Dua Roti

Minggu ke-18 dalam Masa Biasa [B]

4 Agustus 2024

Yohanes 6:24-35

Kita diciptakan sebagai makhluk yang terdiri dari raga dan jiwa. Oleh karena itu, untuk bertahan hidup dan berkembang, tubuh dan jiwa kita harus diberi makan. Memberi makan tubuh kita dengan cepat dilakukan melalui roti, nasi atau makanan fisik lainnya. Namun, bagaimana kita memelihara jiwa kita? ‘Makanan’ seperti apa yang harus kita berikan kepada jiwa kita agar jiwa kita tidak binasa?

Bagi kita umat Katolik, jawabannya sudah jelas. Tubuh Kristus dalam Ekaristi adalah roti surga yang memelihara jiwa kita. Seperti yang dinyatakan oleh Yesus sendiri, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu (Yohanes 6:53).”  Namun, tantangan yang sebenarnya adalah bahwa kita sering tergoda, seperti halnya bangsa Israel, untuk memprioritaskan roti duniawi. Berapa banyak dari kita yang memilih untuk tidak ikut Misa Minggu untuk bekerja atau bersantai?

Tantangan lainnya adalah bahwa kita sering mencampuradukkan roti hidup yang sejati dengan roti duniawi. Kita cenderung menyamakan hal-hal rohani dengan hal-hal emosional. Kita lupa bahwa kebutuhan emosional tetap merupakan bagian dari konstitusi tubuh kita. Dengan demikian, kita mengira bahwa kita telah disentuh secara rohani ketika kita merasa terisi secara emosional melalui berbagai pengalaman keagamaan. Harus diakui, menghadiri Misa dan menerima Komuni kudus tidak selalu menjadi pengalaman yang penuh emosi. Ya, beberapa dari kita merasakan sensasi yang luar biasa selama Ekaristi, tetapi banyak dari kita yang mengalami ‘kekeringan’. Misa tampaknya tidak memuaskan kerinduan kita yang terdalam.  Tidak heran jika sebagian dari kita mulai mencari pilihan, tempat, atau kegiatan lain yang memberi kita lebih banyak sensasi. Kita memperlakukan kegiatan-kegiatan keagamaan tidak berbeda dengan acara-acara pemuas emosi lainnya.

Tantangan terakhir adalah menukar makanan rohani kita dengan kebutuhan jasmani kita. Kita mencari Yesus agar Dia dapat memenuhi kebutuhan jasmani kita. Kita pergi ke Gereja dan meminta Yesus untuk menyembuhkan penyakit kita, menyelesaikan masalah keuangan kita, atau menyelesaikan masalah keluarga kita. Memang, tidak apa-apa untuk membawa masalah kita kepada Tuhan. Bagaimanapun juga, Dia juga memelihara kita. Namun, terkadang, kita menjadi sibuk dengan masalah-masalah kita dan kemudian melupakan tujuan Ekaristi yang sesungguhnya, yaitu untuk memberi makan jiwa kita. Hal ini seperti orang-orang Yahudi dalam Injil yang ingin menjadikan Yesus sebagai raja karena kebutuhan perut dan politik mereka dan bukan karena roti ilahi.

Jadi, bagaimana kita tahu bahwa jiwa kita bertumbuh melalui roti kehidupan? Jawabannya adalah kasih. Kita tahu bahwa rahmat bekerja di dalam diri kita ketika kita dapat mengasihi lebih banyak dan berkorban lebih besar. Kita menjadi lebih sabar terhadap orang-orang yang sulit di sekitar kita. Kita mengantisipasi kebutuhan orang lain. Kita terus melakukan hal-hal yang baik bahkan tanpa dihargai. Jiwa kita hanya dapat bertumbuh dan melakukan hal-hal besar ketika roti kehidupan terus menerus memberi kita makan.

Surabaya

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The True Miracle

17th Sunday in Ordinary Time

July 28, 2024

John 6:1-15

The miracle of the multiplication of bread is a special one because this miracle is different from other Jesus’ miracles. Yet, what makes it truly unique from other miracles? How does this miracle shape our faith in Jesus?

The first thing we can observe is that this miracle is emerging from Jesus’ initiative. Jesus saw the people following Him,  He recognized their need and then, He came out with a miraculous solution. From this perspective, we can draw beautiful points about our God. He is not God who is far, aloof and only waiting for the people to approach Him and beg something from Him. Our God is a loving God who unfaillingly recognizes our needs and conditions, and even provides our needs even without us asking. God anticipates our necessities and fulfills them even without our realization. This is true and divine love, that is anticipatory, consistent and often overlooked. Do we thank the Lord for every breath we inhale? Are we grateful for the water we drink? Yet, God provides these for us.

However, the second character of this miracle makes it even more remarkable and unique. Before Jesus performed the miracle, He presented the situation to His disciples, and asked them to solve it. Philip immediately reduced the situation into an economic problem, and answered his Master that it was impossible to feed the people without spending massive amounts of money. Fortunately, Andrew recognized Jesus’ intention to test His disciples. He then brought a little but generous boy who offered his bread and fish to Jesus to be shared. Then, the miracle began to unfold.

If we try to compare with other miracles of Jesus, we discover that Jesus wills His disciples and followers to participate in the miracle. In other miracles like healings and exorcism, Jesus did it by Himself. He had no need for any help or participation from His disciples. Yet, when Jesus performed one of the greatest miracles, He wanted His disciples to generously offer what they have, and let Jesus bless their offerings, and so become a blessing for many people.

This is the true beauty of the miracle of multiplication of bread. Indeed, God can easily work without us, as many times He does, but He also chooses to work and perform His miracles through us. And, as we offer what we have and allow God’s grace to operate in us, God perfects us and makes us His miracles to many people. Through this participation, our dignity as children of God is elevated and further glorified.

As a preacher, I offer to the Lord, my time, my intellectual capacity, and my study of Sacred Scriptures, and often, I feel these are not sufficient. But, I pray that every time I preach, the Lord will multiply these tiny resources I have into the spiritual fruits in those who hear. As good parents, we offer our time, energy, and other resources to the Lord as we raise our children. Often, we feel these are not enough, but God blesses us and our children miraculously grow into mature individuals. How do you participate in God’s works and miracles?

Manila

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kita adalah Mukjizat

Minggu ke-17 dalam Masa Biasa

28 Juli 2024

Yohanes 6:1-15

Mukjizat penggandaan roti merupakan mukjizat yang istimewa karena mukjizat ini berbeda dengan mukjizat-mukjizat Yesus yang lain. Namun, apa yang membuatnya benar-benar unik dari mukjizat-mukjizat lainnya? Bagaimana mukjizat ini membentuk iman dan identitas kita?

Hal pertama yang dapat kita amati adalah bahwa mukjizat ini muncul dari inisiatif Yesus. Yesus melihat orang-orang yang mengikuti-Nya, Dia mengenali kebutuhan mereka dan kemudian, Dia datang membawa solusi. Dari perspektif ini, kita dapat menarik poin-poin yang indah tentang Allah kita. Dia bukanlah Tuhan yang jauh, menyendiri dan hanya menunggu orang-orang untuk datang kepada-Nya dan memohon sesuatu kepada-Nya. Allah kita adalah Allah yang penuh kasih yang tidak pernah gagal mengenali kebutuhan dan kondisi kita, dan bahkan menyediakan kebutuhan kita tanpa kita minta. Tuhan mengantisipasi kebutuhan kita dan memenuhinya bahkan tanpa kita sadari. Inilah kasih yang sejati dan ilahi, yang antisipatif, konsisten, dan sering kali terabaikan. Apakah kita bersyukur kepada Tuhan untuk setiap napas yang kita hirup? Apakah kita bersyukur atas air yang kita minum? Namun, Tuhan menyediakan semua itu untuk kita tanpa kita minta.

Namun, hal kedua dari mukjizat ini membuatnya semakin luar biasa dan unik. Sebelum Yesus melakukan mukjizat, Dia memaparkan situasi yang mereka hadapi kepada murid-murid-Nya, dan meminta mereka untuk menyelesaikannya. Filipus segera mereduksi situasi tersebut menjadi masalah ekonomi, dan menjawab Gurunya bahwa tidak mungkin memberi makan orang banyak tanpa mengeluarkan uang dalam jumlah besar. Untungnya, Andreas menyadari maksud Yesus untuk menguji murid-murid-Nya. Ini bukan masalah uang, tetapi iman kepada Yesus. Dia kemudian membawa seorang anak kecil yang murah hati yang memberikan roti dan ikannya kepada Yesus untuk dibagikan. Kemudian, mukjizat mulai terjadi.

Jika kita mencoba membandingkan dengan mukjizat-mukjizat Yesus yang lain, kita akan menemukan bahwa Yesus menghendaki para murid dan pengikut-Nya untuk berpartisipasi dalam mukjizat tersebut. Dalam mukjizat-mukjizat lain seperti penyembuhan dan pengusiran setan, Yesus melakukannya sendiri. Dia tidak membutuhkan bantuan atau partisipasi dari murid-murid-Nya. Namun, ketika Yesus melakukan salah satu mukjizat terbesar (lima ribu orang kenyang!), Dia ingin para murid-Nya dengan murah hati memberikan apa yang mereka miliki, dan membiarkan Yesus memberkati persembahan mereka, dan dengan demikian menjadi berkat bagi banyak orang.

Inilah keindahan sejati dari mukjizat pelipatgandaan roti. Memang, Tuhan dapat dengan mudah bekerja tanpa kita, seperti yang sering Dia lakukan, tetapi Dia juga memilih untuk bekerja dan melakukan mukjizat-Nya melalui kita. Dan, ketika kita mempersembahkan apa yang kita miliki dan mengizinkan rahmat Allah bekerja di dalam diri kita, Allah menyempurnakan kita dan menjadikan kita sebagai mukjizat bagi banyak orang. Melalui partisipasi ini, martabat kita sebagai anak-anak Allah diangkat, disempurnakan dan semakin dimuliakan.

Sebagai seorang pewarta, saya mempersembahkan kepada Tuhan, waktu, kapasitas intelektual, dan pembelajaran saya akan Kitab Suci, dan sering kali, saya merasa semua itu tidak cukup untuk membuat sebuah khotbah atau homili yang baik. Namun, saya berdoa agar setiap kali saya berkhotbah, Tuhan berkenan melipatgandakan sumber daya yang saya miliki menjadi buah-buah rohani bagi mereka yang mendengarnya. Sebagai orang tua yang baik, kita mempersembahkan waktu, tenaga, dan berbagai sumber daya kepada Tuhan untuk kita membesarkan anak-anak kita. Seringkali, kita merasa semua itu tidak cukup, tetapi Tuhan memberkati kita dan anak-anak kita bertumbuh bagaikan mukjizat, menjadi pribadi-pribadi yang dewasa.

Bagaimana kamu berpartisipasi dalam karya dan mukjizat Tuhan?

Manila

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Featured

Jesus, Our Peace

16th Sunday in Ordinary Time [B]

July 21, 2024

Eph 2:13-18

In his letter to the Ephesians, St. Paul called Jesus ‘He is our peace.’ Yet, why did St. Paul apply this strange title to Jesus? What does it really mean? And, how does this title affect our faith?

To understand Paul, we have to understand also the Old Testament. Afterall, Paul was a member of Pharisees, and thus, not only a zelous but also learned Jew. When St. Paul called Jesus as ‘peace’, he referred to the peace offering of the Jerusalem Temple. The peace offering (in Hebrew, Shalom) is one of sacrifices instructed by the Lord to the Israelites through Moses (see Lev 3). The peace offerings together with other with other sacrifices continued being offered in the time of Jesus and Paul. The ritual sacrifices ceased when the Romans burned down the Temple of Jerusalem in 70 AD, around two decades after Paul’s martyrdom.

As its name suggests, the purpose of this sacrifice is the reconciliation between the Lord, the God of Israel, and the Israelites who have offended the Lord. However, unlike other sacrifices that emphasize on satisfactions of sins and transgressions, like sin offering (chatat) and guilt offering (asham), the peace offering focuses on the result of God’s forgiveness, that is peace. When man offends God because of his sins, man becomes far from God, like an stranger and even enemy. There is enmity between God and man because of sin. There is no peace. However, when the man is forgiven, and his sins are removed, his friendship with God is restored, and there is peace between God and men. This peace causes joy and thanksgiving. The peace offering symbolizes the joy of forgiveness, the thanksgiving of peace achieved.

When St. Paul called Jesus as ‘our peace,’ St. Paul recognized Jesus offered Himself as the peace offering in the cross. Jesus did not only remove our sins, but also reconciled us to the Father. Jesus is the peace because He broke our enmity with God, and brought us back to God in friendship. Only in Jesus, we are at peace with God.

However, peace offering is also a special kind of sacrifice because it is not burnt totally (unlike holocaust sacrifice) but rather being shared also with the priest and the offerers. The fatty parts is burnt because it is for the Lord, some other parts of the animal are for the priests to consume and other parts are for those who offer the sacrifice. Thus, the peace sacrifice is like a meal shared by everyone. The sacrifice becomes the symbol of peace because only people who are at peace with each other can share the same table and food.

However, what is even more remarkable is the Catholic Church has this peace offering. Indeed, our peace offering is the Eucharist. In the Eucharist, Jesus is offered to the God the Father, and then, consumed not only by the priest, but also the faithful who participate in the celebration. Jesus Christ is truly our peace because in the Eucharist, we share the same meal with God.

Valentinus  Bayuhadi Ruseno, OP

Yesus, Damai Sejahtera Kita

Minggu ke-16 dalam Masa Biasa [B]

21 Juli 2024

Efesus 2:13-18

Dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, Santo Paulus menyebut Yesus sebagai “Damai Sejahtera Kita”. Namun, mengapa Santo Paulus memberikan gelar yang aneh ini kepada Yesus? Apakah arti sebenarnya dari gelar ini? Dan, bagaimana gelar ini mempengaruhi iman kita?

Untuk memahami Paulus, kita juga harus memahami Perjanjian Lama. Bagaimanapun, Paulus pernah menjadi anggota kelompok Farisi, dan dengan demikian, bukan hanya seorang Yahudi yang taat tetapi juga terpelajar. Ketika Santo Paulus menyebut Yesus sebagai ‘damai sejahtera’, ia mengacu pada kurban atau persembahan perdamaian di Bait Allah Yerusalem. Persembahan perdamaian (dalam bahasa Ibrani, Shelomin) adalah salah satu kurban binatang yang diperintahkan oleh Tuhan kepada bangsa Israel melalui Musa (lihat Imamat 3). Ritual kurban yang dimulai dari zaman Musa ini terus berlangsung sampai bangsa Romawi menghancurkan Bait Suci Yerusalem pada tahun 70 Masehi, sekitar dua dekade setelah kemartiran Paulus. Sehingga Paulus sendiri tidak asing dengan kurban yang satu ini, dan bahkan pernah mempersembahkan kurban jenis ini.

Sesuai namanya, tujuan dari kurban ini adalah untuk perdamaian (rekonsiliasi) antara Tuhan, Allah Israel, dengan orang Israel yang telah bersalah kepada Tuhan. Namun, tidak seperti kurban jenis lain yang menekankan pada penghapusan dosa dan pelanggaran, seperti kurban penghapus dosa (Imamat 4) dan kurban penghapus salah (Imamat 5), kurban perdamaian berfokus pada hasil pengampunan Tuhan, yaitu perdamaian. Ketika manusia menyakiti hati Tuhan karena dosa-dosanya, manusia menjadi jauh dari Tuhan, bahkan seperti layaknya orang asing dan bahkan musuh. Ada permusuhan antara Tuhan dan manusia karena dosa, dan karena ada permusuhan, maka tidak ada damai. Namun, ketika orang tersebut diampuni, dan dosa-dosanya dihapuskan, persahabatannya dengan Tuhan dipulihkan, dan ada perdamaian antara Tuhan dan manusia. Kedamaian ini menyebabkan sukacita dan ucapan syukur. Persembahan perdamaian melambangkan sukacita pengampunan, ucapan syukur atas perdamaian yang telah dicapai.

Ketika Santo Paulus menyebut Yesus sebagai ‘damai sejahtera kita’, Santo Paulus mengenali bahwa Yesus mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai kurban perdamaian di kayu salib. Yesus tidak hanya menghapus dosa-dosa kita, tetapi juga memperdamaikan kita dengan Bapa. Yesus adalah damai sejahtera karena Dia telah menghancurkan permusuhan kita dengan Allah, dan membawa kita kembali kepada Allah dalam persahabatan. Hanya di dalam Yesus, kita berdamai dengan Allah.

Namun, kurban perdamaian juga merupakan jenis kurban yang istimewa karena tidak dibakar seluruhnya (tidak seperti kurban bakaran, Imamat 1). Bagian yang berlemak dibakar karena itu untuk Tuhan, beberapa bagian lain dari hewan tersebut untuk dikonsumsi oleh para imam dan bagian lainnya untuk mereka yang mempersembahkan kurban. Dengan demikian, kurban perdamaian menjadi makanan yang dibagikan kepada semua orang. Kurban ini menjadi simbol perdamaian karena hanya orang-orang yang berdamai dengan satu sama lain yang dapat berbagi meja dan makanan yang sama.

Namun, yang lebih luar biasa lagi adalah Gereja Katolik memiliki kurban perdamaian ini. Sesungguhnya, persembahan perdamaian kita adalah Ekaristi. Dalam Ekaristi, Yesus dipersembahkan kepada Allah Bapa, dan kemudian, dikonsumsi tidak hanya oleh imam, tetapi juga oleh umat beriman yang berpartisipasi dalam perayaan tersebut. Yesus Kristus adalah damai sejahtera kita karena dalam Ekaristi, kita berpartisipasi dalam perjamuan yang sama dengan Tuhan.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Thorn in the Flesh

14th Sunday in Ordinary Time

July 7, 2024

2 Cor 12:7-10

St. Paul in his letter to the Corinthians reveals to us that he is struggling with ‘a thorn in the flesh’ caused by the devil. Yet, what does it mean for St. Paul to have ‘a thorn’ in his flesh? And, how does St. Paul deal with this situation?

There are at least three possible answers to this thorn in the flesh. The first posibility is that the thorn refers to the spiritual assaults coming from the evil spirits. Either in the forms of physical harassment or constant inner temptations. The second possible answer may refer to his health condition, especially his eye problem. One time St. Paul complained about his difficulty to read. In his letter to the Galatians, he writes, “you know that it was because of a physical illness that I originally preached the gospel to you, and you did not show disdain or contempt because of the trial caused you by my physical condition…Indeed, I can testify to you that, if it had been possible, you would have torn out your eyes and given them to me.” (Gal 4:13-15). The third possibility is that the thorn may point to his struggles and hardship he endures as he deals with different communities. He often narrates how he was slandered, backstabbed and unfaithfullness.

Which among the three possibilites is the most probable? St. Paul may in fact deal with these three conditions in the course of his ministries, but in my personal opinion, this ‘thorn’ speaks of Paul’s struggle with Christian communities he serves. Ultimately, we are not really sure, but what is important is how Paul deals with this thorn. Firstly, Paul recognizes that God allows satan to cause this thorn. It is a good theology. A perfect God does not directly cause evil since only goodness comes from Him, but God may allow evil to take place as long as He has a sufficient reason, that is to bring out the even greater goodness. Secondly, Paul asks the thorns to be removed. Yet, his prayer is not granted because God wants that thorn to stay and He will use that for His glory.

St. Paul admits that the thorn is to keep St. Paul away from being arrogant. Paul receives a lot of spiritual gifts from the Lord, and these gifts may lead to spiritual pride as he may compare himself with less mature Christians. Thus, the thorn serves as a constant reminder that he is also struggling just like other Jesus’ disciples.

Furthermore, St. Paul realizes that God allows Paul to suffer the thorn because He supplies Paul with nececssary grace. The Lord says to Paul, “My grace is sufficient for you.” It is precisely God’s grace that sustains Paul in coping with the troublesome sitaution. St. Paul discerns that he is able to survive and even flourish through sufferings and weakness because of God’s grace. Paul cannot boast of himself, of his power, his intellegence, and his eloquence because all these things crumble before the weight of sufferings. Paul only can boast of weakness, his sufferings, his hardships, his thorn because precisely in his weakness, people can see how God’s grace works and sustains Paul.

What are our thorns in our lives? Are we angry because God does not take away our thorns? Do we relly solely on our strenght? Do we ask suffient grace to endure and flourish through sufferings?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Duri dalam Daging

Minggu ke-14 dalam Masa Biasa

7 Juli 2024

2 Korintus 12:7-10

Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus mengungkapkan kepada kita bahwa ia bergumul dengan ‘duri dalam daging’ yang disebabkan oleh mailakat Setan. Namun, apa yang dimaksud dengan ‘duri dalam daging’ bagi Santo Paulus? Bagaimana Paulus menghadapi situasi ini?

Setidaknya ada tiga kemungkinan jawaban untuk duri dalam daging ini. Kemungkinan pertama adalah bahwa duri tersebut mengacu pada serangan rohani yang berasal dari roh-roh jahat. Entah dalam bentuk serangan fisik atau godaan batin yang terus menerus. Kemungkinan jawaban kedua merujuk pada kondisi kesehatannya, terutama masalah matanya. Suatu kali Santo Paulus mengeluh tentang kondisi kesehatan matanya. Dalam suratnya kepada jemaat di Galatia, Paulus menulis, “Kamu tahu, bahwa oleh karena penyakit fisiklah aku mula-mula memberitakan Injil kepadamu, dan kamu tidak menunjukkan sikap meremehkan atau menghina karena pencobaan yang ditimbulkan oleh keadaan badanku… Sungguh, aku dapat memberi kesaksian tentang kamu, bahwa sekiranya boleh, kamu telah mencungkil matamu dan memberikannya kepada-Ku.” (Gal. 4:13-15). Kemungkinan ketiga, duri tersebut mungkin menunjuk pada pergumulan dan kesulitan yang dialaminya ketika St. Paulus berurusan dengan komunitas-komunitas Gereja lokal. Dia sering menceritakan bagaimana dia difitnah, ditikam dari belakang, dan dikhianati.

Manakah di antara ketiga kemungkinan tersebut yang paling mungkin terjadi? Paulus mungkin saja menghadapi ketiga kondisi tersebut dalam perjalanan pelayanannya, tetapi menurut saya pribadi, ‘duri’ ini berbicara mengenai pergumulan Paulus dengan komunitas Kristen yang dilayaninya. Pada akhirnya, kita tidak tahu pasti, tetapi yang penting adalah bagaimana Paulus menghadapi duri ini.

Pertama, Paulus mengakui bahwa Tuhan mengizinkan setan untuk menyebabkan duri ini. Ini sejatinya adalah teologi yang baik. Allah yang sempurna tidak secara langsung menyebabkan hal buruk karena hanya kebaikan yang berasal dari-Nya, tetapi Allah dapat mengizinkan hal buruk terjadi selama Dia memiliki alasan yang cukup, yaitu untuk memunculkan kebaikan yang lebih besar dari hal buruk ini. Kedua, Paulus meminta agar duri tersebut disingkirkan. Namun, doanya tidak dikabulkan karena Allah ingin duri itu tetap ada dan Dia akan menggunakannya untuk kemuliaan-Nya.

Paulus mengakui bahwa duri tersebut adalah untuk menjauhkan Paulus dari kesombongan. Paulus menerima banyak karunia rohani dari Tuhan, dan karunia-karunia ini dapat menimbulkan kesombongan rohani karena ia dapat membandingkan dirinya dengan orang-orang Kristen yang kurang dewasa. Dengan demikian, duri tersebut berfungsi sebagai pengingat bahwa ia juga bergumul seperti murid-murid Yesus yang lain.

Lebih jauh lagi, Santo Paulus menyadari bahwa Tuhan mengijinkan Paulus untuk menderita duri karena Dia menyediakan rahmat yang dibutuhkan oleh Paulus. Tuhan berkata kepada Paulus, “Cukuplah rahmat-Ku bagimu.” Rahmat Tuhanlah yang menopang Paulus dalam menghadapi penderitaan yang menyulitkan itu. Paulus menyadari bahwa ia dapat bertahan dan bahkan berkembang melalui penderitaan dan kelemahan karena rahmat Allah. Paulus tidak dapat memegahkan diri, kekuatannya, kepandaiannya, dan kefasihannya karena semua itu akan runtuh di hadapan beban penderitaan. Paulus hanya dapat membanggakan kelemahannya, penderitaannya, kesulitannya, duri yang dialaminya karena justru di dalam kelemahannya itulah, orang-orang dapat melihat bagaimana rahmat Allah bekerja dan menopang Paulus.

Apakah duri dalam hidup kita? Apakah kita marah karena Tuhan tidak mengambil duri-duri kita? Apakah kita hanya mengandalkan kekuatan kita sendiri? Apakah kita memohon kasih karunia yang cukup untuk bertahan dan bertumbuh melalui penderitaan?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Mystery of Faith

13th Sunday in Ordinary Time [B]

June 30, 2024

Mark 5:21-43

Faith is fundamental to our salvation but is also one of the most misunderstood concepts. The stories of the healing of Jairus’ daughter and the woman with haemorrhage help us better understand the meaning of faith and how we need to live our faith.

The most basic understanding of faith is a belief in God, or for us Christians, a belief in Jesus Christ. This primary sense of faith relies heavily on our intellectual acceptance of the presence of God and Jesus as His only begotten Son, our Savior. However, how about those people with no opportunity to intellectually recognize Jesus? Like for example, Jairus’ daughter was gravely ill and eventually died. She was not able to have faith in her mind that Jesus would go to save her. Yet, she was saved from death, not because of her faith, but the faith of her father. St. James reminds us also that even the demons believed and knew well that God exists, but the intellectual faith does not save them.

The second type of faith is faith of conviction. This kind of faith involves not only intellectual recognition of God but also vigorous conviction and deep trust. This kind of faith is usually expressed in solid emotions and visible bodily actions like shouting the name of Jesus or bowing down in prayers. Yet again, St. Paul reminds us that this kind of faith does not bring salvation. He writes, “If I have all faith, so as to remove mountains, but have not love, I am nothing (1 Cor 13:2).”

Finally, the third class of faith is faith working through love. This faith not only accepts God intellectually and is profoundly hopeful but also manifests itself in works of charity. Compared to the previous two, this faith is more demanding yet also saving. We can see this from Jairus’s faith. His profound love for his daughter propels him to believe in Jesus, and in turn, his faith in Jesus empowers him to seek and beg for Jesus’ miraculous healing.

The story of the woman with a haemorrhage is more interesting. She seems to have a second type of faith or the faith with conviction. She sincerely believed that she would be healed if she touched Jesus, but if we go deeper, we find her faith goes beyond convictions. When she decides to approach Jesus, she does not immediately grab Jesus’ body or feet. Instead, she carefully selects to touch the tassel of Jesus’ clock. Why? The woman is aware that she has the flow of blood, and this makes her ritually impure, and anyone she touches may be contaminated by this impurity (see Lev 15:25-30). Therefore, by not making immediate contact with Jesus, the woman shows excellent care to preserve the purity of Jesus. This simple detail can show us her love for Jesus despite her limitations. Then, Jesus recognizes the true faith of the woman, and she is made well.

Do we have the saving faith? What kind of faith do we have, and how do we grow? Do we manifest our faith in God in love for Jesus and our neighbours?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Misteri Iman

Hari Minggu ke-13 dalam Masa Biasa [B]

30 Juni 2024

Markus 5:21-43

Iman adalah hal yang sangat penting bagi keselamatan kita, tetapi juga merupakan salah satu konsep yang paling sering disalahpahami. Kisah kesembuhan anak perempuan Yairus dan perempuan yang mengalami pendarahan membantu kita untuk lebih memahami arti iman dan bagaimana kita harus menghidupi iman kita.

Pengertian iman yang paling mendasar adalah sebuah kepercayaan kepada Allah, atau bagi kita orang Kristen, kepercayaan kepada Yesus Kristus. Pengertian iman yang paling mendasar ini sangat bergantung pada penerimaan intelektual atau akal budi kita akan keberadaan Allah dan Yesus sebagai Putra-Nya yang tunggal, Juruselamat kita. Namun, bagaimana dengan orang-orang yang tidak memiliki kesempatan untuk mengenal Yesus secara intelektual? Misalnya, putri Yairus yang sakit parah dan akhirnya meninggal. Dia tidak dapat memiliki kepercayaan dalam pikirannya bahwa Yesus akan datang untuk menyelamatkannya. Namun, ia diselamatkan dari kematian, bukan karena imannya, tetapi karena iman ayahnya. St. Yakobus juga mengingatkan kita bahwa bahkan roh-roh jahat pun percaya dan mengetahui dengan baik bahwa Allah itu ada, tetapi iman intelektual tidak menyelamatkan mereka.

Jenis iman yang kedua adalah iman dengan keyakinan. Iman jenis ini tidak hanya melibatkan pengenalan intelektual akan Allah tetapi juga keyakinan yang kuat dan mendalam. Iman seperti ini biasanya diekspresikan dalam emosi yang kuat dan tindakan tubuh yang terlihat seperti meneriakkan nama Yesus atau bersujud dalam doa. Namun sekali lagi, Santo Paulus mengingatkan kita bahwa iman seperti ini tidak membawa keselamatan. Ia menulis, “Jika aku mempunyai segala iman, sehingga dapat memindahkan gunung-gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, maka aku tidak ada artinya” (1 Kor. 13:2).

Akhirnya, jenis iman yang ketiga adalah iman yang bekerja melalui kasih. Iman ini tidak hanya menerima Allah secara intelektual dan penuh pengharapan, tetapi juga diwujudkan dalam perbuatan kasih. Dibandingkan dengan dua iman sebelumnya, iman ini lebih sulit diwujudkan, tetapi juga menyelamatkan. Kita dapat melihat hal ini dari iman Yairus. Kasihnya yang mendalam kepada putrinya mendorongnya untuk percaya kepada Yesus, dan pada gilirannya, imannya kepada Yesus memberdayakannya untuk mencari dan memohon kesembuhan mukjizat Yesus sebagai bentuk kasih terhadap putrinya.

Kisah wanita yang mengalami pendarahan lebih menarik. Ia tampaknya memiliki jenis iman yang kedua atau iman dengan penuh keyakinan. Ia dengan tulus percaya bahwa ia akan disembuhkan jika ia menyentuh Yesus, tetapi jika kita menyelidiki lebih dalam, kita akan menemukan bahwa imannya lebih dari sekadar keyakinan. Ketika ia memutuskan untuk mendekati Yesus, ia tidak langsung memegang tubuh atau kaki Yesus. Sebaliknya, ia dengan hati-hati memilih untuk menyentuh rumbai jubah Yesus. Mengapa? Perempuan itu sadar bahwa ia memiliki pendarahan, dan ini membuatnya najis, dan siapa pun yang disentuhnya dapat terkontaminasi oleh kenajisan ini (lihat Im. 15:25-30). Oleh karena itu, dengan memastikan bahwa dia tidak bersentuhan langsung dengan Yesus, wanita itu menunjukkan perhatian yang sangat baik untuk menjaga kemurnian Yesus. Detail sederhana ini dapat menunjukkan kepada kita kasihnya kepada Yesus terlepas dari keterbatasannya. Kemudian, Yesus mengenali iman yang benar dari perempuan itu, dan ia pun sembuh.

Apakah kita memiliki iman yang menyelamatkan? Iman seperti apakah yang kita miliki, dan bagaimana kita bertumbuh? Apakah kita mewujudkan iman kita kepada Allah dalam kasih kepada Yesus dan sesama kita?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Love of Christ urges us.

12th Sunday in Ordinary Time

June 23, 2024

2 Cor 5:14-17

The relationship between St. Paul and the Church in Corinth is complicated. St. Paul was the first missionary to preach the Gospel in Corinth and establish the Church there. Yet, after St. Paul left for another mission, some members of the Church began to disobey Paul and discredit him. In his second letter, St. Paul tried to address this issue, both with tears and joy. What is the problem? How, then, did Paul answer this issue?

Corinth was one of the major cities in ancient Greece, and its strategic location made it wealthy and a major trading hub in the Roman Empire. This situation made the city attractive to many people, including Christian missionaries and preachers. When St. Paul left the city to preach in other places, other so-called ‘apostles’ came and began to teach the Christians in Corinth. Some of them seemed to intentionally discredit Paul by saying that he was not a true apostle. They would cite some proofs like Paul preached a different Gospel, Paul was not a real Israelite, and Paul was not accepting support from the Church (a preacher or missionary was expected to receive their living from the Church). Yet, now Paul was asking for donations.

In his letter, Paul defended himself. He only preached the true Gospel (2 Cor 11:1-6). He is a true Israelite from the tribe of Benjamin and, in fact, from the Pharisees’ group. And, often, he did not receive support from the Corinthians, but instead worked as a tent maker because he did not want to become a burden to the Church (2 Cor 11:7-10). Yet, Paul further explained that the donation he sought was not for himself but for the Church in Jerusalem (2 Cor 8:9).

Paul defended further his apostolic ministry that he received from God for the building of the Church. He was facing persecution both from the Jews and the Greeks; he was beaten in the Synagogue and jailed by Roman leaders. The angry mobs targeted him. Jews opposed Paul because he preached Jesus Christ. The Greeks hated Paul because he drew many people away from the pagan temples. Paul also experienced life-threatening dangers in his journeys: robbers, unfriendly weather, and shipwrecks. Beyond that, he also worked during the days to support himself and preached during the night, and his energy was restlessly spent to deal with various concerns of the Church (see 2 Cor 11:23-29). Paul explained why he was doing all these things: ‘The love of Christ urges us (2 Cor 5:14).’

Christ’s love is enormous; it empowers Paul to do the impossible: love like Jesus. Paul is not the only one who receives this overwhelming love of Jesus but all of us. Jesus loves us dearly to the point of giving up His life for us so that we may become a new creation in Him (2 Cor 5:17). Now, the question is whether we will accept this divine love and make it fruitful in our lives. Are we courageous enough to love like Jesus, as exemplified by St. Paul? Are we ready to face dangers and difficulty in preaching the Gospel? Are we willing to labour day and night for the people Jesus loves?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP