Ash: a Biblical Reflection

Ash Wednesday 2018 [February 14, 2018] Matthew 6:1-6, 16-18

“For you are dust, and to dust, you shall return. (Gen. 3:19)”

dustAsh Wednesday is the beginning of the liturgical session of Lent in the Catholic Church. Its name derives from an ancient tradition of the imposition of the ashes. Every Catholic who attends the mass on this day will receive a sign of the cross made of ashes on his or her forehead. The ashes are ordinarily coming from the burned palm leaves blessed at the Palm Sunday of the previous year.

Why ashes? Is it in the Bible?

In the Bible, ash (or dust) symbolizes our mortal and fragile humanity. We recall how God created humanity from the dust of the earth (Gen 2:7). Indeed, after Adam committed the first act of disobedience, God reminded Adam of his finite nature, “For you are dust, and to dust, you shall return. (Gen. 3:19)” Because of sin, death upset the creation and brought Adam and all his children back to the ground. Thus, when a priest imposes ashes on our foreheads with the same formula, it becomes a poignant reminder of who we are. Human as we are, relying on our own strength and ability, despite our success, glory, and pride, will die and go back to the earth.

Ash is also a mark of grief, humility, and repentance. After the preaching of Jonah, the people of Nineveh repented, and they wore sackcloth and sat on ashes, begging forgiveness (Jon 3:5-6). Under the leadership of Nehemiah, the citizen of Jerusalem assembled and asked for God’s forgiveness. They all gathered together “while fasting and wearing sackcloth, their heads covered with dust (Neh 9:1).  That explains why the priest also says, “repent and believe in the Gospel!” while imposing the ashes on our foreheads. Just like the ancient Israelites, it is a sign and invitation for us to change our lives and seek God’s mercy and forgiveness.

The cross of ash is the sign of our finite humanity, and even death. Paradoxically, however, it also turns to be a symbol of our true strength and life. When we realize and acknowledge that we are mere ashes in God’s hands, it is also the time we become once again truly alive. Just as God breathed His spirit in the first human made of dust, so God gives us His grace that enables us to participate in His divine life. We are truly alive precisely because we are now sharing in God’s life. The cross of ashes turns to be the moment of our re-creation. As St. Paul says, “it is no longer I who live, but it is Christ who lives in me.  (Gal. 2:20)”

Sometimes, the ash of repentance brings us sadness and gloominess as we reflect our sinfulness and frailty. As today is the day of fasting and abstinence, we also feel hungry and lethargic. Yet, it must not stop there. It should lead us to the Gospel, the Good News. It is Good News because we are now saved and alive! When we repent, we remove all things make our lives heavy, things that turn us away from God. We become once again light and energetic. As we turn ourselves to God, who is the source of life, we cannot but become alive and full of joy. It is ash that leads us to the Gospel, the joy of the Gospel.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Abu

Rabu Abu 2018 [14 Februari 2018] Matius 6: 1-6, 16-18

pope francis ashesRabu Abu adalah awal dari Masa liturgi Pra-paskah di Gereja Katolik. Nama ini berasal dari tradisi kuno di mana setiap orang Katolik yang menghadiri misa pada hari ini akan menerima tanda salib abu di dahinya. Abu ini biasanya berasal dari daun palma yang telah diberkati pada Minggu Palma tahun sebelumnya, dan kemudian dibakar.

Mengapa  harus abu? Apakah ini sesuai dengan Kitab Suci? Dalam Alkitab, abu (atau debu) melambangkan kemanusiaan kita yang fana dan rapuh. Kita ingat bagaimana Tuhan menciptakan manusia dari debu bumi (Kej 2:7). Dan, ketika Adam jatuh dalam dosa, Tuhan mengingatkan kembali Adam akan kemanusiaannya yang fana, “Sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu (Kej 3:19).” Karena dosa, kematian masuk ke dalam hidup manusia, dan membawa Adam dan semua keturunannya kembali ke tanah. Jadi, ketika seorang imam menandai dahi kita dengan abu, kita diingatkan tentang siapa diri kita sesungguhnya. Kita adalah manusia, dan hanya mengandalkan kekuatan dan kemampuan kita sendiri, terlepas dari segala kesuksesan dan keberhasilan, kita akan mati dan kembali ke bumi.

Abu juga merupakan tanda kerendahan hati dan pertobatan. Setelah Yunus bernubuat, orang-orang Niniwe kemudian bertobat, dan sebagai bentuk pertobatan, mereka memakai kain kabung dan duduk di atas abu (Yun 3: 5-6). Di bawah pimpinan Nehemia, warga Yerusalem berkumpul dan meminta pengampunan dari Tuhan. Mereka semua berkumpul “sambil berpuasa dan memakai kain kabung, kepala mereka tertutup debu (Neh 9: 1).” Hal ini menjelaskan mengapa imam mengatakan, “bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” saat menandai kita dengan abu. Sama seperti bangsa Israel di masa lalu, abu ini adalah tanda dan ajakan bagi kita untuk mengubah hidup kita dan memohon belas kasih dan pengampunan dari Tuhan.

Salib abu adalah tanda kemanusiaan kita yang terbatas. Namun, abu ini juga adalah simbol kekuatan sejati dan sukacita kita. Ketika kita menyadari dan mengakui bahwa kita hannyalah abu di tangan Tuhan, inilah juga saat kita menjadi sekali lagi benar-benar hidup. Salib abu berubah menjadi momen penciptaan kembali bagi kita. Sama halnya seperti Tuhan yang menghembuskan roh-Nya pada manusia pertama yang terbuat dari debu, Tuhan juga menghembuskan rahmat-Nya kepada kita yang mengakui bahwa kita adalah debu, bahwa kita tidak berdaya tanpa Dia. Dengan rahmat-Nya, kita menjadi benar-benar hidup karena kita sekarang mengambil bagian dalam hidup Tuhan. St. Paulus berkata, “Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku (Gal 2:20).” Debu menjadi sebuah paradoks kepenuhan hidup.

Terkadang, abu membawa kita pada suasana sedih dan suram karena kita mulai menyadari dosa dan kelemahan kita. Karena kita menjalankan pantang dan puasa pada hari ini, kita juga merasa lapar dan lesu. Namun, kita tidak boleh berhenti di situ saja. Salib abu yang sejati harus membawa kita kepada Injil, yang adalah Kabar Baik. Saat kita bertobat, kita menghapus semua hal yang membebankan dan menjauhkan kita dari Tuhan. Kita menjadi sekali lagi ringan dan energetik. Saat kita menyerahkan diri kita kepada Tuhan, yang adalah sumber kehidupan, kita tidak bisa tidak menjadi hidup dan penuh dengan sukacita. Ini adalah abu yang membawa kita kepada Injil, sukacita Injil. Ini adalah Kabar Baik karena kita sekarang telah diselamatkan!

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP