Tradition

Twenty Second Sunday in Ordinary Time [September 2, 2018] Mark 7:1-8, 14-15, 21-23

“You disregard God’s commandment but cling to human tradition.” (Mk. 7:8)

mano poIn today’s Gospel, Jesus seems to denounce all traditions. However, this position is rather simplistic and unattainable. The reason is that human beings are the creatures of traditions. Tradition comes from Latin word, “tradere”, meaning “to hand down”. Thus, crudely put, tradition is anything that has been handed down from our predecessors. Traditions range from something tangible like technologies and fashions, to something intangible like values, languages, sciences and many more. I remember how my mother taught me basic Christian prayers, like Our Father, Hail Mary, and the Rosary, and how my father would regularly bring us to the Church every Sunday. This is my family’s religious traditions. As an Indonesian living in the Philippines, I appreciate the “Mano Po” tradition among the Filipinos. This is a simple gesture of respect and blessing. The younger Filipinos are to hold a hand of older Filipino, and place it on their forehead.

Had Jesus renounced all the traditions, He should have stopped speaking Aramaic, refrained from teaching the people, begun removing all His Jewish clothes, and walking naked! Yet, Jesus did not do those things. Jesus respects traditions and acknowledges their importance. However, Jesus also recognizes that there are some traditions that are problematic and bring more problems rather than solutions. Immersed in the stream of traditions, Jesus invites us to discern well on what traditions that bring us true worship of God and genuine progress for human society.

Going back to the time of Jesus, the Jews are particular with ritual purity because they can only worship God when they are ritually clean. In view of this worship, they carefully avoid contamination from blood, dead body and unclean animals, or any objects that are in contact with these things. Since they are not sure whether their hands and utensils are ritually clean, especially if they come from the marketplace or the fields, they make it a habit to purify their hands and utensils to evade contamination from uncleanliness. Thus, various purification rituals develop into traditions for the Jews. The intention of these traditions is good because they assist people to worship God. However, some of the Pharisees put excessive emphasis on these traditions and make them absolute as if failure to observe these rituals means they fail to revere God. They confuse between the genuine worship that brings true honor for God, and other traditional practices that assist people in achieving this worship.

Jesus does not only invite us to discern carefully various traditions we have, but Jesus also offers us a more fundamental tradition in worshiping God. Instead of “handing down” practices or things, Jesus hands down something most important, namely His own life for God and us. Jesus gives up His Body and Blood, His total self, in the Last Supper, and this sacrifice reaches its summit at the Cross. His self-offering becomes the most pleasing worship to God, and procures the gift of salvation for all of us. Because of His Tradition, the world is no longer the same. Jesus hands over this great Tradition to His Disciples and throughout the generations, the Christians are faithfully offering this sacrifice of Jesus Christ in the Eucharist. As we partake Jesus’ self-offering, we are also empowered to hand down ourselves to others. This means we are invited to make our daily sacrifices, to persevere in doing good, and to be faithful to our commitments either as spouse, parents, priests, religious, or professionals. As we live this greatest tradition daily, we do not only make the world a better place, but to offer a pleasing worship to God.

Br. Valentinus Bayuahadi Ruseno, OP

Tradisi

Minggu ke-22 pada Masa Biasa [2 September 2018] Markus 7: 1-8, 14-15, 21-23

“Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.” (Markus 7: 8)

burning candleDalam Injil hari ini, Yesus tampaknya menolak semua tradisi. Namun, pernyataan ini terlalu disederhanakan. Alasannya adalah bahwa manusia adalah makhluk tradisi. Tradisi berasal dari kata Latin, “tradere”, yang berarti “menurunkan”. Jadi, secara sederhana, tradisi adalah segala sesuatu yang telah diturunkan atau diwariskan dari para pendahulu kita. Tradisi berkisar dari sesuatu yang berwujud seperti teknologi, hingga sesuatu yang tidak berwujud seperti bahasa, ilmu pengetahuan, dan banyak lagi. Saya ingat bagaimana ibu saya mengajarkan saya doa-doa dasar, seperti Bapa Kami, Salam Maria, dan Rosario, dan bagaimana ayah saya secara teratur membawa kami ke Gereja setiap Minggu. Ini adalah tradisi agama keluarga saya. Sebagai orang Indonesia yang tinggal di Filipina, saya mengapresiasi tradisi “Pano Po” di antara orang Filipina. Ini adalah sikap menghormati orang yang lebih tua dan juga memberi berkat kepada yang lebih muda. Orang Filipina yang lebih muda akan memegang tangan mereka yang lebih tua, dan meletakkannya di dahi mereka.

Seandainya Yesus meninggalkan semua tradisi, Dia seharusnya berhenti berbicara bahasa Aram, menahan diri untuk mengajar orang-orang, dan mulai melepas semua pakaian Yahudi-Nya. Namun, Yesus tidak melakukan hal-hal itu. Yesus menghormati tradisi dan mengakui pentingnya hal-hal ini. Namun, Yesus juga mengakui bahwa ada beberapa tradisi yang bermasalah dan perlu ditinggalkan. Menjadi bagian dalam arus tradisi, Yesus mengajak kita untuk memahami dengan baik tradisi apa yang membawa kita kepada ibadat sejati kepada Allah dan kemajuan sejati bagi komunitas manusia.

Lebih dekat dengan Injil hari ini, orang-orang Yahudi memiliki ritual-ritual pemurnian karena mereka hanya bisa menyembah Tuhan ketika mereka bersih secara ritual atau tidak najis. Mereka pun dengan hati-hati menghindari benda-benda yang dapat membuat mereka najis seperti darah dan binatang-binatang najis, termasuk juga benda apa pun yang bersentuhan dengan hal-hal najis ini. Karena mereka tidak yakin apakah tangan dan peralatan makan mereka tidak bersentuhan dengan hal-hal najis, terutama jika mereka datang dari pasar atau ladang, mereka membuat kebiasaan untuk memurnikan tangan dan peralatan mereka untuk menghindari hal ini. Dengan demikian, berbagai ritual pemurnian berkembang menjadi tradisi bagi orang Yahudi. Ujud dari tradisi-tradisi ini baik karena mereka membantu orang-orang Yahudi bersih dari kenajisan dan dapat menyembah Tuhan. Namun, beberapa orang Farisi memberi penekanan berlebihan pada tradisi-tradisi ini dan menjadikannya absolut seolah-olah kegagalan untuk menjalankan ritual-ritual ini berarti mereka gagal untuk menghormati Tuhan. Mereka tidak bisa membedakan antara ibadat sejati yang mendatangkan kehormatan sejati bagi Tuhan, dan praktik-praktik tradisional lainnya yang membantu orang dalam mencapai ibadah ini.

Yesus tidak hanya mengundang kita untuk membedakan dengan seksama berbagai tradisi yang kita miliki, tetapi Yesus juga memberikan kepada kita sebuah tradisi yang lebih mendasar dalam menyembah Allah. Alih-alih “menurunkan” sebuah praktik atau hal, Yesus “menurunkan” sesuatu yang paling penting, yakni hidup-Nya sendiri untuk Allah dan kita semua. Yesus menyerahkan Tubuh dan Darah-Nya, diri-Nya yang sepenuhnya, dalam Perjamuan Terakhir, dan pengorbanan ini mencapai puncaknya di Salib. Persembahan diri-Nya menjadi ibadah yang paling sempurna bagi Allah, dan memenangkan rahmat keselamatan bagi kita semua. Yesus menyerahkan Tradisi besar ini kepada para murid-murid-Nya dan sepanjang zaman, kita dengan setia menjalan Tradisi ini dan mempersembahkan pengorbanan Yesus Kristus dalam Ekaristi. Sewaktu kita mengambil bagian dari persembahan diri Yesus, kita juga diberdayakan untuk “menurunkan” dan menyerahkan diri kita kepada orang lain. Ini berarti kita diundang untuk melakukan pengorbanan kita sehari-hari, bertekun dalam melakukan kebaikan, dan setia pada komitmen kita baik sebagai suami-istri, orang tua, imam, kaum religius, atau seorang profesional. Ketika kita menjalani tradisi terbesar ini setiap hari, kita tidak hanya membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik, tetapi menawarkan ibadah yang sempurna kepada Tuhan.

Frater Valentinus Bayuahadi Ruseno, OP

Amen

18th Sunday in Ordinary Time [August 5, 2018] John 6:24-35

“This is the work of God, that you believe in the one he sent.” (Jn. 6:29)

amen 1To say “Amen” is something usually we do in prayer. Commonly it is used to end a prayer. Our biblical prayers like Our Father and Hail Mary are usually concluded by amen. In several occasions, amen is mentioned more often. One of my duties as a hospital chaplain is to lead a prayer of healing for the sick. I always ask the family and friends who accompany the patients to pray together. Sometimes, they will say amen at the end of the prayer. However, some others will utter several amens within the prayer, and in fact, some people will say more amens than my prayer! In several occasions, amen is utilized outside the context of prayer. Preachers with a charismatic gift will invite their listeners to say amen. Surely, it is a good technique to keep the listeners awake!

Amen is a simple and yet very powerful word. Amen indicates our strong affirmation and agreement to something. It is the most concise manifesto of our faith. Amen is a biblical language, and in fact, it is a Hebrew word, that means “surely!” or “Let it be done!”. It is interesting to note that the early usage of amen in the Bible is to affirm curses and punishments (see Num 5:22; Deu 27:15). Fortunately, the Book of Psalm teaches us to use amen to affirm God’s blessings. Jesus Himself is fond of saying Amen. He uses amen to affirm the truth and power of His words (see Mat 5:18; Mat 8:5). There is a radical shift here. Unlike the usual practice to affirm God’s blessing, Jesus says amen to His own words. This is because Jesus’ words are God’s blessing per se. Thus, learning from the Biblical tradition, we say amen to affirm God’s blessings. Moreover, learning from Jesus, we say amen to express our faith in His words, and ultimately to Jesus Himself. Surprisingly, the first person in the New Testament to proclaim the great amen to Jesus is none other than His mother, Mary. Before the angel Gabriel, she says “Be it done to me according to your words,” in short, “Amen!” (see Luk 1:38)

One of the greatest amen we proclaim is when we receive the Eucharist. For hundreds of millions of Christian Catholics who receive the Holy Communion every Sunday, to say amen seems rather usual. Yet, it is supposed to be the most difficult amen we say. To believe and affirm that a little consecrated white bread is the Body of Christ containing the fullness of Jesus’ divinity and humanity is either totally insane or a sign of extraordinary faith. Yet, I do believe this is Jesus’ invitation to believe in Him in the Eucharist. Relating to this Sunday’ Gospel, Jesus says that the work of God is to believe in Jesus, the one sent by the Father (see John 6:29). Continue reading chapter 6 of this Gospel of John, we discover that to believe in Jesus means to accept that He is the Bread of Life, and those who eat this Bread will have eternal life (see John 6:51). Thus, to say faith-filled amen to the Eucharist is the fulfillment of Jesus’ words, and leading to the fullness of acceptance of Jesus as God and Savior.

As people who go to the Church every Sunday and receive the Eucharist in a regular basis, do we say our Amen in the fullness of our faith or is it just a mechanical repetition? Does our Amen enable us to recognize the daily blessing we receive? Like Mary, does our faith manifest in our daily actions, and make a difference in lives?

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Amin

Minggu ke-18 Pada Masa Biasa [5 Agustus 2018] Yohanes 6: 24-35

“Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah” (Yoh 6:29)

amen 2Mengatakan “Amin” adalah sesuatu yang biasanya kita lakukan dalam doa. Kata ini biasanya digunakan untuk mengakhiri doa. Doa alkitabiah seperti Bapa Kami dan Salam Maria biasanya disimpulkan oleh kata amin. Namun, dalam beberapa kesempatan, amin disebut lebih sering. Salah satu tugas pastoral saya di rumah sakit adalah memimpin doa penyembuhan bagi yang sakit. Saya selalu meminta keluarga dan mereka yang menemani pasien untuk berdoa bersama. Biasanya, mereka akan mengatakan amin di akhir doa. Namun, ada juga beberapa orang akan mengucapkan beberapa amin dalam doa, dan bahkan, ada beberapa orang mengucapkan lebih banyak amin dari pada doa yang saya ucapkan! Dalam beberapa kesempatan, amin digunakan di luar konteks doa. Pengkhotbah karismatik akan mengajak pendengar mereka untuk mengatakan amin sebagai bentuk penegasan. Tentunya, ini adalah juga teknik yang bagus untuk membuat pendengar tidak tertidur!

Amin adalah kata yang sederhana namun sangat kuat. Amin menunjukkan penegasan dan persetujuan kita yang kuat terhadap sesuatu. Ini adalah manifesto paling ringkas dari iman kita. Amin adalah bahasa alkitabiah, dan sebenarnya, ini berasal dari kata Ibrani, yang berarti “Sungguh!” Atau “Terjadilah!”. Sangat menarik untuk dicatat bahwa penggunaan awal kata amin dalam Alkitab adalah untuk menegaskan kutukan dan hukuman (lihat Bil 5:22; Ul 27:15). Syukurlah, Kitab Mazmur mengajarkan kita untuk menggunakan amin untuk menegaskan berkat Tuhan. Yesus sendiri suka mengatakan Amin [walaupun dalam alkitab Bahasa Indonesia kata ‘Amin’ diganti dengan kata ‘sesungguhnya’). Ia menggunakan amin untuk menegaskan kebenaran dan kuasa firman-Nya (lihat Mat 5:18; Mat 8: 5). Ada pergeseran radikal di sini. Berbeda dengan praktik biasa untuk menegaskan berkat Tuhan, Yesus mengatakan amin pada kata-kata-Nya sendiri. Ini karena kata-kata Yesus adalah berkat Tuhan. Dengan demikian, belajar dari tradisi Alkitab, kita mengatakan amin untuk menegaskan berkat-berkat Tuhan. Lebih dari itu, belajar dari Yesus, kita mengatakan amin untuk mengekspresikan iman kita dalam Firman-Nya, dan akhirnya kepada Yesus sendiri. Tak mengejutkan bahwa orang pertama dalam Perjanjian Baru yang menyatakan amin kepada Yesus tidak lain adalah ibu-Nya, Maria. Di hapadapan malaikat Gabriel, dia berkata, “Terjadilah padaku menurut perkataanmu,” singkatnya, “Amin!” (Lihat Luk 1:38)

Salah satu amin terbesar yang kita nyatakan adalah ketika kita menerima Ekaristi. Bagi ratusan juta umat Katolik yang menerima Komuni Suci setiap hari Minggu, mengatakan amin tampaknya biasa-biasa saja. Namun, ini sebenarnya menjadi amin yang paling sulit yang kita katakan. Untuk percaya dan menegaskan bahwa hosti kecil putih adalah Tubuh Kristus yang mengandung kepenuhan keilahian dan kemanusiaan Yesus adalah tanda iman yang luar biasa besar. Saya percaya ini adalah ajakan Yesus untuk percaya kepada-Nya dalam Ekaristi. Berkaitan dengan Injil hari Minggu ini, Yesus mengatakan bahwa pekerjaan yang dikehendaki Allah adalah percaya kepada Yesus, yang diutus oleh Bapa (lihat Yoh 6:29). Membaca bab 6 dari Injil Yohanes ini, kita menemukan bahwa percaya kepada Yesus berarti menerima bahwa Dia adalah Roti Kehidupan, dan mereka yang memakan Roti ini akan memiliki hidup yang kekal (lihat Yoh 6:51). Jadi, untuk mengatakan amin yang dipenuhi oleh iman kepada Ekaristi adalah pemenuhan kata-kata Yesus, dan menuntun kita pada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Sebagai umat yang pergi ke Gereja setiap Minggu dan menerima Ekaristi secara teratur, apakah kita mengatakan Amin dalam kepenuhan iman atau ini hanya sebuah kata yang diulang-ulang? Apakah Amin kita memungkinkan kita untuk mengenali berkat harian yang kita terima? Seperti Maria, apakah iman kita terwujud dalam tindakan sehari-hari kita, dan membuat perbedaan dalam kehidupan kita?

 

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Lack of Faith

Fourteenth Sunday in Ordinary Time [July 8, 2018] Mark 6:1-6

“He was amazed at their lack of faith.” (Mk. 6:6)

holy family carpentry shopWhen Jesus teaches in the synagogue in Nazareth, the listeners are amazed by his wisdom. Jesus speaks like a mighty prophet. However, the people soon make a background check on Jesus, and they realize Jesus’ identity and his family background.  Nazareth is a small rural town in Galilee, and everyone knows everyone in this kind of setting. The people of Nazareth know Jesus as a son of a carpenter, and himself a carpenter. They are familiar also with Jesus’ family and relatives.

It is just impossible for a carpenter, an artisan who spends most of his time doing manual labor to acquire such profound wisdom. The people of Nazareth also recognize that Jesus is a son of Mary and they know His relatives. It seems the people are aware that Jesus’ relatives are just ordinary and poor Jews. None of them seems to possess a notable personality. Jesus should stay where He belongs: an ordinary Jewish and a poor laborer. Thus, to become a charismatic preacher and an admirable rabbi is simply unthinkable. Jesus, recognizes the root cause: lack of faith.

We are living two millennia after Christ, but unfortunately, this debilitating mentality continues to exist and even thrive in our midst. It is a mentality that boxes people in their limitations and suppresses their potential to grow and improve. This is the mentality that fuels fundamentalism, racism, negative stereotypes, and other destructive ideologies that divide people. Once a loser, always a loser; once an Asian, always an Asian; once an addict, always an addict. Yet, this mentality does not only reside the big ideologies, but it also affects our personal lives: when we think we are always right, and others are always wrong; when we believe that we are holier than others; when we only trust ourselves; when we refuse to forgive others; when we cling to our pride.

Dealing with this crippling mentality, Jesus brings to the fore the reality that humans are beings with faith. With faith, that is the spiritual gift from God; we are empowered to go beyond our own cultural, mental, bodily limitations. In the Gospels, faith enable God’s power to do much more in persons’ lives, and the same faith inspires us to see God’s works in us. The paralytic is healed because of the faith of his friends who carry him to Jesus (Mark 2:1-6); the woman with hemorrhage is healed because of her faith (Mark 5:25-34); Jesus tells Jairus, the synagogue official to have faith and Jesus brings his daughter to life (Mark 5:35-43).

I am currently doing my pastoral work as a chaplain in one of the hospitals in Metro Manila. My duty is to visit the patients, to give blessing and minister the Holy Communion, but fundamentally, to be with them and listen to them. I cannot do much in term of physical cure, but I realize that sickness is not only physical. Healing includes psychological and spiritual aspects. I journey with the patients in their joy, sorrow, frustration, and hope. I accompany them as they try to resolve some issues like anger, broken relationship, and painful memories. As I walk with them, I also realize my weaknesses. Yet, despite this brokenness, people with faith have always found strength and courage to heal, to go beyond themselves and live a meaningful life.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Ketidakpercayaan

Minggu Keempat Belas pada Masa Biasa [8 Juli 2018] Markus 6: 1-6

“Dia kagum pada kurangnya iman mereka.” (Markus 6: 6)

jesus at nazarethKetika Yesus mengajar di sinagoga di Nazaret, para pendengar kagum dengan kebijaksanaan-Nya. Yesus berbicara seperti seorang nabi yang perkasa. Namun, orang-orang segera melakukan pemeriksaan latar belakang pada Yesus, dan mereka menyadari identitas Yesus dan latar belakang keluarganya. Nazaret adalah desa kecil di Galilea, dan semua penduduk saling mengenal satu sama lain di lingkungan seperti ini. Orang-orang Nazaret mengenal Yesus sebagai putra seorang tukang kayu, dan dirinya sendiri adalah tukang kayu. Mereka juga akrab dengan keluarga dan kerabat Yesus.

Tidak mungkin bagi seorang tukang kayu, menghabiskan sebagian besar waktunya melakukan pekerjaan kasar untuk memperoleh kebijaksanaan yang demikian mendalam. Orang-orang Nazaret juga mengenal bahwa Yesus adalah putra Maria dan mengenal sanak keluarga-Nya. Tampaknya orang-orang sadar bahwa kerabat Yesus hanyalah orang Yahudi biasa dan miskin. Tak satu pun dari mereka tampaknya memiliki kepribadian yang menonjol. Yesus harus tinggal di tempatnya: seorang Yahudi biasa dan tukang kayu yang miskin. Jadi, bagi Yesus untuk menjadi pengkhotbah yang karismatik dan seorang rabi yang mengagumkan sungguh tidak layak dan tidak mungkin. Yesus, mengenali akar penyebabnya: ketidakpercayaan.

Kita hidup dua milenium setelah Kristus, tetapi sayangnya, mentalitas yang melemahkan ini terus ada dan bahkan berkembang di tengah-tengah kita. Ini adalah mentalitas yang mengurung orang-orang dalam keterbatasan mereka dan mengubur potensi mereka untuk tumbuh dan berkembang. Inilah mentalitas yang mendorong fundamentalisme, rasisme, stereotip-stereotip negatif, dan ideologi destruktif lainnya yang memecah belah umat manusia. Sekali pecundang, selalu pecundang; sekali orang Jawa, selalu orang Jawa; sekali pecandu, selalu seorang pecandu. Namun, mentalitas ini tidak hanya terletak pada ideologi besar, tetapi juga mempengaruhi kehidupan pribadi kita: ketika kita berpikir kita selalu benar, dan yang lain salah; ketika kita percaya bahwa kita lebih suci dari yang lain; ketika kita hanya mempercayai diri kita sendiri; ketika kita menolak untuk memaafkan orang lain; ketika kita berpegang teguh pada keangkuhan kita.

Menghadapi mentalitas yang melumpuhkan ini, Yesus menunjuk pada sebuah kebenaran bahwa manusia adalah makhluk yang diciptakan dengan iman. Dengan iman, yang adalah karunia rohani dari Allah, kita diberdayakan untuk melampaui batasan-batasan budaya, mental, tubuh kita sendiri. Dalam Injil, iman memungkinkan kuasa Allah untuk melakukan lebih banyak lagi dalam kehidupan kita, dan iman yang sama mengilhami kita untuk melihat karya Allah di dalam kita. Orang lumpuh disembuhkan karena iman teman-temannya yang membawanya kepada Yesus (Markus 2:1-6); wanita dengan pendarahan disembuhkan karena imannya (Markus 5:25-34); Yesus memberi tahu Yairus, pejabat sinagoga untuk memiliki iman dan Yesus menghidupkan putrinya (Markus 5: 35-43).

Saat ini saya melakukan tugas pastoral di salah satu rumah sakit di Metro Manila. Tugas saya adalah mengunjungi para pasien, memberi berkat, doa dan Komuni Kudus, tetapi pada dasarnya, adalah untuk bersama mereka dan mendengarkan mereka. Saya tidak dapat melakukan banyak hal dalam hal penyembuhan fisik, tetapi saya menyadari bahwa penyakit tidak hanya bersifat fisik. Kesembuhan mencakup aspek psikologis dan spiritual. Saya melakukan perjalanan bersama para pasien dalam sukacita, kesedihan, frustrasi, dan harapan mereka. Saya menemani mereka saat mereka mencoba menyelesaikan beberapa masalah seperti kemarahan, hubungan yang rusak, dan masa lalu yang menyakitkan. Ketika saya berjalan bersama mereka, saya juga menyadari kelemahan saya. Namun, terlepas dari hal-hal buruk ini, orang-orang dengan iman selalu menemukan kekuatan dan keberanian untuk menyembuhkan, untuk melampaui diri mereka sendiri dan menjalani kehidupan yang bermakna.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Woman of Faith

Thirteenth Sunday in Ordinary Time [July 1, 2018] Mark 5:21-43

“Daughter, your faith has saved you. Go in peace and be cured of your affliction.” (Mk. 5:34)

woman with hemorrhage 2Today’s Gospel seems to be just another healing miracles of Jesus, but if we read it closely, the story of the healing of the woman with hemorrhage is extraordinary tale of faith. We are not sure what kind of hemorrhage she suffers, but the fact that she bears the sickness for 12 years, spends a lot for the medication, and does not get any better, means it is pretty serious, if not terminal. During this time, the physicians are extremely rare, and expectedly, the patients need to spend a lot of money. The woman may come from a wealthy family, but she is impoverished because her prolong sickness. The woman is losing her life and facing despair. I am currently assigned as an associate chaplain in one of the hospitals in Metro Manila, and my duty is to make pastoral visit to these patients. I encounter some patients who are suffering from certain health conditions that drain all their resources, and it seems the situation does not get any better. I realize the story of the woman with hemorrhage is not only her story happened in the far past, but it is also our stories here and now.

 We must not forget that our protagonist is also a woman. Being a woman in the time of Jesus means being a second-class citizen in a patriarchal society and often, they are considered as mere properties of the husbands or the fathers. Generally, while the men work outside and socialize, women are expected to stay at home, and function as the housekeepers and babysitters. Normally, they are not allowed to communicate with the outsiders, especially men, except under the supervision of their husbands or fathers. Our protagonist is also having chronic hemorrhage, and this means she is ritually unclean, and those who are in contact with her shall be made unclean as well (Lv. 15:19).

The woman with hemorrhage has faith in Jesus and wants to be healed, yet to do that, she has to challenge the cultural norms that bind her. She traverses into greater danger. What if she is not healed? What if she makes Jesus and His disciples unclean? What if she will be branded as a shameless woman by the society? Shame restrains her, but faith propels her. Thus, she takes a ‘win-win’ approach. She tries to reach Jesus’ cloth, and she makes sure that she will not establish any contact with Jesus. Miracle happens, and she is healed. Yet, unfortunately, Jesus finds her. In tremble and fear, she fells down before Jesus and confesses. She is afraid not only because she “snatches” the power from Jesus, but because she has broken the standing cultural norms and the Law of Moses. However, Jesus’ response surprises his disciples and all who witness the event. Instead of castigating her for culturally improper behavior, Jesus praises her faith, “Daughter your faith has saved you.”

Indeed it is her faith that makes her a proactive protagonist of this particular story. She refuses to succumb to despair and makes her way all the way to Jesus. We notice most of the actions in this story is performed by the woman, and Jesus is there to affirm her. Rightly, Jesus calls her “daughter” acknowledging her also as the descendants of Abraham, the father of great faith. The story of a woman of hemorrhage is a journey of a woman of faith. It is a faith that grows even in the midst of hopeless situations of sickness, financial crisis, and uncertain future. It is a faith that thrives in the middle of human limitations, and transcend cultural boundaries. It is a faith that moves a mountain.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Iman Sang Perempuan

Minggu Ketiga Belas pada Masa Biasa [1 Juli 2018] Markus 5: 21-43

“Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu.” (Mrk 5:34)

woman with hemorrhageInjil hari ini tampaknya tidak berbeda dengan kisah-kisah mukjizat penyembuhan Yesus, tetapi jika kita membaca dengan seksama, kisah penyembuhan perempuan dengan pendarahan ini sebenarnya luar biasa. Kita tidak tahu dengan pasti pendarahan apa yang dideritanya, tetapi fakta bahwa ia menderita kondisi ini selama 12 tahun, menghabiskan banyak untuk pengobatan dan kondisinya semakin memburuk, ini berarti sangat serius. Pada zaman itu, tabib sangat jarang, dan berobat perlu mengeluarkan banyak uang. Perempuan ini mungkin berasal dari keluarga kaya, tetapi dia jatuh miskin karena kondisinya tersebut. Perempuan ini mulai kehilangan hidupnya dan menghadapi keputusasaan. Saya saat ini ditugaskan sebagai asisten imam di salah satu rumah sakit di Metro Manila, dan tugas saya adalah melakukan kunjungan pastoral ke pasien-pasien yang dirawat di rumah sakit tersebut. Tidak jarang saya menjumpai pasien yang menderita kondisi kesehatan yang menguras semua sumber daya mereka, dan tampaknya situasi mereka tidak menjadi lebih baik. Saya menyadari kisah perempuan dengan pendarahan ini bukan hanya kisahnya yang terjadi di masa lalu, tetapi juga kisah umat manusia di zaman ini.

 Kita tidak boleh lupa bahwa protagonis kita juga seorang perempuan. Menjadi seorang perempuan di zaman Yesus berarti menjadi warga kelas dua dalam masyarakat patriarkal Yahudi dan sering kali, mereka dianggap hanya sebagai barang milik suami atau kepala keluarga. Sementara pria bekerja di luar dan bersosialisasi, kaum perempuan tinggal di rumah, dan berfungsi sebagai pengurus rumah tangga dan pengasuh anak. Biasanya, mereka tidak diperbolehkan berkomunikasi dengan orang asing apalagi laki-laki, kecuali di bawah pengawasan suami atau ayah mereka. Ini bukan waktu yang mudah bagi perempuan untuk hidup. Sang perempuan juga mengalami pendarahan, ini berarti dia menjadi najis di Hukum Taurat, dan siapa pun yang menyentuh dia akan menjadi najis juga (Im 15:19).

Perempuan dengan pendarahan memiliki iman pada Yesus dan ingin disembuhkan, namun untuk melakukan itu, dia harus menantang norma-norma budaya yang mengikatnya. Dia mengambil resiko yang besar. Bagaimana jika dia tidak disembuhkan? Bagaimana jika ia membuat Yesus dan murid-murid-Nya menjadi najis? Bagaimana jika dia dicap sebagai perempuan yang tak tahu malu oleh masyarakat? Rasa malu menahannya, tetapi iman mendorongnya. Ia pun mengambil langkah “win-win solution“. Dia mencoba untuk mencapai jubah Yesus, dan dia memastikan bahwa dia tidak akan membuat kontak dengan Yesus. Mukjizat terjadi. Dia disembuhkan, tetapi sayangnya, Yesus menemukannya. Dengan gemetar dan ketakutan, dia jatuh di hadapan Yesus dan mengaku. Dia takut bukan hanya karena dia “mengambil” kekuatan dari Yesus, tetapi karena dia telah melanggar norma-norma budaya Yahudi. Namun, tanggapan Yesus mengejutkan murid-muridnya dan semua yang menyaksikan peristiwa itu. Alih-alih menghukumnya karena perilaku yang tidak pantas, Yesus memuji imannya, “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkanmu.”

Ini adalah imannya yang membuatnya menjadi protagonis yang proaktif dari cerita mukjizat ini. Dia menolak untuk menyerah pada keputusasaan dan membuat jalannya menuju ke Yesus. Kita melihat sebagian besar tindakan dalam cerita ini dilakukan oleh sang perempuan, dan Yesus ada di sana untuk meneguhkannya. Benar, Yesus menyebut dia “anak” karena Yesus mengakui dia juga sebagai keturunan Abraham, bapa iman yang besar. Kisah perempuan dengan pendarahan adalah perjalanan iman seorang perempuan yang terkurung dalam berbagai kondisi yang melemahkannya. Itu adalah iman yang tumbuh bahkan di tengah-tengah situasi tanpa harapan dari penyakit, krisis keuangan, dan masa depan yang tidak pasti. Ini adalah iman yang tumbuh di tengah keterbatasan manusia, dan melampaui batas-batas budaya. Itu adalah iman yang menggerakkan gunung. Ini adalah imam sang perempuan, dan ini adalah iman yang juga kita miliki.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Vine

Fifth Sunday of Easter [April 29, 2018] John 15:1-8

“I am the true vine, and my Father is the vine grower. (John 15:1)”

running to crossIf Jesus is a carpenter, why does He speak about the vine in today’s Gospel? Does He have the competency to draw wisdom from a field that is not His expertise? We recall that Jesus grows and lives in Galilee, and in this northern region of Israel, the land is relatively fertile and agricultural industry is thriving. Some archeological findings suggest that in Nazareth, despite being a small village, the community members are engaged in small time farming, grapes press, and winemaking. A young Jesus must have been involved with this farming activities and perhaps even helped in a nearby vineyard. Thus, Jesus does not hesitate to teach wisdom using the imageries coming from the agricultural settings, like parables related to the vineyard (Mat 20:1-16), planting seeds (Mat 13:1-9), wheat and weed (Mat 13:24-30), and harvest (Mat 9:35).

In today’s Gospel, Jesus tells His disciples that He is the true vine and His Father is the vine grower. Like Jesus, the disciples are certainly familiar with grapes plantations and wine production. In fact, for the Jews, drinking wine is not mere merriment, but also an essential part of their ritual Passover meal in which they relive the experience of liberation from Egypt. Thus, the images of the vine, vine grower and vine branches are not only familiar to the disciples, but turn out to be potent means to deliver Jesus’ teaching.

The context of this teaching is Jesus’ Last Supper, and we imagine that as Jesus teaches this truth, the disciples are enjoying their meal and cup of wine. As they are drinking the wine, it is at the back of the disciples’ mind that the high-quality wine comes from superior-quality grapes, and these grapes are produced by the best vineyard with its healthy vine and hardworking vine growers. From the taste of the wine, one can assess not only the value of the wine but also the entire production, from the vineyard (viticulture) to the winemaking (vinification). Through this imagery, Jesus has assured His disciples that He and His Father have done their share in making the branches fruitful, and now it is the free choice of the disciples to bear the fruits. As branches, the only way to produce fruits is to remain united with the true vine.

The instruction of Jesus to remain in Him seems not difficult to follow. But, just hours after the Last Supper, Jesus will be arrested, and the disciples immediately forget everything that Jesus says. Judas betrays Him, Peter denies Him, and the rest run away and hide. Only a few disciples remain with Him, some women disciples, the Beloved Disciple, and His mother. The point is clear now. It is easy to remain with Jesus when things are easy and convenient, but when the things get tough, the disciples are facing an existential question whether to remain in Jesus or to abandon Him.

The question is now given to us. When our lives become desert-like and do not yield expected fruits, are we going to remain in Jesus? A friend told me how he was initially excited to serve the Church by joining an organization. Yet, after some time, he got frustrated by scandalizing attitudes of some members. He realized that the group was no different with other organizations that were plagued by gossips, intrigues, and factionalism. Naturally, I advised him to leave the group and look for a better group, like the Dominicans! Yet, he chose to remain and said to me that this difficult group provides him an opportunity to love Jesus more. Then, I realize that the mere fact that he stays, he has unexpectedly borne much fruits: patience, mercy, and understanding.

The same question now is addressed to us. Shall we remain in Christ in challenging times? Do we stay even when we do not feel the fruits? Do we remain faithful till the end?

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photo by Harry Setianto, SJ

 

Pokok Anggur

Minggu Paskah Kelima [29 April 2018] Yohanes 15: 1-8

 “Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. (Yoh 15:1)”

cross among bushJika Yesus adalah seorang tukang kayu, mengapa Ia berbicara tentang pokok anggur? Apakah Dia memiliki kompetensi untuk mengajar dari bidang yang bukan keahlian-Nya? Kita ingat bahwa Yesus tumbuh dan hidup di Galilea, dan di wilayah utara Israel ini, tanahnya relatif subur dan industri agrikultur cukup berkembang. Beberapa temuan arkeologi menunjukkan bahwa di Nazaret, meskipun adalah desa kecil, penduduknya terlibat dalam pertanian skala kecil, dan juga pembuatan anggur. Sebagai penduduk Nazaret, Yesus muda sedikit banyak terlibat dengan kegiatan pertanian ini, dan mungkin pernah membantu di kebun anggur terdekat. Karena pengalaman hidup ini, Yesus tidak ragu untuk mengajarkan kebijaksanaan menggunakan citra-citra yang berasal dari dunia agrikultur, seperti perumpamaan yang berhubungan dengan kebun anggur (Mat 20: 1-16), menanam benih (Mat 13: 1-9), gandum dan lalang (Mat 13: 24-30), dan panenan (Mat 9:35).

Dalam Injil hari ini, Yesus mengajarkan para murid-Nya bahwa Dia adalah pokok anggur yang benar dan Bapa-Nya adalah sang pengusaha anggur. Seperti Yesus, para murid tentu tidak asing dengan perkebunan anggur dan proses pembuatan anggur. Bahkan, bagi orang Yahudi, minum anggur bukan sekadar masalah kesenangan, tetapi juga bagian penting dari ritual perjamuan Paskah Yahudi yang menghidupkan kembali pengalaman pembebasan dari Mesir. Jadi, citra-citra seperti pokok anggur, penanam anggur dan ranting-ranting anggur tidak hanya akrab bagi para murid, tetapi juga menjadi sarana yang sungguh bermakna untuk menyampaikan ajaran Yesus.

Membaca Injil hari ini dengan seksama, Yesus dan para murid sedang merayakan Perjamuan Terakhir, dan kita membayangkan bahwa ketika Yesus mengajarkan kebenaran ini, para murid sedang menikmati makanan dan minuman anggur mereka. Ketika mereka sedang minum anggur, para murid menyadari bahwa anggur berkualitas tinggi berasal dari buah anggur unggulan, dan buah anggur ini diproduksi oleh kebun anggur terbaik yang memiliki pokok anggur yang sehat dan para pekerja yang tekun. Melalui citra ini, Yesus telah meyakinkan para murid-Nya bahwa Dia dan Bapa-Nya telah melakukan yang terbaik untuk membuat ranting-ranting-Nya berbuah, dan sekarang adalah pilihan para murid untuk menghasilkan buah. Sebagai ranting, satu-satunya cara menghasilkan buah adalah dengan tetap bersatu dengan pokok anggur yang benar.

Instruksi Yesus untuk tinggal di dalam Dia tampaknya tidak sulit untuk diikuti. Tetapi, hanya beberapa jam berselang setelah Perjamuan Terakhir, Yesus akan ditangkap, dan para murid segera melupakan semua yang Yesus ajarkan. Yudas mengkhianati Dia, Petrus menyangkal Dia, dan sisanya melarikan diri dan bersembunyi. Hanya beberapa murid yang tetap tinggal bersama Dia: beberapa murid wanita, Murid yang dikasihi Yesus, dan ibu-Nya. Intinya jelas sekarang. Sangat mudah untuk tinggal di dalam Yesus ketika segala sesuatu mudah dan nyaman, tetapi ketika hal-hal menjadi sulit, para murid menghadapi pertanyaan eksistensial: apakah akan tetap tinggal di dalam Yesus atau pergi meninggalkan Dia?

Ketika hidup kita menjadi seperti gurun dan tidak menghasilkan buah yang diharapkan, apakah kita akan tetap tinggal di dalam Yesus? Seorang teman bercerita bagaimana dia awalnya bersemangat melayani Gereja dengan bergabung dengan sebuah organisasi. Namun, setelah beberapa waktu, ia frustrasi dan kecewa oleh sikap-sikap yang tidak menyenangkan dari beberapa anggota. Dia menyadari bahwa kelompoknya tidak berbeda dengan organisasi lain yang diganggu oleh gosip, intrik, dan perpecahan. Tentu saja, saya menyarankan dia untuk meninggalkan kelompoknya dan mencari kelompok yang lebih baik, seperti Ordo Dominikan! Namun, dia memilih untuk tetap tinggal dan mengatakan kepada saya bahwa kelompok yang sulit ini memberinya kesempatan untuk mengasihi Yesus lebih besar. Saya mulai menyadari bahwa saat dia memilih untuk tinggal, dia telah memiliki banyak buah, yakni kesabaran, belas kasihan, dan pengertian.

Pertanyaan yang sama sekarang ditujukan kepada kita. Apakah kita akan tetap tinggal di dalam Kristus pada masa-masa sulit? Apakah kita tetap tinggal bahkan ketika kita tidak merasakan buahnya? Apakah kita tetap setia sampai akhir?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Poto oleh Harry Setianto, SJ