The Law, Traditions and Heart

22nd Sunday in Ordinary Time [B]
August 29, 2021
Mark 7:1-23

The Pharisees came to scrutinize Jesus, and these were not just ordinary Galilean Pharisees who often debated with Jesus. They were the leading Jewish authority, and they came to pass judgment on Jesus: whether Jesus is an orthodox Jew or a false prophet. Yet, we may ask, who are these Pharisees who often collided with Jesus and His disciples? The pharisaic movement was one of the Jewish religious movements in first-century Palestine. Though not always in a good relationship, they were contemporaries with other groups like the Sadducees, Zealots, and Essenes. However, Pharisees were the most popular because many of their members were Jewish laypeople compared to other groups.

photocredit: priscilla du preez

What is unique to the Pharisees? We need to understand first about the ceremonial purity in the Old Testament. The Law of Moses commanded those men and women who were entering the sacred place like the Temple to be ceremonially clean. If they were in contact with dead bodies, they became unclean and could not enter the holy ground. Thus, they were required to do ceremonial washing to clean this impurity. The purpose of this ceremonial purity is not about morality [what is right or wrong] but to train the Israelites to see and honor the sacred places as God’s dwellings.

The Pharisees were zealous for the Law, and they were responsible for bringing this ceremonial purity to the context of the Israelite household. They wanted to be ceremonially clean, not only in the Temple but also when they entered their houses, when they ate and drank, and even when they went to bed. The thing was that Moses never gave laws about this pharisaic thing. Thus, as a solution, the teachers or the rabbi came up with their set of rules and regulations. Eventually, these became the (pharisaic) traditions of the elders.

Going back to Jesus, we note that what the Pharisees from Jerusalem discovered was Jesus did not observe those traditions. They did not find any shred of evidence that Jesus violated the Law of Moses. Indeed, Jesus was fulfilling the Law. Jesus then criticized the Pharisees for being over-zealous on traditions to the expense of the Word of God. Jesus reminded the true essence of the Law, which is the formation of the heart. The laws and the traditions are good if they bring us closer to God. They become twisted when they chain us and keep us far from God. It would be useless if we are ceremonially clean, but our hearts are impure and sinful.

Jesus’ reminder to the Pharisees is always timely and proper to us. Do we keep our religion as mere collections of traditions, rituals, and customs that keep us from the Lord? Do we read the Word of God to help us understanding and loving the Lord better or simply to put up a show? Do we gather images, statues, and other religious articles just for collections, or do these help us honor God who perfects His creatures? Do we get involved in various services and ministries to feel good about it or serve our brothers and sisters in need?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Hukum Allah, Tradisi dan Hati

Minggu Biasa ke-22 [B]
29 Agustus 2021
Markus 7:1-23

Orang-orang Farisi datang untuk menyelidiki Yesus, dan ini bukan hanya orang-orang Farisi dari Galilea yang sering berdebat dengan Yesus. Mereka adalah otoritas Yahudi terkemuka di Yerusalem, dan mereka datang untuk menghakimi Yesus: apakah Yesus adalah seorang Yahudi yang ortodoks atau seorang nabi palsu. Namun, kita mungkin bertanya-tanya siapakah orang-orang Farisi yang sering berdebat dengan Yesus dan murid-murid-Nya? Gerakan Farisi adalah salah satu gerakan dan kelompok keagamaan Yahudi di Palestina abad pertama. Mereka sezaman, meskipun tidak selalu dalam hubungan yang baik, dengan kelompok lain seperti Saduki, Zelot, dan Eseni. Namun, dibandingkan dengan kelompok lain, orang Farisi adalah yang paling populer dan banyak anggotanya adalah orang awam Yahudi.

photocredit: jametlene

Apa yang membuat orang-orang Farisi unik? Kita perlu memahami terlebih dahulu tentang hukum nahir dan najis dalam Perjanjian Lama. Hukum Musa memerintahkan para pria dan wanita yang memasuki tempat suci seperti Bait Allah untuk bersih atau tahir. Sebagai contoh, jika mereka bersentuhan dengan tubuh yang mati, mereka menjadi najis dan tidak diizinkan memasuki tempat suci. Oleh karena itu, mereka diharuskan melakukan ritual pembasuhan dengan air untuk membersihkan kenajisan mereka. Tujuan dari hukum tahir-najis ini bukan tentang moralitas [apa yang benar atau salah], tetapi untuk melatih bangsa Israel untuk menghormati tempat-tempat suci sebagai tempat tinggal Tuhan.

Kontribusi orang-orang Farisi ini adalah mereka bertanggung jawab untuk membawa hukum tahir-najis ini ke dalam konteks rumah tangga dan kehidupan sehari-hari orang Israel. Mereka ingin tahir, tidak hanya di Bait Allah, tetapi juga ketika mereka memasuki rumah mereka, ketika mereka makan dan minum, dan bahkan ketika mereka pergi tidur. Masalahnya adalah Musa tidak pernah memberikan hukum tentang hal-hal ini. Jadi, sebagai solusi, para guru atau rabi mengajarkan dan membuat aturan tentang hal-hal yang tidak ada di Kitab Suci untuk mendukung hidup tahir ini. Akhirnya, aturan-aturan inilah yang disebut sebagai tradisi para penatua.

Kembali kepada Yesus, kita perhatikan bahwa apa yang ditemukan oleh orang-orang Farisi dari Yerusalem adalah Yesus tidak menjalankan tradisi itu. Mereka justru tidak menemukan sedikit pun bukti bahwa Yesus melanggar Hukum Musa. Sungguh, Yesus menggenapi Hukum dengan setia. Yesus kemudian mengkritik orang-orang Farisi karena terlalu fokus pada tradisi dengan mengorbankan Firman Tuhan. Yesus mengingatkan hakekat Taurat yang sebenarnya, yaitu pembentukan hati. Hukum dan tradisi akan menjadi baik jika membawa kita lebih dekat kepada Tuhan. Mereka menjadi batu sandungan ketika mereka merantai kita dan menjauhkan kita dari Tuhan. Tidak ada gunanya jika kita secara seremonial bersih, tetapi hati kita tidak murni dan kotor penuh dosa.

Peringatan Yesus kepada orang Farisi selalu tepat dan relevan bagi kita. Apakah kita menjalankan agama kita hanya sebagai kumpulan tradisi, ritual, dan adat istiadat yang menjauhkan kita dari Tuhan? Apakah kita membaca Firman Tuhan untuk membantu kita memahami dan mengasihi Tuhan lebih baik atau hanya untuk pamer? Apakah kita mengumpulkan gambar, patung dan benda-benda keagamaan lainnya hanya untuk tujuan koleksi, ataukah ini membantu kita untuk memuliakan Tuhan yang telah menyempurnakan ciptaan-Nya? Apakah kita terlibat dalam berbagai pelayanan hanya untuk merasa senang dan dipuji, atau benar-benar melayani saudara-saudari kita yang membutuhkan? Apakah hati kita sungguh untuk Tuhan atau masih terus dipenuhi dengan hal-hal buruk?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Amazing Faith

21st Sunday in the Ordinary Time [B]
August 22, 2021
John 6:60-69

For the past five Sundays, we have listened to John chapter 6. Jesus introduced Himself as the bread of life, and His flesh and blood are authentic food for eternal life. Today’s Gospel serves as the summit of our journey through John 6, and the Gospel begins with the response of Jesus’ listeners, “It is a hard saying.”

photocredit: Nathan Dumlao

Jesus’ teaching this time is hard saying because it runs contrary to the essential Jewish tenets. It shocked their Jewish faith. To offer His flesh as food, is as appalling as cannibalism. Presenting His blood as a real drink is even blasphemous because it directly hits God’s commandment against eating blood [Lev 17:10]. Yet, Jesus did not waver.

Jesus’ followers were facing a tough decision. They had seen Jesus performing miracles, healing the sick and feeding thousands. Many of them were expecting that Jesus would be the Messiah like King David. However, things did not go smoothly according to their plans. If they accepted Jesus as the Messiah, they had to take Jesus’ words and indeed eat His body and blood. Eventually, many could not accept Jesus’ tough teaching, and perhaps, they considered Him another lunatic or even possessed man.

Fortunately, not everyone deserted Jesus. Peter, representing the twelve disciples, said that they believed in Jesus’ words. Peter might not be different from the rest of the crowd who failed the grasp Jesus’ hard teachings. Yet, Peter accepted Jesus’ hard teachings because he accepted who Jesus is, the Holy One of God. It is impossible for Jesus, the Holy One of God, to tell a lie. What the divine Son of God said must be real and true, however mysterious it may be. This is Peter’s faith, and this should be our faith.

Many aspects of our life and faith remain big question marks for us. We may not be able to understand the reality of the Trinity. We may still scratch our heads every time a priest speaks about the two natures of Christ. We may still feel dizzy every time a preacher explains about the transubstantiation. Yet, despite these hard sayings, we believe.

If we can have faith in Jesus despite the hard saying, we can have the same faith also despite hard lives. If we can say Yes to Jesus in the Eucharist, we shall be able to say Yes to Jesus in our lives, however, broken and disfigured it may be. This time of Pandemic, we often ask why God allows this terrible time and suffering. If we do not have the Eucharistic faith, we can easily fall into despair. Yet, we trust that God is in control with true faith, and He has a great plan for us. We might not understand the meaning of the suffering we endure, but we know it will make sense someday.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Iman yang Mengagumkan

Minggu ke-21 Waktu Biasa [B]
22 Agustus 2021
Yohanes 6:60-69

Selama lima hari Minggu terakhir, kita telah mendengarkan Yohanes bab 6. Yesus memperkenalkan diri-Nya sebagai roti kehidupan, dan tubuh dan darah-Nya adalah makanan sejati untuk hidup yang kekal. Injil hari ini hadir sebagai puncak dari perjalanan kita melalui Yohanes 6, dan Injil dimulai dengan tanggapan dari pendengar Yesus, “Itu adalah perkataan yang keras. Siapa yang sanggup mendengarkannya.”

photocredit: Josh Applegate

Ajaran Yesus kali ini sulit diterima karena bertentangan dengan prinsip dasar agama Yahudi. Bahkan hal ini benar-benar mengejutkan iman Yahudi mereka. Mempersembahkan daging-Nya sendiri sebagai makanan sama menjijikkannya dengan kanibalisme. Memberikan darah-Nya sebagai minuman bahkan merupakan penghujatan karena secara frontal melanggar perintah Tuhan untuk tidak makan darah [Im 17:10]. Namun, Yesus bergeming.

Pengikut Yesus menghadapi dilema. Mereka telah melihat Yesus melakukan mukjizat, menyembuhkan orang sakit dan memberi makan ribuan orang. Banyak dari mereka mengharapkan bahwa Yesus akan menjadi Mesias seperti Raja Daud. Namun, hal-hal tidak berjalan lancar sesuai dengan rencana mereka. Jika mereka menerima Yesus sebagai Mesias, mereka harus menerima perkataan Yesus dan memang memakan tubuh dan darah-Nya. Pada akhirnya, banyak yang tidak dapat menerima ajaran Yesus yang keras dan mungkin, mereka menganggap Dia sebagai orang gila atau bahkan orang yang kerasukan.

Hal yang menarik adalah tidak semua orang meninggalkan Yesus. Petrus, mewakili kedua belas murid, mengatakan bahwa mereka percaya pada kata-kata Yesus. Petrus mungkin tidak berbeda dari orang banyak yang gagal memahami ajaran Yesus yang keras. Namun, Petrus dapat menerima ajaran Yesus yang keras karena ia menerima siapa Yesus, yakni Yang Kudus dari Allah. Mustahil bagi Yesus, Yang Kudus dari Allah untuk berbohong. Apa yang dikatakan Putra Allah yang Ilahi pastilah nyata dan benar, betapapun misteriusnya hal itu. Ini adalah iman Petrus, dan ini harus menjadi iman kita.

Ada banyak aspek kehidupan dan iman kita yang masih menjadi tanda tanya besar bagi kita. Kita mungkin tidak dapat memahami realitas Trinitas. Kita mungkin masih menggaruk-garuk kepala setiap kali seorang imam berbicara tentang dua kodrat Kristus. Kita mungkin masih merasa pusing setiap kali seorang pengkhotbah menjelaskan tentang transubstansiasi. Namun, terlepas dari perkataan keras ini, kita percaya.

Jika kita dapat memiliki iman kepada Yesus terlepas dari perkataan yang sulit, kita dapat memiliki iman yang sama juga meskipun kehidupan yang sulit. Jika kita dapat mengatakan YA kepada Yesus dalam Ekaristi, kita akan dapat mengatakan YA kepada Yesus dalam hidup kita, betapa pun sulitnya hidup ini. Di masa Pandemi ini, kita sering bertanya-tanya mengapa Tuhan mengizinkan masa dan penderitaan yang mengerikan ini. Jika kita tidak memiliki iman Ekaristi, kita dapat dengan mudah jatuh ke dalam keputusasaan. Namun, dengan iman seperti Petrus, kita percaya bahwa Tuhan memegang kendali, dan Dia memiliki rencana yang besar bagi kita. Kita mungkin tidak mengerti arti dari penderitaan yang kita alami, tetapi kita tahu bahwa itu akan masuk akal suatu hari nanti.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Colt

Palm Sunday of the Lord’s Passion [B]

March 28, 2021

Mark 11:1-10; Mark 14 – 15

Palm Sunday marks the beginning of the Holy Week, a most sacred week in our liturgical year. This year’s celebration may be different from other years because of the pandemic, but this does not stop us from having a solemn and meaningful celebration. One of the usual questions people ask about the celebration of Palm Sunday: “Why did Jesus ride a donkey?” Jokingly I replied, “well, an online taxi was not yet available during that time!”

The standard answer to this question is that Jesus would like to show Himself as a meek and humble king, rather than a power-lust and war freak general who rides a stallion. This answer is correct, but it does not give us a complete picture. If we try to go deeper into Mark gospel alone, we will unearth the Old Testaments’ fulfillments.

photocredit: laura gariglio

The choice of the colt is deliberate on the part of Jesus because He is fulfilling the prophecy of Zachariah. In essence, the prophet Zechariah foretold that someday a gentle, yet victorious king will enter Jerusalem, riding a colt [see Zec 9:9]. Yet, there are more!

If we go back to the Old Testament, we will find a king of Israel who indeed rode this humble animal. He was Salomon, David’s son when he was ascending to his throne [1 Kings 1:33]. By riding a colt, He signifies that He is the new Salomon ascending to His new throne, the cross.

Mark is telling us also that people are spreading their clothes also before Jesus. Going back to the Old Testament, we also discover a king of Judah whose ascension to the throne received this kind of gesture also from the people. His name is Jehu [2 Kings 9:12]. Aside from that, Mark is informing us that people welcome Jesus with leafy branches. Again, if we go back to the old testament, green branches were used to receive Judas Maccabeus, who retook Jerusalem from the enemy’s hands [2 Mac 10:7]. Jesus is indeed a gentle king, but He is also a victorious conqueror of His enemies. One more thing is that Mark added the expression ‘… our Father David…” David is undoubtedly not one of the Israelites patriarchs [Abraham, Isaac, and Jacob]. Still, the people of Israel recognized king David as the nation’s father, a king that protects and provides for his people.

From here, we can draw a stunning conclusion on this Palm Sunday. Jesus is riding on the unridden colt to show that He is Messiah King in the line of David, in the likeness of Salomon and Jehu, as well as a victorious king who will conquer His enemies. Yet, there is something even remarkable. Mark gives us a unique detail: this colt is untamed and untrained. Jesus’ choice to ride this wild animal shows His mastery over wild beasts and nature. He is not just the king of Israel, the king of humankind, but He is a king of all nature. Indeed, a colt is a good ride for the king of the universe.

However, we must not be happy too soon. There are more secrets to be opened and more prophesies to be fulfilled as we enter the drama of Holy Week.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Keledai

Minggu Palma Mengenangkan Sengsara Tuhan [B]

28 Maret 2021

Markus 11: 1-10; Markus 14 – 15

Minggu Palma menandai awal Pekan Suci, minggu paling sakral dalam tahun liturgi kita. Perayaan tahun ini mungkin berbeda dari tahun-tahun lainnya karena pandemi, namun hal tersebut tidak menghentikan kita untuk menjalankan perayaan yang khusyuk dan bermakna. Salah satu pertanyaan yang biasa diajukan tentang perayaan Minggu Palma, “Mengapa Yesus menunggangi keledai?” Dengan bercanda, saya menjawab, “Ya, mungkin taksi online belum ada pada saat itu!”

Jawaban standar untuk pertanyaan ini adalah bahwa Yesus ingin menunjukkan diri-Nya sebagai raja yang lemah lembut dan rendah hati, dan bukan seorang jenderal yang haus kekuasaan dan suka berperang yang disimbolkan dengan kuda dewasa. Jawaban ini benar, tetapi tidak memberi kita gambaran yang lengkap. Jika kita mencoba untuk masuk lebih dalam ke Injil Markus saja, kita akan menemukan banyak penggenapan Perjanjian Lama.

Pemilihan keledai ini dilakukan oleh Yesus karena Dia memenuhi nubuat Zakharia. Intinya, nabi Zakharia menubuatkan bahwa suatu hari nanti seorang raja yang lembut namun jaya akan memasuki Yerusalem, menunggangi seekor keledai muda [lihat Zak 9:9]. Tapi, ini bukan satu-satunya nubuat yang dipenuhi Yesus.

Jika kita kembali ke Perjanjian Lama, kita akan menemukan seorang raja Israel yang benar-benar menaiki keledai. Dia adalah Salomon, putra Daud, ketika dia dinobatkan sebagai raja dan naik takhta [1 Raja 1:33]. Dengan mengendarai seekor keledai muda, Yesus menandakan bahwa Dia adalah Salomon baru yang naik ke tahta baru-Nya, salib.

Markus juga memberi kita informasi bahwa orang-orang juga menyebarkan pakaian mereka di hadapan Yesus. Kembali ke Perjanjian Lama, kita juga menemukan seorang raja Yehuda yang menerima perlakuan yang sama seperti ini juga dari rakyatnya. Namanya adalah Yehu [2 Raja 9:12]. Selain itu, Markus menulis bahwa orang-orang menyambut Yesus dengan ranting-ranting yang hijau. Sekali lagi, jika kita kembali ke perjanjian lama, ranting hijau digunakan untuk menerima Yudas Makabe, yang berhasil merebut kembali Yerusalem dari tangan musuh [2 Mak 10:7]. Yesus memang raja yang lembut, tetapi Dia juga pemenang yang jaya atas musuh-musuh-Nya. Satu hal lagi adalah bahwa Markus menambahkan ungkapan ‘… Bapa kita Daud…” Daud sejatinya bukanlah salah satu dari bapa bangsa Israel [yaitu Abraham, Ishak, dan Yakub]. Namun, orang Israel mengakui raja Daud sebagai bapak bangsa mereka, seorang raja yang melindungi dan memimpin rakyatnya.

Dari sini, kita bisa menarik kesimpulan yang menakjubkan pada Minggu Palma ini. Yesus menunggangi keledai muda untuk menunjukkan bahwa Dia adalah Raja Mesias dalam garis keturunan Daud, seperti Salomon dan Yehu, serta raja yang jaya yang akan menaklukkan musuh-musuh-Nya. Namun, ada sesuatu yang bahkan luar biasa. Markus memberi kita detail unik: keledai ini belum pernah ditunggangi. Artinya keledai ini masih liar dan belum terlatih. Pilihan Yesus untuk menunggangi binatang yang masih liar ini menunjukkan kekuasaann dan otoritas-Nya atas binatang-binatang buas dan alam. Dia bukan hanya raja Israel, raja umat manusia, tetapi Dia adalah raja dari segala alam. Sungguh, seekor keledai adalah tumpangan yang sempurna bagi raja alam semesta.

Namun, kita tidak boleh terlalu cepat gembira. Ada lebih banyak rahasia yang harus dibuka dan lebih banyak nubuatan yang harus digenapi saat kita memasuki drama Pekan Suci.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The True Glory

5th Sunday of Lent [B]

March 21, 2021

John 12:20-33

Traditionally, the Gospel of John is divided into two major divisions: the Book of Sign [chapter 1-12] and the Book of Glory [Chapter 13-21]. The book of Sign focuses on the public ministry of Jesus and presents the seven signs of Jesus. In John’s Gospel, Sign is a technical term for a miracle. Jesus’ signs begin with changing water into wine in Cana and reaching its culmination in raising Lazarus from the dead. Meanwhile, the book of Glory tells us how Jesus is glorified. The second part starts with Jesus and his disciples in the Upperroom and culminates in His Passion, death, and resurrection.

Today’s Gospel is coming from John chapter 12, and this chapter serves as a transition between the Book of Signs to the Book of Glory. This is also why the Church selected this reading: to prepare us to enter the Passion Sunday or the Holy Week.

One powerful lesson that we can see in today’s Gospel is how Jesus perceived His Passion and death. Undeniably, He would be crucified and die a horrible death. Crucifixion is a monstrous punishment reserved only for heinous criminals or violent rebels against the Romans. Crucifixion is dreadful because its purpose is to prolong the agony of the condemned before they met their death. On the cross, people are treated even lower than the animals. This is the kind of death that Jesus embraced.

Yet, in John’s Gospel, he did not see His crucifixion as a mere human event but divine providence. Jesus calls His crucifixion the glorification of the Son of Man. Jesus’ view does not only reverse the perspective of the cross but radically transform it. His crucifixion is not just something good or positive, but it is the victorious summit of His life. Jesus declared that the cross is the time of a judgment against the devil, the ruler of the world. Jesus also claimed that the cross is when people from all nations gather as one and receive salvation.

Does it mean Jesus simply dismisses His human side and acts ridiculously tough before the suffering of the cross? Jesus also recognized and admitted His human emotions. We know that Jesus manly faces the horror of His death in the garden of Gethsemane, yet when Jesus was firm to do the Father’s will and to love until the end.

From here, we can learn a profound lesson from Jesus. In following Christ, we might face trials and hardship in life, yet trusting in God’s providence, we can embrace them as our moment of glorification. Trusting in God’s providence is not running from the harsh realities of life, but in fact, it presupposes that we embrace all our humanity. It is not running but resolutely accepting it.

We can always see the lives of our saints. St. Agatha could easily escape death, but she refused to deny Christ and braved the horrifying tortures and death. Her torturers cut her breasts, and she was burned alive. In the eyes of the world, her death was senseless, but for them, it is sharing in the suffering of Christ, and thus, sharing in His Glory.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Photocredit: marcio-chagas

Kemuliaan Sejati

Minggu ke-5 Prapaskah [B]
21 Maret 2021
Yohanes 12: 20-33

njil Yohanes biasanya dibagi menjadi dua divisi utama: Buku Tanda-Tanda [bab 1-12] dan Buku Kemuliaan [Bab 13-21]. Buku Tanda-Tanda berfokus pada pelayanan publik Yesus dan juga tujuh ‘tanda’ Yesus. Dalam Injil Yohanes, ‘Tanda’ adalah istilah teknis untuk mukjizat. Tanda-tanda Yesus ini dimulai dengan mengubah air menjadi anggur di Kana dan mencapai puncaknya dengan membangkitkan Lazarus dari kematian. Sedangkan Buku Kemuliaan menjelaskan kepada kita bagaimana Yesus ‘dimuliakan’. Buku kedua dimulai dengan Yesus dan murid-murid-Nya di Ruang Atas dan berpuncak pada sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya.

Injil hari ini diambil dari Yohanes bab 12, dan bab ini berfungsi sebagai transisi antara Buku Tanda-Tanda ke Buku Kemuliaan. Ini juga mengapa Gereja memilih bacaan ini: untuk mempersiapkan kita memasuki Minggu Palma Sengsara Yesus dan Pekan Suci.

Satu pelajaran berharga yang dapat kita lihat dalam Injil hari ini adalah bagaimana Yesus memandang sengsara dan kematian-Nya. Tidak dapat disangkal, Yesus akan disalibkan dan wafat dengan cara yang mengerikan. Penyaliban adalah hukuman mengerikan yang hanya diperuntukkan bagi penjahat kelas berat dan pemberontak terhadap bangsa Romawi. Penyaliban ini mengerikan karena tujuannya adalah untuk memperpanjang penderitaan yang terhukum sebelum mereka menemui ajalnya. Di kayu salib, orang diperlakukan lebih rendah daripada hewan. Ini adalah kematian mengerikan yang Yesus akan rangkul.

Namun, dalam Injil Yohanes, Yesus tidak sekedar melihat penyaliban-Nya sebagai peristiwa manusia belaka tetapi sebagai penyelenggaraan ilahi. Yesus menyebut penyaliban-Nya sebagai kemuliaan Anak Manusia. Pandangan Yesus ini tidak hanya membalikkan perspektif salib tetapi secara radikal mentransformasinya. Penyaliban-Nya, bagi Yesus bukan hanya sesuatu yang baik atau positif, tetapi itu adalah puncak kemenangan dari hidup-Nya. Yesus menyatakan bahwa salib adalah waktu penghakiman terhadap iblis, penguasa dunia [Yoh 12:31]. Yesus juga mengklaim bahwa salib adalah saat orang-orang dari segala bangsa berkumpul menjadi satu dan menerima keselamatan [Yoh 12:32].

Apakah ini berarti Yesus mengabaikan sisi kemanusiaan-Nya dan menekan emosi-Nya sebelum menderita di kayu salib? Tentu tidak! Yesus juga mengenali dan menghidupi emosi manusiawi-Nya. Kita tahu bahwa Yesus menghadapi kengerian kematian-Nya di dalam sakratul maut di taman Getsemani, namun walaupun penuh pergulatan, Yesus tetap teguh untuk melakukan kehendak Bapa dan untuk mengasihi sampai akhir.

Dari sini, kita dapat mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari Yesus. Dalam mengikuti Kristus, kita mungkin menghadapi pencobaan dan kesulitan dalam hidup, namun kita diajak untuk percaya pada penyelenggaraan Tuhan, dan kita dapat merangkul penderitaan kita sebagai momen kemuliaan kita. Percaya pada penyelenggaraan Tuhan bukan berarti lari dari kenyataan hidup, tetapi sebaliknya, hal ini mengandaikan bahwa kita merangkul seluruh kemanusiaan kita.

Kita selalu bisa belajar dari kehidupan para kudus kita. Sebagai contoh, St Agatha dapat dengan mudah lolos dari kematian, tetapi dia menolak untuk menyangkal Kristus dan menantang siksaan dan kematian yang mengerikan. Para penyiksanya memotong payudaranya, dan dia dibakar hidup-hidup. Di mata dunia, kematiannya tidak masuk akal, tetapi bagi mereka, yang berbagi dalam penderitaan Kristus, dan dengan demikian, berbagi dalam Kemuliaan-Nya.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photocredit: manuel-asturias

The Serpent, the Manna and the Eucharist

Fourth Sunday of Lent [B]
March 14, 2021
John 3:14-21

Today’s Gospel presents us with one of the most cryptic sayings of Jesus, “Just as Moses lifted up the serpent in the desert, so must the Son of Man be lifted up, so that everyone who believes in him may have eternal life.” To unpack this, we cannot but go back to the Old Testament, especially the Book of Numbers.

In the book of Numbers chapter 21, we will discover Israelites’ story in the desert who complained about God’s given food. They even called Manna from God as the wretched or even worthless food. Indeed, this ungrateful act brought upon themselves a terrible punishment. The seraph serpents assaulted and killed many Israelites. Aware that they were perishing, the Israelites begged for mercy. God instructed Moses to make a bronze serpent and mount it on a pole for people to see. Those who had been bitten saw the bronze serpent and recovered. With this story as a background, Jesus presented Himself like the bronze serpent. He would be lifted on the cross so that those who see Him and believe will receive eternal life.

Yet, there are more! We notice that the reason behind this punishment is that the Israelites failed to appreciate the bread from heaven and even called it worthless. Indeed, that was an act of ingratitude, but it was also an act of the desecration to the heavenly bread itself. No wonder that the punishment was so severe. Interestingly, Jesus pointed out that the Manna in the desert is a type of Eucharistic bread that He would give [see John 6:48-50]. Thus, the incident in Number 21 teaches us a hard lesson about what will happen if we dishonor not only any God’s gift but also the most precious gift, the Body of Christ in the Eucharist.

The one responsible for the death of the Israelites was the seraph serpents. This serpent was not an ordinary snake like cobra or python. The word ‘seraph’ or the ‘burning one’ reminds us of the seraphim, one of the higher echelons of angelic beings. Aside from that, the image of a serpent that attacked humanity brought us to Satan’s first assault against Adam and Eve. The attack against the Israelites in the desert was not merely a natural phenomenon but supernatural. The devil himself wreaked havoc on the people of Israel.

If we connect the dots, we will see the relation between the Manna, the serpent, and the bronze serpent. When the Israelites desecrated the Manna, the seraph serpents broke loose and began their onslaught. The Manna was not only nourishing the Israelites but also protecting them from spiritual harm. If Manna in the desert is a type of the Eucharist, the serpent is the devil, and the bronze serpent is Jesus crucified, we can move one step further. Every time we desecrate the Eucharist, we do not only insult God but also open the gate of hell and let diabolic power overpower us and our societies. This desecration can only be remedied by true repentance and the cross of Jesus.

If we see ourselves, our families, and our communities are falling apart and becoming an easy target of the devil, the root is that we fail to honor the Eucharist. Like the Manna that protected the Israelites against the serpents and nourished them along their journey, the eucharist is our bulwark against the onslaught of the devil, and it is our spiritual food that nourishes and strengthens us in this earthly journey.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photocredit: Maria Ostwalt

Ular, Manna dan Ekaristi

Minggu Keempat Prapaskah [B]

14 Maret 2021

Yohanes 3: 14-21

Injil hari ini memberi kita salah satu perkataan Yesus yang paling sulit dimengerti, “sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun,  demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan,  supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.” Untuk memahami perkataan ini, kita perlu kembali ke Perjanjian Lama, terutama Kitab Bilangan.

Dalam kitab Bilangan bab 21, kita akan menemukan kisah bani Israel di padang gurun yang mengeluh tentang Manna yang diberikan Tuhan. Mereka bahkan menyebut Manna dari Tuhan tersebut sebagai makanan tidak ada gunanya atau bahkan tidak berharga. Tentunya, tindakan mereka ini membawa hukuman yang mengerikan. Ular tedung menyerang dan membunuh banyak orang Israel. Sadar bahwa mereka akan binasa, orang Israel memohon belas kasihan. Tuhan memerintahkan Musa untuk membuat ular perunggu dan memasangnya di tiang untuk dilihat orang. Mereka yang telah digigit dan melihat ular perunggu itupun pulih. Dengan latar belakang cerita ini, Yesus menampilkan diri-Nya seperti ular perunggu. Dia akan ditinggikan di kayu salib sehingga mereka yang melihat Dia dan percaya akan menerima hidup yang kekal.

Namun, ada hal yang menarik yang kita tidak boleh lewatkan! Jika kita memperhatikan, alasan dari mengapa orang Israel kena hukuman adalah bahwa orang Israel gagal menghargai roti dari surga dan bahkan menyebutnya tidak berharga. Tentunya, ini adalah tindakan tidak tahu berterima kasih, tetapi lebih dalam, ini merupakan tindakan penodaan terhadap roti surgawi itu sendiri. Inilah mengapa hukumannya sangat berat. Yang menarik adalah Yesus menunjukkan bahwa manna di gurun adalah tanda dari roti Ekaristi yang akan Dia berikan [lihat Yoh 6: 48-50]. Jadi, kejadian di Bilangan 21 mengajarkan kita pelajaran pahit apa yang akan terjadi jika kita tidak menghargai anugerah Tuhan, dan terutama anugerah yang paling berharga yakni, Tubuh Kristus dalam Ekaristi.

Yang bertanggung jawab atas kematian orang Israel adalah ular tedung.  Jika kita perhatikan, kata ibrani yang digunakan adalah ‘saraph.’ Kata ‘saraph’ atau ‘yang terbakar’ mengingatkan kita pada seraphim, salah satu malaikat di surga. Selain itu, cerita tentang ular yang menyerang umat manusia mengingatkan kita pada serangan pertama Setan terhadap Adam dan Hawa. Ular ini bukanlah ular biasa seperti ular cobra atau ular sanca. Serangan terhadap bangsa Israel di padang gurun bukan hanya fenomena alami, melainkan supranatural. Iblis sendiri yang datang membawa malapetaka bagi orang-orang Israel.

Jika sekarang kita menghubungkan hal-hal ini, kita akan melihat hubungan antara manna, ular ‘saraph’ dan ular perunggu. Ketika orang Israel menodai manna, ular seraph terlepas dan memulai serangan mereka. Manna tidak hanya memberi makan orang Israel, tetapi juga melindungi mereka dari bahaya rohani. Sekarang, jika manna di gurun adalah tanda dari Ekaristi, ular adalah iblis, dan ular perunggu adalah Yesus yang disalibkan, kita bisa melangkah lebih jauh. Setiap kali kita menodai Ekaristi, kita tidak hanya menghina Tuhan, tetapi juga membuka gerbang neraka dan membiarkan kekuatan jahat menguasai kita dan komunitas kita. Penodaan ini hanya dapat diperbaiki dengan pertobatan sejati dan salib Yesus.

Jika kita melihat diri kita sendiri, keluarga kita dan komunitas kita berantakan dan menjadi sasaran empuk iblis, akarnya adalah kita gagal menghormati Ekaristi. Seperti Manna yang melindungi orang Israel dari ular, dan memberi makan mereka sepanjang perjalanan mereka, ekaristi adalah benteng pertahanan kita melawan serangan setan, dan makanan rohani kita yang memelihara dan memperkuat kita dalam perjalanan duniawi ini menuju tanah air surgawi.

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP