The Tale of Two Kings

The solemnity of Christ the King [November 25, 2018] John 18:33-37

“You say I am a king. For this I was born and for this I came into the world, to testify to the truth. Everyone who belongs to the truth listens to my voice (John 18:37).”

Our Liturgical Year ends with a drama of two kings: Pilate and Jesus. Pilate was representing the superpower nation in those times, the Roman Empire. So massive in its military domination and so ruthless in its conquests are Rome with her mighty legions. Kingdoms bent their knees in homage to Cesar, the king of kings. Pilate embodied this culture of intimidation and violence. He was a notoriously brutal leader, who stole from his subjects and executed people even without a trial. Surely, he thought of himself as the powerful ‘king’ of Jerusalem and anyone who stoodon his way, would be destroyed. 

We are constantly tempted to belong to this kingdom. A husband refuses to listen to his wife and forces his wills in the family through his physical superiority. Insecure with themselves, bigger and tougher guys bully the smaller and weaker kids in a school. Sadly, it takes place not only in school but almost everywhere: family, workplace, society and even cyberspace. The boss intimidates his employees. The government leaders violently suppress any critical voices no matter correct they may be. In the height of his dictatorship, Joseph Stalin bullied the Church saying, “How many division of tank does the Pope have?” Machiavelli, an Italian philosopher, evenonce concluded that the orderly society is built upon fear and violence

However, we have Jesus, the King. But, what kind of king he is? If He is a king, why does he never put on any royal crown, exceptthe crown of thorns forcefully embeddedon his head (Mat 27:29)? If He is a king, why does he have no imperial throneexcept the germ-plagued manger of Bethlehem and the ghastly wood of the cross(Luk 2:7 and Mark 15:30)? If He is a king, why does he control no formidablearmy, except the disbanded group of naïve followers: one of them sold him for30 pieces of silver, a price of a slave,another denied Him for three times and the rest ran for their lives? Is Jesus really a king? 

Reading our today’s Gospel closely, Jesus says that His kingdom is not of this world. This means that His kingdom does not conform to the standards of this world. It is not built upon military power, forceful domination, or bloody war. Thus, He is king with no golden crown, and his kingdom has no single army. Jesus further reveals that He comes to testify to the truth (John 18:37), and indeed, He is the TruthHimself (John 14:6). He is the king that rules the kingdom of truth, and his subjects are those listen and witness to the truth. His is the Kingdom that turns upside down the values of the earthly kingdom. It is not built upon deceit, coercion, or clever political maneuvers,but upon mercy, justice and honesty. It embodies the genuine love for others even the enemies, service to everyone especially to the poor, and true worshipof God.

At the end of the liturgical year, it is providential that the Church chooses this reading for us to contemplate. From the entire liturgical year, we come to the Churchand listen to the scriptural readings especially the Gospel. We listen to JesusHimself, and we are confronted with various aspects of this one Truth. Now, itis time for us to decide whether we become part of the kingdom of Pilate, or welisten to the Truth and follow Jesus.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kisah Dua Raja

Hari Raya Kristus Raja [25 November 2018] Yohanes 18: 33-37

“Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah raja. Untukitulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Akumemberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaranmendengarkan suara-Ku (Yoh 18:37)”

Tahun Liturgi Gereja diakhiri dengan drama dua raja: Pilatus dan Yesus. Pilatus mewakili negara adidaya pada masa itu, Kekaisaran Romawi. Ini adalah kerajaan yang begitu besar dominasi militernya dan semua kerajaan lain bertekuk lutut menghormati sang Kaisar Roma, raja dari segala raja. Di Yerusalem dan Yudea, Pilatus menjadi wajah dari kerajaan yang dilandasi oleh budaya intimidasi dan kekerasan ini. Pilatus adalah seorang pemimpin yang brutal, yang mencuri dari rakyatnya dan mengeksekusi orang bahkan tanpa pengadilan. Tentunya, dia menganggap dirinya sebagai ‘raja’ dari Yerusalem dan siapa saja yang berdiri di jalannya, akan ia hancurkan.

Kita juga terus digoda untuk menjadi bagian dari kerajaan ini. Kadangkala seorang suami menolak untuk mendengarkan istrinya dan memaksakan kehendak-Nya dalam keluarga melalui kekuatan fisiknya. Atau, tidak aman dengan diri mereka sendiri, orang-orang yang lebih besar menggertak anak-anak yang lebih kecil dan lebih lemah di sekolah. Sayangnya, itu terjadi tidak hanya di sekolah tapi di hampir di mana-mana: keluarga, tempat kerja dan bahkan dunia maya. Joseph Stalin, diktator Uni Soviet menggertak Gereja dengan mengatakan, “Berapa banyak divisi tank yang Paus miliki?” Machiavelli, seorang filsuf Itali, bahkan pernah menyimpulkan bahwa ketertiban dalam masyarakat sebenarnya dibangun di atas ketakutan dan kekerasan

Namun, kita memiliki Yesus, sang Raja. Namun, raja macam apakah Yesus? Jika Dia adalah raja, mengapa ia tidak pernah mengenakan mahkota emas, kecuali mahkota duri tertanam di kepalanya (Mat 27:29)? Jika Ia adalah raja, mengapa ia tidak memiliki takhta kekaisaran kecuali palungan yang kotor di Betlehem dan kayu salib yang mengerikan (Luk 2: 7 dan Markus 15:30)? Jika Dia adalah raja, mengapa ia tidak memiliki tentara yang tangguh? Ironisnya, Ia hanya memiliki kelompok pengikut yang naif yang akhirnya tercerai berai: salah satu dari mereka bahkan menjual-Nya seharga 30 keping perak, harga seorang budak, yang lain menyangkal Dia tiga kali dan sisanya melarikan diri menyelamatkan diri merek sendiri? Apakah Yesus benar-benar seorang raja?

Membaca Injil kita hari ini dengan seksama, Yesus berkata bahwa kerajaan-Nya bukan dari dunia ini. Ini berarti bahwa kerajaan-Nya tidak sesuai dengan standar dunia ini. Kerajaan-Nya tidak dibangun di atas kekuatan senjata, dominasi militer, atau kemenangan di dalam perang. Dengan demikian, Dia adalah raja tanpa mahkota emas, dan kerajaannya tidak memiliki angkatan bersenjata. Yesus lebih lanjut mengungkapkan bahwa Dia datang untuk bersaksi tentang kebenaran (Yoh 18:37), dan memang, Dia adalah Sang Kebenaran (Yoh 14:6). Dia adalah raja yang memerintah kerajaan kebenaran, dan rakyatnya adalah mereka yang mendengarkan dan menjadi saksi dari kebenaran. Nya adalah Kerajaan yang membalikkan nilai-nilai kerajaan duniawi. Kerajaan ini tidak dibangun di atas tipu daya, korupsi, atau manuver politik yang sesat, tetapi pada belas kasih, keadilan dan kejujuran. Kerajaan ini mewujudkan cinta kasih sejati bagi sesama bahkan bagi mereka yang kita anggap musuh, pelayanan bagi semua orang terutama untuk orang miskin, dan penyembahan Tuhan yang benar.

Di pengakhir tahun liturgi ini, adalah sebuah penyelenggaraan Ilahai bahwa Gereja memilih bacaan Injil ini untuk kita renungkan. Di sepanjang tahun liturgi, kita datang ke Gereja dan mendengarkan banyak pembacaan dari Kitab Suci terutama Injil. Kita mendengarkan Yesus sendiri, dan kita dihadapkan pada berbagai aspek dari Kebenaran yang berasal dari Yesus. Sekarang, dihadapan dua raja ini, adalah waktu bagi kita untuk memutuskan apakah kita menjadi bagian dari kerajaan Pilatus, atau kita mendengarkan Kebenaran dan mengikuti Yesus.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Little Apocalypse

Reflection on the 33rd Sunday in Ordinary Time [November 18, 2018] Mark 13:24-32

…they will see ‘the Son of Man coming in the clouds’ with great power and glory… (Mk. 13:26)

The last book of the Bible is called the Book of Apocalypse. The Greek word “ apokalopsis ” means unveiling or revelation.  Thus, the 27th book of the New Testament is also known as the Book of Revelation. It is recognized as an “apocalypse” literature because the book unveils the future events, and usually, these are dramatic happenings at the end of the world. Our Gospel this Sunday is taken from Mark chapter 13, and this chapter is also known as the little “Apocalypse.”

Mark 13 speaks about the coming of the Son of Man. But, reading closely, we discover some distressing and even horrifying events that precede this glorious coming. The Temple of Jerusalem will be demolished, Jesus’ followers will endure severe persecution, and the sun, the moon, and other celestial bodies begin crumbling. This generation will be a terrible time to live.

For modern readers like us, our Gospel today does not sound optimistic at all. In fact, we may question whether it is a Good News of salvation or a nightmarish story that scares little children? For many of us who attend the Sunday mass faithfully, we listen to this little apocalypse at the end of every Church’s liturgical year. Thus, as we have heard it year after year, the story has lost its teeth, and we no longer pay attention to its details. After all, we are still alive and kicking.

However, the apocalypse literature has a different impact and meaning for the first Christians, the original readers of the Gospel of Mark. For the early Church, the apocalypse does not mean to be a horror story, but rather a message of hope.  The early Christians were a tiny minority in the vast Roman empire. Because they were firm in their conviction to worship one God, and refuse to worship Caesars and the Roman gods, they were continually subjects of harassment, persecution and even martyrdom. One of the most brutal persecutions of Christians was under the order of Emperor Nero. He blamed Christians for the fire that consumed parts of the City of Rome. He ordered Christians to be arrested and tortured. Some were fed to the wild beasts. Some were eaten by the hungry dogs. Others were burned at stick to light up the City at night.  In this time of desperation, Mark chapter 13 gave them the Gospel of hope. No matter what happened to Christians, whether it is discrimination, persecution, disaster, or even the end of the world, we are assured that it is God who is in control; He has the final word.

The mere fact we can read this reflection means that we are living in a much better time compared to the persecuted Christians. However, the message of the apocalyptic literature remains true to us and all Jesus’ followers through the ages. Facing daily challenges and toils, unexpected and unfortunate events, and various problems and complexities, we tend to shrink to ourselves, to be frustrated, and lose hope. More and more young people easily get depressed, and some, unfortunately, decide to end their lives. This happens, I believe, because we no longer know how to hope. In his book, Crossing the Threshold of Hope, St. John Paul II was asked whether the holy pope ever doubted his relationship with God, especially in these periods of trouble and difficulty. As a man of hope, his answer was simple yet powerful, “Be not afraid!” The Church should be the school that teaches her children to dare to hope, even hope against all hope, because in the end, God has the final word, and we should not be afraid.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Harapan di Hari Akhir


Minggu ke-33 dalam Masa Biasa [18 November 2018]

Markus 13: 24-32

“Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan-awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya.” (Mrk. 13:26)

Buku terakhir di Alkitab dikenal juga sebagai Kitab Wahyu. Dalam Bahasa Yunani, kata yang digunakan adalah “apokalopsis” yang berarti penyingkapan atau pewahyuan. Literatur “apokaliptik” merupakan karya-karya tulis mengungkap rahasia peristiwa masa depan, dan biasanya, ini adalah kejadian-kejadian dramatis di akhir dunia. Injil kita hari Minggu ini diambil dari Markus pasal 13, dan bab ini juga dikenal sebagai apokaliptik kecil.

Markus 13 berbicara tentang kedatangan Anak Manusia. Namun, ketika kita membaca lebih seksama, kita menemukan beberapa peristiwa yang menyedihkan dan bahkan mengerikan yang akan mendahului kedatangan Yesus yang mulia ini. Bait Allah Yerusalem akan dihancurkan, pengikut-pengikut Yesus akan mengalami penganiayaan, dan matahari, bulan, dan objek-objek angkasa lainnya tak lagi berfungsi. Zaman ini akan menjadi waktu yang mengerikan bagi manusia untuk hidup.

Bagi pembaca modern seperti kita, Injil kita hari ini tidak terdengar optimis sama sekali. Sebenarnya, kita mungkin mempertanyakan apakah ini adalah Kabar Baik tentang keselamatan atau kisah mimpi buruk yang sekedar menakut-nakuti anak-anak kecil? Bagi banyak dari kita yang menghadiri misa Mingguan dengan setia, kita mendengarkan kisah apokaliptik kecil ini di akhir setiap tahun liturgi Gereja. Karena kita mendengar kisah ini dari tahun ke tahun, kisah apokaliptik ini telah kehilangan giginya, dan kita tidak lagi takut dengan hal-hal yang akan terjadi. Toh nyatanya, kita masih hidup dan baik-baik saja.

Namun, literatur apokaliptik memiliki dampak dan makna yang berbeda bagi umat Kristiani pertama, yang adalah pembaca pertama Injil Markus. Bagi Gereja Perdana, apokaliptik tidak berarti cerita horror akhir dunia yang menakutkan, melainkan sebuah pesan harapan. Umat ​​Kristiani awal adalah minoritas kecil di kekaisaran Romawi yang besar. Karena mereka teguh dalam keyakinan mereka untuk menyembah Allah yang esa, dan menolak untuk menyembah Kaisar Roma dan dewa-dewa Romawi, mereka terus menerus menjadi subjek pelecehan, penganiayaan dan bahkan menjadi martir.

Salah satu penganiayaan yang paling brutal terhadap umat Kristiani terjadi di bawah perintah Kaisar Nero. Dia menyalahkan umat Kristiani atas api yang membakar sebagian Kota Roma. Dia memerintahkan agar umat Kristiani untuk ditangkap dan disiksa. Beberapa menjadi umpan binatang buas. Beberapa dimakan oleh anjing-anjing lapar. Lainnya dibakar hidup-hidup untuk menerangi Kota Roma di malam hari. Dalam masa keputusasaan ini, Markus pasal 13 memberi mereka Injil pengharapan. Tidak peduli apa yang terjadi pada umat Kristiani, apakah itu diskriminasi, penganiayaan, bencana, atau bahkan akhir dunia, mereka yakin bahwa Allahlah yang memegang kendali; Dia yang berkuasa dan memiliki kata terakhir.

Fakta bahwa kita dapat membaca refleksi kecil ini berarti bahwa kita hidup dalam zaman yang jauh lebih baik dibandingkan dengan umat Kristiani yang dianiaya. Namun, pesan dari literatur apokaliptik tetap relevan bagi kita semua. Menghadapi tantangan dan kerja harian, kejadian yang tidak terduga dan tidak menyenangkan, dan berbagai masalah dan kerumitan hidup, kita cenderung frustrasi, dan kehilangan harapan. Semakin banyak orang muda saat ini yang dengan mudah mengalami depresi, dan sebagian, sayangnya, memutuskan untuk mengakhiri hidup mereka. Ini terjadi karena kita tidak lagi tahu bagaimana berharap. Dalam bukunya, “Crossing the Threshold of Hope”, St. Yohanes Paulus II ditanya apakah sang paus pernah meragukan hubungannya dengan Tuhan, terutama dalam masa sulit dalam hidupnya. Jawabannya sederhana namun penuh pengharapan, “Jangan takut!” Gereja adalah sekolah yang mengajar anak-anaknya untuk berani berharap karena pada akhirnya, Tuhanlah yang memiliki kata akhir, dan kita tidak perlu takut.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Scribes

Reflection on the 32nd Sunday in Ordinary Time [November 11, 2018] Mark 12: 38-44

[the Scribes] devour the houses of widows and, as a pretext, recite lengthy prayers. They will receive a very severe condemnation. (Mk. 12:40)

kissing the groundIn Jesus’ time, the scribes are the well-educated Jewish men who are expert in the Law of Moses. Some of them come from the wealthy families, and others hail from the priestly clan. Being able to teach and interpret the Law, they receive the respect and honor from the ancient Jewish society. Thus, ordinary Jews will greet them and prepare them the seats of honor in the synagogues and the banquets. Surely, there is no problem with receiving greetings and sitting as honor guests. Jesus Himself is often greeted as “Teacher” or “Rabbi”, and He attends the banquets as guest of honor (see Mar 14:3). The problem comes when some of the scribes possesses “narcissistic desire” and intentionally look for these privileges.

However, not only Jesus criticizes them for this narcissistic attitude, He gravely condemns also their acts of injustice, particularly “devouring the houses of widows.” In Jesus’ time, widows (Hebrew “almanah”) is considered to be one of the poorest and weakest. They are women who do not only lose their husband, but also fall into deeper poverty because they no longer have anybody to support them. They are lucky if their family and relatives take care of them, but in difficult times, they are left to their own. The Law of Moses provides that the widows, together with the orphans and strangers should be protected (see Deu 10:18).

Since the scribes are the respected and wealthy members of the society, it is a logical choice to entrust the care of Jewish widows to them. Unfortunately, instead helping and defending the widows, some of the scribes oppress and steal from the little the widows have. To steal is evil, but to rob the poor people who place their trust in us is far greater evil. Yet, it is not yet worst. After perfectly hiding their acts of injustice, some of the scribes continue going to the Temple and reciting lengthy prayer, as if there is nothing happens. This is hypocrisy, a double-life attitude at its finest!

As my ordination day to the diaconate is drawing closer, some of my brothers in the community and friends began to call me with title of honor like “reverend” or simply, “rev”. Admittedly, I am not comfortable with it. I wish that the people remain calling me brother. However, it has become the common practice in the Catholic Church to honor her ordained ministers. It is my prayer and my sincere wish I will not be like some of the Scribes who become “narcissistic” and “covets” the people’s adulation and all the privileges it brings. George Weigel, an American Catholic author, in his recent article, traces the root of Catholic anger against the clergy in the US. He writes that while it is true that many clergymen are good and holy, it is the clerical narcissism that builds anger of the Catholic lay.

Learning from the scribes, the narcissism is the seed. The vice grows into hidden acts of injustice. And from evil of injustice, the men in white garment are turning worse as they live in hypocrisy. It is my earnest hope that we continue praying, supporting and even correcting our brothers who are ordained to become the servants of God and His people. Without God’s grace, the right dose of humility and lay people’ prayer and help, our deacons, priests and bishops may become like the scribes who earn Jesus’ condemnation.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Sang Ahli Hukum Taurat

Minggu ke-32 dalam Masa Biasa [11 November 2018] Markus 12: 38-44

[Para ahli Taurat] yang menelan rumah janda-janda, sedang mereka mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Mereka ini pasti akan menerima hukuman yang lebih berat (Markus 12:40)

jesus n scribesPada masa Yesus hidup, para ahli Taurat adalah orang Yahudi terdidik dan menjadi ahli dalam Hukum Musa. Beberapa dari mereka berasal dari keluarga kaya, dan yang lain dibesarkan dari klan imam. Mampu mengajar dan menafsirkan Hukum, mereka menerima respek dan kehormatan dari masyarakat Yahudi. Dengan demikian, orang-orang Yahudi kebanyakan akan menyapa dengan hormat para ahli Taurat ini dan mempersiapkan bagi mereka kursi kehormatan di sinagoga dan perjamuan. Tentunya, tidak ada masalah dengan menerima salam dan duduk sebagai tamu kehormatan. Yesus sendiri sering disambut sebagai “Guru” atau “Rabi”, dan Dia menghadiri perjamuan sebagai tamu kehormatan (lihat Mar 14:3). Masalah muncul ketika beberapa ahli Taurat memiliki “hasrat narsistik”, menjadi gila hormat dan dengan sengaja mencari yang kehormatan dan semua hak-hak istimewa.

Namun, Yesus tidak hanya mengkritik mereka karena sikap narsis ini, Dia dengan serius mengecam tindakan ketidakadilan mereka, terutama karena mereka “menelan rumah para janda.” Pada zaman Yesus hidup, para janda (bahasa Ibrani “almanah”) dianggap sebagai salah satu bagian masyarakat Yahudi yang paling miskin dan lemah. Mereka adalah wanita yang tidak hanya kehilangan suaminya, tetapi juga jatuh miskin karena mereka tidak lagi  memiliki sarana penopang hidup. Mereka beruntung jika keluarga dan kerabat mereka merawat mereka, tetapi pada masa-masa sulit, mereka dibiarkan terlantar. Hukum Musa menyatakan bahwa para janda, bersama dengan anak-anak yatim dan orang asing harus dilindungi (lihat Ul. 10:18).

Karena para ahli Taurat adalah salah satu anggota masyarakat yang paling dihormati dan kaya, itu adalah pilihan logis untuk mempercayakan pelayanan kepada para janda Yahudi kepada mereka. Sayangnya, alih-alih membantu dan membela para janda, beberapa ahli Taurat menindas dan mencuri dari para janda miskin ini. Mencuri itu jahat, tetapi merampas dari orang-orang yang menaruh kepercayaan mereka pada kita adalah kejahatan yang jauh lebih besar. Namun, hal ini bukanlah yang terburuk. Setelah dengan sempurna menyembunyikan tindakan ketidakadilan mereka, beberapa ahli Taurat tanpa malu pergi ke Bait Allah dan membaca doa yang panjang. Ini adalah kemunafikan!

Ketika hari pentahbisan saya semakin dekat, beberapa frater dan teman-teman mulai memanggil saya dengan sapaan kehormatan seperti “reverend” (- yang dihormati). Harus diakui, saya tidak nyaman. Saya berharap bahwa orang-orang tetap memanggil saya sebagai frater atau “Brother”. Namun, ini telah menjadi tradisi umum bagi para awam memanggil mereka yang telah tertahbis. Saya hanya bisa berdoa dan berhasrat bahwa saya tidak akan seperti beberapa ahli Taurat “narsistik” dan gila akan pujian orang-orang dan semua kenyamanan hidup. George Weigel, seorang penulis Katolik Amerika, dalam artikel terbarunya, menelusuri akar kemarahan umat Katolik terhadap para klerus di AS. Dia menulis bahwa memang benar bahwa banyak para romo dan uskup yang baik dan kudus, tetapi umat tidak lagi tahan dengan sikap narsisisme yang diperlihatkan sejumlah oknum klerus di Amerika.

Belajar dari ahli-ahli Taurat, narsisisme adalah benih yang tertanam dalam hati mereka yang tertahbis. Jika dibiarkan benih ini tumbuh menjadi tindakan-tindakan ketidakadilan yang tersembunyi. Dan dari kejahatan ketidakadilan, kaum berjubah putih bisa hidup dalam kemunafikan. Adalah harapan saya bahwa kita terus berdoa, mendukung dan bahkan mengoreksi saudara-saudara kita yang adalah hamba Allah dan umat-Nya. Tanpa rahmat Allah, kerendahan hati dan doa serta bantuan para umat awam, para diakon, imam, dan uskup kita mungkin bisa menjadi seperti ahli Taurat yang narsis dan munafik.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Half Christ

Reflection on 24th Sunday in Ordinary Time [September 16, 2018] Mark 8:27-35

“Jesus asked them, ‘But who do you say that I am?’ (Mk. 8:29)”

carrying crossSeveral years ago, I gave a talk on the introduction to Christology to a group of young Filipino professionals who wished to deepen their spirituality. The first question I asked them as we commenced the short course was, “Who do you say that Jesus is?” The answers were varied. Some gave a dogmatic formula like Jesus is God, one quoted the Bible saying Jesus is the Word made flesh, one expressed boldly that Jesus is Savior and Lord, and the rest shared personal convictions like Jesus is their closest friend, or Jesus is their Shepherd. All these answers were right, but nobody claimed that Jesus is the Christ. Considering that our subject was Christology, we missed the basic Jesus’ title, in Greek, “Christos,” in Hebrew, “Messiah,” and translated into English, the Anointed One. Fortunately, around two thousand years ago, Simon Peter was able to spell the title when Jesus Himself asked the question.

Going deeper into our Gospel today, we are at chapter 8 of the Gospel of Mark. Since Mark has 16 chapters, we are literally in the middle of this second canonical Gospel. Yet, today’s reading does only happen to be in the middle of the Gospel, but it turns out to be the turning point of the Gospel. In the first eight chapters, Mark narrates Jesus’ ministry in Galilee and some other Gentile regions in the north of Israel. Jesus is doing wonders and teaching with authority. He can draw a lot of people, and some of them will be close followers called His disciples. Meanwhile, the last eight chapters, Jesus begins to journey down south and reaches His destination in Jerusalem. There, He will face his tormentors, and He will meet His passion, death and resurrection.

Peter gets the bulls-eye answer. After all, Peter’s profession is what Mark intends to convey to his readers, “The beginning of the gospel of Jesus Christ (Mk. 1:1).” Unfortunately, when Jesus reveals His suffering and death, it does not sit well with Peter’s idea of the Messiah. Perhaps Peter gets stuck with the concept of a powerful and conquering Christ that will lead Israel into victory.  Jesus has been preaching about the coming of the Kingdom, teaching unforgettable lessons, and performing unmatched miracles. Surely, nothing, not even the great Roman empire could beat this Messiah. However, Peter just desires the first half of the Gospel, and cannot be at peace with the other half of the Gospel. If Peter and other disciples want to accept Jesus fully, then they need to embrace the other half of the Gospel of Jesus Christ as well. Following Jesus does not stop in Galilee where things are just awesome, but it has to go down to Jerusalem, where the persecution and death lurk. Thus, Jesus declares, “Whoever wishes to come after me must deny himself, take up his cross, and follow me. (Mk. 8:34).”

Often we are like Peter. We call ourselves Jesus’ disciples and accept the Gospel of Jesus Christ, but in reality, we just want half of Jesus or parts of the Gospel. We go to the Church and worship God, but we do not want to soil our hands in helping our brothers and sisters in need. Married couples enjoy the benefits of marriage, yet refuse to see children as a gift of God. Religious men and women vow to serve the Lord and His Church, but often, we serve our own interests and desires. No wonder G. K. Chesterton once wrote, “The Christian ideal has not been tried and found wanting. It has been found difficult; and left untried.” As we try to answer Jesus’ question, “Who do you think that I am?”, we are invited to reflect and to accept Jesus and His Gospel, not half, but the whole of Him.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Setengah Kristus

Renungan untuk Minggu ke-24 dalam Masa Biasa [16 September 2018] Markus 8: 27-35

“Yesus bertanya kepada mereka, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” (Mk. 8:29)

touching the crossBeberapa tahun yang lalu, saya memberikan ceramah pengantar Kristologi bagi sekelompok profesional muda Filipina yang ingin memperdalam spiritualitas mereka. Pertanyaan pertama yang saya tanyakan kepada mereka adalah, “Menurut kamu, siapakah Yesus itu?” Jawabannya beragam. Beberapa memberikan formula dogmatis seperti Yesus adalah Allah, ada yang mengutip Alkitab dan mengatakan Yesus adalah Firman yang menjadi daging, seseorang menyatakan dengan berani bahwa Yesus adalah Juruselamat dan Tuhan, dan sisanya berbagi keyakinan pribadi seperti Yesus adalah sahabat terdekat mereka, atau Yesus adalah Gembala mereka. Semua jawaban ini benar, tetapi tidak ada yang mengklaim bahwa Yesus adalah Kristus. Mempertimbangkan bahwa ceramah kami adalah Kristologi, kami sepertinya lupa akan identitas dasar Yesus, dalam bahasa Yunani, “Christos,” dalam bahasa Ibrani, “Mesias,” yang berarti “Yang Diurapi”. Untungnya, sekitar dua ribu tahun yang lalu, Simon Petrus mampu mengucapkan identitas dasar ini ketika Yesus Sendiri menanyakan pertanyaan ini.

Masuk lebih dalam ke dalam Injil kita hari ini, kita berada di bab 8 Injil Markus. Injil Markus memiliki 16 bab, kita secara harfiah berada di tengah-tengah Injil ini. Namun, bacaan hari ini hanya berada di tengah-tengah Injil, tetapi ternyata menjadi titik balik dari Injil. Delapan bab pertama, Markus menceritakan pelayanan Yesus di Galilea dan beberapa wilayah non Yahudi lainnya di utara Israel. Yesus melakukan mujizat dan mengajar dengan otoritas. Dia dapat menarik banyak orang, dan beberapa dari mereka akan menjadi pengikut dekat yang disebut sebagai murid-murid-Nya. Sedangkan, delapan bab terakhir, Yesus mulai melakukan perjalanan ke selatan dan mencapai tujuan-Nya di Yerusalem. Dia akan menghadapi para penyiksanya di sana dan Dia akan menjalani sengsara, kematian, dan kebangkitan-Nya.

Petrus mendapat jawaban dengan benar. Pengakuan Petrus tidak lain adalah apa yang Markus ingin sampaikan kepada para pembacanya, “Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah (Mk. 1:1).” Sayangnya, ketika Yesus mengungkapkan bahwa Anak Manusia akan menderita dan wafat, Petrus merasa tidak cocok dengan gagasan tentang Mesias tersebut. Mungkin Petrus terjebak dengan konsep Kristus yang kuat dan dapat memimpin Israel menuju kejayaan. Yesus telah mewartakan tentang kedatangan Kerajaan, mengajar pelajaran yang tak terlupakan, dan melakukan mujizat yang tak tertandingi. Tentunya, kerajaan Romawi yang besar pun tidak mampu mengalahkan Mesias ini. Namun, Petrus hanya menginginkan paruh pertama dari Injil, dan tidak dapat menerima Injil secara keseluruhan. Jika Petrus dan murid-murid lain ingin menerima Yesus sepenuhnya, maka mereka perlu menerima paruh kedua dari Injil Yesus Kristus juga. Mengikuti Yesus tidak berhenti di Galilea di mana hal-hal yang luar biasa terjadi, tetapi harus turun ke Yerusalem, di mana penganiayaan dan kematian mengintai. Dengan demikian, Yesus menyatakan, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku (Mk. 8:34).”

Seringkali kita seperti Petrus. Kita menyebut diri kita murid Yesus dan menerima Injil Yesus Kristus, tetapi dalam kenyataannya, kita hanya ingin separuh dari Yesus atau bagian dari Injil. Kita pergi ke Gereja dan menyembah Tuhan, tetapi kita tidak ingin membantu saudara-saudari kita yang membutuhkan. Kita aktif di Gereja, tetapi kita tetap saja membawa agenda pribadi dan mendapatkan keuntungan sendiri. Pria dan wanita yang hidup membiara juga tidak terhindar dari godaan ini. Kita berjanji untuk melayani Tuhan dan Gereja-Nya, tetapi seringkali, kita melayani kepentingan dan keinginan kita sendiri. Sewaktu kami mencoba menjawab pertanyaan Yesus, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?”, Apakah Yesus kita adalah Yesus yang hanya setengah? Apakah Yesus kita hanya mengambarkan kepentingan-kepentingan pribadi kita? Apakah kita berani mengikuti Yesus secara utuh?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Beyond Healing

Twenty-Third Sunday in Ordinary Time [September 9, 2018] Mark 7:31-37

“Jesus has done everything well; he even makes the deaf to hear and the mute to speak.” (Mk. 7:37)

jesus heals deaf muteThe deaf man whom Jesus heals is so blessed. He is able to see Jesus, and He finds healing. Inspired by this miracle, we wish that we will also meet Jesus and He will heal our sickness and solve our problems. Thus, we come to various places where we believe Jesus will heal us. We visit pilgrimage sites, we attend prayer and worship meetings, we recite various novenas, and we become actively involved in the Church’s organizations. We believe that our faith in Jesus will save us. However, what if our prayers are not granted? What if our problems are not solved but rather grow in number? What if our sickness is not healed, but gets worse? What if we do not feel that we are saved? One time, I visited Flora [not her real name], a colon-cancer patient, and she asked me, “Brother, I have faith in God, and I faithfully serve the Church, but why am I suffering from this terrible sickness?” Surely, it was a tough question.

In today’s Gospel, Mark, the evangelist, seems to present Jesus as the traditional faith-healer. Just like other healers, Jesus touches the affected body parts of the sick person, namely his ears and tongue. Jesus also spits because, in ancient times, saliva is believed to have therapeutic effects. The act of spitting itself is also considered to drive away evil spirits, and some diseases are thought to come from these evil spirits. Then, Jesus groans to heaven and says a word, “Ephphatha!” This is like other faith-healers who utter certain formula of magic words or incantation as to affect the healing desired. What the people need is to have faith in the faith-healer, and viola, they are healed.

Inspired by this kind of model, we begin to treat Jesus as a faith-healer. We just need to have faith in Him, and the rest will be just perfect. We believe in Him, and we will be saved. That’s all! This image of Jesus is, however, distorted and even dangerous. We reduce Jesus as mere instant problem-solver and an ultimate trouble-shooter. Again, what if we do not get what we expect despite our effort to trust in Him?

Mark is inviting us to read his Gospel more profoundly.  There is something more remarkable that we, ordinary readers of the Bible, miss. In original Greek, the term for speech impediment or mute in the Gospel of Mark is “mogilalos.” This very term is also used in the book of Isaiah when the prophet prophesied, “…, and the mute tongue – “mogilalos” – sing for joy (Isa. 35:6 – our first reading)”. But, the prophecy is not only about healing the diseases, but it is about the holistic restoration of both the land and the people of God (see Isa 35:1-10). Mark does not only want to present Jesus as someone more powerful than faith-healers, but he points to us that Isaiah’s prophecy is being fulfilled. In Jesus, God has come to His people and redeemed us. Yet, what does it mean in our daily lives?

This means our faith in Jesus has to be bigger than ourselves, our personal problems and concerns. It is true that we may not have immediate healing to our sickness and solution to our problems, but our lives and our capacity to live and love are enlarged. And, as we become more loving, we begin to change also people around us. As people change, our world will become a better place.

Going back to Flora. After reflecting for a while, I answered Flora, “Well, I do not exactly know why God allows this sickness. But, as you can see, your family is doing their best to help you recover because they love you. Now, you are doing your best to get healed because you love them. See, God has made you bigger than yourself before. I believe faith is working in you.”

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Lebih dari Penyembuhan

Minggu ke-23 dalam Masa Biasa [9 September 2018] Markus 7: 31-37

“Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata.” (Markus 7:37)

ephphathaMinggu ini kita mendengar tentang Yesus yang menyembuhkan seorang tuli dan bisu. Terinspirasi oleh mukjizat ini, kita berharap bahwa Yesus akan menyembuhkan penyakit kita dan memecahkan segala masalah kita. Jadi, kita pergi ke berbagai tempat ataupun kegiatan di mana kita percaya Yesus akan menyembuhkan kita. Kita pergi ke situs ziarah, kita menghadiri pertemuan doa, dan kita menjadi aktif terlibat di Gereja. Kita percaya bahwa iman kita kepada Yesus akan menyelamatkan kita. Namun, bagaimana jika doa kita tidak dikabulkan? Bagaimana jika masalah kita tidak selesai tetapi bertambah jumlahnya? Bagaimana jika penyakit kita tidak sembuh, tetapi semakin parah? Suatu kali, saya mengunjungi Flora [bukan nama sebenarnya], pasien kanker usus besar, dan dia bertanya kepada saya, “Frater, saya memiliki iman kepada Tuhan Yesus, dan saya dengan setia melayani di Gereja, tetapi mengapa saya menderita penyakit yang mengerikan ini? “Tentunya, ini pertanyaan yang sulit dijawab.

Dalam Injil hari ini, Markus, penginjil, tampaknya menampilkan Yesus sebagai seorang penyembuh iman tradisional. Sama seperti penyembuh lainnya, Yesus menyentuh bagian tubuh yang yang bermasalah, yaitu telinga dan lidah. Yesus juga meludah karena, pada zaman itu, air liur diyakini memiliki efek terapeutik. Tindakan meludah sendiri juga dianggap bisa mengusir roh jahat, dan beberapa penyakit diduga berasal dari roh jahat ini. Kemudian, Yesus mengucapkan sepatah kata, “Efata!” Ini seperti para penyembuh lainnya yang mendaraskan mantra atau doa, untuk mempengaruhi penyembuhan yang diinginkan.

Terinspirasi oleh citra semacam ini, kita mulai memperlakukan Yesus sebagai seorang penyembuh iman. Kita hanya perlu memiliki iman kepada-Nya, dan semuanya akan menjadi baik. Kita percaya kepada-Nya, dan kita akan diselamatkan. Namun, citra Yesus yang seperti ini adalah sebuah distorsi dan bahkan berbahaya. Kita menjadikan Yesus sebagai pemecah masalah instan, dan ini tidak selalu benar. Sekali lagi, bagaimana jika kita tidak mendapatkan apa yang kita harapkan meskipun kita sudah beriman kepada-Nya?

Markus mengundang kita untuk membaca Injilnya lebih dalam. Ada sesuatu yang luar biasa yang biasanya luput dari perhatian kita. Dalam bahasa Yunani, istilah untuk bisu atau sulit berbicara dalam Injil Markus adalah “mogilalos.” Istilah ini juga sebenarnya digunakan dalam kitab Yesaya ketika sang nabi bernubuat, “Pada waktu itu orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu – mogilalos – akan bersorak-sorai (Yes. 35:6, dari bacaan pertama kita)”. Namun, nubuatan ini bukan hanya tentang penyembuhkan penyakit, tetapi juga tentang pemulihan yang menyeluruh akan umat Allah (lihat Yes 35: 1-10). Markus tidak hanya ingin menampilkan Yesus sebagai seseorang penyembuh iman, tetapi ia menunjukkan kepada kita bahwa nubuatan Yesaya telah digenapi. Di dalam Yesus, Tuhan telah datang kepada umat-Nya dan menebus kita. Namun, apa maksud pengenapan ini dalam kehidupan kita sehari-hari?

Ini berarti iman kita kepada Yesus lebih besar dari diri kita sendiri, masalah dan kecemasan pribadi kita. Memang benar bahwa kita mungkin tidak segera disembuhkan kita dan tidak mendapatkan solusi untuk masalah kita, namun dengan iman, hidup kita dan kemampuan kita untuk mengasihi semakin luas. Dan, saat kita mampu lebih mengasihi, kita mulai mengubah juga orang-orang di sekitar kita. Seperti ketika orang berubah, dunia kita akan menjadi tempat yang lebih baik.

Kembali ke Flora. Setelah merenung sejenak, saya menjawab Flora, “Saya tidak tahu mengapa Tuhan mengijinkan hal-hal ini terjadi. Tapi, lihatlah, keluarga ibu melakukan yang terbaik untuk membantu ibu pulih karena mereka mengasihi ibu. Sekarang, ibu juga melakukan yang terbaik untuk sembuh karena ibu mengasihi mereka. Lihat Tuhan telah membuat ibu lebih besar dari diri ibu sebelumnya, dan ini adalah iman.”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP