Like Angels

32nd Sunday in Ordinary Time – November 10, 2019 – Luke 20:27-38

In today’s Gospel, the Sadducees attempt to test Jesus. Sadducees are a religious faction in first-century Judaism, but unlike the popular Pharisees, they only hold Torah as the only valid source of Jewish religious teachings and practices, and refuse the writings of the prophets, the wisdom books, and later traditions. One of their main doctrines is that they do not believe in the resurrection of the body. Jesus and the Pharisees though always in debate, share in a common fundamental belief in the bodily resurrection. Thus, to ridicule this kind of belief, the Sadducees are using the practice of the levirate marriage. In the Law of Moses, there is a practice to secure the bloodline and inheritance of a man who does not have any offspring. As a solution, the brothers or relatives of the deceased man will marry the widow and produce offspring on his behalf. Then, the Sadducees move to checkmate position. “In the resurrection, whose husband, this woman be?”

However, the Sadducees forget that nobody could win against Jesus in a debate. Jesus thoroughly destroys their plot by revealing what will happen in heaven: we will be like the angels. Who are these angels? Angel or “angelos” in Greek means the messenger. This points to their function, but their true nature is spirit. As a spirit, they have no physical body, and because of this, they are no longer bonded into the limitations of the body. They have no sexual desire or any desire, and therefore, they are not multiplying like humans. What attracts spirit is only a spiritual thing, and since God is the most perfect spirit [John 4:24], only God can give them perfection.

To be like angels in heaven is our destiny. One day, Mother Angelica, the founder of EWTN, talked with two men who had many titles behind their names, and they are proud of those achievements. Yet, during the conversation, they were amazed by Mother Angelica’s wisdom and serenity. She reminded them that the most important title is not what placed behind their names, but one put before their names, and this only has two letters: St. or Saint.

Our journey in this earth only makes sense if we are marching toward a destination beyond this world, and Jesus has pointed out to us that this goal is something spiritual, life like angels. Thus, it is important for us to examine our lives whether we are preparing ourselves every day to life like angels, or we keep ourselves busy with this earthly life. How we are going to prepare ourselves? We give more time to the spiritual things as well as spiritual aspects of our lives. Do we pray enough? Do we worship God often? Do we consult the Holy Spirit in our decision in our lives? Do we read Bible regularly? Do we spend quality time with Jesus? Do we help and love others sincerely?

It is important to remember that our God is the God of the living, thus our lives continue even beyond death. Thus, the kind of life we live here on earth will simply continue to the next life. If we live like an angel in heaven even now in earth, we will not have problem to adjust in the next life. Heaven starts here and now.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Seperti Malaikat

Minggu ke-32 dalam Masa Biasa – 10 November 2019 – Lukas 20: 27-38

angel n manDalam Injil hari ini, orang-orang Saduki berusaha untuk menguji Yesus. Saduki adalah faksi religius dalam agama Yahudi pada zaman Yesus, tetapi tidak seperti orang-orang Farisi yang populer, kaum Saduki hanya memegang Taurat sebagai satu-satunya sumber yang sah dari ajaran dan praktik keagamaan Yahudi, dan menolak tulisan para nabi, dan tradisi selanjutnya. Salah satu doktrin utama mereka adalah bahwa mereka tidak percaya pada kebangkitan badan. Meskipun, Yesus dan orang-orang Farisi selalu berdebat, Yesus dan orang Farisi berbagi kepercayaan dasar yang sama tentang kebangkitan tubuh. Dengan demikian, untuk menyangkal kepercayaan ini, orang Saduki menggunakan Hukum Taurat untuk membuat malu Yesus. Dalam Hukum Taurat, ada praktik untuk mengamankan garis keturunan dan warisan seorang pria yang tidak memiliki keturunan. Sebagai solusi, saudara-saudara lelaki yang meninggal akan menikahi jandanya dan diharapkan memperoleh keturunan bagi sang saudara yang telah meninggal. Kemudian, para Saduki mengajukan kesimpulan seolah-olah kebangkitan badan tidak masuk akal. “Dalam hari kebangkitan, siapakah yang menjadi suami istri ini?”

Namun, orang Saduki lupa bahwa tidak ada yang bisa menang melawan Yesus dalam debat. Yesus benar-benar menghancurkan argumentasi mereka dengan mengungkapkan apa yang akan terjadi di surga: kita akan menjadi seperti para malaikat. Siapakah malaikat ini? Malaikat atau “angelos” dalam bahasa Yunani berarti pembawa pesan. Ini menunjuk pada fungsi mereka, tetapi kodrat sejati mereka adalah roh. Sebagai roh, mereka tidak memiliki tubuh fisik, dan karena itu, mereka tidak lagi terikat pada keterbatasan tubuh. Mereka tidak memiliki hasrat seksual atau keinginan apa pun, dan karena itu, mereka tidak berkembang biak seperti manusia. Yang dapat menarik roh hanyalah hal rohani, dan karena Allah adalah roh yang paling sempurna [Yoh 4:24], hanya Allah yang dapat memberi mereka kesempurnaan.

Menjadi seperti malaikat di surga adalah tujuan akhir kita. Suatu hari, Sr. Angelica, pendiri EWTN (Eternal Word Television Network), berbincang-bincang dengan dua pria yang memiliki banyak gelar, dan mereka bangga dengan prestasi itu. Namun, selama percakapan, mereka kagum dengan kebijaksanaan dan ketenangan Sr. Angelica. Dia mengingatkan mereka bahwa gelar yang paling penting bukanlah yang diletakkan di belakang nama mereka, tetapi yang diletakkan di depan nama mereka, yakni Santo atau Santa

Perjalanan kita di bumi ini hanya masuk akal jika kita berziarah menuju tujuan di luar dunia ini, dan Yesus telah menunjukkan kepada kita bahwa tujuan ini adalah sesuatu yang spiritual, hidup seperti malaikat. Karena itu, penting bagi kita untuk memeriksa kehidupan kita apakah kita mempersiapkan diri kita setiap hari untuk hidup seperti malaikat, atau malah kita masih sibuk dengan kehidupan duniawi ini. Bagaimana kita akan mempersiapkan diri kita? Apakah kita memberi lebih banyak waktu untuk hal-hal rohani maupun aspek spiritual kehidupan kita? Apakah kita memiliki waktu berdoa? Apakah kita sering menyembah Tuhan? Apakah kita berkonsultasi dengan Roh Kudus dalam mengambil keputusan kita? Apakah kita membaca Alkitab secara teratur? Apakah kita menghabiskan waktu berkualitas bersama Yesus? Apakah kita membantu dan mengasihi sesama dengan tulus?

Penting untuk diingat bahwa Allah kita adalah Allah yang hidup, sehingga hidup kita terus berlanjut bahkan setelah kematian. Dengan demikian, jenis kehidupan yang kita jalani di dunia ini akan berlanjut ke kehidupan selanjutnya. Jika kita hidup seperti malaikat bahkan sekarang di bumi, kita tidak akan memiliki masalah untuk menyesuaikan dalam kehidupan selanjutnya. Surga dimulai di sini dan sekarang.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Zacchaeus the Tax Collector

31st Sunday in Ordinary Time [C] – November 3, 2019 – Luke 19:1-10

zacchaeus 1In the time of Jesus, there are at least two kinds of taxes. The first tax goes to the Temple of Jerusalem. This is a “sacred tax”. Those who collect them are performing a sacred duty, and those who pay are fulfilling their due to God. Yet, the second tax is exacted by the Roman government. In order to effectively get the taxes, the Romans employs the local collaborators. The Jews are heavily burdened by this tax because they are unjustly hefty, and often collected by coercion. The Jews understandably loathe those Jewish tax collectors who willingly betray their own people and are involved in greedy malpractices. These are the worst sinners, unclean, corrupt and traitors.

Certainly, Joseph, Mary and Jesus as a poor family, are having a difficult time to pay taxes themselves, and perhaps, fall victims to greedy tax collectors. However, despite this bitter reality, Jesus has a different attitude towards tax collectors. He is known to be the friends of tax collectors and sinners [Mat 11:19]. He shares his table with tax collectors [Luk 5:30]. He presents the tax collector as the protagonist in his parable, while the Pharisee as the bad guy [Luk 18:9ff]. One of His disciples, Matthew, is used to be a tax collector before he leaves everything and follows Jesus.

Today, we listen to the story of Zacchaeus, not ordinary tax collector, but the chief. Despite his high position and richness, he is a small stature. Thus, people look down on him both in a physical and religious sense. Yet, Jesus does something remarkable: He takes the initiative to look upon Zacchaeus who climbs the sycamore tree, calls him by name, and gets Himself invited to Zacchaeus’ house. This is unthinkable: the God-man calls and enters the house of the number-one public enemy in town. We notice that Jesus does not perform any earth-shattering miracles, but Jesus’ simple and loving gesture touches deeply Zacchaeus’ heart. Right there and then, he repents and ready to repair the damages he causes. Jesus declares, “Today salvation has come to this house (Lk. 19:2).”

What Jesus does deeply disturb the minds of orthodox Jews who prefer to distance themselves from the sinners, to avoid the contamination. Thus, they jeer at Jesus. Yet, Jesus takes the opposite direction: to enter the house and share a table even with the worst kind of sinners, chief tax collector, for one reason: “For the Son of Man has come to seek and to save what was lost.” (Lk. 19:10).

The Gospel offers us two attitudes towards our brothers and sisters who are struggling in their lives. We can choose whether like the crowd, to distance ourselves, and let them rot in hell, and even discourage any effort to embrace them, or like Jesus to takes the initiative to help them, even with simple gestures. It is true that when we open ourselves, there is no guarantee that our effort will be successful, and sometimes, we will get betrayed and hurt. Mother Teresa of Calcutta took care hundreds of homeless, but some of them turned against her and threw nasty gossips, and yet Mother Teresa continued to serve till the end of her life. Jesus has made His choice, so also many of His followers, now the choice is ours to make.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Zakheus, sang Pemungut Cukai

Minggu Biasa ke-31 [C] – 3 November 2019 – Lukas 19:1-10

zacchaeus 2Pada zaman Yesus, setidaknya ada dua jenis pajak atau cukai. Pajak pertama adalah untuk Bait Allah di Yerusalem. Ini adalah “pajak suci”. Mereka yang memungutnya melakukan tugas mulia, dan mereka yang membayar memenuhi kewajibannya kepada Allah. Namun, pajak kedua dibebankan oleh pemerintah Romawi. Untuk mendapatkan pajak secara efektif, orang-orang Romawi mempekerjakan kolaborator lokal. Orang-orang Yahudi sangat terbebani oleh pajak ini karena sangat berat, tidak adil, dan dengan paksaan. Orang-orang Yahudi pada umumnya tentu saja membenci para pemungut pajak Yahudi yang dengan sukarela mengkhianati rakyatnya sendiri dan terlibat dalam praktik korupsi yang tamak. Ini adalah pendosa terburuk, karena najis, korup dan pengkhianat.

Tentu saja, Yusuf, Maria dan Yesus sebagai keluarga miskin, mengalami kesulitan untuk membayar pajak sendiri, dan mungkin, menjadi korban pemungut pajak yang rakus ini. Namun, terlepas dari kenyataan pahit ini, Yesus memiliki sikap yang berbeda terhadap pemungut pajak. Ia dikenal sebagai sahabat para pemungut cukai dan pendosa [Mat 11:19]. Dia berbagi mejanya dengan pemungut cukai [Luk 5:30]. Ia menghadirkan pemungut pajak sebagai protagonis dalam perumpamaannya [Luk 18: 9 dst]. Salah satu murid-Nya, Matius, pernah juga menjadi pemungut pajak sebelum dia meninggalkan segalanya dan mengikuti Yesus.

Hari ini, kita mendengarkan kisah Zakheus, bukan pemungut pajak biasa, tetapi kepala kantor pajak di kota besar Yeriko. Meskipun posisinya tinggi dan kaya, ia memiliki perawakan kecil. Jadi, orang memandang rendah dia baik secara fisik maupun agama. Namun, Yesus melakukan sesuatu yang luar biasa: Dia berinisiatif untuk memandang Zakheus yang memanjat pohon ara, memanggilnya dengan nama, dan mengundang diri-Nya ke rumah Zakheus. Ini tidak terpikirkan: Yesus memanggil dan memasuki rumah musuh publik nomor satu di kota. Kita memperhatikan bahwa Yesus tidak melakukan mukjizat yang menghancurkan bumi, tetapi gerakan sederhana dan penuh kasih dari Yesus menyentuh hati Zakheus. Di sana dan kemudian, dia bertobat dan siap untuk memperbaiki kerusakan yang disebabkannya. Yesus menyatakan, “Hari ini keselamatan telah datang ke rumah ini (Luk 19: 2).”

Apa yang Yesus lakukan sangat mengganggu pikiran orang Yahudi ortodoks yang lebih suka menjauhkan diri dari orang berdosa, untuk menghindari kenajisan. Karena itu, mereka bersungut-sungut. Namun, Yesus mengambil arah yang berlawanan: untuk memasuki rumah dan berbagi meja bahkan dengan orang yang paling berdosa sakali pun, kepala pemungut pajak, untuk satu alasan: “Karena Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” (Luk. 19:10).

Injil menawarkan kita dua sikap terhadap saudara dan saudari kita yang bergulat dalam kehidupan mereka. Kita dapat memilih seperti kerumunan, untuk menjauhkan diri dari mereka, dan membiarkan mereka hilang, dan bahkan mencegah segala upaya untuk merangkul mereka, atau seperti Yesus untuk mengambil inisiatif untuk membantu mereka, bahkan dengan tindakan-tindakan yang sederhana. Memang benar bahwa ketika kita membuka diri, tidak ada jaminan bahwa upaya kita akan berhasil, dan kadang-kadang, kita akan dikhianati dan terluka. Bunda Teresa dari Kalkuta merawat ratusan tunawisma, tetapi beberapa dari mereka berbalik menyerangnya dan melemparkan gosip bahwa ia hanya mencari ketenaran sendiri. Inilah pilihan Yesus, inilah pilihan yang perlu kita buat.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

External and Internal

30th Sunday in Ordinary Time [October 27, 2019] Luke 18:9-14

pharisee n tax collectorIn Jesus’ time, they were several Jewish religious groups and one of them is the Pharisees. These are the people who love the Lord and devoutly observe the Law of Moses and the traditions of the elders even in their daily lives. Thus, Jewish people regard them as righteous because they are faithful to the Law, and pious because they pray often. Many Pharisees turn to be the caretakers of the local synagogues and zealously teach the Law during Sabbath days. No wonders, the Jewish people offer the Pharisees the best places in the worship places and the parties. The leaders are called the Rabbis or teachers.

In contrast, we have tax collectors. This is the profession that most Jews hate at least for two reasons. Firstly, tax collectors tend to corrupt by demanding more than what is due. Secondly, the tax collectors work for the Roman Empire, a gentile and oppressive nation. This makes them both sinners and unclean.

When Jesus presents these two characters in His parable, His Jewish listeners immediately see that the Pharisee is the good guy and the tax collector is the bad guy. The Temple of Jerusalem consists of several courts, from the Holy of Holies going out to the court of the Gentiles. The Pharisee as a devout and clean Israelite will pray at the inner court of the Temple, closer to the sanctuary. While the tax collector is standing perhaps at the court of the Gentiles, where the unclean people and sinners are allowed to get closer.

However, Jesus once again twists the minds of His listeners. The tax collector comes up as the hero of the story, as God hears his prayers and accepts his sincere repentance.

Before God, we are judged not so much by external appearance and social standing, but primarily by internal disposition, by faith. The Pharisee is full of himself and doing nothing but praying to himself [see verse 11]. How can a person pray to himself? He boastfully compares himself with others and puts down others. This is not a prayer, but rather a litany of self-praise. But, the tax collector in all humility recognizes himself as a sinner and asks nothing but God’s mercy.

Appearances and social standing do not guarantee our holiness, and this has a massive implication in our daily lives. We cannot simply judge that a priest who celebrates the mass, who stands on the sanctuary, is holier than an ordinary man who prays at last pew of the Church. We cannot judge a woman who visits the adoration chapel and recite the rosary every day is holier than a woman who has no time to visit the Church because she has to work hard to feed her children. We cannot judge that a man who is active in the parish is holier than a man who is inside the jail. In the first place, it is not our duty to judge others’ holiness. If we are busy judging others, we are no different from the Pharisee in the story who even prays to himself.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Eksternal dan Internal

Minggu ke-30 dalam Waktu Biasa [27 Oktober 2019] Lukas 18: 9-14

pharisee n tax collector 2Pada zaman Yesus, ada beberapa kelompok di dalam agama Yahudi dan salah satunya adalah orang-orang Farisi. Inilah orang-orang yang mencintai Tuhan dan dengan taat mematuhi Hukum Musa dan tradisi para penatua bahkan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Jadi, orang Yahudi menganggap mereka sebagai orang benar karena mereka setia kepada Hukum, dan saleh karena mereka sering berdoa. Banyak orang Farisi menjadi pengurus sinagoga dan dengan tekun mengajarkan Hukum saat hari-hari Sabat. Tidak heran, orang-orang Yahudi memberikan kepada orang-orang Farisi tempat-tempat terbaik di tempat-tempat ibadah dan pesta-pesta, dan memanggil beberapa dari mereka sebagai Rabi atau guru.

Sebaliknya, ada juga sang pemungut cukai. Ini adalah profesi yang dibenci oleh kebanyakan orang Yahudi setidaknya karena dua alasan. Pertama, pemungut cukai cenderung korup dengan menuntut lebih dari yang seharusnya. Kedua, para pemungut cukai bekerja untuk Kekaisaran Romawi, sebuah bangsa kafir dan penindas. Ini membuat mereka berdosa dan najis.

Ketika Yesus menampilkan dua karakter ini dalam perumpamaan-Nya, para pendengar yang adalaha orang Yahudi-Nya segera melihat bahwa orang Farisi adalah orang baik dan pemungut cukai adalah orang jahat. Bait Allah Yerusalem terdiri dari beberapa lapisan, dari tempat yang  Mahakudus di pusat Bait Allah, dan yang paling luar adalah tempat bagi bangsa-bangsa yang bukan Yahudi. Orang Farisi sebagai orang Israel yang saleh dan bersih, akan berdoa di dalam Bait Suci, lebih dekat ke tempat kudus. Sementara pemungut pajak berdiri mungkin di tempat yang ditujukan bagi mereka yang bukan orang Yahudi, di mana orang-orang najis dan orang berdosa diijinkan untuk lebih dekat.

Namun, Yesus sekali lagi memelintir pikiran para pendengar-Nya. Pemungut cukai muncul sebagai pahlawan dalam cerita ini, ketika Tuhan mendengar doanya dan menerima pertobatannya yang tulus.

Di hadapan Tuhan, kita dihakimi bukan karena penampilan luar dan kedudukan sosial, tetapi terutama oleh disposisi internal, iman kita. Orang Farisi penuh dengan dirinya sendiri dan tidak melakukan apa-apa selain berdoa kepada dirinya sendiri [lihat ayat 11]. Bagaimana seseorang bisa berdoa pada dirinya sendiri? Dia dengan sombong membandingkan dirinya dengan orang lain dan menjatuhkan orang lain. Ini bukan doa, melainkan litani pujian diri. Tapi, pemungut cukai dalam segala kerendahan hati mengakui dirinya sebagai orang berdosa dan tidak meminta apa pun selain belas kasih Tuhan.

Penampilan dan kedudukan sosial tidak menjamin kekudusan kita, dan ini memiliki implikasi besar dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita tidak bisa begitu saja menilai bahwa seorang imam yang merayakan misa, yang berdiri di tempat kudus, lebih suci daripada seorang bapak yang berdoa di bangku terakhir Gereja. Kita tidak dapat menilai seorang wanita yang mengunjungi adorasi kapel dan berdoa rosario setiap hari lebih suci daripada seorang wanita yang tidak memiliki waktu untuk rajin ke Gereja karena dia harus bekerja keras untuk memberi makan anak-anaknya. Kita tidak dapat menilai bahwa seorang pria yang aktif di paroki lebih suci daripada seorang pria yang berada di dalam penjara. Pertama, itu bukan tugas kita untuk menilai kekudusan orang lain. Jika kita sibuk menilai orang lain, kita tidak berbeda dengan orang Farisi dalam cerita yang bahkan berdoa untuk dirinya sendiri.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Our Catholic Faith

27th Sunday in Ordinary Time [C] – October 6, 2019 – Luke 17:5-10

mustard seed n crossIf there is one most powerful force in the universe, it will be faith. Jesus teaches us that even faith as small as a mustard seed can do the impossible. Jesus preaches that with this little faith, we can command a sycamore tree be uprooted and be planted in the sea. One of the smallest things on earth can move the most significant reality in the world. The sycamore tree has both deep, strong and widespread roots. It is just impossible to uproot it when it has grown mature. Yet, Jesus surprises further even by saying that we can replant this on the bed of the ocean. That makes it doubly impossible. Jesus is pushing his teaching on faith beyond natural human reasoning!

The question is whether Jesus is merely exaggerating the power of faith, or He is unveiling the deepest of truth of faith. To answer this question, we need to know first what is faith? Surely there are several definitions of faith. In the broadest sense, it is a belief in the divine, something that is much more powerful than us, something beyond us. In many religious traditions, this transcendence is a person that is called God. This faith makes us different those who claim themselves as atheists. In narrower sense, it refers to a belief in a particular set of teachings about the divine. In this sense, the Catholic faith is different from the Protestant Lutheran faith.

St. Thomas Aquinas reminds us that faith is basically an ascent of the intellect. This is precisely what faith is mighty. It does not rely on earthly possession, nor our biological nature, nor our emotions. If we base our faith on moods, every time, we feel unhappy or depressed, and we may lose our faith. Mother Teresa of Calcutta once wrote in her diary that she did not feel the presence of God in her life for almost ten years. If she had depended on her emotion, she would have lost her faith. If we place our faith in our bodily wellbeing, the moment we get sick, or our body weakens, we may lose faith. Padre Pio of Pietrelcina received the gift of stigmata and had to endure the excruciating pain of the crucifixion for more than 50 years. Had he relied on his body, he would have lost his faith long time ago.

It is the ascent of the intellect that makes faith unbelievably powerful. When I was ordained to both to the diaconate and to the priesthood, especially during the most essential part of the ceremony, the laying of bishop’s hands on my head, I confess that I did not feel anything but a little pressure on my head. Does it mean my ordination invalid? Fortunately, the validity of my ordination is not based on my feelings! It is the faith, my faith, my bishop’s faith, the faith of the people, the faith of the Church. It is the faith that allows the unseen, unfelt grace of God to transform my soul into a soul of Jesus, the priest.

Our Catholic faith is indeed the mustard seed that moves a mountain. It is the faith that make our ears to hear the Word of God in the ordinary pages of the Scriptures. It is the faith that opens our minds to see the Body of Christ in a small tiny bread. It is the faith that encourages us to be humble before God and confess our sins before a priest. It is the faith that empowers many Christians to persevere in persecutions and to readily give their blood for Jesus. It is the faith that enables us to sacrifice our lives for others and to love the end.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Iman Katolik kita

Minggu ke-27 dalam Waktu Biasa [C] – 6 Oktober 2019 – Lukas 17: 5-10

faith n fishJika ada satu kekuatan paling dahsyat di alam semesta, ini adalah iman. Yesus mengajarkan kepada kita bahwa iman sekecil biji sesawi dapat melakukan hal yang mustahil. Yesus menyatakan bahwa dengan iman yang kecil ini, kita dapat memerintahkan pohon ara dicabut dan ditanam di laut. Salah satu hal terkecil di bumi dapat menggerakkan realitas paling besar di dunia. Pohon ara memiliki akar yang dalam, kuat dan menyebar. Tidak mungkin mencabutnya ketika sudah dewasa. Namun, Yesus bahkan mengatakan bahwa kita tidak hanya mampu mencabutnya tetapi juga menanam kembali ini di dasar samudera. Itu membuatnya mustahilnya doble! Inilah hebatnya iman yang kita miliki.

Pertanyaannya adalah apakah Yesus hanya melebih-lebihkan kekuatan iman, atau Ia sedang mengungkap kebenaran iman yang paling dalam. Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu tahu dulu apa itu iman? Tentunya ada beberapa definisi iman. Dalam arti yang lebih luas, iman adalah kepercayaan pada yang ilahi, sesuatu yang jauh lebih kuat dari kita. Dalam banyak tradisi keagamaan, yang ilahi ini adalah pribadi yang disebut Tuhan. Iman ini membuat kita berbeda dengan mereka yang mengklaim diri mereka sebagai ateis. Dalam arti yang lebih sempit, ini merujuk pada kepercayaan pada serangkaian ajaran tertentu tentang yang ilahi. Dalam pengertian ini, iman Katolik berbeda dari iman Lutheran Protestan.

Thomas Aquinas mengingatkan kita bahwa iman pada dasarnya adalah persetujuan dari akal budi dan kehendak. Inilah kenapa iman menjadi luar biasa kuat. Iman tidak bergantung pada kepemilikan duniawi, atau sifat biologis kita, atau emosi kita. Jika kita mendasarkan iman kita pada suasana hati, setiap saat kita merasa tidak bahagia atau tertekan, kita mungkin kehilangan iman kita. Bunda Teresa dari Calcutta pernah menulis dalam buku hariannya bahwa dia tidak merasakan kehadiran Tuhan dalam hidupnya selama hampir sepuluh tahun. Jika dia hanya bergantung pada emosinya, dia akan kehilangan imannya. Jika kita menempatkan iman kita pada kesejahteraan tubuh kita, saat kita sakit, atau tubuh kita melemah, kita mungkin kehilangan iman. Padre Pio dari Pietrelcina menerima karisma stigmata dan harus menanggung rasa sakit yang luar biasa penyaliban selama lebih dari 50 tahun. Jika dia mengandalkan tubuhnya, dia akan kehilangan imannya juga.

Persetujuan akal budi inilah yang membuat iman sangat kuat. Ketika saya ditahbiskan menjadi imam, bagian yang terpenting dari upacara ini adalah penumpangan tangan uskup di atas kepala saya. Namun, saya mengakui bahwa saya tidak merasakan apa pun kecuali sedikit tekanan di kepala saya. Apakah itu berarti tahbisan saya tidak valid? Syukurnya, validitas penahbisan saya tidak didasarkan pada perasaan saya! Ini adalah iman, iman saya, iman uskup saya, iman umat, iman Gereja. Imanlah yang memungkinkan rahmat Allah yang tak terlihat dan tak terasa mengubah jiwa saya menjadi seperti jiwa Yesus, sang imam.

Iman Katolik kita memang benih sesawi yang menggerakkan gunung. Iman inilah yang membuka pikiran kita untuk melihat Tubuh Kristus dalam roti kecil putih tak berasa. Iman inilah yang mendorong kita untuk menjadi rendah hati di hadapan Allah dan mengakui dosa-dosa kita di hadapan seorang imam. Iman inilah yang memberdayakan banyak orang beriman untuk bertahan dalam penganiayaan dan siap memberikan darah mereka bagi Yesus. Iman yang memampukan kita untuk mengorbankan hidup kita untuk orang lain dan untuk mengasihi sampai akhirnya.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Rich Man and Lazarus

Reflection on the 26th Sunday in Ordinary Time [C] – September 29, 2019 – Luke 16:19-31

LazarusOnce again, we listen to one of Jesus’s most remarkable stories. There is a rich man, and this guy is insanely wealthy. He is described as someone clothed with purple and fine linen. In ancient time, fine purple linen is an utmost luxury, and usually only nobilities could afford to buy this kind of cloth. Before the coming of synthetic coloring, purple dye is coming from snails of Mediterranean Sea, and it takes thousands of snails just to dye one ordinary garment. This rich guy is also throwing party every night. At the time of Jesus, where majority must toil to earn a little and to have something to eat, to enjoy feast every night is madly extravagant. At that time, fork, knife, and napkins were not common; thus, people are eating with their hands. In very wealthy houses, they will cleanse their hands by wiping them on hunks of bread that will be thrown away. These are pieces of bread Lazarus longs to receive.

Lazarus is a Latinized form of Eleazar, meaning “God is my help.” Yet, it seems that he does not get much help from the Lord during his lifetime. He is a beggar, and as one living with terrible hygiene, skin diseases come and plague his body. Even the dogs are licking his wounds. He is now no different from a dog! However, God is just and gives His help to Lazarus in his death. He is brought by the angels to Abraham’s bosom to receive comfort, while the superrich guy is thrown to hell.

This is a powerful story that reminds us that apathy can send us to hell. The rich guy possesses tremendous amount of wealth, and yet he closes his eyes on his brother who is greatly in distress. A deeper root of apathy is just our selfishness. We only care about ourselves. We notice how the rich guy in hell asks Lazarus to quench his thirst, his immediate need. Then, the rich guy suddenly remembers that he has other brothers and he wants Lazarus to warn them. It might be a hint of empathy, but it can be the sign of deeper selfishness. He wants only those close to him are saved. He never utters any single word of sorry to Lazarus, for being too cruel. Fr. Richard Rohr, a Franciscan spiritual writer, once says, “The ego hates losing – even to God.”

God hates apathy because apathy is directly opposed to His mercy. The word Mercy in Latin is Misericordia, and it means the heart of those who are suffering. In the Bible, if there is one thing that always moves God, it is when someone begs for mercy. Pope Benedict XVI reminds us that God is mercy, and He cannot be but merciful. Thus, apathy is simply against God; it is a rejection of heaven.

Surely, we do not have to solve all the problem of the world; neither do we have to become the wealthiest guy in the world to care for others. We just need to look outside ourselves, outside our gadgets, outside our social media, outside places and people that give us comfort. Perhaps, our kids need someone to talk with, someone who can listen without judging. Maybe, the person beside us is having a bad day, and our little smile may help significantly. After all, Mother Teresa of Calcutta once said, “We shall never know all the good that a simple smile can do.”

Let us make our mission today to say a kind word and do a kind deed to someone who needs it. As Mother Teresa once again says, “Kind words can be short and easy to speak, but their echoes are truly endless.”

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Orang Kaya dan Lazarus

Renungan pada Minggu ke-26 pada Masa Biasa [C] – 29 September 2019 – Lukas 16: 19-31

The Rich Man and Lazarus - Luke 16:19-31

Sekali lagi, kita mendengarkan salah satu kisah Yesus yang sangat mengesankan. Ada seorang yang sangat kaya. Dia digambarkan sebagai seseorang yang berpakaian jubah ungu dan halus. Pada zaman itu, kain ungu yang halus adalah kemewahan tak terbayangkan, dan biasanya hanya bangsawan yang mampu membeli kain semacam ini. Sebelum adanya pewarnaan sintetis, pewarna ungu berasal dari siput Laut Mediterania, dan dibutuhkan ribuan siput hanya untuk mewarnai satu pakaian biasa. Pria kaya ini juga mengadakan pesta setiap malam. Pada zaman Yesus, di mana mayoritas harus bekerja keras untuk mendapatkan sedikit dan memiliki sesuatu untuk dimakan, untuk menikmati pesta setiap malam adalah sebuah kegilaan. Pada waktu itu, orang makan masih menggunakan tangan. Di rumah-rumah orang yang sangat kaya, mereka akan membersihkan tangan mereka dengan menyekanya pada roti yang kemudian dibuang. Ini adalah potongan roti yang diterima Lazarus.

Lazarus adalah bentuk latin dari kata Ibrani Eleazar, yang berarti “Tuhan adalah pertolongan saya.” Namun, tampaknya ia tidak mendapatkan banyak bantuan dari Tuhan selama masa hidupnya. Dia adalah seorang pengemis, dan sebagai orang yang hidup dengan kebersihan yang buruk, penyakit kulit datang dan menghancurkan tubuhnya. Bahkan anjing-anjing itu menjilati luka-lukanya. Dia sekarang tidak berbeda dari seekor anjing! Namun, Tuhan itu adil dan memberikan bantuan-Nya kepada Lazarus dalam kematiannya. Dia dibawa oleh malaikat ke pangkuan Abraham untuk menerima penghiburan, sementara pria super kaya terlempar ke neraka.

Ini adalah kisah yang mengingatkan kita bahwa sikap apatis dapat mengirim kita ke neraka. Orang kaya itu memiliki kekayaan luar biasa, namun ia menutup mata pada saudaranya yang sangat kesulitan. Akar apatis yang lebih dalam sebenarnya keegoisan kita. Kita hanya peduli pada diri sendiri. Kita perhatikan bagaimana orang kaya di neraka meminta Lazarus untuk memuaskan dahaga, hanya berpikir untuk memenuhi kebutuhan mendesaknya. Kemudian, pria kaya itu tiba-tiba ingat bahwa ia memiliki saudara laki-laki lain dan ia ingin Lazarus memperingatkan mereka. Hal ini mungkin ada sedikit empati, tetapi hal ini bisa menjadi tanda keegoisan yang lebih dalam. Dia ingin hanya mereka yang dekat dengannya yang diselamatkan. Dia tidak pernah mengucapkan kata maaf pada Lazarus. Dia hanya memikirkan dirinya bahkan saat di neraka.

 Tuhan membenci sikap apatis karena sikap apatis secara langsung bertentangan dengan belas kasihan-Nya. Kata Belas kasih dalam bahasa Latin adalah Misericordia, dan itu berarti hati kepada mereka yang menderita. Dalam Alkitab, jika ada satu hal yang selalu menggerakkan Tuhan, itu adalah ketika seseorang memohon belas kasihan. Paus Benediktus XVI mengingatkan kita bahwa Tuhan itu belas kasihan, dan Dia tidak bisa tidak berbelas kasih. Jadi, apatis melawan Tuhan; itu adalah penolakan dari surga.

Tentunya, kita tidak harus menyelesaikan semua masalah dunia; kita juga tidak harus menjadi orang terkaya di dunia untuk memberi perhatian kita kepada sesama. Kita hanya perlu melihat ke luar diri kita sendiri, di luar gadget kita, di luar media sosial kita, di luar tempat dan orang-orang yang memberi kita kenyamanan. Mungkin, anak-anak kita membutuhkan seseorang untuk diajak bicara, seseorang yang dapat mendengarkan tanpa menghakimi. Mungkin, orang di samping kita mengalami hari yang buruk, dan senyum kecil kita dapat membantu secara signifikan. Bagaimanapun, Bunda Teresa dari Kalkuta pernah berkata, “Kita tidak akan pernah tahu semua kebaikan yang dapat dilakukan dengan senyum sederhana.”

Mari kita membuat misi hari ini untuk mengucapkan kata-kata baik dan melakukan perbuatan baik kepada seseorang yang membutuhkannya. Dan Bunda Teresa sekali lagi berkata, “Kata-kata yang baik bisa singkat dan mudah untuk diucapkan, tetapi gema mereka benar-benar tak ada habisnya.”

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP