Divine Mercy and Sacrament of Confession

Second Sunday of Easter [A]
Divine Mercy Sunday
April 15, 2023
John 20:19-31

On April 30, 2000, Pope St. John Paul II has declared the Second Sunday of Easter as the Divine Mercy Sunday. Then, the question is “Why did St. John Paul II choose second Sunday of Easter as the Divine Mercy Sunday?” Partially, the answer is related to the diary of St. Faustina, who recorded Jesus’ instruction to make the second Sunday of Easter as the divine Mercy Sunday. Through St. Faustina, Jesus did not only ask to create the divine Mercy Sunday, but also invite the faithful to make confessions and receive the communion in this day. However, what makes the second Sunday of Easter is worth to be called the Divine Mercy Sunday is the Gospel of the day. Let’s explore further.

John the evangelist narrated the two appearances of the risen Christ to His disciples, at the Sunday of resurrection and the following Sunday. Obviously, the connecting protagonist is St. Thomas, apostle. However, aside from the story of Thomas, there is a particular detail that we often miss. Jesus rose from the dead to give this particular grace of the Holy Spirit to His Church, “Peace be with you. As the Father has sent me, even so I send you.” And when he had said this, he breathed on them, and said to them, “Receive the Holy Spirit. If you forgive the sins of any, they are forgiven; if you retain the sins of any, they are retained (John 20:21-23).”

Jesus came not only to show His resurrection and offered peace to His fearful disciples. He sent His disciples as the Father sent Jesus to the world. As He commissioned His disciples, Jesus breathed on them the Holy Spirit. This Jesus’ act is particularly re-enactment of what God did when God made the first humans alive (see Gen 2:7). Thus, He came to recreate His disciples and to send them for a mission. What’s mission?

It is the mission to forgive sins, or the mission of mercy. Jesus particularly recreated His disciples as to enable them to receive the divine power, that is to forgive sins. We recall in the Gospel that Jesus was accused as blasphemy when He forgave sins because the Pharisees recognized that the forgiveness of sins is God’s prerogative. Yet, Jesus rose from the dead and proved His divine nature. Thus, He indeed possesses the authority to forgive sins. But, He does not stop there. He wills that His Church continue His mission of mercy, and thus, He shares this divine authority to His disciples.

This is the biblical foundation of the sacrament of reconciliation. This event also answers an objection, “why do we need to confess our sins and ask forgiveness to another sinful man?” The answer is simple: because God wills it to be so. It is true that men have no power to forgive sins, but the situation radically changes when God shares this divine authority to His representatives on earth and commissions them to bring more and more people to the divine Mercy.

In fact, the practice of confession of sins has been practiced since the primitive Church. St. James recorded in his letter that the faithful were confessing their sins before the Church and the prayer of the righteous men, that is, the elders of the Church, would bring healing and forgiveness (see James 5:14-16). Throughout the centuries, the rite of the sacrament of reconciliation has indeed evolved, but it retains its basic structure, that is, contrition, confession and satisfaction (see CCC 1448). More fundamentally, the sacrament remains the testament of God’s Mercy to us.

Rome
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Mengapa Daun Palma

Minggu Palma Mengenangkan Sengsara Tuhan
2 April 2023
Matius 21:1-11

Minggu Palma menandakan dimulainya pekan suci dalam liturgi Gereja. Pada saat yang sama, perayaan liturgi pada hari Minggu ini merupakan salah satu yang paling unik di antara hari Minggu lainnya. Hari ini dinamakan ‘Minggu Palma Mengenangkan Sengsara Tuhan’ karena ada dua bacaan Injil yang berbeda: Yesus yang memasuki kota Yerusalem dan Kisah Sengsara dari Injil Sinoptik (Matius, Markus, atau Lukas, tergantung pada tahun liturgi). Namun, jika kita membaca Injil Matius ini dengan cermat, kita tidak akan menemukan kata ‘palma’. Jadi, di manakah kita dapat menemukan kata ‘Palma’?

photocredit: Grant Whitty

Sebelum kita menjawab pertanyaan ini, saya akan berbagi sedikit pengalaman pribadi saya dengan Minggu Palma. Pengalaman pertama saya dengan kegiatan kudus ini tentu saja di Indonesia, secara khusus di Jawa. Umat akan membawa daun palma ke Gereja untuk diberkati dan kemudian dibawa pulang untuk diletakkan pada salib. Jenis daun yang biasa digunakan adalah dari palem bambu. Dulu saya percaya bahwa ini adalah satu-satunya jenis ranting dan daun yang digunakan Gereja di seluruh dunia. Namun, ketika saya datang ke Filipina untuk pendidikan imamat, saya menemukan bahwa orang Filipina menggunakan daun pohon kelapa. Kemudian, ketika saya datang ke Roma, saya menemukan bahwa umat beriman menggunakan jenis ranting yang berbeda-beda!

Kembali ke pertanyaan kita, ‘di mana kita menemukan palma dalam Injil?’ Jawabannya adalah tidak dalam Injil Sinoptik, tetapi dalam Injil Yohanes (lihat Yoh 12:13). Namun, meskipun bacaan Injil hari ini tidak menyebutkan kata “palma,” kemungkinan besar banyak orang di Yerusalem yang menggunakan ranting-ranting palma karena pohon kurma (juga termasuk jenis pohon palma) berlimpah di daerah tersebut. Namun, pertanyaan yang paling penting adalah ‘mengapa kita menggunakan ranting dan daun pohon palma?’

Dalam Perjanjian Lama, Mazmur 118:25-27 menggambarkan bagaimana orang-orang menyambut Mesias dengan arak-arakan ranting-ranting pohon saat Dia memasuki Yerusalem. Demikian pula dalam 1 Makabe 13:51, orang-orang Yerusalem memasuki benteng dengan ranting-ranting pohon palma setelah musuh-musuh mereka diusir. Kisah-kisah ini menggambarkan bahwa ranting-ranting pohon, terutama palma, adalah simbol kedatangan Mesias dan kemenangan-Nya.

Namun, jika kita melihat dari sudut pandang yang lebih luas, kehadiran ranting-ranting pohon dalam peristiwa masuknya Yesus ke Yerusalem menjadi simbol akan misi keselamatan-Nya. Pada mulanya, Adam dan Hawa tinggal di taman di mana berbagai macam tanaman dan pohon tumbuh. Dosa dan ketidaktaatan mereka yang pertama adalah memakan buah dari sebuah pohon. Sekarang, dalam penebusan-Nya, Yesus membalikkan kutukan itu. Sengsara-Nya dimulai di taman Getsemani. Tindakan kasih dan ketaatan-Nya yang terakhir juga melibatkan pohon (kayu salib).

Saat kita memegang dahan palma, semoga ini tidak menjadi ritual tahunan untuk pamer. Palma mengingatkan kita akan komitmen kita untuk berpartisipasi dalam misi penebusan Yesus, untuk berjalan ke dalam sengsara-Nya, dan memikul salib kita masing-masing bersama-Nya. Hal ini tidak pernah mudah, tetapi kita tidak pernah sendirian dan pahala yang akan kita terima tidak dapat kita bayangkan. Semoga kita juga terinspirasi oleh saudara-saudari kita yang memilih untuk mati bagi Kristus, dan bukannya hidup menyangkal Dia. Para martir ini telah berjuang dalam pertandingan yang baik, telah sampai pada garis akhir, dan telah memelihara iman (lih 2 Tim. 4:7). Sekarang, mereka telah menerima daun-daun palma sebagai tanda kemenangan mereka (lihat Why. 7:9)!

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Why Palm

Palm Sunday of the Lord’s Passion
April 2, 2023
Matthew 21:1-11

Palm Sunday signals the beginning of the most sacred week in the liturgy of the Church. At the same time, the liturgical celebration of this Sunday is one of the most unique among the other Sundays. The day is named Palm Sunday of the Lord’s Passion because it includes two different Gospel readings: the triumphant entrance of Jesus to Jerusalem and the Passion Narrative from the Synoptic Gospels (Matthew, Mark, or Luke, depending on the liturgical year). However, if we carefully read today’s Gospel, we will not find the word ‘palm’. So, where do we find ‘Palm’?

Before we answer this question, I will share a little of my personal experience with Palm Sunday. My first experience with this solemn event is surely in my own country Indonesia. There, people will bring palm branches to the Church to be blessed and later, we bring these home to be placed on our crucifixes. The type of branches commonly used are from areca palms or bamboo palms. I used to believe that this is the only type branch the Church uses worldwide. Yet, when I come to the Philippines for my priestly formation, I discover that the Filipinos make use of coconut palm branches. Then, when I come to Rome, I find out that the faithful are using different kind of branches!

Going back to our question, ‘where do we find palm in the gospel?’ The answer is that not in the synoptic gospels but in the Gospel of John (see John 12:13). However, while today’s Gospel reading does not mention the word “palm,” it is likely that many people in Jerusalem used palm branches because date palm trees were abundant in the area. Yet, the most important question remains ‘why do we use palm branches?’

In the Old Testament, Psalm 118:25-27 describes how people would welcome the Messiah with a procession of branches when he entered Jerusalem. Similarly, in 1 Maccabees 13:51, people of Jerusalem entered the citadel with palm branches after their enemies were driven out. These stories illustrate that tree branches, especially palm, are symbols of the coming of the Messiah and his victory.

However, if we see from a bigger perspective, the presence of branches in Jesus’ entry to Jerusalem becomes a powerful symbol of His mission of salvation. In the beginning, Adam and Eve lived in the garden where various plants grew. Their first sin and disobedience involved the tree. Now, in His redemption reverses the curse. His Passion begins in the garden of Gethsemane. His final act of love and obedience involve the tree of the cross.

As we are holding our palm branches, may it not become a meaningless annual ritual. They remind us on our commitment to participate in mission of Jesus’ redemption, to walk into His Passion, and to carry our own crosses with Him. It is never easy, but we are never alone and the reward is beyond our imagination. May we be inspired also by our brothers and sisters who chose to die for Christ, rather live denying Him. These martyrs have fought a good fight, have finished the race, and have kept the faith (see 2 Tim 4:7). Now, they have received the palm branches as the sign of their victory (see Rev 7:9)!

Rome
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Lazarus dan Sakramen Krisma

Minggu ke-5 Masa Prapaskah [A]
26 Maret 2023
Yohanes 11:1-45

Ada tujuh tanda (atau mukjizat) dalam Injil Yohanes, dan Gereja telah mengenali bahwa ketujuh mukjizat ini berhubungan dengan ketujuh sakramen. Minggu lalu, kita telah melihat bahwa penyembuhan orang yang buta sejak lahir menjadi tanda dari sakramen Baptisan (lih. Yoh 9:1-41). Sekarang, kita menemukan mukjizat Yesus yang lain, yaitu kebangkitan Lazarus. Mukjizat ini berhubungan dengan sakramen penguatan atau krisma. Mari kita simak penjelasannya.

Sakramen krisma sering kali disalahpahami dan bahkan diabaikan. Ada banyak alasan kenapa hal ini terjadi. Beberapa dari kita mungkin merasa bahwa sakramen ini tidak terlalu dibutuhkan. Kita merasa bahwa kita sudah memenuhi tugas kita ketika kita dibaptis, pergi ke Misa sesekali, dan mungkin pergi ke pengakuan dosa setahun sekali. Yang lainnya menerima katekese yang tidak memadai, dan oleh karena itu, pemahaman kita tentang sakramen ini sangat terbatas dan bahkan salah. Yang lainnya tidak ingin merepotkan diri dengan serangkaian katekese dan pembekalan sebelum menerima sakramen Penguatan. Yang lainnya lagi menerima sakramen tanpa katekese yang memadai karena pernikahan mereka sudah dekat. Dengan demikian, banyak yang melihat krisma sebagai sakramen ‘kelas dua’.

Namun, anggapan ini tidak benar sama sekali. Gereja terus mengajarkan bahwa sakramen ini memiliki peran yang tak tergantikan dalam kehidupan umat beriman. Krisma adalah sakramen kedua dari tiga sakramen inisiasi Gereja (bersama dengan baptisan dan Ekaristi). Ini berarti, untuk menjadi anggota Gereja yang utuh dan dewasa, kita harus menerima rahmat Roh Kudus yang diterima dalam sakramen krisma. Sekarang, bagaimana Injil hari ini berhubungan dengan sakramen krisma?

Pertama, Lazarus, bersama dengan Maria dan Marta, memiliki persahabatan yang penuh kasih dengan Yesus sebelum mukjizat terjadi. Kondisi ini menunjukkan kepada kita bahwa Lazarus adalah simbol orang Kristen yang telah dibaptis yang hidup di dalam Kristus. Kedua, kematian Lazarus dan kebangkitannya menunjuk kepada kehidupan baru di dalam Roh. Yohanes Penginjil menceritakan secara eksplisit bahwa Lazarus telah berada di dalam kubur selama empat hari (Yoh 11:17). Ini adalah detail kecil namun penting. Lazarus benar-benar telah meninggal, dan jiwanya tidak lagi bersama dengan tubuhnya. Dengan demikian, mukjizat Yesus adalah tindakan ilahi yang menghidupkan kembali, menyatukan tubuh dan jiwa. Memang benar bahwa Roh Kudus tidak disebutkan, tetapi mukjizat Yesus membawa kita kembali kepada penciptaan manusia di mana Roh Allah aktif dan memberi kehidupan.

Terakhir, mukjizat ini memiliki dampak yang permanen pada diri Lazarus. Setelah kembali dari kematian, Lazarus menjadi saksi hidup akan kuasa dan kasih Yesus. Karena kesaksian Lazarus, banyak orang datang kepada Yesus dan percaya kepada-Nya. Dan karena alasan yang sama, Lazarus menghadapi penganiayaan dari musuh-musuh Yesus [lih. Yoh 12:9-11]. Namun, Lazarus tidak menjadi pengecut. Dia telah mengalami kematian, tetapi bahkan kematian pun tidak dapat memisahkannya dari kasih Kristus.

Apa yang terjadi pada Lazarus juga terjadi pada kita. Ketika kita dibaptis, kita menerima persahabatan yang penuh kasih dengan Kristus. Namun, dalam sakramen krisma, jiwa kita menerima karunia-karunia Roh Kudus dan kita menjadi orang Kristen yang dewasa. Kita sekarang telah menjadi saksi Yesus Kristus yang hidup dan membawa lebih banyak orang kepada Tuhan. Kita juga diberdayakan untuk menanggung penderitaan dan penganiayaan karena Kristus, dengan sabar dan berani.

Inilah sebabnya mengapa sebelum menerima sakramen perkawinan atau sakramen imamat, kita perlu menerima sakramen peneguhan. Perkawinan dan imamat adalah sakramen pelayanan dan kesaksian, yang membawa orang lain lebih dekat kepada kekudusan. Oleh karena itu, hanya orang-orang Kristen yang sungguh dewasa yang layak untuk melakukan tugas-tugas ini. Kita tidak hanya dipanggil untuk menjadi sahabat-sahabat Yesus, tetapi juga menjadi saksi-saksi-Nya yang berani di dunia, dan sakramen krisma ini menjadikan kita saksi-saksi-Nya.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Lazarus and the Sacrament of Confirmation

5th Sunday of Lent [A]
March 26, 2023
John 11:1-45

There are seven signs (or miracles) in the Gospel of John. Naturally, the Church has recognized these seven miracles correspond to the seven sacraments. Last Sunday, we have seen that the healing of the man born blind turns out to be the sign to the sacrament of Baptism (see John 9:1-41). Now, we discover another Jesus’ sign-miracle, that is, the raising Lazarus to life. This miracle points to the sacrament of confirmation.

The sacrament of confirmation is often misunderstood and even neglected. There are many reasons for this. Some of us may feel that it is not necessary. We feel that we are already fulfilling sacred obligation when we are baptized, go to the Mass every now and then, and perhaps go to the confession once a year. Other receive an insufficient catechesis, and therefore, our understanding on the sacrament is very limited and even fussy. Others do not want to trouble themselves with another series of catechesis before the Confirmation. Others receive the sacrament without proper catechesis because their weddings are fast approaching. Thus, many see the confirmation as the second-rate sacrament.

However, this is not true at all. The Church continues to teach that this sacrament has indispensable role in the lives of the faithful. In fact, it is the second of the three sacraments of the initiation (together with baptism and Eucharist). To be full and mature member of the Church, we must receive the grace of the Holy Spirit imparted in the sacrament of confirmation. Now, how does today’s Gospel relate to the sacrament?

Firstly, Lazarus, together with Mary and Martha, has a loving friendship with Jesus before the miracle. This condition shows us that Lazarus is the symbol of baptized Christians who live in Christ. Secondly, Lazarus’ death and his going back to life point to the new life in the Spirit. John the Evangelist narrated explicitly that Lazarus has been in the tomb for four days (John 11:17). This is important detail, that is, Lazarus is truly dead, and his soul is no longer with his body. Thus, miracle of Jesus is a divine act that brings back life, uniting body and soul. While it is true that the Holy Spirit is not mentioned, but Jesus’ miracle brings us back to the creation of man where the Spirit of God was active and life-giving.

Finally, the miracle has enduring effects in Lazarus. After his return from the dead, Lazarus becomes a living witness to Jesus’ power and love. Because of Lazarus’ testimony, many come to Jesus and believe in Him. And for the same reason, Lazarus faces persecutions from Jesus’ enemies [see John 12:9-11]. Yet, Lazarus does not coward. He has been through death, but not even death can separate him from the love of Christ.

What happen to Lazarus are also happening in us. When we are baptized, we receive a loving friendship with Christ. Yet, in the sacrament of confirmation, our souls receive the gifts of the Holy Spirit and we become a mature Christians. We are now transformed to be a living witnesses of Jesus Christ and bring more people to God. We also are empowered to endure hardship and persecution because of Christ.

This is why before receiving the sacrament of holy matrimony or the sacrament of holy orders, we need to receive the confirmation. These two are the sacraments of service and witnessing, that bring other closer to holiness. Thus, only mature Christians are fit for this tasks. We are not only called to be Jesus’ friends, but also His brave witnesses to the world, and this sacrament makes us one.

Rome
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Penyembuhan Orang Buta dan Pembaptisan

Minggu ke-4 Masa Prapaskah [A]
19 Maret 2023
Yohanes 9:1-41

Ada tujuh tanda (atau mukjizat) dalam Injil Yohanes. Secara naluriah, Gereja melihat ketujuh mukjizat ini sebagai simbol dari tujuh sakramen. Lalu, kisah penyembuhan orang yang buta sejak lahir ini yang kita dengarkan Minggu ini berhubungan dengan sakramen apa? Jawabannya adalah sakramen Pembaptisan. Dan, karena tema dasar dari masa Prapaskah adalah pembaptisan, Gereja pun tidak ragu-ragu untuk menempatkan bacaan ini pada masa suci ini. Namun, benarkah mukjizat ini berhubungan dengan pembaptisan? Dan bagaimana kita sungguh tahu?

Kisah ini dimulai dengan Yesus dan para murid yang melihat seorang yang menderita kebutaaan sejak lahir. Kemudian, murid-murid-Nya mulai bertanya kepada-Nya, “Rabi, siapakah yang berdosa, orang ini atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta (Yoh 9:2)? Murid-murid Yesus percaya bahwa penderitaan yang dialami orang ini adalah akibat dari dosa-dosa pribadinya, atau setidaknya dosa orang-tuanya. Namun, Yesus menunjukkan bahwa baik orang yang buta ini maupun orang tuanya tidak melakukan sebuah dosa yang menyebabkan kebutaan. Meskipun penderitaan dan kematian memang berkaitan dengan dosa, tetapi hubungan tersebut tidaklah sejajar, melainkan sebuah misteri. Orang itu tidak melakukan dosa, tetapi ia menanggung konsekuensi dari dosa. Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi?

Gereja mengajarkan kondisi ini sebagai dosa asal. Setiap keturunan Adam dan Hawa dilahirkan ke dunia sebagai ‘musuh’ Allah. Sejak dalam kandungan ibu kita, kita adalah ‘orang berdosa’, bukan karena kita melakukan dosa pribadi, tetapi karena kita jauh dari Allah dan tidak memiliki persahabatan rohani dengan-Nya. Oleh karena dosa asal tersebut, kita rentan terhadap berbagai penderitaan dan juga bergumul dengan concupiscentia (lihat juga renungan saya dua minggu yang lalu). Kondisi pria yang buta ini menjadi simbol dari kondisi dosa asal.

Bagaimana Yesus menyembuhkan orang buta ini? Yesus meludah ke tanah dan membuat tanah liat dengan ludah-Nya, lalu mengoleskan tanah liat tersebut ke matanya. Lalu, Dia meminta orang buta itu untuk membasuh dirinya dengan air. Mengapa Yesus melakukan pengobatan yang aneh dan tidak higienis seperti itu? Jawabannya ada di Perjanjian Lama. Yesus melakukan apa yang Allah lakukan di kisah penciptaan manusia. Ketika Allah menciptakan Adam, Dia mengunakan tanah. Ada sebuah tradisi Yahudi yang mengatakan bahwa Allah menggunakan air liur-Nya untuk membuat tanah menjadi lebih mudah dibentuk. Yesus melakukan hal yang sama di sini. Dia membawa orang yang buta menjadi sembuh dengan ‘menciptakannya kembali’. Kemudian, kesembuhan menjadi nyata ketika orang itu membasuh dirinya dengan air.

Apa yang terjadi pada orang yang disembuhkan itu, juga terjadi pada setiap orang saat pembaptisan. Apa yang kita lihat di mata kita, adalah seseorang dibasuh dengan air, tetapi secara rohani, Tuhan sedang membentuk kita menjadi ciptaan yang baru. Semua dosa, baik dosa asal maupun dosa pribadi, dibersihkan. Jiwa kita diubah menjadi serupa dengan Kristus dan diangkat menjadi anak-anak Allah. Dengan demikian, kita memanggil Allah sebagai Bapa kita, bukan dalam arti kiasan, tetapi dalam arti yang sesungguhnya.

Terakhir, menjelang akhir cerita, Yesus bertanya kepada orang itu, “Percayakah engkau kepada Anak Manusia?” Lalu, orang itu menyatakan imannya kepada Yesus dan menyembah Dia. Iman adalah bagian yang tidak terpisahkan dari baptisan. Tidak masalah, jika kita percaya sebelum pembaptisan (seperti dalam kasus baptisan orang dewasa) atau setelah pembaptisan (dalam kasus baptisan bayi). Namun, yang terpenting adalah baptisan hanyalah permulaan, dan iman kita harus terus bertumbuh.

Kita tidak tahu apa yang dilakukan orang tersebut setelah kesembuhan yang diterimanya, tetapi kita dapat percaya bahwa ia menjadi murid Yesus dan mengikuti Dia. Setelah pembaptisan dan iman awal kepada Yesus, Gereja mendorong kita untuk melanjutkan perjalanan kekudusan kita. Kita bertumbuh dalam iman melalui hidup di dalam Kristus, menghindari dosa, melakukan karya amal, dan menerima sakramen-sakramen lainnya.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kisah Perempuan Samaria

Minggu Ketiga Masa Prapaskah [A]
12 Maret 2023
Yohanes 4:5-42

Untuk hari Minggu ketiga Prapaskah, Gereja telah memilihkan kisah perempuan Samaria dari Injil Yohanes. Kisah ini tidak hanya muncul pada tahun liturgi ini (Tahun A), tetapi juga pada tahun-tahun lainnya (Tahun B dan C). Mengapa Gereja memilih bacaan ini untuk masa Prapaskah? Mengapa kisah ini menjadi sangat istimewa karena setiap tahun kita diundang untuk mendengarkan dan merenungkan kisah ini?

photocredit: Nandhu Kumar

Kisah perempuan Samaria menawarkan kepada kita sebuah kisah pertobatan. Oleh karena itu, kisah ini sangat cocok untuk masa Prapaskah. Mari kita masuk lebih dalam ke dalam kisah ini. Yohanes Penginjil tidak menyebutkan nama perempuan ini dan juga rincian lainnya, tetapi ada satu informasi yang menonjol. Sang perempuan pernah memiliki lima suami, dan saat ini, ia hidup dengan seorang pria lain. Sekali lagi, kita tidak memiliki rincian tentang hal ini. Tampaknya wanita tersebut telah menjalani siklus pernikahan, perceraian, dan pernikahan kembali. Untuk alasan yang tidak diketahui, para mantannya terus menceraikannya (lihat Ul 24, untuk proses perceraian di Hukum Musa).

Mungkin, ada masalah pernikahan yang serius. Mungkin, juga ada masalah dengan kepribadiannya dan juga karakter suaminya, yang membuat mereka tidak dapat hidup dalam hubungan yang permanen dan sehat. Sekali lagi, kita tidak yakin, tetapi kita dapat mengatakan bahwa ia telah melalui masa yang sangat sulit, dan pengalaman ini sangat menyakitkan dan traumatis, sampai-sampai ia memutuskan untuk hidup dengan seorang pria tanpa pernikahan yang sah. Pada saat yang sama, dia harus menghindari bangsanya karena malu, dan menjauhkan diri dari Tuhannya.

Pada awalnya, mendengar bahwa wanita ini memiliki lima pernikahan terdengar sulit dipercaya. Namun, hal ini tidak sepenuhnya mustahil. Namun, yang lebih penting adalah bahwa perempuan Samaria ini telah menjadi cerminan dari sebagian dari kita, atau orang-orang yang dekat dengan kita. Sebelum saya memulai studi saya di Roma, saya melayani sebagai asisten pastor paroki di Surabaya. Berada di paroki di sebuah kota besar, pelayanan saya terkait dengan pernikahan dan keluarga Katolik. Saya beruntung bahwa saya diberi kesempatan untuk memberkati lebih dari lima puluh pernikahan. Namun, sayangnya, saya juga bertemu dengan banyak pasangan yang mencari bantuan untuk menghadapi masalah perkawinan mereka. Ketika saya mendengarkan cerita mereka, saya dapat merasakan rasa sakit, frustrasi dan terkadang kemarahan. Konsekuensinya sangat menyakitkan dan traumatis: relasi menjadi hancur, keluarga retak, dan anak-anak menderita.

Untungnya, kisah perempuan Samaria tidak berakhir dengan tragedi. Yesus secara tak terduga menunggunya dan dengan penuh belas kasih menawarkan pengampunan dan kehidupan yang baru. Meskipun awalnya perempuan itu ragu-ragu, ia mengakui dosa-dosanya dan menemukan Mesias yang sejati. Kita tidak diberitahu apa yang sebenarnya terjadi dalam hidupnya, tetapi kita dapat berasumsi bahwa ia mengubah hidupnya karena ia memiliki keberanian baru untuk menghadapi bangsanya dan mewartakan Yesus.

Ketika saya mendampingi pria dan wanita yang bergumul dengan pernikahan mereka, banyak hal yang sulit dan menyakitkan, tetapi bukan berarti tanpa harapan. Beberapa pasangan akhirnya berekonsiliasi, tetapi ada juga yang menghadapi situasi yang lebih sulit. Namun, terlepas dari situasi yang sulit, banyak yang menolak untuk jatuh dalam dosa, tetapi memilih untuk bertumbuh dalam kekudusan. Saya merasa terhormat bertemu dengan beberapa di antaranya. Meskipun ditinggalkan oleh pasangan mereka, mereka menolak untuk membalas dengan kekerasan. Mereka juga menolak godaan untuk hidup dengan pria atau wanita lain di luar pernikahan, tetapi berkomitmen untuk membesarkan anak-anak mereka dengan baik. Mereka memiliki hak untuk marah dan kecewa kepada Tuhan karena kondisi yang mereka alami, tetapi mereka tidak membiarkan emosi negatif mengendalikan mereka. Yang lebih luar biasa lagi, mereka memutuskan untuk melayani juga di dalam Gereja.

Mari kita rangkul dan dukung saudara atau sahabat kita yang sedang bergulat dengan pernikahan mereka.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Story of Samaritan Woman

Third Sunday of Lent [A]
March 12, 2023
John 4:5-42

For the third Sunday of Lent, the Church has selected for us the story of Samaritan woman from the Gospel of John. This story does not only appear in the current liturgical year (Year A), but also other years (Year B and C). Why does the Church select this reading for the season of Lent? What makes it very special that every year we are invited to listen and reflect on the story?

The story of the Samaritan woman is a story of repentance. Thus, it is fitting for the season of Lent. Let us go deeper into the story. John the evangelist does not give us the name of this woman as well as her other details, but there is a particular information that stands out. The woman had five husbands, and presently, is living with another man. Again, we don’t have details on this issue. It seems that the woman has lived through cycle of marriage, divorce, and remarriage. For unknown reason, her former husbands kept dismissing her (see Deu 24). Perhaps, there were serious marital issues. Perhaps, there were problems with her personalities as well as her husbands’ characters, that rendered them unable to live in a permanent and healthy relationship. Again, we are not sure, but we may say that she has been through hell, and the experience was deeply painful and traumatic, to the point that she decided to live with a man without a proper marriage. At the same time, she had to avoid her people because of shame, and run away from her God.

At first, to hear that this woman had five marriages sounds unbelievable. Yet, this is not totally impossible. However, what more important is that the Samaritan woman has become a reflection of some of us, or some people close to us. Before I began my study in Rome, I served as an assistant parish priest in Surabaya, Indonesia. Being in the parish of a big city, my ministry was inevitably tied to Catholic marriages and families. I am fortunate that I was given the opportunity to solemnize more than fifty marriages. Yet, unfortunately, I also encountered many couples as they sought help facing their marital problems. As I was listening to their stories, I could not but feel the pain, frustration and sometimes anger. The consequences are deeply painful and traumatic: relationships are fractured, families are broken, and children are suffering.

Fortunately, the story of Samaritan woman does not end in a tragedy. Jesus unexpectedly waited for her and mercifully offered her the forgiveness and a new life. Though she was initially hesitated, she confessed her sins and found the true Messiah. We are not told what happened exactly to her life, but we can assume that she changed her life because she had the new-born courage to face her own people and proclaim Jesus.

As I accompany men and women who are struggling with their marriages, things are tough and painful, but not hopeless. Some couples eventually reconciled, but there are some who face more difficult situations. Yet, despite their challenging situations, many refuse to fall into sinful life, but choose to grow in holiness. I honored to encounter some of them. Despite being abandoned by their spouses, they refuse to retaliate with violence. They also resiste the temptation to live with another man or woman outside of marriage but committed to rise their children alone. They have all the right to become angry and disappointed with God because of their conditions, but they did not allow negative emotions to control them. More remarkably, they decided to serve also in the Church.

Rome
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Concupiscence

2nd Sunday of Lent [A]
March 5, 2023
Matthew 17:1-9

Lenten Season is characterized with acts of penance as well as intensified spiritual exercises like fasting and almsgiving. One of the purposes of these activities is to strengthen our spiritual muscles against the weaknesses of the soul or ‘concupiscence’, that is a tendency to fall into sins due to our wounded nature. Yet, why do still have this weakness if we have been redeemed? St. Paul in his letter to Timothy emphatically says, “… the appearance of our savior Christ Jesus, who destroyed death and brought life and immortality to light through the gospel (2 Tim 1:10).”

photocredit: corina rainer

I must admit that we are dealing with mystery of faith. Like other mysteries, the reality of redemption as well as the presence of concupiscence are a reality, but the reasons behind these realities remain largely hidden because these truths are greater than our minds’ capacity. However, it does not mean that we are clueless. Through her theologians and saints, the Church has reflected on the matter for two thousand years, and taught that the consequences for nature, weakened and inclined to evil, persist in man and summon him to spiritual battle (CCC 405).

The presence of concupiscence opens up an opportunity for us to exercise the virtues and to grow in holiness through the practice of spiritual exercises. Thus, even though concupiscence remains after baptism, it is not an insurmountable obstacle to living a holy life, and in fact make our journey a lot more meaningful. With the help of God’s grace, we can resist their disordered desires and grow in holiness.

In today’s gospel, we hear that Jesus was transfigured in the mountain. For Peter, John and James, this was an ecstatic experience overflowing with joy. They did not want to lose this elating experience, and thus, Peter proposed to build tents so that they could stay longer up on the mountain. But, Jesus did not stay long in His divine state, but summoned his disciples to go down and follow Him. Where? After transfiguration, Jesus set His eyes to Jerusalem where His suffering and death awaited. Jesus understood well, ‘there is no resurrection without the cross.’ Concupiscence is one of our crosses here on earth, and it becomes a means to holiness.

One good friend of mine once asked me, “Why did God allow concupiscence to remain in our soul? It could have been better and easier for us if concupiscence had been removed during baptism.” The point was clearly taken. I can imagine that without concupiscence, I would not have to deal with many temptations. Life would be much easier, and the world would be a better place because people would no longer commit evil things out of selfish interests. However, our first parents still sinned even without concupiscence. The absence of concupiscence does not automatically prevent us from falling into sin. In fact, the moment we sin out of our total freedom and without the influence of concupiscence, we will fall extremely hard, just like Adam and Eve. Perhaps to prevent us from experiencing what our first parents had suffered, God allows concupiscence to remain.

Eventually, we still face the mystery, but we believe that even the presence of concupiscence is ultimately for our good.

Rome
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Masa Prapaskah, Adam dan Yesus

Hari Minggu Pertama Masa Prapaskah [A]
26 Februari 2023
Matius 4:1-11

Sekarang kita berada di hari Minggu pertama masa Prapaskah. Bagi sebagian dari kita, masa Prapaskah sudah menjadi sebuah rutinitas tahunan. Kita berpantang makan daging atau hal-hal lain yang membuat kita nyaman dan berpuasa setidaknya dua kali dalam setahun (Rabu Abu dan Jumat Agung). Kita juga diminta untuk menghabiskan lebih banyak waktu untuk berdoa dan didorong untuk beramal lebih banyak. Warna dan suasana liturgi juga berubah di gereja-gereja kita. Dan di banyak paroki, pengakuan dosa juga tersedia. Beberapa dari kita mungkin tidak benar-benar mengerti mengapa kita harus melakukan hal-hal ini, tetapi karena kita adalah orang Katolik dan orang lain mempraktikkannya, kita juga melakukannya. Beberapa dari kita mungkin menyadari alasan di balik berbagai olah rohani ini karena kita mendengarkan katekese yang diberikan oleh para imam atau katekis awam, atau penjelasan yang diberikan di media sosial. Sebagai seorang imam, saya berusaha untuk mengambil setiap kesempatan untuk mendidik umat beriman pada masa yang indah ini (lihat juga katekese dan refleksi saya di tahun-tahun sebelumnya). Namun, kita masih bertanya-tanya mengapa kita harus terus melakukan hal-hal ini setiap tahun?

Jawabannya terletak pada kodrat manusia kita yang terluka. Berbicara tentang kodrat manusia, kita harus kembali kepada orang tua pertama kita, Adam dan Hawa. Dalam bacaan pertama Minggu ini, kita menemukan bagaimana Adam diciptakan dari debu tanah dan menerima nafas kehidupan. Tidak hanya itu, Tuhan menempatkan mereka di taman yang dekat dengan Allah sendiri. Hal ini menjadi simbol bahwa mereka hidup dalam keselarasan dengan Tuhan, alam semesta dan diri mereka sendiri. Ini adalah kondisi rahmat yang asli (original state of grace). Namun, terlepas dari semua hak istimewa itu, Adam dan Hawa, yang berasal dari tanah, berani menentang Tuhan semesta alam. Sungguh, dosa mereka layak berbuah kematian. Namun, Tuhan berbelas kasih, mencegah kematian, dan memberikan kesempatan kedua bagi pria dan wanita. Sayangnya, dosa telah melukai jiwa mereka dan menghancurkan persahabatan mereka dengan Tuhan. Kodrat yang terluka sekarang menjadi lemah terhadap godaan dan cenderung melakukan lebih banyak dosa.

Sayangnya, Adam bukan hanya seorang individu yang terisolasi. Ia merupakan kepala umat manusia. Oleh karena itu, Santo Paulus, dalam suratnya kepada jemaat di Roma (bacaan kedua Minggu ini), mengungkapkan kebenaran bahwa dampak dari dosa Adam mengalir ke seluruh umat manusia. “Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa (Rm. 5:12).” Ketika kita dikandung, kita menerima kodrat manusia yang terluka. Kita berada dalam kondisi yang jauh dari Allah. Tradisi Katolik kita menyebutnya sebagai ‘dosa asal’.

Namun, kita tidak perlu putus asa. Juga dalam surat yang sama, St. Paulus memberitakan kabar baik bahwa Yesus telah menyelamatkan kita dan membawa kita kembali ke dalam persahabatan dengan Allah, yaitu kondisi rahmat (state of grace). “Sebab, jika karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi rahmat Allah dan karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus. (Rm. 5:15).”

Lalu, pertanyaannya yang tetap ada: “Jika kita sudah ditebus, mengapa kita masih harus melakukan olah rohani yang intensif di masa Prapaskah? Ya, kita telah ditebus, tetapi jiwa kita masih memiliki beberapa kelemahan karena dampak dari dosa asal. Kita masih memiliki kecenderungan dan ketidakteraturan untuk melakukan dosa (para theolog menyebutnya sebagai ‘concupiscentia’ – KGK 405). Oleh karena itu, untuk menguatkan otot-otot rohani kita melawan kedagingan, dunia, dan iblis, dan semakin hidup di dalam rahmat, Yesus memberi kita tiga kiat berikut ini: berpuasa, berdoa secara intensif, dan beramal. (Untuk mengetahui mengapa ketiga hal ini harus dilakukan, lihatlah renungan saya tahun lalu).

Namun, ada satu pertanyaan yang tersisa: “Mengapa Allah mengizinkan ‘concupiscentia’ untuk tetap ada di dalam jiwa kita meskipun ada kita sudah ditebus?” Nantikan jawabannya Minggu depan!

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP