“Who Do You Say that I Am?”

12th Sunday in The Ordinary Time. June 19, 2016 [Luke 9:18-24]

 simon n jesus - for blogWhat will be your answer to Jesus’ question “Who do you say that I am?” We may come up with multiple answers. He is my God, my savior, my friend or my brother. But, we seldom ask, “Do we really understand Jesus’ question? Do we get the right answer? Why is it that Peter would confess that Jesus is Christ of God in the first place?

Christ comes from a Greek ‘Christos’, meaning Messiah or the Anointed One. In the Old Testament, the Anointed One of God refers to the great kings of Israel like Saul and David. Less often, the anointed one applies to prophets and priests. They were called as such because they were anointed with the sacred oil before they assumed the important office. They are leaders of the people as well as God’s representative. When God chose David to lead His People, He instructed Prophet Samuel to go to Bethlehem to house of Jesse and look for David. When the holy prophet found him, he anointed David with the sacred oil. The Spirit of the Lord then rushed and filled upon David (1 Sam 16:1-14). Under King David, Israel reached its pinnacle. Yet, after his demise, Israel’s glory slowly fading and even disappeared altogether. Since then, the Israelites long for the coming of the Anointed One who will restore their glory.

Jesus definitely was aware that He is the Anointed One. In the beginning of his preaching ministry, Jesus went to the synagogue in Nazareth and proclaimed, “The Spirit of the Lord is upon me, because he has anointed me to bring glad tidings to the poor. (Luk 4:18).” Yet, Jesus avoided public proclamation that He is the Christ. He knew well that He would be misunderstood by the Jews. He never came as a political liberator nor a military chieftain. Thus, He waited until the best time arrived.

The time reached fulfillment when Peter was able to answer correctly. Tired of Roman oppressions, the entire Israel, including Peter, was impatient for the coming of the Messiah. When Jesus nodded that He is the Christ, Peter and other disciples would not have a second thought. They would follow their Messiah until the New Israel is born. For Peter, his answer is more than making a confession on Jesus’ identity, but promising firm allegiance to Jesus. Yet, again Jesus had to remind them of the false image of Messiah. He would be rejected, persecuted and even murdered. Following Him means also suffering the same fate as their Master.

When Jesus confronts us with this question “Who do you say that I am?” it is not about giving personal and favorite status of Jesus. Following Peter, our answer is fundamentally about radical commitment to Jesus. It means to follow Him for better or worse. It entails sufferings and cross. Even we may lose our life. We can easily and joyfully sing and praise Jesus in worship meetings, but do we get involved in dirty works of helping the poor? We are proud to have our wedding at the big Church with glamorous celebration, but are we patient enough to endure the trials of marriage life ‘until death do us part’? We are called Christian, because we bear Christ in us. But, do we live like Christ’s image in the world?

To answer rightly, we need to get the question correctly. Have we understood Jesus’ question “Who do you say that I am?” Have we dared to give the right answer? May St. Paul reminded us who we are, “I have been crucified with Christ; yet I live, no longer I, but Christ lives in me (Gal 2:19-20)”

 

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

“Menurut Kamu, Siapakah Aku ini?”

Minggu Biasa ke-12. 19 Juni 2016 [Lukas 9:18-24]

quo vadisApa yang akan menjadi jawaban kita saat Yesus bertanya “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Kita mungkin menjawab: Dia adalah Tuhan, Juruselamat, sahabat atau saudara. Tapi, apakah kita sudah mengerti dengan baik pertanyaan Yesus? Apakah jawaban kita inilah yang Yesus harapkan? Mengapa jawaban Petrus adalah Kristus dan bukan jawaban lainnya?

Kristus berasal dari kata Yunani ‘Christos’ yang berarti Mesias atau Yang Terurapi. Dalam Perjanjian Lama, Yang Terurapi mengacu pada raja-raja besar Israel seperti Saul dan Daud. Tapi kadang juga, Mesiah berlaku bagi para nabi dan imam. Mereka disebut seperti itu karena mereka diurapi dengan minyak suci sebelum mereka mengemban tugas penting. Mereka adalah pemimpin bangsa Israel dan juga wakil Allah. Ketika Tuhan memilih Daud untuk memimpin umat-Nya, Dia memerintahkan Nabi Samuel untuk pergi ke Betlehem ke rumah Isai dan mencari Daud. Ketika sang nabi menemukannya, ia mengurapi Daud dengan minyak suci. Roh Tuhan kemudian bergegas dan memenuhi Daud (1 Sam 16: 1-14). Di bawah Raja Daud, Israel mencapai puncak kejayaannya. Namun, setelah kematiannya, kejayaan Israel perlahan memudar dan bahkan hilang sama sekali. Sejak saat itu, Israel merindukan kedatangan Mesias yang akan mengembalikan kejayaan mereka.

Yesus menyadari bahwa Dia adalah Kristus. Pada awal misi pewartaan-Nya, Yesus pergi ke rumah ibadat di Nazaret dan menyatakan, “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku (Luk 4:18). Namun, Yesus menghindari proklamasi publik bahwa Dia adalah Kristus. Dia tahu betul bahwa ia akan disalahpahami oleh orang-orang Yahudi. Dia tidak pernah datang sebagai tokoh politik ataupun seorang pemimpin militer. Dengan demikian, Ia menunggu sampai waktu yang tepat.

Waktunya tiba ketika Petrus mampu menjawab dengan benar. Lelah dengan penindasan Romawi, seluruh Israel, termasuk Petrus, tidak sabar akan kedatangan Mesias. Ketika Yesus mengamini bahwa Ia adalah Kristus, Petrus dan murid-murid lainnya tidak akan berpikir dua kali. Mereka akan mengikuti Mesias mereka sampai Ia membawa Israel yang baru. Bagi Petrus, jawabannya lebih dari sekedar pengakuan tentang identitas Yesus, tetapi menyatakan kesetiaannya kepada Yesus. Namun, sekali lagi Yesus harus mengingatkan mereka akan ide salah tentang Mesias di kepala mereka. Dia akan ditolak, dianiaya dan bahkan dibunuh. Mengikuti Yesus berarti juga menderita nasib yang sama seperti Guru mereka.

Ketika Yesus menghadapkan kita dengan pertanyaan “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Ini bukan saja tentang memberikan jawaban personal dan favorit tentang Yesus. Seperti Petrus, jawaban kita pada dasarnya adalah komitmen radikal kepada Yesus. Ini berarti untuk mengikuti-Nya dalam suka dan duka. Hal ini menuntut penderitaan dan salib. Bahkan mungkin kita akan kehilangan hidup kita. Kita dengan mudah bernyanyi dan memuji Yesus dalam prayer meeting, tapi apakah kita mau terlibat dalam karya sulit untuk membantu orang-orang miskin? Kita bangga mengalami pernikahan kita di Gereja besar dan indah, tapi apakah kita mampu sabar untuk menanggung cobaan hidup perkawinan ‘sampai kematian memisahkan kita’? Kita dipanggil Kristiani, karena kita adalah milik Kristus. Tapi, apakah kita bisa hidup sebagai citra Kristus di dunia?

Untuk menjawab dengan benar, kita perlu mengerti pertanyaan Yesus dengan benar. Saat, kita mengerti pertanyaan Yesus “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Apakah kita berani memberikan jawaban yang benar? St. Paulus mengingatkan siapa kita sebenarnya, “Aku telah disalibkan dengan Kristus;  namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. (Gal 2: 19-20).”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Jesus and the Women

11th Sunday in the Ordinary Time. June 12, 2016 [Luke 7:36—8:3]

 “So I tell you, her many sins have been forgiven; hence, she has shown great love (Luk 7:47).”

women disciplesLuke has a keen eye for the roles of woman in the life of Jesus and the Church. From the beginning of his Gospel to the end, he made sure that women have important role to play. Among the four Gospels, only Matthew and Luke wrote the infancy narrative. While Matthew had Joseph as the main character, Luke chose Mary as his protagonist. Thanks to Luke, we are able to mediate on the great stories of the Annunciation, the Visitation, and the Presentation. Due to Luke also, we may sing Mary’s Magnificat.

In today’s Gospel, Luke presented several women and their important contributions. The first is the unnamed yet repented woman. The woman stands as contrast to the male host, Simon the Pharisee. While Simon felt right and needed no repentance, the woman admitted her sins and asked Jesus’ forgiveness. Jesus presented the woman as good model for us, Christians. Often like Simon the Pharisee, we feel we are in no need of repentance because we are Church’s people. We go to the Church regularly and we are active in various ministries. We feel just right. But, we are forgetting the elementary truth that everyone is a sinner and in need of His mercy. St. Paul reminds us, “All have sinned and are deprived of the glory of God. 24 They are justified freely by his grace through the redemption in Christ Jesus, (Rom 3:23-24).”

When we remind ourselves that we are practically nothing without His love. Everything we are and have, are His gift, we cannot but be grateful. The woman showed a great love to Jesus, she receives forgiveness. We will love and serve the Lord because we are forgiven and loved. The repented woman remind us that humility and gratitude are the right dispositions to serve the Lord. it is not because we are good, capable, and talented.

After the story of the repented woman, Luke also mentioned several women: Mary of Magdalene, Joanna, Susanna and many others. All have something in common. They supported Jesus and His preaching ministry out of their own resources. Male disciples, like Peter, John and James have been always in the spotlight, but Luke gave us an idea that their ministry was practically impossible without the generous support of these woman. Our Church inherited an apostolic tradition. This means the apostles and their successors take the leadership helm. This means also our Catholic, Apostolic Church’s leadership is entrusted to men. Yet, we need to remember without the generosity of women, this Church will not operate well.

I myself have experienced this such generosity. I am part of the Lectors’ group of Sto. Domingo Parish in Metro Manila and many of its members are women. I am always amazed on how generous they are in their time and resources for the parish and ministry despite their problems and limitation. I am also member of the Dominican family, and our female counterpart has played indispensable role. Before he established the Order of Preachers, St. Dominic founded first the Dominican nuns in Prouille. One of the reasons is to spiritually support the rigorous preaching of the brothers. Up to this day, the Dominican sisters are in the forefront in supporting the brothers and the lay Dominicans. Certainly, my own mother has been generous in giving me to the Church. Without their generosity, I would have not been in my place now. Indeed, without women’s generosity, the Church would have not been in this place now.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yesus dan Para Perempuan

Minggu Biasa ke-11. 12 Juni 2016 [Lukas 7:36-8:3]

 “Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. (Luk 7:47).”

Lukas memiliki perhatiawomen disciples 2n khusus bagi peran perempuan dalam kehidupan Yesus dan Gereja. Di Injilnya, ia memastikan bahwa perempuan memiliki peran penting. Di antara keempat Injil, hanya Matius dan Lukas menulis kisah kelahiran Yesus. Sementara Matius memiliki Joseph sebagai karakter utama, Lukas memilih Maria sebagai protagonisnya. Karena Lukas, kita bisa merenungkan kisah-kisah besar seperti Maria menerima Kabar Gembira, Maria mengunjungi Elizabet. Karena Lukas juga, kita bisa ikut bernyanyi Kidung Maria atau Magnificat.

Dalam Injil hari ini, Lukas menulis beberapa perempuan dan kontribusi penting mereka. Yang pertama adalah perempuan yang tak bernama dan memohon pengampunan. Perempuan itu menjadi kontras dengan tuan rumah laki-laki, Simon orang Farisi. Sementara Simon merasa benar dan tidak membutuhkan pertobatan, perempuan itu menyadari dosa-dosanya dan meminta pengampunan Yesus. Yesus mempersembahkan sang perempuan sebagai model yang baik bagi kita, orang-orang Kristiani. Sering seperti Simon orang Farisi, kita merasa tidak membutuhkan pertobatan karena kita adalah orang-orang Gereja. Kita pergi ke Gereja secara teratur dan kita aktif di berbagai pelayanan. Kita merasa benar. Tapi, kita melupakan kebenaran dasar bahwa kita adalah orang berdosa dan membutuhkan rahmat-Nya. St Paulus mengingatkan kita, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. (Rom 3: 23-24).”

Saat kita sadar bahwa kita bukanlah apa-apa tanpa kasih-Nya, dan semua yang kita miliki, adalah karunia-Nya, kita hanya bisa bersyukur dan rendah hati. Sang perempuan menunjukkan kasih yang besar kepada Yesus, karena ia menerima pengampunan. Kita akan mengasihi dan melayani Tuhan karena kita diampuni dan dikasihi. Perempuan yang bertobat mengingatkan kita bahwa kerendahan hati dan rasa syukur adalah disposisi yang tepat untuk melayani Tuhan, dan bukan karena kita baik, mampu, dan berbakat.

Setelah kisah perempuan bertobat ini, Lukas juga menyebutkan beberapa perempuan: Maria Magdalena, Yohana, Susanna dan beberapa yang lainnya. Semua memiliki kesamaan. Mereka mendukung Yesus dan misi pewartaan-Nya dengan kekayaan mereka. Benar bahwa murid laki-laki, seperti Petrus, Yohanes dan Yakobus selalu menjadi sorotan, tetapi Lukas memberi kita gambaran bahwa pelayanan mereka praktis tidak mungkin tanpa dukungan dari para perempuan yang murah hati ini. Gereja kita mewarisi tradisi apostolik. Ini berarti para rasul dan penerus mereka yang adalah kaum pria mengambil pucuk kepemimpinan. Namun, kita perlu ingat tanpa kemurahan hati perempuan, Gereja yang kita cintai ini akan pincang.

Saya sendiri mengalami kemurahan hati Injili ini. Saya adalah bagian dari kelompok lektor Paroki Sto. Domingo di Metro Manila dan banyak anggotanya adalah perempuan. Saya selalu kagum dengan kemurahan hati mereka dalam membagikan waktu, tenaga dan dana bagi paroki dan pelayanan meskipun berbagai masalah dan keterbatasan yang mereka harus hadapi. Saya juga anggota dari keluarga Dominikan, dan rekan perempuan kita telah memainkan peran tak tergantikan. Sebelum Santo Dominikus de Guzman membentuk Ordo Pengkhotbah, ia terlebih dahulu mendirikan biara para biarawati Dominikan di Prouille. Salah satu alasannya adalah untuk mendukung secara rohani misi pewartaannya dan saudara-saudaranya. Sampai hari ini, para suster Dominikan berada di garis terdepan dalam mendukung para imam, frater dan awam. Tentu saja, banyak perempuan murah hati yang selalu mendukung dan mendoakan saya di perjalan panggilan ini. Secara khusus, ibu saya sendiri telah bermurah hati dalam mempersembahkan saya ke Gereja. Tanpa kemurahan hati mereka, saya akan tidak berada di tempat saya sekarang. Memang, tanpa kemurahan hati perempuan, Gereja akan tidak berada di tempat ini sekarang.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

God of Life

 10th Sunday in Ordinary Time. June 5, 2016 [Luke 7:11-17]

“He stepped forward and touched the coffin; at this the bearers halted, and he said, “Young man, I tell you, arise! (Luk 7:14)”

Jesus raises the son of the Widow of NainThe bible seems to contain a lot of death. Almost all the characters in the Bible tasted death. Some were lucky and enjoyed peaceful end, like Abraham, David and Joshua. Yet, a lot more endured tragic one. Abel was murdered by his own brother. Moses passed away just at the doorstep of the Promised Land. James the son of Zebedee was beheaded, and countless unnamed individuals who were victims of wars, diseases and calamities. In today’s Gospel, a young man died presumably due to illness and left his widowed mother alone. The Bible time was bad period to live.

We are living in a better world where life expectation is significantly higher than the time of Jesus. With modern medical technologies and well-trained and professional medical practitioners, we are enjoying the greater possibility to live longer. Had the young man of Nain lived today, he would not have died early. Yet despite all these advancements, death remains a most certain reality. As Benjamin Franklin said, “In this world nothing can be said to be certain, except death and taxes!” This may lead us to think that God is a kind an uncaring God that allows even His people to suffer and receive violent death.

Jesus then came into the rescue and moved by his compassion, He brought the young man to life. To raise people from the death is one of the greatest miracles of Jesus, and this not only recorded in Luke, but in all the four Gospels. This story of young man of Nain resembles the story of the daughter of the synagogue official in Matthew 9 and Mark 5, and the story of Lazarus, the brother of Mary and Martha in John 11. Yet, we understand that the miracle will not last long. The young man would finally die again. Jesus seemed to cheat death and gives false hope to the widow and the crowd who expected the ‘the great prophet’.

Jesus’ miracles are not a quick-fix to many problems we have, but basically pedagogical, meaning they were designed to teach us a core value. Jesus comes into the story precisely to correct the mindset of the people on God. While the sorrowful widow and the lethargic crowd marched toward certain graveyard, a symbol of despair, Jesus stopped them and pointed to a different direction. They cannot find God among the dead, since He is not the god of the dead, but of the living (Mrk 12:27). Undeniably, we are going to die, but live is not about dying, but about living, and living life to the fullest.

    Yes, we die every day because of our sins, failures, and problems. Like the crowd, we march hopelessly toward our graveyard and despair. We are crushed by the weight of the financial issues. We are down by heavy workload. We are depressed by difficulties in the family. We forget to live fully as we focus our attention on death. But, we must not be hopeless, because our God is not the god of death, and His Son comes to bring us to life once again. “I came so that they might have life and have it more abundantly (John 10:10).”

 Together with St. Paul, we shall boldly say, “We are afflicted in every way, but not constrained; perplexed, but not driven to despair; persecuted, but not abandoned; struck down, but not destroyed; always carrying about in the body the dying of Jesus, so that the life of Jesus may also be manifested in our body (2 Cor 4:8-10).”

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Tuhan Kehidupan

Minggu Biasa ke-10. 5 Juni 2016 [Lukas 7: 11-17]

“Yesus berkata, ‘Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah! (Luk 7:14)”

Jesus raises the son of the Widow of Nain 2Tampaknya Alkitab mengandung banyak kematian. Hampir semua tokoh di dalam Alkitab meninggal dunia. Beberapa dari mereka beruntung karena meninggal dalam damai, seperti Abraham, Daud dan Yosua. Namun, kebanyakan mengalami kematian tragis. Abel dibunuh oleh saudaranya sendiri. Musa meninggal sebelum ia bisa masuk Tanah Perjanjian. Yakobus, rasul pertama yang menjadi martir setelah dipenggal. Dan kita tidak lupa sangat banyak individu yang tak bernama menjadi korban perang, penyakit dan bencana alam di Alkitab. Dalam Injil hari ini, seseorang meninggal dalam usia muda dan meninggalkan ibunya yang janda sendirian. Masa ini adalah masa buruk untuk tinggal dan hidup.

Kita bersyukur karena kita hidup di dunia yang lebih baik di mana ekspetasi hidup jauh lebih tinggi daripada zaman Yesus. Dengan teknologi medis modern dan praktisi medis yang terlatih dan handal, kita bisa menikmati kwantitas dan kualitas hidup yang lebih baik. Jika saja pemuda dari Nain hidup hari ini, dia tidak akan mati dalam usia muda. Namun, dengan semua kemajuan yang kita miliki, kematian tetap menjadi realitas yang tidak terhidarkan. Tak salah jika Benjamin Franklin berkata, “Di dunia ini tidak ada hal yang pasti kecuali kematian dan pajak.” Hal-hal ini dapat memdorong kita untuk berpikir bahwa Allah adalah tuhan yang tidak peduli dengan ciptaan-Nya dan mengizinkan kita untuk menderita dan akhirnya kehilangan hidup ini.

Tergerak oleh belas kasihan, Yesus menghidupkan kembali sang pemuda. Membangkitkan orang dari kematian merupakan salah satu mujizat terbesar Yesus, dan ini tidak hanya tercatat dalam Injil Lukas, tetapi dalam keempat Injil. Kisah pemuda dari Nain menyerupai kisah anak perempuan dari kepala rumah ibadat di Matius 9 dan Markus 5, dan kisah Lazarus, saudara Maria dan Marta di Yohanes 11. Namun, kita paham bahwa sang pemuda yang dihidupkan kembali akhirnya akan menemui kematian lagi. Yesus tampaknya sekedar mensiasati kematian dan memberikan harapan palsu kepada sang janda dan orang banyak yang mengharapkan kedatangan ‘nabi besar’.

Kita perlu memahami bahwa mujizat-mujizat Yesus bukanlah solusi instan untuk permasalah kita, tetapi pada dasarnya adalah pedagogis, yang berarti mujizat dirancang untuk mengajari kita nilai-nilai utama. Yesus datang untuk memperbaiki pola pikir bangsa Israel dan kita tentang Tuhan. Saat ibu janda yang berduka dan kerumunan yang lesu berjalan menuju kuburan, yang menjadi simbol keputusasaan, Yesus menghentikan mereka dan menunjuk ke arah yang berbeda. Mereka tidak dapat menemukan Allah di antara orang mati, karena Dia bukan Tuhan orang mati, melainkan orang hidup (Mrk 12:27). Tak dapat disangkal, kita semua akan menghadapi kematian, tetapi hidup bukanlah tentang kematian, tapi tentang hidup, dan bagaimana kita menghidupi hidup sepenuhnya.

Ya, kita mati setiap hari karena dosa-dosa kita, kegagalan, dan permasalahan. Seperti orang-orang yang menyertai sang janda, kita berjalan menuju kuburan keputusasaan. Kita remuk oleh beratnya masalah keuangan. Kita luluh karena beban kerja yang berat. Kita tertekan oleh kesulitan dalam keluarga. Kita lupa untuk hidup secara penuh karena kita memusatkan perhatian kita pada kematian. Tapi, kita tidak boleh putus asa karena Allah kita bukanlah Allah kematian namun kehidupan, dan Putra-Nya datang untuk membawa kita sekali lagi kepada hidup. “Aku datang supaya mereka memiliki hidup dan memiliki lebih berlimpah (Yoh 10:10).”

Bersama dengan St. Paulus, kita akan berani mengatakan, “Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami. (2 Kor 4: 8-10).”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Blood and Life

Solemnity of the Body and Blood of Christ. May 29, 2016. [Luke 9:11-17]

“His cup is the new covenant in my blood. Do this, as often as you drink it, in remembrance of me (1 Cor 11:25).”

chalice n hostOne of my personal ministries is to be a blood donor. If ever someone needs a blood transfusion, I do my best to donate my blood and if possible, visit the ailing person. In biology, we learn that blood is a crucial element of our body that transports nutrition and oxygen to various body parts and also fight the harmful elements inside our body. Thus, losing too much blood will bring us to critical condition even death. No wonder that blood is closely associated with life and I hope that a little blood I share, may save lives.

In time of Jesus, the understanding on blood is not actually far different from our contemporary time. The ancient Jews considered blood as the source of life, if not life itself. Perhaps, they were able to observe that many living things have blood running in their veins and if they were losing so much blood, it means a certain death. Since every living being comes from God, then blood, as the source of life, must be sacred and belong to God (cf. Deu 12:23). Therefore, shading a person’s blood is forbidden (Gen 9:6). Drinking blood of animal is also not allowed (Lev 7:27). But, the sacredness of blood is profoundly manifested at the Jewish rituals.

Blood of an animal is important element of the sacrificial rituals in the Temple of Jerusalem. After the blood is separated from the body, it is poured out around the altar and being burned together with the flesh (cf. Lev 1). The burn sacrifice mainly serves two purposes: as thanksgiving and atonement for sin. Since blood and body are symbols of life and totality of a living creature, the best way to give thanks and atone for one’s mistake is to offer this life totally to God. The Israelites offered their best to God through the mediation of a sacrificial animal.

Unfortunately, blood of animal and even our blood is far from perfect. Thus, perfect thanksgiving and forgiveness is not possible. Yet, we are not hopeless since God provides an answer. He sent His only Son, Jesus Christ, and Jesus offered Himself as the sacrifice of the cross. He is the most pleasing thanksgiving and the perfect atonement for our sins. In his treatise of Corpus Christi, St. Thomas Aquinas wrote, “He offered His body to God the Father on the altar of the cross, as a sacrifice for our reconciliation. He shed His blood for our ransom and purification…” My blood may help saving a person who needs a transfusion, but Jesus’ blood saves the entire creations.

As we drink His blood and eat His body in the Eucharist, our lives are caught in this beautiful offering and sacrifice of Christ. Now, in Christ, our lives are also offerings to God. Every sacrifice we make for God and for the good of others, however small it may be, will be pleasing to God and contribute in the salvation of the world. Our simple prayer may have a great impact for souls in purgatory. Our little contribution in Church may help greatly the parish priest and the poor. Even our daily waking up and works at the office may seem to be monotonous and fruitless, but they may help in building a just society. Our blood, our life is not perfect, but in Christ, it becomes precious. As a psalmist once sang, “From extortion and violence he frees them, for precious is their blood in his sight (Ps 72:14).

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Darah dan Hidup

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. May 29, 2016 [Lukas 9: 11-17]

“Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku! (1 Kor 11:25).”

chalice ihsSalah satu pelayanan pribadi saya adalah menjadi donor darah. Jika ada seseorang yang membutuhkan transfusi darah, saya berusaha untuk donorkan darah saya dan jika mungkin, mengunjungi orang sakit tersebut. Dalam biologi, kita belajar bahwa darah merupakan elemen penting dari tubuh kita yang membawa nutrisi dan oksigen ke berbagai bagian tubuh dan juga melawan elemen-elemen berbahaya di dalam tubuh kita. Dengan demikian, kehilangan terlalu banyak darah akan membawa kita ke kondisi kritis bahkan kematian. Tidak heran jika darah berterkaitan erat dengan kehidupan, dan saya berharap bahwa sedikit darah yang saya donorkan, bisa menyelamatkan orang lain.

Pada zaman Yesus, pemahaman tentang darah sebenarnya tidak jauh berbeda dengan masa kontemporer. Orang-orang Yahudi kuno menganggap darah sebagai sumber kehidupan, bahkan sebagai kehidupan itu sendiri. Mungkin, mereka mampu mengamati bahwa banyak makhluk hidup memiliki darah, dan jika mereka kehilangan begitu banyak darah, itu berarti kematian. Karena setiap makhluk hidup berasal dari Tuhan, maka darah, sebagai sumber kehidupan, tentulah kudus dan menjadi milik Allah (lih. Ul 12:23). Oleh karena itu, menumpahkan darah seseorang adalah terlarang (Kej 9: 6). Meminum darah binatang juga tidak diperbolehkan (Im 7:27). Tapi, kekudusan darah terwujud secara mendalam pada ritual keagamaan bangsa Yahudi.

Darah binatang adalah elemen penting dari ritual pengorbanan di Kuil Yerusalem. Setelah darah dipisahkan dari tubuh, darah dicurahkan di sekitar altar dan dibakar bersama-sama dengan daging (lih. Im 1). Korban bakaran memiliki dua tujuan: sebagai ucapan syukur dan penebusan dosa. Karena darah dan tubuh menjadi simbol kehidupan, cara terbaik untuk bersyukur dan menebus kesalahan adalah dengan mempersembahkan kehidupan ini secara total kepada Allah. Israel mempersembahkan yang terbaik untuk Allah melalui perantaraan hewan kurban.

Sayangnya, darah binatang dan bahkan darah kita jauh dari sempurna. Dengan demikian, syukur dan pengampunan yang sempurna tidak mungkin tercapai. Namun, kita tidak putus asa karena Tuhan memberikan solusi. Dia mengikirim Putra tunggal-Nya, Yesus Kristus, dan Yesus mempersembahkan diri-Nya sebagai kurban di salib. Dia adalah rasa syukur yang paling baik dan penebusan yang sempurna untuk dosa-dosa kita. Di tulisannya tentang Corpus Christi, St. Thomas Aquinas menulis, “Dia mempersembahkan tubuh-Nya kepada Allah Bapa di atas altar salib, sebagai korban untuk rekonsiliasi kita. Ia mencurahkan darah-Nya bagi tebusan dan pemurnian kita …” Darah saya mungkin bisa membantu menyelamatkan orang yang membutuhkan transfusi, tapi hanya darah Yesus yang dapat menyelamatkan seluruh dunia.

Saat kita meminum darah-Nya dan makan tubuh-Nya dalam Ekaristi, hidup kita terjaring dalam persembahan dan pengorbanan Kristus yang indah. Sekarang, di dalam Kristus, hidup kita menjadi persembahan kepada Tuhan. Setiap pengorbanan, besar atau sederhana, yang kita membuat untuk Allah dan untuk kebaikan sesama, akan menyenangkan Tuhan dan berkontribusi dalam keselamatan dunia. Doa sederhana kita mungkin memiliki dampak yang besar bagi jiwa-jiwa di api penyucian. Kontribusi kecil kita di Gereja dapat sangat membantu pastor paroki dan papa miskin. Bahkan usaha kita untuk bangun dan bekerja di kantor setiap harinya mungkin terasa monoton dan sia-sia, tetapi ini dapat membantu dalam membangun masyarakat yang adil. Darah kita, hidup kita tidaklah sempurna, tapi dalam Kristus, menjadi berharga. Sebagai pemazmur bernyanyi, “Ia akan menebus nyawa mereka dari penindasan dan kekerasan, darah mereka berharga di matanya (Mzm 72:14).”

 Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Mystery of the Trinity, the Mystery of Love

The Solemnity of the Most Holy Trinity. May 22, 2016 [John 16:12-15]

 “But when he comes, the Spirit of truth, he will guide you to all truth (Jn 16:13).”

Holy Trinity 2The mystery of the Holy Trinity is the most foundational yet the most difficult teaching of the Catholic Church. The greatest minds in the Church, like St. Augustine of Hippo, St. Thomas Aquinas and Karl Rahner have attempted to fathom the mystery, but their explanations hit a giant wall. One day, when St. Augustine was strolling along the beach, meditating the mystery of the Holy Trinity, the holy bishop saw a young boy digging a hole on the sand. He came close and noticed that the boy was trying to move the sea water inside that small hole. St. Augustine then told the lad that what he did was futile. Then, suddenly the little boy replied, ‘It is the same thing, when you try to put the Trinity inside your small head.’

Yet, we must not be in despair. To get nearer to the Holy Trinity, we will see that the mystery of the Holy Trinity as the mystery of Love. The word mystery means something that we cannot fully comprehend, yet we know that the reality is so true and undeniable. Love is a mystery precisely because at times, we cannot really understand it, but we are sure that it is real and undeniable. As parents, we love our children, we take care of them, and want the best things for them, yet we do not understand why they do not appreciate us, and often become tough to love. A young man who falls in love with his girlfriend, often finds hard time to please his girl, but he knows that his love is true. Even, for a couple who have been in marriage for decades, sometimes, they still face a bumpy road and fail to understand each other, yet again, they never doubt their love for each other.

The Trinity is love. Bishop Robert Baron of Los Angeles, explains that true love always involves the lover who loves, the beloved who receives the love, and the love itself that binds the lover and the beloved. In love, there is beautiful dynamic of the three loves. Love is one, yet it is three. The Father loves the Son totally, and the Son loves the Father radically, and the love that unites the Father and the Son is the Holy Spirit. No wonder, St. John would call God is love (1 John 4:6). Again, the real love is not about theory, but a life-transformation. We can discuss about Trinity for hours, yet it is useless if we fail to help a famish beggar who is in dire need of food. St. Thomas Aquinas has written very well of God. His treatise on Trinity remains foundational for theology students seek to understand better the mystery. Yet, at the end of his life, the Lord on the cross appeared to Thomas and asked what he would wish as a reward. Blessed Thomas humbly replied, “Nothing but You, Lord.” For Thomas, all what he wrote was just like a straw compare to the Love he personally encountered.

Indeed, the most Holy Trinity is a utmost mystery that cannot be fully understood by our little and limited minds, but every time we care for others, help our friends, forgive our enemies and love truly, the Trinity lives and manifests in us.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Misteri Trinitas, Misteri Kasih

Hari Raya Tritunggal Mahakudus. 22 Mei 2016 [Yohanes 16:12-15]

“Roh itu datang, yaitu Dia yang menyatakan kebenaran tentang Allah, kalian akan dibimbing-Nya untuk mengenal seluruh kebenaran. (Yoh 16:13).”

Holy Trinity 1Misteri Tritunggal Mahakudus adalah ajaran yang paling mendasar tetapi juga yang paling sulit untuk dimengerti. Pemikir-pemikir besar Gereja, seperti Santo Agustinus dari Hippo, St. Thomas Aquinas dan Karl Rahner telah berusaha untuk memahami misteri ini, tetapi penjelasan mereka menabrak dinding raksasa. Suatu hari, ketika St. Agustinus sedang berjalan di sepanjang pantai, bermeditasi tentang misteri Tritunggal Mahakudus, uskup yang kudus ini melihat seorang anak kecil menggali lubang di pasir. Dia datang mendekat dan melihat bahwa anak itu mencoba untuk memindahkan air laut ke dalam lubang kecil. St Agustinus kemudian mengatakan kepada anak itu bahwa apa yang ia lakukan adalah sia-sia. Tiba-tiba anak kecil itu menjawab, ‘Sama halnya dengan apa yang kamu lakukan, ketika kamu mencoba mengerti Tritunggal di dalam kepalamu yang kecil.’

Namun, kita tidak boleh putus asa. Untuk mendapatkan gambaran yang sedikit lebih jelas tentang Tritunggal, kita mencoba melihat bahwa misteri Tritunggal sebagai misteri Kasih. Kata ‘Misteri’ berarti sesuatu yang kita tidak dapat sepenuhnya pahami, namun kita tahu bahwa kenyataan ini begitu benar dan tak terbantahkan. Kasih adalah misteri karena seringkali kita tidak bisa benar-benar memahami kasih, tapi kita yakin bahwa kasih itu nyata dan tak terbantahkan. Sebagai orang tua, kita mengasihi anak-anak kita, kita merawat mereka, dan menginginkan hal-hal yang terbaik bagi mereka, namun seringkali kita tidak mengerti mengapa mereka tidak menghargai kita, dan sering menjadi sulit untuk dikasihi. Seorang pemuda yang jatuh cinta dengan seorang gadis, seringkali kesulitan untuk mendapatkan hatinya, tapi dia tahu bahwa kasih dan cintanya bagi sang gadis itu benar adanya. Bahkan, bagi pasangan yang telah menikah selama puluhan tahun, kadang-kadang, mereka masih menghadapi jalan berbatu dan gagal untuk memahami satu sama lain, tetapi lagi-lagi, mereka tidak pernah meragukan kasih mereka satu sama lain.

Trinitas adalah kasih. Uskup Robert Baron dari Los Angeles, menjelaskan bahwa kasih sejati selalu melibatkan yang mengasihi, yang menerima kasih, dan kasih itu sendiri yang menyatukan mereka berdua. Di dalam kasih, ada dinamis yang indah dari tiga kasih. Kasih adalah salah satu, namun juga adalah tiga. Di dalam Trinitas, Allah Bapa mengasihi Allah Putra dengan total, dan Allah Putra mengasihi Allah Bapa secara radikal, dan kasih yang menyatukan Allah Bapa dan Putra adalah Allah Roh Kudus. Tidak heran, St. Yohanes menulis bahwa Allah adalah kasih (1 Yoh 4:6). Kasih sejati bukan tentang teori, tapi transformasi kehidupan. Kita bisa membahas tentang Tritunggal selama berjam-jam, namun percuma jika kita gagal untuk membantu pengemis menderita kelaparan yang sangat membutuhkan makanan. St. Thomas Aquinas telah menulis tentang Allah dengan sangat baik. Tulisannya tentang Tritunggal tetap menjadi pedoman bagi siswa teologi yang berusaha untuk memahami lebih baik misteri ini. Pada akhir hidupnya, Tuhan di kayu salib menampakkan diri kepada Thomas dan bertanya apa yang ia harapkan sebagai imbalan atas kerja kerasnya. St. Thomas dengan rendah hati menjawab, ‘Hanya Engkau Tuhan, hanya Engkau.’ Bagi Thomas, semua apa yang ia tulis seperti jerami dibandingkan dengan Kasih ia secara pribadi temui.

Sungguh, Tritunggal Mahakudus adalah misteri yang tidak terselami, tetapi setiap kali kita peduli terhadap sesama, membantu teman-teman kita, mengampuni musuh-musuh kita dan mengasihi secara total, Trinitas menjadi nyata dan menampakan diri dalam diri kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP