Panggilan dan Pewartaan

 

Minggu ke-5 dalam Masa Biasa. 7 Februari 2016 [Lukas 5:1-11]

 

calling of peter“Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahunya Simon (Luk 5:3).”

 

Setiap orang memiliki kisah panggilannya sendiri. Entah itu seorang imam, biarawan atau orang awam, kita memiliki momen-momen yang membuka mata kita akan tujuan hidup kita sesaui kehendak Allah. Seorang imam Dominikan dari Filipina menceritakan bahwa panggilannya di Ordo Pengkhotbah dimulai gara-gara mantan pacarnya mengajaknya untuk berdoa di Gereja Santo Domingo, Quezon City. Ketika mereka ada di sana, ia melihat kelompok para frater Dominikan memasuki Gereja untuk berdoa. Ia terkagum-kagum dengan penampilan mereka dan ia mulai jatuh cinta dengan jubah Dominikan. Akhirnya iapun memilih masuk dan menjadi imam. Bagi para awam, kisah panggilan mungkin tidak selalu dramatis, tetapi ada titik-titik penting yang membawa kita untuk melayani Tuhan dengan penuh semangat dalam keluarga, tempat kerja atau Gereja.

Injil hari ini menceritakan kisah panggilan Simon Petrus. Kisah ini muncul di keempat Injil dan hal ini menunjukan bahwa betapa pentingnya Simon Petrus di antara para rasul. Lukas memberi kita latar belakang yang sedikit berbeda dari penginjil lainnya. Dia tidak memulai kisahnya dengan Petrus yang sibuk bekerja sebagai nelayan, tetapi dengan Yesus yang berkhotbah dan mengajar. Simon tentunya terinspirasi oleh khotbah Yesus, dan hal ini menjelaskan mengapa Simon siap sedia ketika Yesus memintanya untuk bertolak ke tempat yang dalam, meskipun faktanya bahwa Petrus adalah seorang nelayan berpengalaman dan Yesus adalah anak seorang tukang kayu. Seperti kisah Petrus, semua kisah panggilan berakar di dalam pewartaan Firman Allah.

Setiap kali saya berbicara kepada Dominikan awam, saya selalu menjelaskan bahwa pewartaan pertama mereka harus terjadi di dalam keluarga. Sebelum kita memiliki program pelayanan bagi masyarakat miskin atau kunjungan ke penjara, keluarga harus menjadi misi pertama kita. Untuk mengajar dan membesarkan anak kita menjadi seorang Kristiani yang baik tentunya sulit luar biasa, tetapi jika para orang tua menolak untuk melakukannya ini, siapa lagi yang akan melakukannya? Bahkan, panggilan imamat dan biarawan dapat sangat berkurang jika evangelisasi dalam keluarga gagal. Panggilan dan iman saya tumbuh dan berkembang di dalam keluarga. Saya selalu ingat bagaimana ibu saya mengajarkan saya berdoa rosario, dan ayah saya membawa kami ke Gereja setiap hari Minggu sebagai keluarga. Mereka mendidik saya juga dengan teladan mereka sebagaimana mereka menunjukkan nilai-nilai kesetiaan, pengorbanan dan kasih. Saya mengasihi Tuhan dan Gereja, karena saya melihat bagaimana orang tua saya juga mengasihi Tuhan dan Gereja.

Ketika St. Dominikus mendirikan Ordo Pengkhotbah, kongregasi pertama dalam Gereja Katolik, yang memiliki orientasi aktif dalam evangelisasi, dia tidak menghapuskan kehidupan berkomunitas. Sebaliknya, ia menjadikan hal ini sebagai unsur penting dari kehidupan Dominikan karena sebelum kita pergi keluar, komunitas kita adalah misi pewartaan pertama kita. Sebuah pewartaan yang baik di komunitas pasti menjaga dan memelihara panggilan para anggotanya. Jujur, saya sangat sedih ketika saya mendengar bahwa frater atau suster meninggalkan biara karena mereka tidak lagi merasakan kebahagiaan dalam komunitas mereka. Atau, anak-anak memiliki prilaku bermasalah karena orang tua mereka tidak memberi teladan yang baik. Ini adalah tanda kegagalan kita sebagai pewarta.

Yesus mengingatkan bahwa panggilan kita berakar, terpelihara dan berkembang di dalam pewartaan Injil. Kita memiliki pemanggilan yang berbeda dengan kisah-kisah yang unik, tetapi sebagai Romo Timothy Radcliffe, OP pernah katakan, kita mungkin masuk ke Ordo (atau panggilan sebagai awam) untuk alasan yang tidak tepat, tapi kita harus tinggal karena alasan yang tepat. Kita percaya bahwa salah satu yang alasan yang tepat adalah pewartaan Kabar Baik di antara kita.

 

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Ekses

Minggu Adven Ketiga. 13 Desember 2015. [Lukas 3: 10-18]

“Jangan mengambil lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu.” (Luk 3:13)

Kita sering berpikir bahwa dengan memiliki lebih banyak adalah jalan pasti menuju kebahagiaan dan kesuksesan. Itu sebabnya kita bekerja keras untuk mendapatkan uang dan membeli banyak hal, seperti pakaian modis, gadget tercanggih, mobil terbaru, dan banyak lagi. Semakin kita miliki, semakin besar kepuasaan yang kita rasakan. Kekayaan adalah kebahagiaan. Tidak heran jika banyak buku tentang formula rahasia kesuksesan dan kekayaan menjamur dan laris manis. Kita juga menghabiskan banyak uang untuk mengundang pembicara tenar atau mendaftar di program sukses dengan coach yang hebat. Bahkan, pengkhotbah dari berbagai kelompok agama menyatakan kekayaan sebagai berkat dan mereka tampak sangat menarik untuk didengarkan.

Namun, Injil, melalui Yohanes Pembaptis, menawarkan kita perubahan perspektif radikal. Yohanes mengatakan kepada orang-orang Israel untuk hidup sederhana, menghindari ekses dan berbagi surplus mereka. Kekayaan bukanlah kebahagiaan. Namun, jauh di dalam lubuk hati, kita tidak menyukai ide ini. Hal ini berlawanan dengan intuisi, budaya zaman ini dan seolah-olah kita berenang melawan arus kebijaksanaan kontemporer. Kita ingin bekerja lebih keras, kita ingin mendapatkan lebih, dan kita puas ketika memiliki uang dan hal-hal yang kita inginkan. Kadang-kadang, para imam dan para religius pun tidak kebal terhadap godaan ini. Kita bekerja begitu keras, melakukan banyak pelayanan dan membangun banyak gedung baru untuk kerasulan kita. Tanpa menyadari, kita terjebak dalam godaan untuk mencari kekayaan pribadi.

Namun, walaupun Yohanes menyatakan sesuatu yang kita tidak sukai, sebenarnya ia tetap memberitakan sebuah Kabar Baik. Apa yang baik saat kita tidak memiliki ekses? Ketika Michelangelo ditanya oleh Paus, “Apakah rahasia kamu? Katakan padaku bagaimana kamu bisa membuat patung David yang luar biasa indah!” Dia menjawab, “Hal ini sederhana. Saya hanya menanggalkan apa saja yang bukan Daud.” Kita tidak akan menjadi setengah manusia ketika kita berhenti memiliki ekses, seperti karya dan kerjaan yang berlebihan, masalah yang tidak perlu, relasi yang terlalu ruwet, semua hal-hal yang tidak penting. Bahkan, hal ini membuka kemungkinan baru dan inovatif dalam hidup, dan kesempatan yang tak terduga untuk menemukan diri kita yang sebenarnya. Mari kita jujur. Kita sebenarnya tidak benar-benar yakin dan tahu apa kunci keberhasilan dan kebahagiaan itu. Jika kita sungguh tahu, kita sudah sekaya Bill Gates atau sekuat Barack Obama sejak lama. Jika memiliki ekses dalam hidup kita tidak berarti kebahagiaan, mengapa kita tidak menanggalkan hal-hal tidak penting dalam hidup kita?

Yohanes memfokuskan dirinya pada yang esensial. Ketika ia ditanya apakah ia adalah Mesias, ia dengan tegas mengatakan tidak, meskipun itu adalah kesempatan besar. Orang Israel akan memuja dan memuliakan dia, tapi Yohanes tetap tegas untuk keputusannya. Karena penolakannya terhadap godaan itu, ia membuka kemungkinan kreatif lain bagi dirinya, dan dia bias menjadi orang terbaik dari mempelai pria dan suara di padang gurun. Dia kemudian secara efektif membawa kita kepada Yesus.

Masa Advent adalah waktu yang tepat untuk bertanya kepada diri sendiri, “Saya bekerja begitu keras, tapi apakah yang saya lakukan adalah hal yang benar? Saya memiliki banyak hal di tangan saya, tetapi apakah ini benar-benar penting?” St. Thomas Aquinas berpendapat bahwa Allah sesungguhnya begitu sederhana, dan karena kesederhanaan-Nya, Dia benar-benar indah dan mulia. Kita diciptakan menurut citra Allah, dan hanya akan kembali ke kesederhanaan Allah ini, kita akan menemukan siapa kita sejatinya. Seperti Michelangelo yang menanggalkan semua hal yang bukan Daud, kita perlu melepaskan juga hal-hal yang bukan kita.

 

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kerendahan hati: Tidak Mudah!

Kedua Minggu Adven [6 Desember 2015]

Lukas 3:1-6

 

“Ada suara yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya (Luk 3: 4).”

Kita ingin sukses, menjadi nomor satu, dan menjadi pemenang. Tentunya, hanya menjadi nomor dua setelah usaha habis-habisan menjadi number satu adalah menyakitkan. Injil hari ini menegaskan kecenderungan dominan alami ini. Lukas memulai Injilnya dengan menyebutkan ‘alpha males’ pada zaman itu: Kaisar Tiberius di Roma, Pontius Pilatus di Yudea, Herodes di Galilea, dan Hanas dan Kayafas, imam besar di Yerusalem. Mereka adalah standar dan perwujudan dari keberhasilan. Mungkin, mereka adalah Barack Obama, Steve Jobs dan Mark Zuckerberg di zaman kita. Ada yang memuja, ada yang membenci dan yang lain takut kepada mereka, namun mereka tetap menjadi sumbu di mana orang-orang berotasi.

Namun, bagian kedua dari Injil mengambarkan sosok yang berbeda. Namanya adalah Yohanes Pembaptis. Tidak diragukan lagi dia adalah seseorang yang berintegritas dan berani. Dia tak kenal takut dan berkhotbah dengan berapi-api. Dia adalah bintang baru, dan orang-orang mengikuti dan mengaguminya. Namun, ia menerima misi ilahi khusus bahwa ia mempersiapkan jalan bagi seseorang yang lebih besar daripadanya. Ia bukanlah Mesias.

Dia mungkin mempertanyakan Allah, “Mengapa saya tidak bisa menjadi nomor satu? Saya memiliki kemampuan, prilaku dan karakter yang kuat. Orang-orang datang kepada saya, mereka mencintai saya dan siap untuk memberikan hidup mereka untuk tujuan saya. Tapi, mengapa Tuhan hanya ingin saya menjadi orang nomer dua setelah Kristus? Aku seharus menjadi Mesiah!” Konflik batinnya pun semakin bertambah setelah beberapa orang Israel membujuk dia untuk menjadi Mesias. Namun, pergulatan tersebarnya adalah ketika Dia menyadari bahwa Yesus, sepupunya dari Galilea, adalah Mesias. “Hai, saya lebih baik dari sepupu kecil saya ini. Saya Yahudi tulen, anak Zakaria, imam terhormat, sementara ia adalah seorang Galilea, anak Yusuf, seorang tukang kayu miskin. Saya berkhotbah dengan berani sementara Dia adalah sang pendongeng perumpamaan. Saya berpuasa dan terus berjaga sementara Dia sibuk menghadiri pesta. Dan ingat, saya adalah orang yang membaptis-Nya! “

Namun, meskipun ketegangan dan pergulatan yang luar biasa, Yohanes tidak pernah jatuh ke dalam godaan besar ini. Bahkan, ia secara terbuka menyatakan, “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil. (Yoh 3:30)” Yohanes menjadi perwujudan dari kerendahan hati yang sejati. Seorang bijak pernah berkata bahwa kerendahan hati dihadapan otoritas adalah kewajiban, kerendahan hati dihadapan rekan yang setara adalah sopan santun, tapi kerendahan hati dihadapan orang-orang yang kita tahu bahwa kita jauh lebih baik, adalah kekudusan. Yohanes bergulat dengan dirinya sendiri untuk mengikuti kehendak Allah yang sangat bertentangan dengan naluri kepemimpinannya, namun tanpa konflik batin ini, kerendahan hatinya tidak akan teruji dan hanya menjadi sekedar basa-basi. Karena kerendahan hati yang sejati ini, Yohanes pun akan selalu dikenang sepanjang generasi sebagai nabi terbesar.

Ada kalanya kita sangat ingin sesuatu yang baik terjadi pada hidup kita, tetapi kita tahu bahwa ini bukan kehendak Allah. Sebagai seorang frater, saya bergulat untuk tetap setia karena hidup di dalam biara banyak tuntutan dan tidak mudah, dan juga godaan bahwa saya dapat memiliki kehidupan yang lebih baik dan mudah di luar sana. Seorang istri yang berjuang mempertahankan pernikahannya dan menolak untuk meninggalkan suami yang sakit, dan hidup dengan seorang pria yang lebih tampan dan lebih kaya, adalah seorang Yohanes di zaman ini. Seorang pria yang mengorbankan tawaran akan pekerjaan impiannya karena dia perlu menghabiskan lebih banyak waktu dengan anak-anaknya dan mendidik mereka untuk menjadi orang Katolik sejati, adalah Yohanes. Tidak salah jika Yohanes Pembaptis terpilih menjadi karakter utama pada masa Adven ini karena ia mengajarkan kita satu nilai berharga bahwa kerendahan hati yang sejati adalah mengikuti kehendak Allah dan ini adalah pekerjaan yang tidak mudah.

 

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP