The Good Shepherd

Fourth Sunday of Easter [April 22, 2018] Jn 10:11-18

“I am the good shepherd. A good shepherd lays down his life for the sheep. (Jn. 10:11)”

good shepherd
photo by Harri Setianto, SJ

The Bible itself is filled with the good shepherd image. My personal favorite among the psalms is Psalm 23, “The LORD is my shepherd; there is nothing I lack.”  Prophet Isaiah who consoles the Israelites in Babylonian Exile, speaks of God who is like a shepherd who gathers back the lost sheep and brings them back home from the land of exile (Isaiah 40:11) Some great leaders of Israel are shepherds. Moses is tending to his father-in-law flocks when he is called by God in the burning bush (Exo 3). David also is taking care of his father’s sheep when Samuel comes and anoints him king (1 Sam 16).  No wonder, Jesus takes the image of Himself and introduces Himself as the Good Shepherd.

 

 From today’s Gospel, we can learn several characters of a good shepherd. Firstly, Jesus distinguishes between the Good Shepherd and the bad shepherds. The good shepherd owns the flocks and is responsible for their lives. Meanwhile, those bad shepherds do not own the sheep, and they work primarily for the money, not for the sheep. That is why when the danger comes from the predators’ attack or the thieves’ ambush; the hired workers would run and save their own lives rather than to protect their sheep. The prophet Jeremiah criticizes the corrupt and abusive leaders of Israel during his time as he prophesies, “Woe to the shepherds who destroy and scatter the flock of my pasture (Jer 23:1).”

The second character of a good shepherd is he knows well his sheep and call them by name. I used to think that “calling sheep by name” is just exaggerated metaphorical language to show shepherd care to his sheep, but later on, I discover “calling by name” actually literally happens. The sheep in Judea are raised both for wool and for sacrifice. Especially those intended for wool production, the shepherd shall live together with his flock for years. No wonder if he knows well each sheep, its characters, and even its unique physical features. He will call them by name like ‘small-feet’ or ‘large-ears.’ Because of the intimate bond between the two, the sheep were so familiar with the voice of the shepherd and will listen whenever he calls them. It reminds me of our pet-dog in our house. Our family calls it “cipluk,” and my mother and young brother take good care of it. Thus, every time my mother or brother calls its name, cipluk hastens to approach them. Yet, every time I go home and try to call its name, cipluk just won’t give any attention!

The third and more important character is the good shepherd will lay down his life for his sheep. This character seems to be an exaggeration. Why would you die for your sheep? If we recognize that the shepherd has a strong bond with his sheep and takes good care of them, he will have no second thought in defending his sheep from that attack of dangerous predators and robbers. At times, the robbers simply outnumber the shepherd and mercilessly beat the courageous shepherd to the death. The shepherd literally lays down his life for the sheep. This is not uncommon happening in the time of Jesus in Palestine, and in fact, still happening in our time in some parts of the world.

To have the Good Shepherd as our Lord means that we belong to God intimately for better and for worse. He knows each one of us personally, and He will not abandon us when our lives face serious problems and dangers. He will not only care for us as long as we produce “wool,” but He continues to love us even we have not been good sheep. In fact, Jesus lays down His life on the cross, so that we, His sheep, may have life, a life to the fullest. Have we become a good sheep? Do we recognize His voice? Do we listen to Him? Do we truly follow Him?

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Gembala yang Baik

Hari Minggu Paskah keempat [22 April 2018] Yohanes 10: 11-18

“Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya (Yoh 10:11).”

jesus good shepherd
foto oleh Harry Setianto, SJ

Kitab Suci itu dipenuhi dengan citra gembala yang baik. Mazmur favorit saya adalah Mazmur 23, “TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.” Nabi Yesaya yang menghibur bangsa Israel di pembuangan Babel, berbicara tentang Tuhan yang seperti gembala yang akan mengumpulkan kembali domba-domba Israel yang hilang dan membawa mereka pulang (Yes 40:11). Beberapa pemimpin besar Israel adalah gembala. Musa merawat kawanan domba ayah mertuanya ketika ia dipanggil oleh Allah (Kel 3). Daud juga sedang menjaga kawanan domba ayahnya ketika Samuel datang dan mengurapi dia sebagai raja (1 Sam 16). Tidak heran jika Yesus juga memperkenalkan diri-Nya sebagai Gembala yang Baik.

 

 Dari Injil hari ini, kita dapat mempelajari tiga karakter gembala yang baik. Pertama, Yesus membedakan antara Gembala yang Baik dan para gembala yang buruk. Gembala yang baik adalah pemilik domba-dombanya dan bertanggung jawab atas hidup mereka. Sementara, para gembala yang buruk  merasa tidak memiliki domba, dan bekerja terutama untuk uang, bukan untuk domba. Inilah mengapa ketika bahaya datang dari serangan hewan buas atau pencuri, mereka akan lari dan menyelamatkan nyawa mereka sendiri daripada melindungi domba mereka. Nabi Yeremia mengkritik para pemimpin Israel yang korup dan tidak adil pada masanya dan iapun bernubuat, “Celakalah para gembala yang membiarkan kambing domba gembalaan-Ku hilang dan terserak (Yer 23:1)!”

Karakter kedua dari seorang gembala yang baik adalah dia mengenal dengan baik domba-dombanya dan memanggil mereka dengan nama mereka. Domba-domba di Yudea dipelihara untuk mendapatkan bulu domba atau wol dan untuk dikorbankan. Khususnya yang ditujukan untuk produksi wol, gembala akan hidup bersama dengan kawanannya selama bertahun-tahun. Tidak heran jika dia mengenal dengan baik setiap domba, karakternya, dan bahkan ciri-ciri fisiknya yang unik. Dia akan memanggil mereka dengan nama seperti ‘kaki kecil’ atau ‘telinga besar’. Karena ikatan erat antara keduanya, domba-domba itu begitu akrab dengan suara gembala dan akan mendengarkan setiap kali dia memanggil mereka. Ini mengingatkan saya pada anjing peliharaan kami di rumah. Kami menyebutnya “cipluk,” dan ibu dan adik saya merawatnya dengan baik. Jadi, setiap kali ibu atau adik saya memanggil namanya, cipluk segera lari mendekati mereka. Namun, setiap kali saya mencoba memanggil namanya, cipluk tidak memberi perhatian!

Karakter ketiga dan paling penting adalah gembala yang baik akan menyerahkan hidupnya bagi domba-dombanya. Karakter ini tampaknya berlebihan, namun hal ini sungguh terjadi. Kita ingat bahwa gembala yang baik memiliki ikatan yang kuat dengan domba-dombanya dan merawat mereka dengan baik, iapun tidak akan ragu-ragu dalam menjaga domba-dombanya dari serangan predator dan perampok yang berbahaya. Tidak jarang, gerombolan perampok tanpa belas kasih memukuli gembala yang berani bahkan sampai mati. Gembala-gembala ini secara harfiah menyerahkan hidupnya untuk domba-domba itu. Ini tidak jarang terjadi pada zaman Yesus di Palestina, dan masih terjadi di zaman kita di beberapa belahan dunia.

Tuhan kita adalah Gembala yang baik dan ini berarti bahwa kita adalah domba-domba milik-Nya. Dia mengenal kita masing-masing secara mendalam, bahkan lebih baik daripada kita mengenal diri kita sendiri. Dia tidak akan meninggalkan kita ketika hidup kita menghadapi masalah serius dan bahaya. Dia tidak hanya akan memperhatikan kita selama kita menghasilkan “wol,” tetapi Dia terus mengasihi kita bahkan saat kita tidak menjadi domba yang baik. Yesus Sang Gembala baik meletakkan hidup-Nya di kayu salib, sehingga kita, domba-domba-Nya, dapat memiliki hidup yang berkelimpahan. Pertanyaannya sekarang: Sudahkah kita menjadi domba yang baik? Apakah kita mengenali suara-Nya? Apakah kita mendengarkan Dia? Apakah kita benar-benar mengikuti Dia?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

My Flesh and My Bones

Third Sunday of Easter [April 15, 2018] Luke 24:35-48

“Look at my hands and my feet, that it is I myself. Touch me and see, because a ghost does not have flesh and bones as you can see I have.” (Luke 24:39)

adoration
photo by Harry Setianto, SJ

We listen to the last story of risen Christ’s appearance to the disciples in the Gospel of Luke. His presences point to the fact that Jesus still has several missions to accomplish on earth before He ascends into heaven. Particularly in this episode, Jesus is out to dispel the disciples’ doubt on His bodily resurrection. Some disciples may have an idea that Jesus’ appearances are mere illusions as the disciples are coping with a terrible pain of losing and failure. Some others may think that it was just a disembodied spirit or a ghost that appeared like Jesus.

 

Jesus comes to them and proves that He is neither an illusion coming from their disciples’ mind nor a mere story concocted to give false hope. He shows them his hands and feet and eats a baked fish just like an ordinary and living man does. Even Jesus says that he possesses “flesh and bones.” The disciples who see and touch Jesus’ body would acclaim in their hearts, “This is, at last, the bone of my bones and the flesh of my flesh (Gen 2:23).” From this point, we begin to recognize that Jesus’ bodily resurrection is closely linked to the story of creation in the Book of Genesis.

If we go back to the story of human creation in Genesis 2, we read a beautiful image of God as a potter artist who fashioned humanity from clay with various details of perfection. God also gave the human life as He breathed His life-giving spirit. However, soon after creation, God said that it was not good for the human to be alone. He then made other animals, but no one was proven suitable companion for that human. Thus, God, acting like a surgeon, made the first human sleep, took the rib, and fashioned another human being. When Adam woke up and saw for the first time another being in his likeness, he shouted in joy, “This is, at last, the bone of my bones and the flesh of my flesh (Gen 2:23).” The story of human creation which is highly symbolic reaches its perfection in the creation of man and woman, and how they are going to be suitable and loving partners for each other.

Going back to Gospel of Luke, the story of the appearance of the risen Lord to the disciples turns to be a story of re-creation. After the disciples are disbanded, scattered and cowardly ran away, they are as weak as soil. Jesus gathers them together and fashions them once again as a community. After the disciples are hurt deeply and defeated, they are like a clay pot shattered into pieces. Jesus comes to breathe His Spirit and to bring healing and true peace. After the disciples are disoriented and lost meaning, they are like the lonely and incomplete first Adam. Jesus, the second Adam, continues to love them, and thus, restores their purpose, and fills what is fundamentally lacking in them. Being re-created, the disciples now are suitable partners of Jesus in bringing the message of resurrection and the gospel of love to wounded humanity.

Each one of us is wounded and struggles with many issues. Despite our good effort to become a good Christian, we acknowledge we are as weak as clay. We have been unfaithful to the Lord and each other. The risen Christ does not lose hope in us. He gathers us once again as His people, and in the Eucharist, He shows us His true “flesh and blood.” Partaking in Jesus’ resurrected body means that despite our fragile nature and weaknesses, we have been re-created as His suitable partners to bring the message of hope and fulfill the mission of love. Only in risen Christ, we find our true fulfillment, yet in being one in Jesus means we also continue loving as He loves us to the end.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Dagingku dan Tulangku

Minggu Paskah Ketiga [15 April 2018] Lukas 24: 35-48

“Lihatlah tangan dan kakiku, bahwa itu aku sendiri. Sentuhlah saya dan lihatlah, karena hantu tidak memiliki daging dan tulang seperti yang Anda lihat saya miliki. “(Lukas 24:39)

risen lord
foto oleh Harry Setianto, SJ

Kita mendengarkan kisah penampakan terakhir Yesus yang bangkit kepada para murid dalam Injil Lukas. Kehadiran-Nya menunjukkan bahwa Yesus masih memiliki beberapa misi untuk diselesaikan di bumi sebelum Dia naik ke surga. Khususnya dalam episode ini, Yesus datang untuk menepis keraguan para murid tentang kebangkitan badan-Nya. Beberapa murid mungkin memiliki gagasan bahwa penampakan-penampakan Yesus hanyalah ilusi belaka yang lahir dari rasa kehilangan dan kegagalan. Beberapa murid lain mungkin berpikir bahwa itu hanya roh tanpa tubuh atau hantu yang tampak seperti Yesus.

 

Yesus datang kepada mereka dan membuktikan bahwa Dia bukanlah ilusi atau sebuah rumor yang dibuat untuk memberikan harapan palsu. Dia menunjukkan tangan dan kakinya kepada mereka dan memakan ikan yang dipanggang seperti manusia hidup lainnya. Bahkan Yesus berkata bahwa ia memiliki “daging dan tulang.” Para murid yang melihat dan menyentuh tubuh Yesus akan berseru di dalam hati mereka, “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. (Kej 2:23).” Dari sini, kita mulai bisa melihat bahwa kebangkitan tubuh Yesus terkait erat dengan kisah penciptaan dalam Kitab Kejadian.

Jika kita kembali ke kisah penciptaan manusia dalam Kejadian bab 2, kita melihat gambar Allah sebagai seorang seniman yang membentuk umat manusia dari tanah liat. Allah juga memberikan kehidupan kepada manusia saat Dia menghembuskan roh kehidupan-Nya. Namun, segera setelah penciptaan, Allah berkata bahwa tidak baik bagi manusia seorang diri saja (Kej. 2:18). Dia kemudian membuat hewan-hewan lain, tetapi tidak ada satupun yang terbukti menjadi rekan yang sepadan bagi manusia itu. Dengan demikian, Tuhan, bertindak seperti seorang ahli bedah, membuat tidur sang manusia, mengambil tulang rusuknya, dan membentuk manusia lain. Ketika Adam bangun dan melihat untuk pertama kalinya makhluk lain yang serupa dengannya, dia bersorak, “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku (Kej 2:23).” Kisah tentang Penciptaan manusia yang sangat simbolis ini mencapai kesempurnaannya dalam penciptaan pria dan wanita, dan bagaimana mereka akan menjadi pasangan yang sepadan dalam misi untuk saling mengasihi satu sama lain.

Kembali ke Injil Lukas, kisah tentang penampakan Tuhan yang bangkit kepada para murid ternyata adalah sebuah kisah penciptaan kembali. Setelah para murid membubarkan diri, menjadi pengecut yang melarikan diri, mereka menjadi sama lemahnya dengan tanah liat. Yesus datang untuk mengumpulkan mereka kembali dan membentuk mereka sekali lagi sebagai komunitas. Setelah murid-murid terluka secara mendalam dan kalah, mereka seperti pot tanah liat yang hancur berkeping-keping. Yesus datang untuk menghembuskan Roh-Nya dan membawa kesembuhan dan kedamaian sejati. Setelah para murid kehilangan arah dan makna, mereka seperti Adam pertama yang kesepian dan tidak lengkap. Yesus, sang Adam kedua, datang dan terus mengasihi mereka, dan dengan demikian, memulihkan tujuan mereka. Diciptakan kembali, para murid sekarang adalah pasangan Yesus yang sepadan dalam membawa pesan kebangkitan dan Injil kasih kepada umat manusia yang terluka.

Masing-masing dari kita adalah manusia terluka dan bergulat dengan banyak permasalahan. Terlepas dari usaha kita untuk menjadi murid Yesus yang baik, kita mengakui bahwa kita sama lemahnya dengan tanah liat. Kita tidak setia kepada Tuhan dan satu sama lain. Namun, Kristus yang bangkit tidak kehilangan harapan kepada kita. Ia mengumpulkan kita sekali lagi sebagai umat-Nya, dan dalam Ekaristi, Dia menunjukkan kepada kita “daging dan darah-Nya yang sejati.” Mengambil bagian dalam tubuh kebangkitan Yesus ini berarti bahwa, kita telah diciptakan kembali sebagai mitra-Nya yang sepadan untuk membawa pesan harapan dan memenuhi misi cinta kasih, terlepas dari kemanusiaan kita yang rapuh dan lemah. Hanya di dalam Kristus yang telah bangkit, kita menemukan penggenapan sejati kita, namun dalam menjadi satu di dalam Yesus berarti kita juga terus mengasihi sesama sebagaimana Dia mengasihi kita sampai akhir.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Beholding the Crucified Christ

Fourth Sunday of Lent [March 11, 2018] John 3:14-21

“Just as Moses lifted up the serpent in the desert, so must the Son of Man be lifted up, (Jn. 3:14)”

beholding cross
photo by Harry Setianto, SJ

As early as chapter 3 of the Gospel of John, Jesus is aware that he is going to suffer and die on the cross. The crucifixion is the worst kind of punishment in the ancient time. It is reserved for the rebels and foulest criminals. For the Jews, death on the tree is considered accursed by God Himself (Deu 21:22-23). By dying on the cross, Jesus may be seen by Jewish contemporaries as an evil criminal, a great dishonor to the family and the nation, and an accursed by God.

 

However, Jesus sees His death on the cross, not in these horrible perspectives, but rather He likens himself to the bronze serpent lifted up by Moses in the desert. In the book of Numbers (21:4-9), the Israelites complain against the Lord and Moses in the desert. They particularly do not like the manna despite being freely and miraculously given by God. So, God sends serpents to punish the Israelites. When the Israelites repent, Moses lifts a bronze serpent on the pole, so those who behold it, will be healed from the snake’ bite and live. We notice that the serpent that becomes the instrument of punishment and death turns to be the instrument of healing and life. Like the serpent, the cross is originally a means of torture and death, but God transforms it into the means of forgiveness and salvation. Therefore, like the Israelites who see the bronze serpent, those who behold the crucified Jesus and believe in Him will have the eternal life.

The faith in the Crucified Man is fundamental in the life of every Christian. Yet, we, Catholics, seem to take this faith and Gospel verses pretty passionately. We do not only have faith in the Jesus Crucified; we literally behold Him on the cross.  In every church, we see the cross both inside and outside the building. In Catholic schools, hospitals, and homes, the crucifix (cross with the body) is hanging on practically every wall. The crucifix is also inseparable from our religious and liturgical activities. The General Instruction of the Roman Missal no. 270 even states, “There is to be a crucifix, clearly visible to the congregation, either on the altar or near it.” Our rosaries always begin with holding the crucifix and ends by kissing it. During the Way of the Cross, we literally genuflect before the cross, and proclaim, “We adore You, O Christ, and we praise you. Because, by Your holy cross, You have redeemed the world.” Even, during the exorcism rite, a priest finds the crucifix, especially St. Benedict’s cross, as a powerful means against the evil spirits. Finally, we make the sign of the cross every time we pray because we acknowledge that our salvation comes the Jesus Crucified.

Like the Israelites in the desert behold the bronze serpent, we too behold Jesus on the cross. As the Israelites are healed and live, we are also saved and have eternal life in the Son of Man that is lifted up on the cross. This Lenten season, we are invited once again to reflect the meaning of the cross in our lives. Is the cross a mere cute accessory or ornament? Is making the sign of the cross a meaningless repeated practice? Are we ashamed of the cross of Christ? What does it mean for us to be the men and women who behold the cross?

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Lihatlah Kristus yang Tersalib

Minggu Keempat Prapaskah [11 Maret 2018] Yohanes 3: 14-21

“sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan (Yoh 3:14)”

before the cross
foto oleh Harry Setianto SJ

Sudah dari bab 3 Injil Yohanes, Yesus menyadari bahwa Ia akan menderita dan wafat di kayu salib. Penyaliban adalah hukuman terburuk pada zaman dahulu. Hukuman ini diperuntukkan bagi para pemberontak dan kriminal yang paling jahat. Bagi orang Yahudi, kematian di atas pohon dianggap terkutuk oleh Allah (Ul 21: 22-23). Dengan mati di kayu salib, Yesus dilihat oleh orang-orang sezaman-Nya sebagai penjahat, aib besar terhadap keluarga dan bangsa, dan telah dikutuk oleh Allah.

 

Namun, Yesus melihat kematian-Nya di kayu salib, bukan dalam perspektif negatif ini, melainkan Ia menyamai diri-Nya seperti ular tembaga yang diangkat Musa di padang gurun. Dalam kitab Bilangan (21: 4-9), orang Israel mengeluh kepada Tuhan dan Musa di padang gurun. Mereka tidak suka Manna meski telah diberikan Tuhan secara cuma-cuma dan penuh Mujizat. Tuhan pun mengirim ular-ular tedung untuk menghukum orang Israel. Ketika orang Israel bertobat, Musa mengangkat ular tembaga di atas tiang, sehingga orang-orang yang melihatnya, akan disembuhkan dari gigitan ular dan hidup. Kita melihat bahwa ular yang menjadi alat penghukuman dan kematian ternyata menjadi alat penyembuhan dan kehidupan. Seperti ular, salib pada awalnya merupakan alat penyiksaan dan kematian, tetapi Tuhan mengubahnya menjadi sarana pengampunan dan penyelamatan. Oleh karena itu, seperti orang Israel yang melihat ular tembaga, mereka yang melihat Yesus yang tersalib dan percaya kepada Dia akan memiliki hidup yang kekal.

Iman kepada Yesus tersalib sangat penting dalam kehidupan setiap orang Kristiani. Namun, kita, umat Katolik, tampaknya menghidupi iman ini dan ayat-ayat Injil dengan penuh semangat. Kita tidak hanya memiliki iman kepada Yesus yang tersalib; Kita benar-benar memandang Dia di kayu salib. Di setiap gereja, kita melihat salib baik di dalam maupun di luar gedung. Di sekolah-sekolah Katolik, rumah sakit, dan rumah, salib tergantung di hampir setiap dinding. Salib juga tidak dapat dipisahkan dari kegiatan keagamaan dan liturgis kita. Pedoman Umum Misale Romawi no. 117 bahkan menyatakan, “Hendaknya ada sebuah salib dengan sosok Kristus tersalib yang dipajang pada altar atau di dekatnya.” Rosario kita selalu dimulai dengan salib dan diakhiri dengan menciumnya. Selama Jalan Salib, kita berlutut di depan salib, dan menyatakan, “Kita memuji Engkau, ya Kristus. Karena, oleh salib-Mu kudus, Engkau telah menebus dunia.” Bahkan, selama ritual exorsisme, seorang imam menggunakan salib, khususnya salib St. Benediktus, sebagai sarana yang sangat kuat melawan roh-roh jahat. Akhirnya, kita membuat tanda salib setiap kali kita berdoa karena kita mengetahui bahwa keselamatan kita berasal dari  Yesus yang disalibkan.

Seperti orang Israel di padang gurun melihat ular tembaga, kita juga melihat Yesus di kayu salib. Saat orang Israel disembuhkan dan hidup, kita juga diselamatkan dan memiliki hidup yang kekal karena kita beriman kepada Anak Manusia yang diangkat ke atas kayu salib. Masa Prapaskah ini, kita diajak sekali lagi untuk merefleksikan makna salib dalam kehidupan kita. Apakah salib hanyalah sekedar aksesori atau ornamen cantik untuk rumah kita? Apakah membuat tanda salib merupakan sebuah rutinitas yang tidak berarti? Apakah kita malu dengan salib Kristus? Apakah artinya bagi kita hidup sebagai orang yang menatap salib Yesus?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Jesus, Moses, and Elijah

Second Sunday of Lent [February 25, 2018] Mark 9:2-10

Then Elijah appeared to them along with Moses, and they were conversing with Jesus.  (Mk. 9:4)

kneeling
photo by Harry Setianto, SJ

We are entering the second Sunday of Lent, and we read from the Gospel that Jesus is transfigured before His three disciples on the mountain. We may wonder why the Church select this reading for the liturgical season of Lent. The season is associated with the atmosphere of repentance and mortification as we intensify our prayer, fasting, and abstinence. Yet, we have a reading that depicts a glorious moment of Jesus on earth, and this surely brings an extremely edifying experience for the three disciples. It does not seem really proper for this Lenten season. Does it?

 

When Jesus is transfigured, two great figures of Israel, Moses, and Elijah come and converse with Jesus. The two figures represent two foundations of Israelite religious life: the Law and the Prophet. Yet, looking closely at the stories of these great persons, we may discover some interesting facts. Moses sees the burning bush at the Mount Horeb and receives the holy name of God of Israel (Exo 3). He also fasts for 40 days before he receives the Law from God in the mount of Sinai (Exo 34:28). Elijah on his part fasts from food when he walks 40 days to see God in the mount of Horeb (1 King 19:8). Both climb a mountain to witness the presence of God and receive their missions there. Like them, Jesus fasts for 40 days in the desert and goes up to the mountain to listen to the affirming voice of His Father.

However, the holy mountain does not simply lead them to the blissful encounter with the Divine, but it also reveals their life-changing mission. In Horeb, Moses is to deliver Israel from the slavery of Egypt. As a consequence, he has to deal courageously with the ruthless and stubborn Pharaoh. Not only with Pharaoh, but Moses also has to bear with his own people, Israel who keep complaining and blaming Moses for bringing them out of Egypt. Elijah receives task to anoint Hazael as a king of Aram, Jehu as a king of Israel, and Elisha as a prophet. Going down the mountain also means Elijah has to once again face Ahab, the king of Israel, and his vengeful and violent queen, Jezebel. As Jesus is leaving the mountain, He lets His disciples know that He has to suffer and die on the cross. From the mount of transfiguration, Jesus begins His way of the cross and marches toward another mount, the Calvary.

With today’s Gospel, the Church reminds us that the transfiguration is intimately linked to Jesus’ passion and resurrection. Thus, it is properly placed within the context of Lent. Like Jesus and His disciples, we also have our moments of transfiguration. It is where we encounter God, and His presence fills us with joy. One friend shared his experience of an unexpected utter peacefulness when he visited the Blessed Sacrament. He visited the Adoration Chapel often, yet only that day, he encountered the Lord, so alive in his heart. It was the day when he lost his job, had a big quarrel with his wife, and his father got a serious illness. Though he wanted to linger forever in that experience, he then realized that he had to go back to his life and struggle with the problems. He has a mission, and he has to continue his way of the cross. We have our own transfiguration and allow this precious moment empower us to carry our daily crosses.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Yesus, Musa, dan Elia

Minggu Kedua Prapaskah [25 Februari 2018] Markus 9: 2-10

Lalu Elia menampakkan diri kepada mereka bersama dengan Musa, dan mereka bercakap-cakap dengan Yesus. (Mrk 9: 4)

prayer
foto oleh Harry Setianto, SJ

Kita memasuki hari Minggu kedua dalam masa Prapaskah, dan kita membaca dari Injil bahwa Yesus diubah rupa di hadapan ketiga murid-Nya di atas gunung. Kita mungkin bertanya-tanya mengapa Gereja memilih bacaan ini untuk masa Prapaskah? Musim ini dikaitkan dengan suasana pertobatan dan mati raga, dan kitapun diajak untuk mengintensifkan doa, puasa, dan pantangan. Namun, kita memiliki bacaan yang menggambarkan kemuliaan Yesus di bumi, dan ini pastinya membawa pengalaman yang sangat meneguhkan bagi ketiga murid tersebut. Rasanya bacaan ini tidak begitu tepat untuk masa Prapaskah ini. Benarkah demikian?

 

Ketika Yesus berubah rupa, dua tokoh besar Israel, Musa, dan Elia datang dan berbicara dengan Yesus. Dua tokoh tersebut mewakili dua pilar dasar kehidupan religius Israel: Hukum dan Nabi. Namun, melihat dari dekat kisah orang-orang hebat ini, kita mungkin menemukan beberapa fakta menarik. Musa melihat semak duri yang terbakar di Gunung Horeb dan menerima nama suci Allah Israel (Kel 3). Dia juga berpuasa selama 40 hari sebelum dia menerima Hukum Taurat dari Allah di gunung Sinai (Kel 34:28). Elia sendiri berpuasa ketika dia berjalan 40 hari untuk melihat Tuhan di gunung Horeb (1 Raja 19:8). Keduanya mendaki gunung untuk berjumpa Tuhan dan menerima misi mereka di sana. Seperti mereka, Yesus berpuasa selama 40 hari di padang gurun dan naik ke gunung untuk mendengarkan suara yang menguatkan dari Bapa-Nya.

Namun, gunung kudus tidak hanya membawa mereka ke pertemuan bahagia dengan Yang Ilahi, namun juga mengungkapkan misi yang mengubah hidup mereka. Di Horeb, Musa menerima tugas untuk membebaskan orang Israel dari perbudakan Mesir. Sebagai akibatnya, dia harus berurusan dengan Firaun yang kejam dan keras kepala. Tidak hanya dengan Firaun, tapi Musa juga harus bersabar dengan bangsanya sendiri, Israel yang terus mengeluh dan menyalahkan Musa karena telah membawa mereka keluar dari Mesir. Elia menerima tugas untuk mengurapi Hazael sebagai raja Aram, Yehu sebagai raja Israel, dan Elisa sebagai seorang nabi. Turun ke gunung juga berarti Elia sekali lagi berurusan dengan Ahab, raja Israel, dan ratunya, Izebel yang penuh dendam dan kejam. Sewaktu Yesus meninggalkan gunung, Dia mengatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Dia harus menderita dan mati di kayu salib. Dari gunung transfigurasi, Yesus memulai jalan salib-Nya yang panjang, dan berjalan menuju gunung berikutnya, Kalvari.

Dengan Injil hari ini, Gereja mengingatkan kita bahwa transfigurasi berhubungan erat dengan sengsara dan kebangkitan Yesus. Jadi, tidak salah jika bacaan ini di tempatkan dalam konteks Prapaskah. Seperti Yesus dan murid-murid-Nya, kita juga memiliki momen-momen transfigurasi kita. Di situlah kita berjumpa Tuhan, dan kehadiran-Nya memenuhi kita dengan sukacita. Seorang sahabat menceritakan pengalamannya tentang kedamaian yang tak terduga saat dia mengunjungi Sakramen Mahakudus. Dia sering mengunjungi Kapel Adorasi, namun baru pada hari itu, dia bertemu dengan Tuhan yang sangat hidup di dalam hatinya. Itu adalah hari ketika dia kehilangan pekerjaannya, bertengkar hebat dengan istrinya, dan ayahnya sakit serius. Meskipun ia ingin bertahan selamanya dalam pengalaman damai itu, ia kemudian menyadari bahwa ia harus kembali ke kehidupannya dan bergulat dengan masalah-masalah di depannya. Dia memiliki sebuah misi, dan dia harus meneruskan jalan salibnya. Kita memiliki transfigurasi kita sendiri dan membiarkan momen berharga ini memberdayakan kita untuk membawa salib kita sehari-hari.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Fasting

First Sunday of Lent [February 18, 2018] Mark 1:12-15

“The Spirit drove him out into the desert, and he remained in the desert for forty days… (Mk 1:12-13)”

small-groupThe practice of fasting is as old as humanity itself. People from different cultures and religions have included fasting in their customs and traditions. The Brahmin and gurus of Hindu tradition fast and mortify their bodies. The Buddhist monks are known to abstain from eating any meat and fast regularly. Our Muslim brothers and sisters fast even from drinking water from before the dawn to sunset during the month of Ramadan. Scientists have proven that fasting has a lot of health benefits.

People refrain themselves from taking food and water for certain period for different reasons and motives. Some fast to subdue the carnal desires and discipline themselves. Others find it as a way to attain wisdom and enlightenment. The others are to achieve healthy and balanced lives. Others still are required to fast as medical requirements or tests. I remember once my physician-friend requires me to fast for 6 to 8 hours before my blood was extracted for the laboratory examination.

As we enter the liturgical season of Lent, the Church instructs us to do fast and abstinence, and intensify our prayer. Yet, compared to other traditions, our fasting is considered to be very light. We are only required to fast for two days, the Ash Wednesday and the Good Friday. The way we fast also is not that difficult. We are enjoined to take only one full meal within the day. Yet, why do we, Christians, have to fast? Why does the Church want us to commit ourselves to this ancient practice?

One reason is we follow the example of the great prophets before us. Moses fasts for 40 days before he receives the Law from God in the mount of Sinai (Exo 34:28). Elijah on his part fasts from food when he walks 40 days to see God in the mount of Horeb (1 King 19:8). Finally, Jesus Himself goes to the desert and fasts for 40 days in the desert just before He commences His public ministry. Why do these great persons in our faith fast? If we carefully notice, Moses and Elijah fast because they prepare themselves to see the Lord. Like them, our fasting, as simple as they may be, is linked fundamentally to our journey towards God. Often we are so proud of ourselves, feeling self-sufficient because we have achieved and accumulated a lot in our lives. Fasting makes us hunger and weak, and once again we are getting in touch with our vulnerability as human beings. It reminds us our finitude. Yet, when we feel powerless, it is the time when we realize our radical dependence on God, our true strength. Indeed being truly human is being truly connected to God, the source of our humanity and life. Fasting becomes a good means to purify our hearts to see God because only “the pure hearts can see the Lord (Mat 5:8).”

We also observe that Moses, Elijah, and Jesus fast just before they begin their big missions. Moses receives the Law and teaches it to the Israelites. Elijah is to anoint Hazael as a king of Aram, Jehu as a king of Israel, and Elisha as a prophet. Jesus is to begin His public ministry that will lead Him to the cross and resurrection, our salvation. Our fasting prepares us for our true mission as Christians. Often, we are busy with so many things, and fasting helps us to re-orient and re-focus ourselves on the mission God has given us. Reminded of our limited time here on earth, what are things that are truly important in our lives? Reminded of our mortal body, have we given enough time and effort to our missions? Is our fasting bringing us closer to God and our mission?

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Puasa

Minggu Prapaskah Pertama [18 Februari 2018] Markus 1:12-15

“Roh memimpin Dia ke padang gurun. Di padang gurun itu Ia tinggal empat puluh hari lamanya…(Mk. 1:12-13)”

500_F_138662338_rWVIfNLHprXXXdLiA005tfrq4pjBLxU3Berpuasa merupakan praktek yang sangat tua dalam sejarah umat kehidupan. Orang-orang dari berbagai budaya dan agama memiliki kegiatan puasa dalam tradisi mereka. Kaum Brahmana dan para pertapa di India tekun berpuasa dan bermati raga. Para biksu Buddha tidak makan daging dan berpuasa secara teratur. Saudara-saudari kita Muslim berpuasa dari sebelum fajar menyingsing sampai matahari terbenam selama bulan Ramadhan. Ilmuwan juga telah membuktikan bahwa puasa memiliki banyak manfaat kesehatan.

Kita menahan diri untuk mengkonsumsi makanan dan air dalam jangka waktu tertentu karena berbagai alasan dan motif. Beberapa orang berpuasa untuk menundukkan keinginan daging dan mendisiplinkan diri. Beberapa orang berpuasa karena melihatnya sebagai cara untuk mencapai kebijaksanaan dan pencerahan. Beberapa yang lain berpuasa untuk mencapai hidup sehat dan seimbang. Sedangkan yang lain diminta untuk berpuasa sebagai persyaratan medis atau tes kesehatan. Saya ingat seorang teman dokter mengharuskan saya untuk berpuasa selama 6 sampai 8 jam sebelum darah saya diambil untuk pemeriksaan laboratorium.

Kita sekali lagi memasuki masa Prapaskah, dan Gereja menginstruksikan kita untuk berpuasa, berpantang, dan mengintensifkan doa kita. Namun, dibandingkan tradisi-tradisi lainnya, puasa kita sebenarnya sangat ringan. Kita hanya diwajibkan berpuasa pada Rabu Abu dan Jumat Agung, dua hari saja dalam setahun! Cara kita berpuasa juga tidak terlalu sulit itu. Kita berpuasa dengan hanya makan sekali kenyang dalam sehari. Namun, pernah kita bertanya, mengapa kita, orang-orang Kristiani, harus berpuasa? Mengapa Gereja ingin kita mengikatkan diri pada praktik kuno ini?

Salah satu alasannya adalah kita mengikuti teladan para nabi besar kita. Musa berpuasa selama 40 hari sebelum dia menerima Hukum dari Tuhan di gunung Sinai (Kel 34:28). Elia berpuasa dari makanan ketika dia berjalan 40 hari untuk melihat Tuhan di gunung Horeb (1 Raja 19: 8). Akhirnya, Yesus sendiri pergi ke padang gurun dan berpuasa selama 40 hari sebelum Ia memulai misi-Nya. Mengapa para nabi besar ini dan Yesus sendiri berpuasa? Jika kita memperhatikan dengan seksama, Musa dan Elia berpuasa karena mereka mempersiapkan diri untuk bertemu Tuhan. Seperti mereka, puasa kita terkait secara fundamental dengan perjalanan kita menuju Tuhan. Seringkali kita sangat bangga dengan diri kita sendiri, merasa mandiri karena kita telah mencapai dan mengumpulkan banyak hal dalam hidup kita. Puasa membuat kita lapar dan lemah, dan sekali lagi kita diingatkan akan kerentanan dan kefanaan kita sebagai manusia. Ketika kita merasa tidak berdaya, inilah juga saat ketika kita diajak menyadari ketergantungan radikal kita terhadap Tuhan, yang adalah kekuatan sejati kita. Sungguh, menjadi seorang manusia yang sejati adalah menjadi manusia yang benar-benar terhubung dengan Tuhan, sumber kemanusiaan dan kehidupan kita. Puasa menjadi sarana yang baik untuk memurnikan hati kita untuk melihat Tuhan karena hanya ‘hati yang murni bisa melihat Tuhan.”

Kita juga mengamati bahwa Musa, Elia, dan Yesus berpuasa sesaat sebelum mereka memulai misi besar mereka. Musa menerima hukum Taurat dan mengajarkannya kepada bangsa Israel. Elia diutus untuk mengurapi Hazael sebagai raja Aram, Yehu sebagai raja Israel, dan Elisa sebagai seorang nabi. Yesus akan memulai pelayanan-Nya yang akan membawa-Nya ke kayu salib, sengsara, wafat, dan juga kebangkitan-Nya. Seperti halnya mereka, puasa kita mempersiapkan kita untuk misi sejati kita sebagai orang Kristiani. Seringkali, kita sibuk dengan banyak hal, dan puasa membantu kita untuk mengarahkan dan memfokuskan kembali diri kita pada misi yang telah Tuhan berikan kepada kita. Dengan waktu kita yang terbatas di bumi ini, apa hal-hal yang benar-benar penting dalam hidup kita? Dengan tubuh fana kita, sudahkah kita memberi cukup waktu dan usaha untuk misi kita? Apakah puasa kita membawa kita lebih dekat kepada Tuhan dan misi kita?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP