Dealing with Mammon

25th Sunday in Ordinary Time [C] – September 22, 2019 – Luke 16:1-13

money for othersThere is something strange in our Gospel today. Jesus is praising the cunning steward. Why does Jesus commend his shrewd action? To understand Jesus’ words, we need to comprehend first what really takes place with this servant and his master.

There is a steward who had been entrusted by his master to take care of his master’s house and possession, and yet, instead doing his job, he prefers to squander his master’s wealth and betrays his master’s trust. Angered master does what he is expected to do. He fires his useless servant. Yet, upon this impending judgment, the servant realizes that he is not able to dig, meaning he cannot labor in the farmland or at the construction sites. He is also ashamed to become a beggar. Then, he engineers a way out. He calls all his master’s debtors and cut into half all their debts by manipulating their letter of agreement. By doing this, he is doing a favor to them and making them as their friends. This is to secure way to survive after his expulsion. Surely this is manipulation and corruption, and yet he is praised for doing so. What’s going on?

Jesus gives us an example of how smart the children of this world manage their affairs. In the time of crisis, the wicked servant is able to discern well what is most important in his life, that is his survival. For a while, the servant is attached to the wealth of his master and spending them as if this money is his. But, when he realizes he is in the great trouble, he makes the right choice. He detaches himself from his addiction from wealth and make them as a means to achieve his survival. Jesus then compares the children of this world, and the children of light. If the children of this world can use and manipulate the material possession for their earthly motives, so the children of light shall use the same wealth to attain even a loftier goal.

This teaching of Jesus is important and massive implication. We are not only allowed, but even encouraged to use the material goods and wealth in order to reach heaven. Jesus even uses a stronger term: make friends for yourself with dishonest wealth! Surely, it does not mean we can buy heaven, or we can bribe God! We cannot never do those things. These material possession and money serve us as means to live decent lives, help each other and worship God.

The problem is that we, the children of light, are not friends with wealth. We either hate money or we love money. Firstly, some of us may have a perspective that money is evil, dangerous and leading to sin. Thus, when we hate money, we detest also those who have money. The hatred of money may lead to hatred of others, and we may fail to fulfill Christ’s commandment: to love one another. Secondly, many of us love money. We are attached to earthly wealth that we forget their true purpose. We make means into the end, and end into the means. We turn our family, friends, employees, religion, even God as tools to gain more and more money. It is a disheartening reality nowadays that some people create new religions and churches to enrich themselves. We are only to love God and to love each other for the love of God, but never money. We make friends with earthly wealth in order for us to gain heaven.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Tuhan dan Mamon

Minggu Biasa ke-25 [C] – 22 September 2019 – Lukas 16: 1-13

wealth growingAda sesuatu yang aneh dalam Injil kita hari ini. Yesus memuji pelayan yang curang itu. Mengapa Yesus memuji tindakan cerdiknya? Untuk memahami kata-kata Yesus, kita perlu memahami terlebih dahulu apa yang sebenarnya terjadi dengan hamba ini dan tuannya.

Ada seorang hamba yang telah dipercayakan oleh tuannya untuk mengurus rumah dan kepemilikan tuannya, namun, alih-alih melakukan pekerjaannya, ia lebih memilih untuk menghambur-hamburkan kekayaan tuannya dan mengkhianati kepercayaan tuannya. Tuannya tentu menjadi marah. Dia memecat hambanya yang tidak berguna itu. Namun, sebelum ia diusir oleh tuannya, sang hamba menyadari bahwa ia tidak dapat menggali, yang berarti ia tidak dapat bekerja di tanah pertanian atau di pekerjaan bangunan. Dia juga malu menjadi pengemis. Lalu, ia merekayasa jalan keluar. Dia memanggil semua orang yang berhutang pada tuannya dan menghapuskan sebagian dari  utang-utang mereka dengan memanipulasi surat perjanjian mereka. Tentunya, orang-orang ini senang hutang mereka berkurang. Dengan melakukan ini, sang hamba melakukan hal menguntungkan bagi dia dan para pengutang, dan menjadikan mereka sebagai teman mereka. Dan jika diusir oleh tuannya, dia memiliki teman untuk menampungnya dan dia bisa bertahan hidup. Sejatinya ini adalah sebuah manipulasi dan korupsi, namun ia malah dipuji karena melakukannya. Apa yang sebenarnya terjadi?

Yesus memberi kita hamba yang cerdik ini sebagai sebuah contoh tentang seberapa pintarnya anak-anak di dunia ini mengelola urusan mereka. Di masa krisis, hamba yang jahat mampu membedakan dengan baik apa yang paling penting dalam hidupnya, yaitu kelangsungan dan masa depan hidupnya. Pada awalnya, hamba terikat pada kekayaan tuannya dan menghambur-hamburkannya seolah-olah uang ini adalah miliknya. Tetapi, ketika dia menyadari bahwa dia berada dalam kesulitan besar, dia membuat pilihan yang tepat. Dia melepaskan diri dari kecanduannya dari kekayaan dan menjadikannya sebagai sarana untuk mencapai kelangsungan hidupnya. Yesus kemudian membandingkan anak-anak dunia ini dengan anak-anak terang. Jika anak-anak di dunia ini dapat menggunakan dan memanipulasi kepemilikan materi untuk motif duniawi mereka, anak-anak terang pun seharusnya menggunakan kekayaan yang sama untuk mencapai bahkan tujuan yang lebih tinggi.

Ajaran Yesus ini memiliki implikasi penting dan masif. Kita tidak hanya diizinkan, tetapi bahkan didorong untuk menggunakan barang-barang materi dan kekayaan untuk mencapai surga. Yesus bahkan menggunakan istilah yang lebih kuat: ikatlah persahabatan dengan mempergunakan kekayaan! Tentunya, itu tidak berarti kita dapat membeli surga, atau kita dapat menyuap Tuhan! Kita tidak bisa melakukan hal-hal itu. Kepemilikan materi dan uang ini ada sebagai sarana untuk hidup yang layak, membantu sesama dan menyembah Tuhan.

Masalahnya adalah kita, anak-anak terang, tidak tahu berteman dengan kekayaan. Ada dua ekstrem: entah kita benci uang atau kita cinta uang. Pertama, beberapa dari kita mungkin memiliki perspektif bahwa uang itu jahat, berbahaya dan sebuah godaan untuk dosa. Jadi, ketika kita membenci uang, kita membenci juga mereka yang punya uang. Kebencian terhadap uang dapat menyebabkan kebencian terhadap orang lain, dan kita bisa gagal memenuhi perintah Kristus: untuk saling mengasihi. Kedua, banyak dari kita cinta uang. Kita terikat pada kekayaan duniawi bahwa kita melupakan tujuan sejati kita. Kita membuat sarana menjadi tujuan, dan tujuan menjadi sarana. Kita menjadikan keluarga, teman, karyawan, agama, bahkan Tuhan kita sebagai sekedar sarana untuk mendapatkan lebih banyak uang. Adalah kenyataan yang menyedihkan saat ini bahwa beberapa orang membuat agama dan gereja baru untuk memperkaya diri mereka sendiri. Kita hanya mencintai Tuhan dan mencintai sesama demi cinta Tuhan, tetapi tidak pernah uang. Kita berteman dengan kekayaan duniawi agar kita mendapatkan surga.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Heart of the Gospel

Reflection on the 24th Sunday in Ordinary Time [C] – September 15, 2019 – Luke 15:1-32

shepherdChapter 15 of the Gospel of Luke contains three of the most heartwarming as well as powerful parables in the entire Bible. These three parables are known as the parable of the lost sheep, the parable of the lost coin, and the parable of the prodigal son. If we look closer into these three parables, what is so stunning and astonishing is how Jesus bends, twists and stretches human logic and natural tendency to nail His point.

In ancient Israel, shepherds knew that to pastor the flock of sheep was not an easy job because they had to lead their flocks in constant search for food and water in the wilderness. Sheep was naturally dumb animal and possessed no natural defense mechanism. As a sheep looked for food, it quickly went astray and was exposed to imminent threats like wolves, hyaenas or robbers. The shepherd had to exert extra effort to watch over their sheep. Yet, occasionally, a sheep or two got lost, and the shepherd had to go into search and rescue mission.

However, Jesus tells us about a good shepherd who dares to leave the other sheep to search for a single lost sheep. Along the way, he may stumble upon life-threating dangers like robbers or pack of wolves. There is no assurance that he will find his sheep. He is practically risking his own life for this dumb sheep. What even remarkable is that after the shepherd discovers his lost animal, he rejoices exceedingly and throws a party for the finding. His mission is a huge success, and it is time to share the joy with others. It is simply heartwarming story. Then, when Jesus’ listeners are still mesmerized, Jesus drops the bomb. He points out that God is this good shepherd! God is the woman who rejoices for the small coin. God is the father who accepts and celebrates for his runaway son who returns. Through these parables, Jesus teaches us our God is merciful, and His mercy is beyond our wildest imagination. This is why they have been called “the Gospel of the Gospel” because the three parables carry the heart of the Gospel, that is the mercy of God.

Every one of us is like the lost sheep, the lost coin or the lost son. There are points in our lives we are so low and feeling meaningless. No amount of worldly happiness can fill our hearts until Jesus finds us. Carolyn Kolleger was a successful American model and movie actress. As a baby, she was baptized Catholic, but she never knew and loved her faith. As a model, she never thought anything else but herself. She also got married to Erwin Kolleger, a businessman, who enjoyed worldly pleasures. They were rich, throwing a lot of parties, drinking alcohol and even consuming drugs. Until she got pregnant. She did not want to lose her career and was pushed by her husband, she aborted the baby. She did it not only once but thrice. She got depressed, and her marriage was about to collapse. Until a priest came and helped Carolyn and Edwin. They began to meet a Catholic counselor who helped their marriage. Carolyn decided to repent and go back They were received back into the Catholic Church. She prayed the rosary and read the Bible on more regular basis, and attended the Eucharist. Eventually her husband also followed her and rebuilt their marriage and family, not based on worldly measures, but faith, hope, and love. They were blessed with four children and find true happiness.

This is our God, a compassionate and merciful God who tirelessly seeks His lost sons and daughter.

Hati dari segala Injil

Renungan pada Minggu ke-24 dalam Waktu Biasa [C] – 15 September 2019 – Lukas 15: 1-32

lost sheepBab 15 dari Injil Lukas berisi tiga perumpamaan yang paling mengharukan dan indah di seluruh Alkitab. Tiga perumpamaan ini dikenal sebagai perumpamaan tentang domba yang hilang, perumpamaan tentang koin yang hilang, dan juga perumpamaan tentang anak yang hilang. Jika kita melihat lebih dekat ke dalam ketiga perumpamaan ini, apa yang begitu menakjubkan dan mencengangkan adalah bagaimana Yesus membengkokkan, memutar dan merentangkan logika manusia dan budaya Israel untuk menyampaikan poin terdalam-Nya.

Di Israel kuno, para gembala tahu bahwa untuk menggembalakan kawanan domba bukanlah pekerjaan yang mudah karena mereka harus memimpin kawanan mereka untuk mencari makanan dan air di tanah Palestina yang gersang. Domba secara alami adalah hewan bodoh dan tidak memiliki mekanisme pertahanan alami. Ketika seekor domba mencari makanan, ia dengan mudah tersesat dan ia bisa saja menjadi mangsa serigala, atau diambil oleh perampok. Gembala harus mengerahkan upaya ekstra untuk menjaga domba mereka. Namun, kadang-kadang, satu atau dua domba tersesat, dan gembala harus pergi untuk menyelamatkannya.

Namun, Yesus memberi tahu para pendengarnya tentang seorang gembala yang berani meninggalkan domba-domba lain untuk mencari satu domba yang hilang. Sepanjang jalan, ia mungkin menemukan bahaya yang mengancam jiwanya sendiri seperti perampok atau serigala. Tidak ada jaminan dia akan menemukan domba-dombanya yang hilang. Dia praktis mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk domba bodoh ini. Yang bahkan luar biasa adalah bahwa setelah sang gembala menemukan hewannya yang hilang, ia sangat bersukacita. Misinya adalah sukses besar dan sekarang saatnya untuk berbagi sukacita dengan orang lain. Ini kisah yang mengharukan. Kemudian, ketika para pendengar Yesus masih terpesona, Yesus menerangkan poin utama-Nya. Dia menunjukkan bahwa Tuhan adalah gembala yang baik ini! Tuhan adalah wanita yang bersukacita atas koin kecil yang ia temukan. Tuhan adalah ayah yang menerima dan merayakan putranya yang durhaka yang kini kembali. Melalui perumpamaan-perumpamaan ini, Yesus mengajar kita bahwa Allah kita penuh belas kasihan dan kemurahan-Nya berada di luar imajinasi kita yang paling liar sekalipun. Inilah sebabnya mengapa perumpamaan ini disebut sebagai “Hati dari segala Injil” karena ketiga perumpamaan berbicara inti dari Injil yakni kerahiman Allah.

Kita masing-masing seperti domba yang hilang, koin yang hilang atau putra yang hilang. Ada waktu-waktu di dalam hidup kita, kita merasa sangat rendah dan merasa tidak berarti dan hilang. Tidak ada kebahagiaan duniawi yang dapat mengisi hati kita, sampai Yesus menemukan kita.

Carolyn Kolleger adalah model dan aktris film Amerika yang sukses. Dia dibaptis Katolik sewaktu kecil, tetapi dia tidak pernah tahu dan menghidupi imannya. Sebagai model, dia tidak pernah memikirkan hal lain selain dirinya sendiri. Dia juga menikah dengan Erwin Kolleger, seorang pengusaha, yang menikmati kesenangan duniawi. Mereka menyatakan diri sebagai orang sekuler. Mereka bergelimpangan harta, mengadakan banyak pesta, minum alkohol dan bahkan mengonsumsi narkoba. Sampai, dia hamil. Dia tidak ingin kehilangan karirnya dan didorong oleh suaminya, dia menggugurkan bayinya. Dia melakukannya bukan hanya sekali tetapi tiga kali. Akhirnya, dia mengalami depresi, dan pernikahannya hampir runtuh. Sampai, seorang pastor datang dan membantu Carolyn dan Edwin. Mereka mulai menemui seorang pembimbing rohani yang membantu pernikahan mereka. Carolyn memutuskan untuk bertobat dan kembali ke Gereja. Dia berdoa rosario dan membaca Alkitab secara lebih teratur, dan menghadiri Ekaristi. Akhirnya, suaminya juga mengikutinya, dan membangun kembali pernikahan dan keluarga mereka bukan atas dasar harta duniawi, tetapi iman, harapan, dan kasih. Mereka diberkati dengan empat anak dan menemukan kebahagiaan sejati.

Ini adalah Tuhan kita, Tuhan yang penuh belas kasih dan penyayang yang tanpa lelah mencari putra dan putri-Nya yang hilang.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Learn to Be Humble

22nd Sunday in the Ordinary Time [C] – September 1, 2019 – Luke 14: 1, 7-14

humus 1Humility is actually being simple and doing simple, yet it is so simple that many of us find it difficult to be and do.  It seems paradoxical but it is the reality that we experience in our day to day life. It is because we are living in the world that is so proud with itself and it continuously influences us to become proud as well. We can practically be proud of anything. We can be proud of our personality, family and clan, personal achievements, successful careers and status in life. We can be proud of the good things we have done or even the bad things we have committed. Eventually, the awful irony in our life is when we are even proud of our humility.

Pride occupies a prominent place among the seven deadly sins or vices. It seduces people believe that we are self-sufficient and we do not need others and God. We are our own god. The Bible says that the angel of light has fallen from heaven [see Isa 14:12], and according to the Latin tradition, his name is Lucifer, the brightest angel in heaven. He and some other angels revolted against God since they were too proud to serve God that would become man. If lust aligns us with animals, pride makes us coequal with the fallen angels.

To remedy this terrible pride, humility is then chiefly necessary. But, it is simply difficult to become one since it leads us to acknowledge our true nature that we own nothing and everything we have is a gift. Humility is derived from Latin word humus which means soil. Humility brings back us to the ground after the air of pride lifts us our nose up.

Humility is also primarily important since it enables us to listen and through listening we are able to be obedient (Latin word ob-audire means to listen attentively). With pride just around the corner, it is difficult to listen since we start believing that we are the center of the universe and everything else revolves around us. Simon Tugwell, OP writes that humble prayer is just to take a break from our tyrannical and dictatorial self that occupies the center of our life and let God be God. In the same line of thought, Henry Nouwen writes that a sincere prayer is just like opening our tightly closed fist.

St. Augustine believes that humility is one of the most fundamental virtues especially in our relationship with God. He says, “Are you thinking of raising the great fabric of spirituality? Attend first of all to the foundation of humility.” It is because humility is the virtue that facilitates us in listening to God’s words and in following them. In humility, we participate in Mary’s words, “I am the servant of the Lord. Be it done to me according to your word.” And not, “I am the boss here. Be it done to me and to you according to my word.” In humility, we pray in Jesus’ prayer, “Your will be done.” And not, “Your will be changed”.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, O.P

Spiritual Director of Presidium Refugis Peccatorum

Belajar untuk Rendah Hati

Minggu Biasa ke-22 Pada Masa Biasa [C] – 1 September 2019 – Lukas 14:1, 7-14

humus 2Kerendahan hati sebenarnya adalah melakukan hal yang sederhana dan menjadi orang yang sederhana, tetapi karena hal ini sangat sederhana, banyak dari kita merasa sulit untuk melakukannya. Inilah adalah paradoks yang kita alami dalam kehidupan kita sehari-hari. Hal ini dikarenakan kita hidup di dunia yang begitu sombong dengan dirinya sendiri, dengan segala kemajuan, kejayaan, kekayaan, dan dunia ini terus memengaruhi kita untuk menjadi angkuh. Kita bisa jadi sombong karena banyak hal. Kita bisa sombong karena kepribadian, keluarga dan klan kita, prestasi pribadi, karier dan status yang sukses dalam hidup. Kita bisa menyombongkan hal-hal baik yang telah kita lakukan atau bahkan hal-hal buruk yang telah kita lakukan. Akhirnya, ironi mengerikan dalam hidup kita adalah ketika kita bahkan menyombongkan kerendahan hati kita.

Dalam tradisi Gereja, keangkuhan atau tinggi hati menempati tempat yang menonjol di antara tujuh dosa yang mematikan. Keangkuhan membuat kita percaya bahwa kita bisa menjadi independen dan kita tidak membutuhkan orang lain dan Tuhan. Kita adalah tuhan bagi diri kita sendiri. Kitab Suci berbicara tentang seorang malaikat cahaya yang jatuh dari surga [Lih Yes 14:12]. Menurut tradisi dia bernama Lucifer, malaikat paling bercahaya di surga. Dia dan bersama komplotannya memberontak melawan Tuhan karena mereka terlalu angkuh untuk melayani Tuhan yang akan menjadi manusia. Jika hawa nafsu menyejajarkan kita dengan para binatang, kesombongan membuat kita setara dengan malaikat, tetapi malaikat yang jatuh.

Untuk mengalahkan kesombongan yang mengerikan ini, kerendahan hati sangat dibutuhkan. Tetapi, sulit untuk menjadi rendah hati karena hal ini menuntun kita untuk mengakui siapa diri kita sejatinya, bahwa kita tidak memiliki apa pun dan semua yang kita miliki adalah berkat. Kerendahan hati dalam Bahasa Latin adalah “humilitas” yang berasal dari akar kata “humus” yang berarti tanah. Kerendahan hati membawa kita kembali ke tanah setelah kita terbang dan lupa daratan.

Kerendahan hati juga sangat penting karena memungkinkan kita untuk mendengarkan dan melalui mendengarkan kita dapat taat. Dengan keangkuhan di dalam hati kita, sulit untuk mendengarkan karena kita mulai percaya bahwa kita adalah pusat alam semesta dan segala sesuatu yang lain berputar di sekitar kita. Simon Tugwell, OP menulis bahwa doa yang rendah hati memampukan kita untuk mengambil jeda dari tirani diri dan kediktatoran kita yang menempati pusat kehidupan kita, dan membiarkan Tuhan menjadi Tuhan. Sejalan dengan pemikiran ini, Henry Nouwen menulis bahwa doa yang tulus dan rendah hati sama seperti membuka kepalan tangan kita yang tertutup rapat.

Kerendahan hati adalah keutamaan yang memfasilitasi kita dalam mendengarkan kata-kata Tuhan dan mengikuti-Nya. Dalam kerendahan hati, kita berperan serta dalam kata-kata Mary, “Aku adalah hamba Tuhan. Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.” Dan tidak, “Saya bos di sini. Jadilah kepadaku dan kepadamu sesuai dengan kata-kata saya.” Dalam kerendahan hati, kita mampu berdoa dalam doa Yesus sendiri, “terjadilah kehendak-Mu.” Dan bukan, “Kehendak-Mu akan diubah sesuai denga kehendakku.”

Tak salah jika saat St. Agustinus ditanya apakah tiga syarat untuk masuk surga, Dia menjawab, “Yang pertama adalah kerendahan hati, yang kedua adalah kerendahan hati, dan yang ketiga adalah kerendahan hati.”

Valentinus Bayuhadi Ruseno, O.P

Athletes for Salvation

20th Sunday in Ordinary Time [C] – August 25, 2019 – Luke 13:22-30

training-2Salvation is one of the burning topics of discussion in Christian circles. In several discussions I facilitated, I often encountered some participants asked: Who will be saved? By what means are we going to be saved? When will be saved? Do we need to believe in Jesus to be saved? The answers can be as simple as yes or no, but often, the audience with critical minds demand more comprehensive and sensible answers. Yet, I always bring the listeners to see salvation from a different and deeper angle.

I ask them: what is salvation? Most of the people will immediately reply: We are saved from sins. The answer is correct, yet it is not complete and in fact, rather shallow. The good analogy will be the Israelites in Egypt. They were liberated from slavery, yet their freedom is not merely for freedom’s sake. They were freed so that they may worship their God without fear. Like the Israelites, we are also saved from sin, but this freedom from the slavery of sins is for something greater. We are called to share His divine life, to be with Him and enjoy His being. This is what we mean as being holy and being a saint. We are holy when we are united and participating in that Person who is the source of all holiness.

However, Jesus reminds us today that the way to salvation and holiness is not an easy and instant way. While faith is the beginning of our salvation, surely it does not end there. Jesus himself says, “Strive to enter through the narrow door… (Lk. 13:24)” The word “strive” in original Greek is “agonizomai” which means to participate in a contest or gymnastic game. The image is of an athlete who subjects himself to rigorous training and discipline and competes against the best competitors in the field. That is why to achieve a crown is an agonizing process. St. Paul picks up this idea of Jesus when he exhorts the Church in Corinth to “…Run to win. Every athlete exercises discipline in every way. They do it to win a perishable crown, but we an imperishable one. (1 Cor. 9:25)”

One of the most decorative Olympians is American swimmer Michael Phelps. In peak training phases, Phelps swims around 80,000 meters a week. He practices twice a day, at least. Phelps trains for around five to six hours a day at six days a week. Not only in the swimming pool, but he also builds his winning form through weightlifting and crazy diet regiment. But what many of us probably do not know is that Michael was suffering from Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD). People with ADHD have trouble with focus, restlessness, and impulsiveness, yet Phelps was able to overcome this disorder and transform it into power. From one who had difficulty to focus, he is able to remain hyperfocused on his goal. Thus, he won 15 Olympic gold medals.

Salvation is essentially a gift. Nobody can claim that he has the right to this salvation. Yet, this gift, though free, is not cheap. We are striving and struggling every day, like an athlete who competes for the medals. We are doing our best so that we are worthy to receive this gift. We are fighting a battle every day against sins and adversaries that pull us away from God. We are putting our best effort that the gift in our hands will become truly a blessing for us and not a curse. So at the end of our lives, together with St. Paul, we may say, “I have competed well; I have finished the race; I have kept the faith. (2 Tim. 4:7)”

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Menjadi Atlit untuk Keselamatan

Minggu ke-20 dalam Masa Biasa [C] -25 Agustus 2019 – Lukas 13: 22-30

Narrow-GateKeselamatan adalah salah satu topik diskusi yang membakar. Dalam beberapa diskusi yang saya fasilitasi, saya sering menemui beberapa peserta yang bertanya: Siapa yang akan diselamatkan? Dengan cara apa kita akan diselamatkan? Kapan akan diselamatkan? Apakah kita perlu percaya kepada Yesus untuk diselamatkan? Jawabannya bisa sesederhana ya atau tidak, tetapi seringkali, peserta dengan pikiran kritis menuntut jawaban yang lebih komprehensif dan masuk akal. Namun, saya selalu membawa pendengar untuk melihat keselamatan dari sudut yang berbeda dan lebih dalam.

Saya bertanya kepada mereka: apakah keselamatan itu sebenarnya? Sebagian besar orang akan segera menjawab: Kita diselamatkan dari dosa, dari neraka. Jawabannya benar, namun tidak lengkap dan pada kenyataannya, dangkal. Analogi yang baik adalah orang Israel di Mesir. Mereka dibebaskan dari perbudakan, namun kebebasan mereka bukan hanya demi kebebasan. Mereka dibebaskan sehingga mereka dapat menyembah Tuhan mereka tanpa rasa takut. Seperti orang Israel, kita juga diselamatkan dari dosa, tetapi kebebasan dari perbudakan dosa ini adalah untuk sesuatu yang lebih besar. Kita dipanggil untuk berbagi kehidupan ilahi-Nya, untuk bersama-Nya dan menikmati keberadaan-Nya. Inilah yang Kita maksud sebagai kudus. Kita kudus ketika kita dipersatukan dan berpartisipasi dalam Pribadi yang merupakan sumber dari semua kekudusan. Inilah kebahagian sejati, inilah surga: merengkuh Tuhan.

Namun, Yesus mengingatkan kita hari ini bahwa jalan menuju keselamatan dan kekudusan bukanlah cara yang mudah dan instan. Sementara iman adalah awal dari keselamatan kita, tetapi ini bukanlah akhir. Yesus sendiri berkata, “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sempit… (Luk. 13:24)” Kata “berjuang” dalam bahasa Yunani asli adalah “agonizomai” yang secara harfiah berarti ikut serta dalam pertandingan atau perlombaan olah raga. Gambarannya adalah seorang atlet yang menekuni pelatihan dan disiplin yang ketat, dan bersaing dengan para pesaing terbaik di bidangnya. Itulah sebabnya untuk merengkuh medali adalah proses yang menyakitkan. Santo Paulus mengambil gagasan Yesus ini ketika ia mendorong Gereja di Korintus untuk “… Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya! Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. (1 Kor. 9:25) ”

Salah satu atlet Olimpiade paling terkenal adalah perenang Amerika Michael Phelps. Dalam fase pelatihan, Phelps berenang sekitar 80.000 meter seminggu. Dia berlatih dua kali sehari, setidaknya. Phelps melatih sekitar lima hingga enam jam sehari pada enam hari seminggu. Tidak hanya di kolam renang, ia membangun tubuh kemenangannya melalui latihan angkat berat dan diet yang gila. Tetapi kita sering tidak tahu bahwa Michael menderita Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD). Orang dengan ADHD memiliki masalah dengan fokus, gelisah dan impulsif, namun Phelps mampu mengatasi gangguan ini dan mengubahnya menjadi kekuatan. Dari orang yang mengalami kesulitan untuk fokus, dia mampu tetap fokus pada tujuannya. Dengan demikian, ia memenangkan 15 medali emas Olimpiade.

Keselamatan pada dasarnya adalah anugerah. Tidak ada yang dapat mengklaim bahwa ia memiliki hak untuk keselamatan ini. Namun, anugerah ini, meskipun cuma-cuma, tidak murahan. Kita berjuang setiap hari, seperti atlet yang bersaing untuk medali. Kita melakukan yang terbaik sehingga kita layak menerima hadiah ini. Kita setiap hari berperang melawan dosa dan musuh yang menjauhkan kita dari Tuhan. Kita berusaha sekuat tenaga agar anugerah di tangan kita menjadi benar-benar berkah bagi dan bukan kutukan. Jadi di akhir hidup kita, bersama dengan St. Paul, kita dapat berkata, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. (2 Tim. 4: 7)”

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Magnify

The Solemnity of the Assumption of Mary – August 15, 2019 – Luke 1: 39-56

blessed virgin mary 2Today the Church is celebrating the solemnity of the Assumption of Mary. Rooted in the Scriptures and Tradition, the Church firmly believes that Mary was assumed into heaven body and soul after she completed her life here on earth. This belief is crystallized in the form of Dogma or the highest teaching of the Church. As a dogma, the Assumption requires the assent of faith from the faithful. The assumption itself is not the sole Marian Dogma. There are four dogmas related to her: Mary is the Mother of God, ever-virgin, immaculately conceived, and assumed into heaven. No other human, except Jesus, has accumulated that much honor in the Church and no other men or women have blessed conditions like hers.

However, we are mistaken if we think that all the Dogmas are about the goodness of Mary. When we are celebrating the Dogmas of Mary, we are not merely praising that Mary is good, gentle, and holy, but it is primarily about God and how through Mary, we are thanking God for His mercy toward Mary and all the wonders. Looking at Mary, we cannot but thank God for His mercy on her and His wonders done to her.

In the Gospel today, we listen to the song of Mary is traditionally called the Magnificat [Luk 1:46ff]. In her song,  Mary praises the Lord for the mighty deeds He has done to her and Israel. Mary herself acknowledges who she is, “God’s lowly servant.” She never lets pride get in her mind, but instead, she chooses to recognize what God has done to her that “God has looked with favor on her” and “God has raised the lowly.” Mary realizes that she was nothing without God.

The title is from the first Latin word that appears in the canticle, “Magnificat anima mea Dominum.”  The original Greek is “μεγαλύνω” [megaluno], to make great. The idea is like the magnifying glass that intensifies the light and the heat of the sun, and thus, emits powerful energy. When I was a little boy, my friends and I used to play together outside. One time, a friend brought a magnifying glass. We were amazed that it had another function aside from making a small object looked big. It was able to gather the light and heat of the sun and to focus it into a single spot. It became so intense and hot that it may burn what it touched. Then, when we saw the ants nearby, we started burning them using the magnifying glass!

Mary knows well that she is not the source of light, and she is the receiver. Yet, Mary does not merely receive it and keeps it to herself. Mary also is aware that she does not simply mirror that only reflect the light. Mary sees herself as “magnifying glass.” When she receives the light, she makes sure that light will shine even more brightly, intense, and powerful. Through Mary, the light of Christ becomes more intense, powerful, and penetrating. When we intently look at Mary, we cannot but see God Himself.

The Dogma of the Assumption, indeed all Marian dogmas, points to Mary, who points to God. Following her example, we are also called to make our lives as a signpost that points to God. But more than passive signpost, we need to learn to actively magnify God’s glory and mercy through our lives.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Maria dan Tuhannya

Hari Raya Maria Diangkat ke Surga – 17 Agustus 2019 – Lukas 1: 39-56

blessed virgin mary 1Hari ini Gereja sedang merayakan hari raya Maria Diangkat ke Surga. Berakar dalam Kitab Suci dan Tradisi, Gereja dengan kuat percaya bahwa Maria diasumsikan ke dalam tubuh dan jiwa surga setelah dia menyelesaikan hidupnya di bumi ini. Keyakinan ini terkristalisasi dalam bentuk Dogma atau ajaran tertinggi Gereja. Sebagai dogma, Asumsi membutuhkan persetujuan iman dari umat beriman. Asumsi itu sendiri bukan satu-satunya Dogma Marian. Ada empat dogma yang berkaitan dengannya: Maria adalah Bunda Allah, selalu perawan, dikandung dengan sempurna, dan diasumsikan ke surga. Tidak ada manusia lain, kecuali Yesus, yang mengumpulkan begitu banyak kehormatan di Gereja dan tidak ada pria atau wanita lain yang memberkati kondisi seperti miliknya.

Namun, kita salah jika kita berpikir bahwa semua Dogma adalah tentang kebaikan Maria. Ketika kita merayakan Dogma-Maria, kita tidak hanya memuji bahwa Maria itu baik, lembut, dan suci, tetapi ini terutama tentang Tuhan dan bagaimana kita berterima kasih kepada Tuhan atas rahmat-Nya yang tercurah kepada Maria. Melihat Maria, kita tidak bisa tidak berterima kasih kepada Tuhan atas rahmat-Nya atas dia dan keajaiban-keajaiban yang dilakukan padanya.

Dalam Injil hari ini, kita mendengarkan kidung Maria yang secara tradisional disebut Magnificat [Luk 1:46 dst]. Dalam kidung tersebut, Maria memuji Tuhan atas perbuatan-perbuatan besar yang telah dilakukan-Nya kepadanya dan Israel. Maria sendiri mengakui siapa dirinya, “hamba Tuhan yang rendah.” Dia tidak pernah membiarkan kesombongan masuk ke dalam benaknya, tetapi sebaliknya, dia memilih untuk mengakui apa yang telah Tuhan lakukan kepadanya bahwa “Tuhan telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadanya.” Maria menyadari bahwa dia bukan apa-apa tanpa Tuhan.

Kata Magnificat adalah dari kata Latin pertama yang muncul di kidung tersebut, “Magnificat anima mea Dominum.” Bahasa Yunani aslinya adalah “μεγαλύνω” [megaluno], berarti untuk membuat besar. Idenya seperti kaca pembesar yang mengintensifkan cahaya dan panas matahari, dan dengan demikian, memancarkan energi yang kuat. Ketika saya masih kecil, teman-teman saya dan saya biasa bermain bersama di luar. Suatu kali, seorang teman membawa kaca pembesar. Kami kagum bahwa kaca tersebut memiliki fungsi lain selain membuat benda kecil tampak besar. Itu bisa mengumpulkan cahaya dan panas matahari dan memfokuskannya ke satu tempat. Itu begitu kuat dan panas sehingga bisa membakar apa yang disentuhnya. Kemudian, ketika kami melihat semut di sekitar kami, kami mulai membakar mereka menggunakan kaca pembesar!

Maria tahu betul bahwa dia bukan sumber cahaya, dan dia adalah penerima. Namun, Maria tidak hanya menerimanya dan menyimpannya untuk dirinya sendiri. Maria juga sadar bahwa dia bukanlah sekadar cermin yang hanya memantulkan cahaya. Maria melihat dirinya sebagai “kaca pembesar.” Ketika dia menerima cahaya, dia memastikan bahwa cahaya akan bersinar lebih terang, intens, dan kuat. Melalui Maria, terang Kristus menjadi lebih kuat, dahsyat dan berdaya guna. Ketika kita dengan penuh perhatian melihat Maria, kita tidak bisa tidak melihat Tuhan sendiri yang lebih megah dan mulia.

Dogma Maria diangkat ke surga, dan juga dogma-dogma Maria yang lain, menunjuk ke Maria, yang menunjuk kepada Tuhan. Mengikuti teladannya, kita juga dipanggil untuk menjadikan hidup kita sebagai rambu yang menunjuk kepada Allah. Tetapi lebih dari sekadar rambu-rambu yang pasif, kita perlu belajar untuk secara aktif meningkatkan kemuliaan dan belas kasihan Tuhan melalui hidup kita.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP