh perempuan yang suci sebagai alat belaka. Pornografi dan masturbasi tampaknya tidak terlalu menjadi masalah karena merupakan sesuatu yang ‘pribadi’. Tapi masturbasi menyebabkan masalah kesehatan mental karena kita semakin membutuhkan lebih banyak hormon dopamin (hormon kesenangan) untuk memuaskan kita. Kita tidak lagi bisa puas dengan hal-hal yang biasanya memuaskan kita, dan kita menjadi ketagihan. Sekali lagi, hal ini menyebabkan kita melihat tubuh kita dan orang lain hanya sebagai alat untuk memberikan kesenangan. Dengan mengikuti hukum-hukum Tuhan, kita tidak hanya menghindari bahaya dalam hidup kita tetapi juga berjalan di jalan kebahagiaan sejati.

Kedua, dosa adalah kontradiksi dari kasih Allah. Allah itu kasih, dan Dia mengasihi kita melebihi apa yang dapat kita bayangkan. Sebagai sang Kekasih Ilahi, Dia menghendaki hal-hal yang terbaik terjadi pada kita, dan Dia menghendaki kita untuk bersatu dengan-Nya sebagai satu-satunya yang dapat memuaskan hasrat kita yang tak terbatas. Namun, cinta sejati tidak memaksa dan memberikan kebebasan untuk memilih dan mengasihi Dia. Robot dapat mematuhi semua perintah kita, tetapi tidak ada kasih karena robot tidak memiliki kebebasan. Seekor anjing Labrador dapat mematuhi kita dan memberikan pelukan penuh emosi, tetapi ini bukanlah cinta sejati, melainkan insting seekor anjing untuk melekat pada pemiliknya untuk bertahan hidup. Kita memiliki kebebasan sejati. Sayangnya, kita menyalahgunakan kebebasan kita untuk memilih sesuatu yang lebih rendah dari Allah dan, dengan demikian, melanggar hukum-Nya. Oleh karena itu, dosa adalah pilihan radikal untuk berpaling dari Tuhan. Neraka bukanlah hukuman Allah, melainkan keputusan kita untuk terpisah dari Allah, kebahagiaan sejati kita.

Oleh karena itu, ketika membaca Injil, kita segera menyadari bahwa jika ada satu hal yang paling dibenci oleh Yesus, itu adalah dosa. Dia tahu betul apa itu dosa dan apa akibatnya bagi kita manusia. Adam dan Hawa berdosa, dan mereka membawa seluruh umat manusia ke dalam spiral kegilaan dan keputusasaan. Yesus datang ke dunia ini untuk menawarkan pengampunan dosa dan menunjukkan kasih Allah di kayu salib sehingga kita dapat tergerak untuk bertobat. Yesus mengasihi dan dekat dengan orang-orang berdosa karena Dia menghendaki mereka untuk menerima pengampunan Allah.

Oleh karena itu, mewartakan tentang dosa dan pertobatan serta berdoa bagi orang-orang berdosa adalah turut ambil bagian dalam misi Yesus dan kasih Allah. Namun, jika kita menghindar dari memberitakan pertobatan dan bahkan mempromosikan konsep yang salah tentang dosa, kita mungkin pantas untuk dilempar ke laut dengan batu kilangan.”

Surabaya

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan untuk refleksi:

Bagaimana kita memahami konsep dosa? Apakah kita berbicara tentang dosa dan pertobatan, atau apakah kita berusaha menghindarinya? Apakah kita terus mengevaluasi dan mengoreksi diri kita sendiri? Apakah kita sering mengunjungi sakramen pengakuan dosa? Apakah kita mengundang orang lain untuk merefleksikan kasih dan pertobatan Allah?

The True Greatness

25th Sunday in Ordinary Time [B]

September 22, 2024

Mark 9:30-37

The question of greatness is a major preoccupation of the disciples and many of us. What does it mean to be great? What is real greatness? What makes us great? Does Jesus teach us to pursue greatness, or does He shun it?

The disciples were arguing among themselves, ‘Who is the greatest?’ And this question was not coming out of the void but instead occasioned by Jesus’ revelation of His identity. In an earlier chapter, Jesus announced to His disciples that He is indeed the Christ, the Messiah expected by the Israelites. However, Jesus clarified further that this Christ must endure rejection, passion, and death. Unfortunately, the disciples did not understand the truth and persisted in their old beliefs. They thought Jesus was a Messiah like King David, who would lead Israel to victory against the enemies. The Messiah must not only free Israel from Roman oppression but also bring economic prosperity, religious freedom and renewal. To think a messiah would suffer and be defeated was incomprehensible and unacceptable.

Yet, Jesus seized the opportunity to teach about the true meaning of greatness. Jesus did not oppose the idea of greatness or having authority or power. Instead, Jesus clarified that to achieve true greatness, one must use his power and authority to serve and be the last. But what does it mean to serve? Is it enough to join and involve ourselves in charity programs or apostolates? Does serving mean giving donations to the poor or the Church?

After Jesus taught the disciples about true greatness, He did something extraordinary. He placed a little child amid His disciples and blessed the child. He said, “Whoever receives one child such as this in my name, receives me; and whoever receives me, receives not me but the One who sent me.” From here, we can conclude that to become great is to receive a little child in the name of Jesus. Then, where do we receive a child in the name of Jesus? The answer is in the family.

To become a parent, a father, and a mother is a call of true greatness. Accepting little and weak children in joy, raising them in faith, and finally offering them to the Lord require life-long sacrifice. This practically turns us into humble servants. This greatness does not make us famous, materially wealthy, politically powerful, or physically beautiful. In fact, we become the opposite! But this allows us to receive Jesus and the Father in our lives. Jesus seems to foresee a future where little children are rejected and even murdered.

Finally, true greatness is not here on earth but there in heaven. No wonder that in the Catholic tradition, the greatest saints in heaven are Mary, the mother of Jesus, and Joseph, Jesus’ foster father. Both Mary and Joseph accepted the little baby Jesus in their lives and raised Him in love and joy. They became the prime examples of true greatness.

Manila

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Questions for reflections:

How do we understand true greatness? Do we strive to be great? Do we serve others? How? Do we also make sacrifices for others? How? Do we recognize parenthood as a call to greatness? For parents, how do we accept and love our children? What sacrifices do we make for our children? Are we aware that we must bring our children to God? For those who are not married, how do we accept and love little children in our lives?

Keagungan yang Sejati

Minggu ke-25 dalam Masa Biasa [B]

22 September 2024

Markus 9:30-37

Pertanyaan tentang menjadi besar atau agung adalah pertanyaan yang paling sering muncul di benak para murid dan juga di benak kita. Apakah yang dimaksud dengan menjadi besar? Apakah kebesaran yang sesungguhnya? Apa yang membuat kita menjadi hebat? Apakah Yesus mengajarkan kita untuk mengejar keagungan, atau apakah Dia menghindarinya?

Para murid berdebat di antara mereka sendiri, “Siapakah yang terbesar? Dan pertanyaan ini tidak muncul begitu saja, melainkan karena Yesus menyatakan jati diri-Nya. Dalam bab sebelumnya, Yesus menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Dia adalah Kristus atau Mesias yang dinanti-nantikan oleh bangsa Israel. Namun, Yesus menjelaskan lebih lanjut bahwa Mesias ini harus mengalami penolakan, penderitaan, dan kematian. Sayangnya, para murid tidak memahami kebenaran ini dan tetap bertahan dalam keyakinan lama mereka. Mereka mengira Yesus adalah Mesias seperti Raja Daud, yang akan memimpin Israel menuju kemenangan melawan musuh-musuh mereka. Mesias tidak hanya harus membebaskan Israel dari penindasan Romawi, tetapi juga membawa kemakmuran ekonomi, kebebasan beragama, dan pembaharuan. Berpikir bahwa seorang Mesias akan menderita dan kalah adalah hal yang tidak dapat dipahami dan tidak dapat diterima.

Namun, Yesus mengambil kesempatan ini untuk mengajarkan tentang arti keagungan yang sebenarnya. Yesus tidak menentang gagasan kebesaran atau memiliki otoritas atau kekuasaan. Sebaliknya, Yesus menjelaskan bahwa untuk mencapai kebesaran yang sejati, seseorang harus menggunakan kuasa dan otoritasnya untuk melayani dan menjadi yang terakhir. Namun, apa yang dimaksud dengan melayani? Apakah cukup dengan bergabung dan melibatkan diri kita dalam program-program amal atau kerasulan? Apakah melayani sekedar berarti memberikan sumbangan kepada orang miskin atau Gereja?

Setelah Yesus mengajar para murid tentang keagungan yang sejati, Dia melakukan sesuatu yang luar biasa. Dia menempatkan seorang anak kecil di tengah-tengah para murid-Nya dan memberkati anak itu. Dia berkata, “Barangsiapa menyambut seorang anak kecil seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia tidak menyambut Aku, melainkan Dia yang mengutus Aku.” Dari sini, kita dapat menyimpulkan bahwa untuk menjadi besar adalah dengan menerima seorang anak kecil di dalam nama Yesus. Lalu, di manakah kita menerima seorang anak kecil di dalam nama Yesus? Jawabannya adalah di dalam keluarga.

Menjadi orang tua, ayah, dan ibu adalah panggilan keagungan sejati. Menerima anak-anak kecil yang lemah dalam sukacita, membesarkan mereka dalam iman, dan akhirnya mempersembahkan mereka kepada Tuhan, semua ini membutuhkan pengorbanan seumur hidup. Hal ini secara praktis mengubah kita menjadi hamba yang rendah hati. Kebesaran ini tidak membuat kita menjadi terkenal, kaya secara materi, berkuasa secara politik, atau cantik secara fisik. Bahkan, kita menjadi sebaliknya! Tetapi hal ini memungkinkan kita untuk menerima Yesus dan Bapa dalam hidup kita. Yesus tampaknya berbicara tentang masa depan di mana anak-anak kecil ditolak dan bahkan dibunuh.

Akhirnya, keagungan sejati tidak ada di bumi ini, melainkan di surga. Tidak heran jika dalam tradisi Katolik, orang-orang kudus terbesar di surga adalah Maria, ibu Yesus, dan Yusuf, ayah angkat Yesus. Baik Maria maupun Yusuf menerima bayi kecil Yesus dalam hidup mereka dan membesarkan-Nya dengan penuh kasih dan sukacita. Mereka menjadi contoh utama kebesaran sejati.

Manila

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan untuk refleksi:

Bagaimana kita memahami keagungan sejati? Apakah kita berusaha untuk menjadi hebat? Apakah kita melayani orang lain? Bagaimana caranya? Apakah kita juga berkorban untuk orang lain? Apa saja yang kita korbankan? Apakah kita menyadari menjadi orang tua sebagai panggilan hebat? Bagi para orang tua, bagaimana kita menerima dan mengasihi anak-anak kita? Pengorbanan apa yang kita lakukan untuk anak-anak kita? Apakah kita sadar bahwa kita harus membawa anak-anak kita kepada Allah? Bagi mereka yang belum menikah, bagaimana kita menerima dan mengasihi anak-anak kecil dalam hidup kita?

Sola Fide and Letter of James

24th Sunday in Ordinary Time [B]

September 15, 2024

James 2:14-18

When Martin Luther separated from the Catholic Church, he began translating the Bible into the native German language. However, he did not only translate but also segregate the books in the Bible. He placed some books in the appendix rather than in usual, and one of those books was The Letter of St. James. He dubbed the letter as ‘the epistle of straw.’  Fortunately, the Christians did not follow his advice and considered the epistle canonical. But why was Luther so eager to remove this letter from the Bible?

The reason Luther saw the letter as a mere straw is that the letter does not fit his theology. In his preface to the New Testament in 1522, he commented that the letter had ‘nothing of the nature of the Gospel about it.’ He judged that the letter contradicted his belief in salvation by faith alone (in Latin, sola fide). One particular verse that opposes the idea of sola fide is Jam 2:24. “You see that a person is justified by works and not by faith alone.”

To understand further what this verse means, we must first understand ‘sola fide.’  Martin Luther believed that man was justified before God by faith alone. When we sin, for Luther, our nature is totally corrupted, and we are destined for hell. Yet, the sacrifice of Jesus hides our broken natures, and we are justified because God did not see us, but Jesus who covers us. What we need to do is to have faith or to believe in God’s promise of salvation through Jesus Christ. Luther denied any work we do, no matter how good they are, would be beneficial for our justification.

Meanwhile, St. James, our Lord’s brother and Jerusalem’s bishop, wrote his letter around 1500 years before Luther. Indeed, he did not mainly write against Luther, yet providentially, he wrote against those with a Luther-like mentality. Aside from addressing some problems in his community, like the discrimination against poor people, especially in the celebration of the Eucharist (2:1-6) and violation of the Ten Commandments (2:6-13, James also criticized some people who had faith in Jesus Christ but neglected the works of charity. Faith based on intellect and conviction is not sufficient for salvation. James taught that saving faith would manifest in love. Here, James agreed with St. Paul as St. Paul wrote, “Only faith working through love (Gal 5:6)”.

Finally, James also taught what Jesus taught to His disciples. In today’s Gospel, Jesus asked His disciples, “Who am I.” Simon Peter correctly answered, “You are Christ.” However, Peter’s confession of faith entails a more fundamental truth. Jesus taught them that they had to carry their crosses to follow Christ. Faith in Jesus entails our cross, that is, the sacrifice of love. It is not enough to let Jesus carry His cross while we sit nicely and watch His sacrifice. We also need to take part in His cross.

The Letter of St. James is another reminder not to pick Bible verses that suit our theology but rather to live according to Jesus’ teachings, which were handed down to the apostles.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Guide questions:

Do we have faith in God? How do we understand our faith? Do we bring our faith to live in the works of charity? What are the works of charity we do to express our faith? Are we able to explain our faith to people who ask? Do we share our faith? How do we share our faith? Do people get closer to God because of our faith? Or Do people go away from God because of us?

Sola Fide dan Surat Yakobus

Hari Minggu ke-24 dalam Masa Biasa [B]

15 September 2024

Yakobus 2:14-18

Ketika Martin Luther memisahkan diri dari Gereja Katolik, ia mulai menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa asli Jerman. Namun, ia tidak hanya menerjemahkan tetapi juga memilah-milah kitab-kitab dalam Alkitab. Dia menempatkan beberapa kitab di bagian lampiran, bukan di tempat biasanya, dan salah satunya adalah Surat Yakobus. Ia menjuluki surat tersebut sebagai ‘surat jerami’.  Untungnya, orang-orang Kristen pada umumnya tidak mengikuti rekomendasi Luther ini, dan tetap melihat surat itu sebagai kanonik atau bagian dari Kitab Suci. Pertanyaannya: mengapa Luther ingin menghapus surat ini dari Alkitab?

Alasan Luther melihat surat St. Yakobus sebagai ‘jerami’ atau tidak berguna adalah karena surat tersebut tidak sesuai dengan teologinya atau pemikirannya. Dalam kata pengantar untuk terjemahan Perjanjian Baru yang dibuatnya pada tahun 1522, ia berkomentar bahwa surat tersebut ‘tidak memiliki sifat Injili sama sekali’. Ia menilai bahwa surat tersebut bertentangan dengan keyakinannya akan keselamatan hanya melalui iman (dalam bahasa Latin, sola fide). Salah satu ayat yang menentang ide sola fide adalah Yakobus 2:24. “Kamu tahu, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.”

Untuk memahami lebih jauh apa yang dimaksud oleh ayat ini, pertama-tama kita harus memahami ‘sola fide’. Martin Luther percaya bahwa manusia dibenarkan di hadapan Allah hanya karena iman. Ketika kita berdosa, bagi Luther, kodrat kita benar-benar hancur, dan kita ditakdirkan untuk masuk neraka. Namun, pengorbanan Yesus di salib menyembunyikan kodrat kita yang rusak ini, dan kita dibenarkan karena Allah tidak melihat kita, tetapi Yesus di salib yang menutupi kebobrokan kita. Yang perlu kita lakukan adalah memiliki iman atau percaya kepada janji keselamatan Allah melalui Yesus Kristus. Luther menyangkal bahwa perbuatan yang kita lakukan, tidak peduli seberapa baik perbuatan itu, akan bermanfaat bagi pembenaran kita.

Sementara itu, Yakobus, saudara Tuhan kita dan juga uskup Yerusalem, menulis suratnya sekitar 1500 tahun sebelum Luther. Memang, ia tidak secara khusus menulis untuk menentang Luther, tetapi secara kebetulan, ia menulis untuk menentang mereka yang memiliki mentalitas seperti Luther. Selain membahas beberapa masalah dalam komunitasnya, seperti diskriminasi terhadap orang miskin, terutama dalam perayaan Ekaristi (2:1-6) dan pelanggaran Sepuluh Perintah Allah (2:6-13), Yakobus juga mengkritik beberapa orang yang mengklaim beriman kepada Yesus Kristus tetapi mengabaikan perbuatan cinta kasih. Iman yang didasarkan pada akal budi dan keyakinan tidaklah cukup untuk keselamatan. Yakobus mengajarkan bahwa iman yang menyelamatkan akan terwujud dalam kasih. Di sini, Yakobus sependapat dengan Santo Paulus yang mengatakan bahwa keselamatan terjadi melalui “iman yang bekerja oleh kasih” (Gal. 5:6).

Akhirnya, Yakobus juga mengajarkan apa yang Yesus ajarkan kepada murid-murid-Nya. Dalam Injil hari ini, Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya, “Siapakah Aku?” Simon Petrus dengan tepat menjawab, “Engkau adalah Kristus.” Namun, pengakuan iman Petrus mengandung kebenaran yang lebih mendasar. Yesus mengajarkan bahwa mereka harus memikul salib mereka untuk mengikuti Kristus. Iman kepada Yesus mensyaratkan salib kita, yaitu pengorbanan kasih. Tidaklah cukup membiarkan Yesus memikul salib-Nya sementara kita duduk manis dan menyaksikan pengorbanan-Nya. Kita juga perlu mengambil bagian dalam salib-Nya.

Surat Yakobus adalah pengingat untuk tidak memilih ayat-ayat Alkitab yang sesuai dengan teologi kita, melainkan untuk hidup sesuai dengan ajaran Yesus, yang diturunkan kepada para rasul.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan panduan:

Apakah kita beriman kepada Allah? Bagaimana kita memahami iman kita? Apakah kita menghidupi iman kita dalam karya kasih? Apa saja perbuatan kasih yang kita lakukan untuk mengekspresikan iman kita? Apakah kita mampu menjelaskan iman kita kepada orang-orang yang bertanya? Apakah kita membagikan iman kita? Bagaimanakah kita membagikan iman kita? Apakah orang-orang menjadi lebih dekat dengan Allah karena iman kita? Atau Apakah orang-orang menjauh dari Allah karena kita?

The Saving Word

23rd Sunday in Ordinary Time [B]

September 8, 2024

Mark 7:31-37

Jesus performed a lot of miracles, and He did that in various ways. At times, He used physical contact to bring about miracles. Yet, the most common way is by saying the words. Jesus rebuked and expelled the demons by His words (Mar 1:25). Jesus healed and forgave the sins of the paralytic by His words (Mar 2:5). In today’s Gospel, Jesus cured the deaf man by declaring ‘Ephphatha’ (Mar 7:34), and many other miracles. The question is, why did Jesus choose His words to perform His miracles? Is it simply to state the facts, or is there something more?

By performing miracles through His words, Jesus reveals that His words are as authoritative as God’s. Initially, God created the world through His mighty words, even to make something out of nothing. ‘Let be there light,’ and there was light. When Jesus said, ‘Be gone!’ the powerful entity like demons obeyed His words. When Jesus said, “Talitaku cumi,” the young girl was raised from the dead. When Jesus said, ‘Ephphatha!’ the deaf and mute can hear and speak. Jesus’ words reveal His divine identity and authority.

Just like God shared His words with Adam, Adam could name the other creatures and have authority over them, so Jesus also shared His powerful words with His Church. Jesus told Peter, “I will give you the keys of the kingdom of heaven, and whatever you bind on earth will be bound in heaven, and whatever you loose on earth will be loosed in heaven (Mt 16:19).”  Binding and loosing are rabbinic term for authority to teach, to use words that binds us even in heavens. Jesus also told His disciples, “Receive the Holy Spirit.  If you forgive the sins of any, they are forgiven them; if you retain the sins of any, they are retained (Jn 20:22–23).” Through participating in Jesus’ divine words, the apostles share the mission of healing and sanctifying.

As Jesus handed down His divine words to His apostles, the apostles handed the exact words to their successors throughout the generations. We, the Catholic Church, possess these divine words. Every time a priest repeated the words of consecration, “This is My Body” and “This is My Blood,” we have the real presence in the Eucharist. Every time, in a confession, a priest pronounces, “I absolve your sins,” our sins are forgiven.  Every time, a priest (or even a lay) pours water on our foreheads and says, “John, I baptize you in the name of the Father, and of the Son, and of the Holy Spirit. Amin,” a new creature was born.   

Yet, these divine words do not only belong to the priests. These belong to every Christian. When a man and a woman pronounce their marital consent and promise, the invisible yet indissoluble union is created. When parents bless their children with a sign of the cross on the foreheads, God’s blessing is upon these children. Our mission is to sanctify the world, and we are equipped to fulfill it because Jesus has entrusted His divine words to us.

Surabaya

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Questions for reflections:

How do we use our words? Do we build and bless people with our words? Do we hurt and destroy other people with our words? How do we bring people closer to God through our words? What are our favorite words? Are they good and edifying words? Do the words of God transform us? Do we hear and read the word of God often in the Bible?