Belas Kasih: Sebuah Kesempatan Kedua

Minggu Pra-Paskah ketiga. Lukas 13:1-9 [28 Februari 2016]

“Mungkin tahun depan ia berbuah (Luk 13:9)”

jesus n fig tree 2Inti dari perumpamaan tentang Pengurus kebun yang baik adalah kerahiman Allah. Tidak hanya Allah penuh dengan belas kasih, tetapi Dia adalah belas kasih itu sendiri. Paus Fransiskus dengan tepat menulis bahwa Nama Allah adalah Belas Kasih. Karena Ia adalah Sang Belas Kasih, tindakan pertama-Nya terhadap kita manusia adalah berbelas kasih. Walaupun kita seperti pohon ara yang tak membuahkan hasil dan tidak berguna, tetapi Allah memberi kita kesempatan kedua. Dan tidak hanya kesempatan baru, Yesus, sang pengurus kebun kita yang suci, bahkan memberikan upaya maksimal-Nya untuk merawat kita, memastikan bahwa anugerah Allah terus-menerus tercurahkan kepada kita.

Dalam pembelajaran saya tentang belas kasih, saya menemukan sebuah cerita tentang seorang prajurit Perancis muda yang melarikan diri dari tugasnya sebagai pasukan Napoleon, tapi ia segera tertangkap. Dia diadili di mahkamah militer, dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman mati. Mendengar hal ini, sang ibu memohon Napoleon untuk menyelamatkan nyawa anaknya. Napoleon mengatakan bahwa kejahatan yang dilakukan sang anak sungguh melampaui batas; keadilan menuntut hidupnya. Sang ibu menangis dan memohon belas kasihan. Napoleon menjawab bahwa anaknya tidak pantas mendapat belas kasihan. Dan sang ibu pun berkata, “Aku tahu bahwa ia tidak layak mendapat belas kasihan, tetapi jika ia layak mendapatkannya, ini bukanlah belas kasihan.”

Kerahiman Allah mengalir dari kasih-Nya. Namun, karena Allah begitu mengasihi kita, Dia juga memungkinkan kita tumbuh dalam kebebasan. Tuhan memberi kita kesempatan kedua, tapi terserah kita untuk meraih kesempatan ini atau menyia-nyiakannya. St. Agustinus pun pernah berkata, “Allah menciptakan kita tanpa kita, tetapi Dia tidak menyelamatkan kita tanpa kita.” Dengan demikian, musuh terbesar dari belas kasihan adalah hilangnya harapan akan belas kasih Allah. Kita berasumsi bahwa kita tidak lagi tidak lagi mampu berubah. Kita menolak kesempatan kedua dari Allah karena kita melihatnya sebagai sama sekali tidak berguna. Sungguh, untuk menabur benih keputusasaan adalah pekerjaan sang Jahat. Penulis, pengacara, ekonom, dan aktor Ben Stein mengatakan, “Jiwa manusia tidak pernah selesai ketika dikalahkan. Ia selesai ketika menyerah.” Kegagalan dan kelemahan kita mengkondisikan kita untuk percaya bahwa kita tidak berharga, dan saat kita meragukan belas kasihan Allah, sang jahat telah menang atas kita.

Inggris bisa saja kalah dari Jerman dalam Perang Dunia II, jika bukan karena Winston Churchill. Dia adalah perdana menteri Inggris selama masa tergelap Perang Dunia II. Dia pernah ditanya oleh seorang wartawan tentang senjata terbesar negaranya melawan rezim Nazi Hitler yang membombardir Inggris siang dan malam. Dengan lugas, ia berkata, “Senjata terbesar Inggris adalah selalu harapan.” Sungguh harapan adalah senjata terbesar kita melawan sang jahat.

Paus Fransiskus, melalui inisiatifnya menyatakan tahun ini sebagai Tahun Yubileum Kerahiman Ilahi, dan beliau membuka pintu-pintu kerahiman di berbagai penjuru dunia sehingga setiap orang dapat merasakan kasih dan kemurahan hati Allah. Namun, kita tidak akan pernah menerima anugerah ini, kecuali kita memutuskan melewati ambang pintu ini. Kita perlu percaya bahwa rahmat-Nya mengalahkan segalanya keterbatasan kita, dan Kasih-Nya menghapus banyak dosa. Ketika Paus Fransiskus mengunjungi AS pada bulan September 2015, ia bertemu dengan para tahanan di sana dan ia mengingatkan mereka untuk tidak kehilangan harapan akan belas kasih Allah, “Marilah kita melihat ke Yesus, yang mencuci kaki kita. Dia adalah ‘jalan, dan kebenaran, dan hidup.’ Dia datang untuk menyelamatkan kita dari kebohongan yang mengatakan bahwa kita tidak bisa beruhah. Dia membantu kita di dalam perjalanan sepanjang jalan kehidupan dan kepenuhan. Semoga kekuatan kasih dan kebangkitan-Nya selalu menjadi jalan yang kamu mencapai kehidupan baru.”

 

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Turun Gunung

Minggu Prapaskah Kedua. 21 Februari 2016 [Lukas 9: 28-36]

“Yesus membawa Petrus, Yohanes dan Yakobus, lalu naik ke atas gunung untuk berdoa. (Luk 9:28).”

 

transfigurationBagi St. Lukas, Yesus adalah seorang doa. Lukas menulis dalam Injilnya bahwa Yesus berdoa sebelum menghadapi peristiwa-peristiwa penting di dalam hidup dan misi-Nya. Yesus berdoa sepanjang malam sebelum ia memilih murid-murid-Nya (Luk 6:12). Salah satu alasan mengapa Yesus membersihkan Bait Allah Yerusalem dari berbagai malapraktik adalah bahwa Dia sangat menyadari fungsi utama dari Bait Allah ini: Rumah Doa (Luk 19:46). Dia mengingatkan para murid-Nya untuk berdoa terutama saat menghadapi cobaan dan penderitaan (Luk 21:36). Sebelum Ia menghadapi sengsara dan wafat-Nya, Dia berdoa di taman (Luk 22:44). Akhirnya, saat Ia berada di kayu salib, Dia menyimpan nafas terakhirnya bahkan untuk berdoa bagi mereka yang telah menyalibkan-Nya (Luk 23:34).

Peristiwa penting lainnya dimana Yesus menghabiskan waktu dalam doa adalah Transfigurasi. Dua penginjil, Matius dan Lukas, menulis kisah Transfigurasi dalam Injil mereka, tapi hanya itu Lukas yang mengatakan tujuan mengapa Yesus dan ketiga murid-Nya naik ke Gunung. Yakni untuk berdoa. Bagi Lukas, Transfigurasi adalah sebuah momen doa. Sungguh, merenungkan Injil hari ini dalam konteks doa akan membawa kita pada pemahaman yang lebih dalam tentang hubungan kita dengan Tuhan.

Pertama, Yesus mengajak para murid untuk mendaki Gunung dan berdoa. Hasrat kita untuk bertemu dengan-Nya dan berdoa sebenarnya adalah inisiatif Allah. Jika kita mampu berdoa, itu karena Tuhan memanggil kita dan memungkinkan kita untuk berkomunikasi dengan-Nya. Liturgi Brevir selalu dimulai dengan ayat “Ya Allah, bersegeralah membuka mulutku (Mzm 51:15).” Ini adalah keyakinan bahwa tanpa rahmat dan bantuan-Nya, kita tidak dapat berdoa. Kita, umat Katolik, membuka doa kita dengan tanda salib dan menyebutkan, “Dalam nama Bapa, dan Putra dan Roh Kudus.” Hal ini lahir dari keyakinan bahwa terpisah dari Allah Tritunggal, kata-kata manusiawi kita akan sia-sia di dalam doa. St. Paulus menyatakan hal ini dengan sangat baik ketika ia menulis kepada jemaat di Roma, “Roh Allah datang menolong kita kalau kita lemah. Sebab kita tidak tahu bagaimana seharusnya kita berdoa; Roh itu sendiri menghadap Allah untuk memohonkan bagi kita dengan kerinduan yang sangat dalam sehingga tidak dapat diucapkan. (Rom 8:26).”

Kedua, Transfigurasi mengajarkan kita bahwa kadang, doa-doa kita memberikan kenikmatan dan kepuasan, tapi ini bukan yang paling penting. Kita seperti tiga murid yang sangat takjub di hadapan Yesus yang berubah wujud. Ini adalah saat ketika kita merasakan kedamaian di hadapan Sakramen Mahakudus. Kita menikmati doa Rosario. Kita terinspirasi oleh homili dan merasa diperkuat oleh Komuni Kudus dalam Ekaristi. Kadang, saya menghadiri worship service sarat dengan lagu-lagu pujian dan khotbah menggebu-gebu. Sesungguhnya, hal ini memberi perasaan sangat gembira dan membebaskan apalagi bagi mereka yang memiliki banyak permasalahan dalam hidup.

Tentunya, seperti para murid, kita ingin menikmati kegembiraan dalam doa ini lebih lama lagi dan membangun ‘kemah’. Namun, Tuhan tidak ingin kita tinggal lama di sana. Dia meminta para murid untuk turun dan menghadapi dunia. Jika kita memilih tinggal dan menolak untuk turun, doa-doa kita tidak lagi tulus. Mereka menjadi candu yang membantu kita melarikan diri dari realitas hidup. Jika ini terjadi, perkataan Karl Marx bahwa ‘Agama adalah opium bagi masyarakat’ sungguh menjadi kenyataan.

St. Paus Yohanes Paulus II mengingatkan kita bahwa Transfigurasi akan bawa akhirnya Yesus dan murid-muridnya pada sengsara dan wafat-Nya di Yerusalem. Doa sungguhnya harus memberdayakan kita untuk menghadapi hidup dengan keberanian dan kerendahan hati, dan tidak memberi kita tempat untuk melarikan diri dari kehidupan. Ekaristi, sebagai puncak dari semua ibadah Kristiani, tidak berakhir dengan mengatakan “Tetap tinggal dan jangan pulang!” Ungkapan terakhir dalam Misa selalu dalam semangat misionaris, seperti “Pergilah, kita diutus!”. Kita diutus untuk berbagi buah dari doa-doa kita kepada sesama. Jika kita benar-benar menemukan Kristus dalam doa kita, bersama dengan Kristus, kita akan turun Gunung dan berjalan menghadapi Yerusalem kita.

 Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Sabda Allah di Padang Gurun

Minggu pertama Prapaskah. 14 Februari 2016 [Lukas 4:1-13]

“Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, kembali dari sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun (Luk 4:1).”

jesus temptation 2Injil hari ini menulis tentang Roh Kudus yang membawa Yesus ke padang gurun. Ya, Roh Kudus akan membawa kita ke padang gurun juga! Gurun bisa diartikan sebagai kekeringan dan kekosongan dalam hidup dan jiwa kita. Seorang frater tiba-tiba masuk ke pengalaman gurun dan ia merasa kehilangan makna dan semangat di dalam panggilannya. Seorang ibu mulai mengalami kelelahan dalam mengemban misi yang sulit untuk membesarkan anak-anak nya. Melalui tulisan-tulisannya, terungkap bahwa bahkan orang kudus seperti Bunda Teresa dari Kalkuta pun harus melalui ‘Allah yang diam’ ketika dia tidak merasakan kehadiran Allah selama hampir 10 tahun dalam hidupnya.

Injil mengingatkan kita juga bahwa di padang gurun, Yesus dicobai oleh iblis. Berjalan melalui pengalaman padang gurun, iblis tahu benar bahwa pertahanan kita berada pada titik terendah dan pasti dia akan mengambil kesempatan untuk membuat kita jatuh dari komitmen kita. Sang frater mulai melihat bahwa hidup di luar lebih menarik dan solusi untuk kekosongan hidupnya. Lalu, tidak hanya kehampaan, sang frater juga menghadapi krisis. Lelah menghabiskan waktu dengan anak-anaknya sang ibu mulai berpikir untuk mengalihkan fokusnya pada sesuatu yang lain seperti karir, hobi, atau teman-temannya. Iblis adalah makhluk yang sangat cerdas. Dia akan memanipulasi keinginan dan kerinduaan yang paling mendasar kita. Dia menawarkan kita kompromi-kompromi kecil yang akhirnya menghancurkan komitmen kita. Sang frater yang mulai tidak menghadiri doa dengan komunitas, seorang siswa menjadi malas belajar, dan seorang suami mulai menghabiskan lebih banyak waktu di luar rumah dan keluarganya sendiri.

Lalu bagaimana kita menghadapi situasi ini? Yesus memberikan jawabannya: Sabda Tuhan. Di gurun, Yesus berpegang teguh kepada Sabda Bapa-Nya, dan menolak godaan. Di tengah kekeringan hidup dan berbagai tantangan, kita hendaknya kita berpegang pada Sabda Tuhan. Tak diragukan lagi, kita dapat membaca Alkitab dan melakukan Bible Study secara mandiri. Dengan membaca dan merenungkan refleksi ini dan refleksi-refleksi lainnya adalah undangan untuk masuk lebih dalam ke dalam Sabda Allah. Atau, doa rosario adalah salah satu cara yang efektif untuk merenungkan kehidupan Yesus dan menolak godaan Setan. Tapi, satu-satunya tempat dimana Sabda Tuhan berada dalam bentuk yang paling kuat dan unik adalah di Ekaristi. Dalam Ekaristi, Sabda Allah dibagikan kepada kita melalui pembacaan Alkitab dan diperdalam melalui homili. Dan, yang paling penting, Sabda Allah akhirnya menjadi ‘daging’ di Ekaristi dan kita menyantap-Nya dalam Komuni Kudus.

Ketika iblis mengoda Yesus yang lapar untuk mengubah batu menjadi roti, Yesus menolak karena Ia tahu manusia hanya hidup karena roti yang nyata, Sabda yang menjadi daging, Ekaristi. Ketika si jahat berusaha untuk memikat Anak Allah menunjukkan kuasa-Nya di Bait Allah di Yerusalem, Yesus menolak dengan menunjukkan kepadanya bahwa Bait Allah sesungguhnya adalah Bait Sabda, dan bukan tempat pertunjukan. Ketika pangeran kegelapan meminta Yesus untuk menyembah Dia dan menawarkan semua kemuliaan dan kekayaan dunia, Yesus menghadapinya dengan kebenaran bahwa hanya Tuhan dan Sabda-Nya dalam Ekaristi layak mendapat semua sembah sujud kita.

Roh Kudus memang akan membawa kita ke padang gurun, mengalami kekeringan, lapar dan digoda oleh iblis, tetapi semua ini tidak untuk menghancurkan kita, tetapi memungkinkan kita untuk menemukan siapa kita sesungguhnya, yakni manusia yang berpedoman pada Sabda Tuhan, dalam Ekaristi.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Panggilan dan Pewartaan

 

Minggu ke-5 dalam Masa Biasa. 7 Februari 2016 [Lukas 5:1-11]

 

calling of peter“Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahunya Simon (Luk 5:3).”

 

Setiap orang memiliki kisah panggilannya sendiri. Entah itu seorang imam, biarawan atau orang awam, kita memiliki momen-momen yang membuka mata kita akan tujuan hidup kita sesaui kehendak Allah. Seorang imam Dominikan dari Filipina menceritakan bahwa panggilannya di Ordo Pengkhotbah dimulai gara-gara mantan pacarnya mengajaknya untuk berdoa di Gereja Santo Domingo, Quezon City. Ketika mereka ada di sana, ia melihat kelompok para frater Dominikan memasuki Gereja untuk berdoa. Ia terkagum-kagum dengan penampilan mereka dan ia mulai jatuh cinta dengan jubah Dominikan. Akhirnya iapun memilih masuk dan menjadi imam. Bagi para awam, kisah panggilan mungkin tidak selalu dramatis, tetapi ada titik-titik penting yang membawa kita untuk melayani Tuhan dengan penuh semangat dalam keluarga, tempat kerja atau Gereja.

Injil hari ini menceritakan kisah panggilan Simon Petrus. Kisah ini muncul di keempat Injil dan hal ini menunjukan bahwa betapa pentingnya Simon Petrus di antara para rasul. Lukas memberi kita latar belakang yang sedikit berbeda dari penginjil lainnya. Dia tidak memulai kisahnya dengan Petrus yang sibuk bekerja sebagai nelayan, tetapi dengan Yesus yang berkhotbah dan mengajar. Simon tentunya terinspirasi oleh khotbah Yesus, dan hal ini menjelaskan mengapa Simon siap sedia ketika Yesus memintanya untuk bertolak ke tempat yang dalam, meskipun faktanya bahwa Petrus adalah seorang nelayan berpengalaman dan Yesus adalah anak seorang tukang kayu. Seperti kisah Petrus, semua kisah panggilan berakar di dalam pewartaan Firman Allah.

Setiap kali saya berbicara kepada Dominikan awam, saya selalu menjelaskan bahwa pewartaan pertama mereka harus terjadi di dalam keluarga. Sebelum kita memiliki program pelayanan bagi masyarakat miskin atau kunjungan ke penjara, keluarga harus menjadi misi pertama kita. Untuk mengajar dan membesarkan anak kita menjadi seorang Kristiani yang baik tentunya sulit luar biasa, tetapi jika para orang tua menolak untuk melakukannya ini, siapa lagi yang akan melakukannya? Bahkan, panggilan imamat dan biarawan dapat sangat berkurang jika evangelisasi dalam keluarga gagal. Panggilan dan iman saya tumbuh dan berkembang di dalam keluarga. Saya selalu ingat bagaimana ibu saya mengajarkan saya berdoa rosario, dan ayah saya membawa kami ke Gereja setiap hari Minggu sebagai keluarga. Mereka mendidik saya juga dengan teladan mereka sebagaimana mereka menunjukkan nilai-nilai kesetiaan, pengorbanan dan kasih. Saya mengasihi Tuhan dan Gereja, karena saya melihat bagaimana orang tua saya juga mengasihi Tuhan dan Gereja.

Ketika St. Dominikus mendirikan Ordo Pengkhotbah, kongregasi pertama dalam Gereja Katolik, yang memiliki orientasi aktif dalam evangelisasi, dia tidak menghapuskan kehidupan berkomunitas. Sebaliknya, ia menjadikan hal ini sebagai unsur penting dari kehidupan Dominikan karena sebelum kita pergi keluar, komunitas kita adalah misi pewartaan pertama kita. Sebuah pewartaan yang baik di komunitas pasti menjaga dan memelihara panggilan para anggotanya. Jujur, saya sangat sedih ketika saya mendengar bahwa frater atau suster meninggalkan biara karena mereka tidak lagi merasakan kebahagiaan dalam komunitas mereka. Atau, anak-anak memiliki prilaku bermasalah karena orang tua mereka tidak memberi teladan yang baik. Ini adalah tanda kegagalan kita sebagai pewarta.

Yesus mengingatkan bahwa panggilan kita berakar, terpelihara dan berkembang di dalam pewartaan Injil. Kita memiliki pemanggilan yang berbeda dengan kisah-kisah yang unik, tetapi sebagai Romo Timothy Radcliffe, OP pernah katakan, kita mungkin masuk ke Ordo (atau panggilan sebagai awam) untuk alasan yang tidak tepat, tapi kita harus tinggal karena alasan yang tepat. Kita percaya bahwa salah satu yang alasan yang tepat adalah pewartaan Kabar Baik di antara kita.

 

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Ekses

Minggu Adven Ketiga. 13 Desember 2015. [Lukas 3: 10-18]

“Jangan mengambil lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu.” (Luk 3:13)

Kita sering berpikir bahwa dengan memiliki lebih banyak adalah jalan pasti menuju kebahagiaan dan kesuksesan. Itu sebabnya kita bekerja keras untuk mendapatkan uang dan membeli banyak hal, seperti pakaian modis, gadget tercanggih, mobil terbaru, dan banyak lagi. Semakin kita miliki, semakin besar kepuasaan yang kita rasakan. Kekayaan adalah kebahagiaan. Tidak heran jika banyak buku tentang formula rahasia kesuksesan dan kekayaan menjamur dan laris manis. Kita juga menghabiskan banyak uang untuk mengundang pembicara tenar atau mendaftar di program sukses dengan coach yang hebat. Bahkan, pengkhotbah dari berbagai kelompok agama menyatakan kekayaan sebagai berkat dan mereka tampak sangat menarik untuk didengarkan.

Namun, Injil, melalui Yohanes Pembaptis, menawarkan kita perubahan perspektif radikal. Yohanes mengatakan kepada orang-orang Israel untuk hidup sederhana, menghindari ekses dan berbagi surplus mereka. Kekayaan bukanlah kebahagiaan. Namun, jauh di dalam lubuk hati, kita tidak menyukai ide ini. Hal ini berlawanan dengan intuisi, budaya zaman ini dan seolah-olah kita berenang melawan arus kebijaksanaan kontemporer. Kita ingin bekerja lebih keras, kita ingin mendapatkan lebih, dan kita puas ketika memiliki uang dan hal-hal yang kita inginkan. Kadang-kadang, para imam dan para religius pun tidak kebal terhadap godaan ini. Kita bekerja begitu keras, melakukan banyak pelayanan dan membangun banyak gedung baru untuk kerasulan kita. Tanpa menyadari, kita terjebak dalam godaan untuk mencari kekayaan pribadi.

Namun, walaupun Yohanes menyatakan sesuatu yang kita tidak sukai, sebenarnya ia tetap memberitakan sebuah Kabar Baik. Apa yang baik saat kita tidak memiliki ekses? Ketika Michelangelo ditanya oleh Paus, “Apakah rahasia kamu? Katakan padaku bagaimana kamu bisa membuat patung David yang luar biasa indah!” Dia menjawab, “Hal ini sederhana. Saya hanya menanggalkan apa saja yang bukan Daud.” Kita tidak akan menjadi setengah manusia ketika kita berhenti memiliki ekses, seperti karya dan kerjaan yang berlebihan, masalah yang tidak perlu, relasi yang terlalu ruwet, semua hal-hal yang tidak penting. Bahkan, hal ini membuka kemungkinan baru dan inovatif dalam hidup, dan kesempatan yang tak terduga untuk menemukan diri kita yang sebenarnya. Mari kita jujur. Kita sebenarnya tidak benar-benar yakin dan tahu apa kunci keberhasilan dan kebahagiaan itu. Jika kita sungguh tahu, kita sudah sekaya Bill Gates atau sekuat Barack Obama sejak lama. Jika memiliki ekses dalam hidup kita tidak berarti kebahagiaan, mengapa kita tidak menanggalkan hal-hal tidak penting dalam hidup kita?

Yohanes memfokuskan dirinya pada yang esensial. Ketika ia ditanya apakah ia adalah Mesias, ia dengan tegas mengatakan tidak, meskipun itu adalah kesempatan besar. Orang Israel akan memuja dan memuliakan dia, tapi Yohanes tetap tegas untuk keputusannya. Karena penolakannya terhadap godaan itu, ia membuka kemungkinan kreatif lain bagi dirinya, dan dia bias menjadi orang terbaik dari mempelai pria dan suara di padang gurun. Dia kemudian secara efektif membawa kita kepada Yesus.

Masa Advent adalah waktu yang tepat untuk bertanya kepada diri sendiri, “Saya bekerja begitu keras, tapi apakah yang saya lakukan adalah hal yang benar? Saya memiliki banyak hal di tangan saya, tetapi apakah ini benar-benar penting?” St. Thomas Aquinas berpendapat bahwa Allah sesungguhnya begitu sederhana, dan karena kesederhanaan-Nya, Dia benar-benar indah dan mulia. Kita diciptakan menurut citra Allah, dan hanya akan kembali ke kesederhanaan Allah ini, kita akan menemukan siapa kita sejatinya. Seperti Michelangelo yang menanggalkan semua hal yang bukan Daud, kita perlu melepaskan juga hal-hal yang bukan kita.

 

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kerendahan hati: Tidak Mudah!

Kedua Minggu Adven [6 Desember 2015]

Lukas 3:1-6

 

“Ada suara yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya (Luk 3: 4).”

Kita ingin sukses, menjadi nomor satu, dan menjadi pemenang. Tentunya, hanya menjadi nomor dua setelah usaha habis-habisan menjadi number satu adalah menyakitkan. Injil hari ini menegaskan kecenderungan dominan alami ini. Lukas memulai Injilnya dengan menyebutkan ‘alpha males’ pada zaman itu: Kaisar Tiberius di Roma, Pontius Pilatus di Yudea, Herodes di Galilea, dan Hanas dan Kayafas, imam besar di Yerusalem. Mereka adalah standar dan perwujudan dari keberhasilan. Mungkin, mereka adalah Barack Obama, Steve Jobs dan Mark Zuckerberg di zaman kita. Ada yang memuja, ada yang membenci dan yang lain takut kepada mereka, namun mereka tetap menjadi sumbu di mana orang-orang berotasi.

Namun, bagian kedua dari Injil mengambarkan sosok yang berbeda. Namanya adalah Yohanes Pembaptis. Tidak diragukan lagi dia adalah seseorang yang berintegritas dan berani. Dia tak kenal takut dan berkhotbah dengan berapi-api. Dia adalah bintang baru, dan orang-orang mengikuti dan mengaguminya. Namun, ia menerima misi ilahi khusus bahwa ia mempersiapkan jalan bagi seseorang yang lebih besar daripadanya. Ia bukanlah Mesias.

Dia mungkin mempertanyakan Allah, “Mengapa saya tidak bisa menjadi nomor satu? Saya memiliki kemampuan, prilaku dan karakter yang kuat. Orang-orang datang kepada saya, mereka mencintai saya dan siap untuk memberikan hidup mereka untuk tujuan saya. Tapi, mengapa Tuhan hanya ingin saya menjadi orang nomer dua setelah Kristus? Aku seharus menjadi Mesiah!” Konflik batinnya pun semakin bertambah setelah beberapa orang Israel membujuk dia untuk menjadi Mesias. Namun, pergulatan tersebarnya adalah ketika Dia menyadari bahwa Yesus, sepupunya dari Galilea, adalah Mesias. “Hai, saya lebih baik dari sepupu kecil saya ini. Saya Yahudi tulen, anak Zakaria, imam terhormat, sementara ia adalah seorang Galilea, anak Yusuf, seorang tukang kayu miskin. Saya berkhotbah dengan berani sementara Dia adalah sang pendongeng perumpamaan. Saya berpuasa dan terus berjaga sementara Dia sibuk menghadiri pesta. Dan ingat, saya adalah orang yang membaptis-Nya! “

Namun, meskipun ketegangan dan pergulatan yang luar biasa, Yohanes tidak pernah jatuh ke dalam godaan besar ini. Bahkan, ia secara terbuka menyatakan, “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil. (Yoh 3:30)” Yohanes menjadi perwujudan dari kerendahan hati yang sejati. Seorang bijak pernah berkata bahwa kerendahan hati dihadapan otoritas adalah kewajiban, kerendahan hati dihadapan rekan yang setara adalah sopan santun, tapi kerendahan hati dihadapan orang-orang yang kita tahu bahwa kita jauh lebih baik, adalah kekudusan. Yohanes bergulat dengan dirinya sendiri untuk mengikuti kehendak Allah yang sangat bertentangan dengan naluri kepemimpinannya, namun tanpa konflik batin ini, kerendahan hatinya tidak akan teruji dan hanya menjadi sekedar basa-basi. Karena kerendahan hati yang sejati ini, Yohanes pun akan selalu dikenang sepanjang generasi sebagai nabi terbesar.

Ada kalanya kita sangat ingin sesuatu yang baik terjadi pada hidup kita, tetapi kita tahu bahwa ini bukan kehendak Allah. Sebagai seorang frater, saya bergulat untuk tetap setia karena hidup di dalam biara banyak tuntutan dan tidak mudah, dan juga godaan bahwa saya dapat memiliki kehidupan yang lebih baik dan mudah di luar sana. Seorang istri yang berjuang mempertahankan pernikahannya dan menolak untuk meninggalkan suami yang sakit, dan hidup dengan seorang pria yang lebih tampan dan lebih kaya, adalah seorang Yohanes di zaman ini. Seorang pria yang mengorbankan tawaran akan pekerjaan impiannya karena dia perlu menghabiskan lebih banyak waktu dengan anak-anaknya dan mendidik mereka untuk menjadi orang Katolik sejati, adalah Yohanes. Tidak salah jika Yohanes Pembaptis terpilih menjadi karakter utama pada masa Adven ini karena ia mengajarkan kita satu nilai berharga bahwa kerendahan hati yang sejati adalah mengikuti kehendak Allah dan ini adalah pekerjaan yang tidak mudah.

 

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP