Minggu Pertama Adven [B]
29 November 2020
Markus 13: 33-37
Kita memasuki masa Adven. Minggu pertama Adven juga merupakan awal tahun liturgi Gereja Katolik. Adven sendiri berasal dari kata Latin “adventus” yang berarti “kedatangan”. Dari nama ini saja kita sudah bisa menyimpulkan tujuan dari masa liturgi yang satu ini. Masa Adven mempersiapkan kita bagi kedatangan Yesus, namun kita tidak boleh lupa bahwa Gereja mengajarkan kita bahwa ada dua kedatangan Yesus. Kedatangan pertama terjadi dua ribu tahun yang lalu di Bethlehem, sebagai bayi kecil di tangan Maria. Kedatangan kedua adalah kedatangan Yesus di akhir zaman sebagai raja dan hakim yang mulia.
Injil kita menunjukkan kebenaran mendasar tentang kedatangan yang kedua kali ini. Yesus pasti akan datang, tetapi Dia tidak memberi kita waktunya, dan karena itu, kita perlu bersiap-siap selalu. Ilustrasi yang diberikan Yesus adalah seorang tuan rumah yang bepergian ke luar negeri. Di jaman dahulu, perjalanan jauh sanggatlah berbeda dengan zaman kita. Saat ini, dengan kemajuan teknologi dan sistem transportasi modern, kita dapat menentukan bahkan dengan tepat lokasi sebuah bus, kereta dan bahkan pesawat terbang. Jadwal keberangkatan dan kedatangan sudah tetap, dan kita tinggal mengikutinya saja. Namun, orang-orang kuno tidak memiliki internet atau GPS, dan perjalanan panjang sering kali sulit dilakukan. Orang yang perlu menyeberang laut mungkin harus tinggal di kota Pelabuhan karena badai yang tidak terduga. Sementara sebagian orang harus menghabiskan waktu berminggu-minggu di tempat tertentu karena musim dingin datang dan jalan dipenuhi salju. Rasul Paulus tahu betul betapa sulitnya bepergian pada waktu itu. Dia pernah disergap oleh perampok, kapalnya karam beberapa kali, dan dia pernah juga berjam-jam terombang-ambing di lautan. Yesus mengajarkan bahwa sang tuannya akan datang kembali, tapi tidak ada yang tahu kapan, dan karenanya, para pelayan harus waspada.
Sekarang ini, umat manusia hidup di masa penuh kecemasan dan ketakutan yang luar biasa. Kita masih berjuang melawan Covid-19 yang membunuh ribuan orang, membuat banyak orang kehilangan pekerjaan, dan mengubah cara kita hidup dan berinteraksi. Selain virus covid ini, kita terus-menerus cemas oleh kemungkinan bencana global yang disebabkan oleh perang nuklir, pemanasan global, bahkan serangan zombie dan alien! Namun, masa adven ini memberi kita alasan untuk berharap. Terlepas dari segala hal buruk yang terjadi, Yesus tetap memegang kendali, dan Dia akan datang sebagai Raja yang adil dan penuh kasih.
Mari kita belajar dari pesan yang dibawa oleh lingkaran adven. Ini adalah satu tradisi masa adven yang berasal dari orang-orang Eropa utara kuno yang tahu betul betapa gelap dan dinginnya musim dingin, terutama di bulan Desember. Tidak seperti kita yang tinggal di daerah tropis, saudara-saudara kita yang tinggal di dekat zona artic terkadang mengalami masa dingin yang brutal. Mereka hidup dalam suhu beku, dan sering kali tanpa sinar matahari. Kondisi yang suram dan kelam ini bisa mempengaruhi kesehatan mental kita. Namun, saudara-saudari kita menolak untuk menyerah dan mencari tanda harapan. Mereka menemukan daun cemara yang tidak pernah layu, dan menemukan bahwa cahaya kecil bersinar lebih terang dalam gelap. Karangan bunga adven ini menunjuk pada kita Kristus, Harapan kita. Setiap kali kita memasuki masa Adven, kita diyakinkan bahwa selalu ada harapan bahkan di tengah-tengah hal-hal yang tidak pasti di dunia kita ini.
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP
photocredit: waldemar brant

To be the subject of a king is a foreign experience for many of us. I was born in Indonesia, and our country is a republic, and we espouse democracy to elect our leader. Some of us are citizens of kingdoms like Great Britain, Belgium, Thailand, and Japan, but the kings or queens here are serving under the constitution. When we speak of absolute monarchs, we are reminded of the powerful ancient kingdoms like Assyrian, Babylonian, and Persian empires. Here, the king’s words are the highest law, and disobedient to the king’s wish is acts of treason. Surprisingly, we still have some existing absolute monarchs in our time, like Brunei, Saudi Arabia, and the Vatican!
Menjadi abdi seorang raja adalah pengalaman asing bagi banyak dari kita. Saya lahir di Indonesia, dan negara kita adalah republik dan kita menjunjung demokrasi sebagai cara untuk memilih pemimpin kita. Mungkin kita pernah ke negara kerajaan seperti Inggris, Belgia, Thailand, dan Jepang, tetapi raja atau ratu di sini juga berdasarkan konstitusi atau undang-undang dasar. Ketika kita berbicara tentang monarki absolut, kita diingatkan tentang kerajaan kuno yang kuat seperti kerajaan Asyur, Babel, dan Persia. Di sini perkataan raja adalah hukum tertinggi, dan tidak mematuhi keinginan raja adalah tindakan pengkhianatan. Sebenarnya, kita masih memiliki beberapa monarki absolut yang ada di zaman kita, seperti Kerajaan Brunei, Arab Saudi dan Vatikan!
The original meaning of talent is not God’s given ability, but a unit of weight and value, normally gold and silver. More importantly, talent is a huge amount of money. One talent is equal to around six thousand denarii. If one denarius is the wage of ordinary daily labor, one talent means six thousand days of works or approximately seventeen to twenty years of work.
Sejatinya talenta bukanlah bakat atau kemampuan yang diberikan Tuhan, tetapi sebuah unit bobot dan nilai, biasanya dari emas dan perak. Mudahnya, talenta adalah jumlah uang yang sangat besar. Satu talenta setara dengan sekitar enam ribu dinar. Jika satu dinar adalah upah kerja satu hari, satu talenta berarti enam ribu hari kerja atau sekitar tujuh belas hingga dua puluh tahun kerja.
A wedding ceremony is one of the most beautiful events in many cultures and societies. This includes the Jewish community in the first century AD Palestine. For the Hebrew people living in the time of Jesus, the wedding ceremony has two stages. The first one is the exchange of vows or betrothal. The couple is officially married, and they are recognized as husband and wife in the eyes of the Jewish community. Yet, they are going to wait for around one year before they are living together. The husband will prepare for the house as well as the reception celebration that may last for seven days.
Upacara pernikahan adalah salah satu acara terindah di banyak budaya dan masyarakat. Ini termasuk di masyarakat Yahudi di Palestina abad pertama Masehi. Bagi orang Ibrani yang hidup pada zaman Yesus tersebut, upacara pernikahan memiliki dua tahap. Yang pertama adalah pertukaran janji. Pasangan tersebut sudah menikah secara resmi, dan mereka diakui sebagai suami dan istri di mata komunitas Yahudi. Namun, mereka akan menunggu sekitar satu tahun sebelum mereka bisa hidup bersama. Sang suami akan mempersiapkan rumah mereka serta perayaan pesta nikah yang mungkin berlangsung selama 7 hari lamanya.
The question is, “what is the greatest law?” Once again, the historical and religious context is important. When Jesus and the Pharisees discuss the Law, they are speaking about particular Law. It is neither criminal law nor international law. It is the Law of Moses, the Torah, which points to Moses’s five books. According to the tradition of the Rabbis, the Torah contains 613 specific laws. Thus, the Pharisee is questioning Jesus on the most important among 613 commandments.
Pertanyaannya adalah “Apakah Hukum yang terutama?” Sekali lagi, untuk mengerti pertanyaan ini konteks historis dan religius sangat penting. Ketika Yesus dan ahli Hukum Taurat membahas tentang Hukum yang terutama, mereka berbicara tentang Hukum Taurat yang paling utama. Hukum Taurat sendiri menunjuk pada lima kitab Musa [Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan] dan sangat banyak peraturan ada di sana. Menurut tradisi para rabi, Taurat berisi 613 hukum. Jadi, orang Farisi sedang menguji Yesus tentang yang paling penting di antara 613 perintah.
To understand today’s Gospel, we need to make time travel to the time of Jesus. The Jewish people in the first century AD Palestine were not free people, and they were subject to the Roman empire. Being subjects, they were required to submit heavy taxes. This money would eventually use to pay the army that maintained “the security” of Palestine. Naturally, paying taxes was one of the most irritating and politically charged issues. “Why should I pay for my own oppression?”