Keagungan yang Sejati

Minggu ke-25 dalam Masa Biasa [B]

22 September 2024

Markus 9:30-37

Pertanyaan tentang menjadi besar atau agung adalah pertanyaan yang paling sering muncul di benak para murid dan juga di benak kita. Apakah yang dimaksud dengan menjadi besar? Apakah kebesaran yang sesungguhnya? Apa yang membuat kita menjadi hebat? Apakah Yesus mengajarkan kita untuk mengejar keagungan, atau apakah Dia menghindarinya?

Para murid berdebat di antara mereka sendiri, “Siapakah yang terbesar? Dan pertanyaan ini tidak muncul begitu saja, melainkan karena Yesus menyatakan jati diri-Nya. Dalam bab sebelumnya, Yesus menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Dia adalah Kristus atau Mesias yang dinanti-nantikan oleh bangsa Israel. Namun, Yesus menjelaskan lebih lanjut bahwa Mesias ini harus mengalami penolakan, penderitaan, dan kematian. Sayangnya, para murid tidak memahami kebenaran ini dan tetap bertahan dalam keyakinan lama mereka. Mereka mengira Yesus adalah Mesias seperti Raja Daud, yang akan memimpin Israel menuju kemenangan melawan musuh-musuh mereka. Mesias tidak hanya harus membebaskan Israel dari penindasan Romawi, tetapi juga membawa kemakmuran ekonomi, kebebasan beragama, dan pembaharuan. Berpikir bahwa seorang Mesias akan menderita dan kalah adalah hal yang tidak dapat dipahami dan tidak dapat diterima.

Namun, Yesus mengambil kesempatan ini untuk mengajarkan tentang arti keagungan yang sebenarnya. Yesus tidak menentang gagasan kebesaran atau memiliki otoritas atau kekuasaan. Sebaliknya, Yesus menjelaskan bahwa untuk mencapai kebesaran yang sejati, seseorang harus menggunakan kuasa dan otoritasnya untuk melayani dan menjadi yang terakhir. Namun, apa yang dimaksud dengan melayani? Apakah cukup dengan bergabung dan melibatkan diri kita dalam program-program amal atau kerasulan? Apakah melayani sekedar berarti memberikan sumbangan kepada orang miskin atau Gereja?

Setelah Yesus mengajar para murid tentang keagungan yang sejati, Dia melakukan sesuatu yang luar biasa. Dia menempatkan seorang anak kecil di tengah-tengah para murid-Nya dan memberkati anak itu. Dia berkata, “Barangsiapa menyambut seorang anak kecil seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia tidak menyambut Aku, melainkan Dia yang mengutus Aku.” Dari sini, kita dapat menyimpulkan bahwa untuk menjadi besar adalah dengan menerima seorang anak kecil di dalam nama Yesus. Lalu, di manakah kita menerima seorang anak kecil di dalam nama Yesus? Jawabannya adalah di dalam keluarga.

Menjadi orang tua, ayah, dan ibu adalah panggilan keagungan sejati. Menerima anak-anak kecil yang lemah dalam sukacita, membesarkan mereka dalam iman, dan akhirnya mempersembahkan mereka kepada Tuhan, semua ini membutuhkan pengorbanan seumur hidup. Hal ini secara praktis mengubah kita menjadi hamba yang rendah hati. Kebesaran ini tidak membuat kita menjadi terkenal, kaya secara materi, berkuasa secara politik, atau cantik secara fisik. Bahkan, kita menjadi sebaliknya! Tetapi hal ini memungkinkan kita untuk menerima Yesus dan Bapa dalam hidup kita. Yesus tampaknya berbicara tentang masa depan di mana anak-anak kecil ditolak dan bahkan dibunuh.

Akhirnya, keagungan sejati tidak ada di bumi ini, melainkan di surga. Tidak heran jika dalam tradisi Katolik, orang-orang kudus terbesar di surga adalah Maria, ibu Yesus, dan Yusuf, ayah angkat Yesus. Baik Maria maupun Yusuf menerima bayi kecil Yesus dalam hidup mereka dan membesarkan-Nya dengan penuh kasih dan sukacita. Mereka menjadi contoh utama kebesaran sejati.

Manila

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan untuk refleksi:

Bagaimana kita memahami keagungan sejati? Apakah kita berusaha untuk menjadi hebat? Apakah kita melayani orang lain? Bagaimana caranya? Apakah kita juga berkorban untuk orang lain? Apa saja yang kita korbankan? Apakah kita menyadari menjadi orang tua sebagai panggilan hebat? Bagi para orang tua, bagaimana kita menerima dan mengasihi anak-anak kita? Pengorbanan apa yang kita lakukan untuk anak-anak kita? Apakah kita sadar bahwa kita harus membawa anak-anak kita kepada Allah? Bagi mereka yang belum menikah, bagaimana kita menerima dan mengasihi anak-anak kecil dalam hidup kita?

Kita adalah Mukjizat

Minggu ke-17 dalam Masa Biasa

28 Juli 2024

Yohanes 6:1-15

Mukjizat penggandaan roti merupakan mukjizat yang istimewa karena mukjizat ini berbeda dengan mukjizat-mukjizat Yesus yang lain. Namun, apa yang membuatnya benar-benar unik dari mukjizat-mukjizat lainnya? Bagaimana mukjizat ini membentuk iman dan identitas kita?

Hal pertama yang dapat kita amati adalah bahwa mukjizat ini muncul dari inisiatif Yesus. Yesus melihat orang-orang yang mengikuti-Nya, Dia mengenali kebutuhan mereka dan kemudian, Dia datang membawa solusi. Dari perspektif ini, kita dapat menarik poin-poin yang indah tentang Allah kita. Dia bukanlah Tuhan yang jauh, menyendiri dan hanya menunggu orang-orang untuk datang kepada-Nya dan memohon sesuatu kepada-Nya. Allah kita adalah Allah yang penuh kasih yang tidak pernah gagal mengenali kebutuhan dan kondisi kita, dan bahkan menyediakan kebutuhan kita tanpa kita minta. Tuhan mengantisipasi kebutuhan kita dan memenuhinya bahkan tanpa kita sadari. Inilah kasih yang sejati dan ilahi, yang antisipatif, konsisten, dan sering kali terabaikan. Apakah kita bersyukur kepada Tuhan untuk setiap napas yang kita hirup? Apakah kita bersyukur atas air yang kita minum? Namun, Tuhan menyediakan semua itu untuk kita tanpa kita minta.

Namun, hal kedua dari mukjizat ini membuatnya semakin luar biasa dan unik. Sebelum Yesus melakukan mukjizat, Dia memaparkan situasi yang mereka hadapi kepada murid-murid-Nya, dan meminta mereka untuk menyelesaikannya. Filipus segera mereduksi situasi tersebut menjadi masalah ekonomi, dan menjawab Gurunya bahwa tidak mungkin memberi makan orang banyak tanpa mengeluarkan uang dalam jumlah besar. Untungnya, Andreas menyadari maksud Yesus untuk menguji murid-murid-Nya. Ini bukan masalah uang, tetapi iman kepada Yesus. Dia kemudian membawa seorang anak kecil yang murah hati yang memberikan roti dan ikannya kepada Yesus untuk dibagikan. Kemudian, mukjizat mulai terjadi.

Jika kita mencoba membandingkan dengan mukjizat-mukjizat Yesus yang lain, kita akan menemukan bahwa Yesus menghendaki para murid dan pengikut-Nya untuk berpartisipasi dalam mukjizat tersebut. Dalam mukjizat-mukjizat lain seperti penyembuhan dan pengusiran setan, Yesus melakukannya sendiri. Dia tidak membutuhkan bantuan atau partisipasi dari murid-murid-Nya. Namun, ketika Yesus melakukan salah satu mukjizat terbesar (lima ribu orang kenyang!), Dia ingin para murid-Nya dengan murah hati memberikan apa yang mereka miliki, dan membiarkan Yesus memberkati persembahan mereka, dan dengan demikian menjadi berkat bagi banyak orang.

Inilah keindahan sejati dari mukjizat pelipatgandaan roti. Memang, Tuhan dapat dengan mudah bekerja tanpa kita, seperti yang sering Dia lakukan, tetapi Dia juga memilih untuk bekerja dan melakukan mukjizat-Nya melalui kita. Dan, ketika kita mempersembahkan apa yang kita miliki dan mengizinkan rahmat Allah bekerja di dalam diri kita, Allah menyempurnakan kita dan menjadikan kita sebagai mukjizat bagi banyak orang. Melalui partisipasi ini, martabat kita sebagai anak-anak Allah diangkat, disempurnakan dan semakin dimuliakan.

Sebagai seorang pewarta, saya mempersembahkan kepada Tuhan, waktu, kapasitas intelektual, dan pembelajaran saya akan Kitab Suci, dan sering kali, saya merasa semua itu tidak cukup untuk membuat sebuah khotbah atau homili yang baik. Namun, saya berdoa agar setiap kali saya berkhotbah, Tuhan berkenan melipatgandakan sumber daya yang saya miliki menjadi buah-buah rohani bagi mereka yang mendengarnya. Sebagai orang tua yang baik, kita mempersembahkan waktu, tenaga, dan berbagai sumber daya kepada Tuhan untuk kita membesarkan anak-anak kita. Seringkali, kita merasa semua itu tidak cukup, tetapi Tuhan memberkati kita dan anak-anak kita bertumbuh bagaikan mukjizat, menjadi pribadi-pribadi yang dewasa.

Bagaimana kamu berpartisipasi dalam karya dan mukjizat Tuhan?

Manila

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Duri dalam Daging

Minggu ke-14 dalam Masa Biasa

7 Juli 2024

2 Korintus 12:7-10

Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus mengungkapkan kepada kita bahwa ia bergumul dengan ‘duri dalam daging’ yang disebabkan oleh mailakat Setan. Namun, apa yang dimaksud dengan ‘duri dalam daging’ bagi Santo Paulus? Bagaimana Paulus menghadapi situasi ini?

Setidaknya ada tiga kemungkinan jawaban untuk duri dalam daging ini. Kemungkinan pertama adalah bahwa duri tersebut mengacu pada serangan rohani yang berasal dari roh-roh jahat. Entah dalam bentuk serangan fisik atau godaan batin yang terus menerus. Kemungkinan jawaban kedua merujuk pada kondisi kesehatannya, terutama masalah matanya. Suatu kali Santo Paulus mengeluh tentang kondisi kesehatan matanya. Dalam suratnya kepada jemaat di Galatia, Paulus menulis, “Kamu tahu, bahwa oleh karena penyakit fisiklah aku mula-mula memberitakan Injil kepadamu, dan kamu tidak menunjukkan sikap meremehkan atau menghina karena pencobaan yang ditimbulkan oleh keadaan badanku… Sungguh, aku dapat memberi kesaksian tentang kamu, bahwa sekiranya boleh, kamu telah mencungkil matamu dan memberikannya kepada-Ku.” (Gal. 4:13-15). Kemungkinan ketiga, duri tersebut mungkin menunjuk pada pergumulan dan kesulitan yang dialaminya ketika St. Paulus berurusan dengan komunitas-komunitas Gereja lokal. Dia sering menceritakan bagaimana dia difitnah, ditikam dari belakang, dan dikhianati.

Manakah di antara ketiga kemungkinan tersebut yang paling mungkin terjadi? Paulus mungkin saja menghadapi ketiga kondisi tersebut dalam perjalanan pelayanannya, tetapi menurut saya pribadi, ‘duri’ ini berbicara mengenai pergumulan Paulus dengan komunitas Kristen yang dilayaninya. Pada akhirnya, kita tidak tahu pasti, tetapi yang penting adalah bagaimana Paulus menghadapi duri ini.

Pertama, Paulus mengakui bahwa Tuhan mengizinkan setan untuk menyebabkan duri ini. Ini sejatinya adalah teologi yang baik. Allah yang sempurna tidak secara langsung menyebabkan hal buruk karena hanya kebaikan yang berasal dari-Nya, tetapi Allah dapat mengizinkan hal buruk terjadi selama Dia memiliki alasan yang cukup, yaitu untuk memunculkan kebaikan yang lebih besar dari hal buruk ini. Kedua, Paulus meminta agar duri tersebut disingkirkan. Namun, doanya tidak dikabulkan karena Allah ingin duri itu tetap ada dan Dia akan menggunakannya untuk kemuliaan-Nya.

Paulus mengakui bahwa duri tersebut adalah untuk menjauhkan Paulus dari kesombongan. Paulus menerima banyak karunia rohani dari Tuhan, dan karunia-karunia ini dapat menimbulkan kesombongan rohani karena ia dapat membandingkan dirinya dengan orang-orang Kristen yang kurang dewasa. Dengan demikian, duri tersebut berfungsi sebagai pengingat bahwa ia juga bergumul seperti murid-murid Yesus yang lain.

Lebih jauh lagi, Santo Paulus menyadari bahwa Tuhan mengijinkan Paulus untuk menderita duri karena Dia menyediakan rahmat yang dibutuhkan oleh Paulus. Tuhan berkata kepada Paulus, “Cukuplah rahmat-Ku bagimu.” Rahmat Tuhanlah yang menopang Paulus dalam menghadapi penderitaan yang menyulitkan itu. Paulus menyadari bahwa ia dapat bertahan dan bahkan berkembang melalui penderitaan dan kelemahan karena rahmat Allah. Paulus tidak dapat memegahkan diri, kekuatannya, kepandaiannya, dan kefasihannya karena semua itu akan runtuh di hadapan beban penderitaan. Paulus hanya dapat membanggakan kelemahannya, penderitaannya, kesulitannya, duri yang dialaminya karena justru di dalam kelemahannya itulah, orang-orang dapat melihat bagaimana rahmat Allah bekerja dan menopang Paulus.

Apakah duri dalam hidup kita? Apakah kita marah karena Tuhan tidak mengambil duri-duri kita? Apakah kita hanya mengandalkan kekuatan kita sendiri? Apakah kita memohon kasih karunia yang cukup untuk bertahan dan bertumbuh melalui penderitaan?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Misteri Iman

Hari Minggu ke-13 dalam Masa Biasa [B]

30 Juni 2024

Markus 5:21-43

Iman adalah hal yang sangat penting bagi keselamatan kita, tetapi juga merupakan salah satu konsep yang paling sering disalahpahami. Kisah kesembuhan anak perempuan Yairus dan perempuan yang mengalami pendarahan membantu kita untuk lebih memahami arti iman dan bagaimana kita harus menghidupi iman kita.

Pengertian iman yang paling mendasar adalah sebuah kepercayaan kepada Allah, atau bagi kita orang Kristen, kepercayaan kepada Yesus Kristus. Pengertian iman yang paling mendasar ini sangat bergantung pada penerimaan intelektual atau akal budi kita akan keberadaan Allah dan Yesus sebagai Putra-Nya yang tunggal, Juruselamat kita. Namun, bagaimana dengan orang-orang yang tidak memiliki kesempatan untuk mengenal Yesus secara intelektual? Misalnya, putri Yairus yang sakit parah dan akhirnya meninggal. Dia tidak dapat memiliki kepercayaan dalam pikirannya bahwa Yesus akan datang untuk menyelamatkannya. Namun, ia diselamatkan dari kematian, bukan karena imannya, tetapi karena iman ayahnya. St. Yakobus juga mengingatkan kita bahwa bahkan roh-roh jahat pun percaya dan mengetahui dengan baik bahwa Allah itu ada, tetapi iman intelektual tidak menyelamatkan mereka.

Jenis iman yang kedua adalah iman dengan keyakinan. Iman jenis ini tidak hanya melibatkan pengenalan intelektual akan Allah tetapi juga keyakinan yang kuat dan mendalam. Iman seperti ini biasanya diekspresikan dalam emosi yang kuat dan tindakan tubuh yang terlihat seperti meneriakkan nama Yesus atau bersujud dalam doa. Namun sekali lagi, Santo Paulus mengingatkan kita bahwa iman seperti ini tidak membawa keselamatan. Ia menulis, “Jika aku mempunyai segala iman, sehingga dapat memindahkan gunung-gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, maka aku tidak ada artinya” (1 Kor. 13:2).

Akhirnya, jenis iman yang ketiga adalah iman yang bekerja melalui kasih. Iman ini tidak hanya menerima Allah secara intelektual dan penuh pengharapan, tetapi juga diwujudkan dalam perbuatan kasih. Dibandingkan dengan dua iman sebelumnya, iman ini lebih sulit diwujudkan, tetapi juga menyelamatkan. Kita dapat melihat hal ini dari iman Yairus. Kasihnya yang mendalam kepada putrinya mendorongnya untuk percaya kepada Yesus, dan pada gilirannya, imannya kepada Yesus memberdayakannya untuk mencari dan memohon kesembuhan mukjizat Yesus sebagai bentuk kasih terhadap putrinya.

Kisah wanita yang mengalami pendarahan lebih menarik. Ia tampaknya memiliki jenis iman yang kedua atau iman dengan penuh keyakinan. Ia dengan tulus percaya bahwa ia akan disembuhkan jika ia menyentuh Yesus, tetapi jika kita menyelidiki lebih dalam, kita akan menemukan bahwa imannya lebih dari sekadar keyakinan. Ketika ia memutuskan untuk mendekati Yesus, ia tidak langsung memegang tubuh atau kaki Yesus. Sebaliknya, ia dengan hati-hati memilih untuk menyentuh rumbai jubah Yesus. Mengapa? Perempuan itu sadar bahwa ia memiliki pendarahan, dan ini membuatnya najis, dan siapa pun yang disentuhnya dapat terkontaminasi oleh kenajisan ini (lihat Im. 15:25-30). Oleh karena itu, dengan memastikan bahwa dia tidak bersentuhan langsung dengan Yesus, wanita itu menunjukkan perhatian yang sangat baik untuk menjaga kemurnian Yesus. Detail sederhana ini dapat menunjukkan kepada kita kasihnya kepada Yesus terlepas dari keterbatasannya. Kemudian, Yesus mengenali iman yang benar dari perempuan itu, dan ia pun sembuh.

Apakah kita memiliki iman yang menyelamatkan? Iman seperti apakah yang kita miliki, dan bagaimana kita bertumbuh? Apakah kita mewujudkan iman kita kepada Allah dalam kasih kepada Yesus dan sesama kita?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kasih Kristus menguasai kita.

Hari Minggu ke-12 dalam Masa Biasa

23 Juni 2024

2 Korintus 5:14-17

Hubungan antara Santo Paulus dan Gereja di Korintus cukup rumit. Paulus adalah misionaris pertama yang mengabarkan Injil di kota Korintus dan mendirikan Gereja di sana. Namun, setelah Santo Paulus pergi untuk misi lain, beberapa anggota Gereja mulai tidak menaati Paulus dan mendiskreditkannya. Dalam suratnya yang kedua, Santo Paulus mencoba untuk mengatasi masalah ini. Apakah masalahnya? Lalu, bagaimana Paulus menjawab masalah ini?

Korintus adalah salah satu kota besar di semenanjung Akaya (Yunani kuno), dan lokasinya yang strategis membuat kota ini kaya dan menjadi pusat perdagangan utama di Kekaisaran Romawi. Situasi ini membuat kota ini menarik bagi banyak orang, termasuk para misionaris dan pewarta Injil. Ketika Santo Paulus meninggalkan kota itu untuk mewartakan Injil di tempat lain, orang-orang yang disebut sebagai ‘rasul’ datang dan mulai mengajar umat Kristiani di Korintus. Beberapa di antara mereka tampaknya sengaja menjelekkan nama Paulus dengan mengatakan bahwa ia bukan rasul sejati. Mereka menunjukkan beberapa bukti seperti Paulus mewartakan Injil yang berbeda, Paulus bukanlah orang Israel asli, dan Paulus tidak menerima dukungan dari Gereja (seorang pewarta atau misionaris diharapkan untuk menerima nafkah dari Gereja). Namun, sekarang Paulus meminta sumbangan dari Gereja di Korintus.

Dalam suratnya, Paulus membela diri. Dia hanya memberitakan Injil yang benar (2 Kor. 11:1-6). Dia adalah orang Israel sejati dari suku Benyamin dan, pada kenyataannya, dari kelompok Farisi. Dan, seringkali, ia tidak menerima dukungan dari Gereja di Korintus, dan bekerja sebagai pembuat tenda karena ia tidak ingin menjadi beban bagi Gereja (2 Kor. 11:7-10). Namun, Paulus lebih lanjut menjelaskan bahwa sumbangan yang ia cari bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk Gereja di Yerusalem (2 Kor. 8:9).

Paulus membela lebih lanjut pelayanan kerasulannya yang ia terima dari Allah untuk menumbuhkan Gereja-Nya. Dia menghadapi penganiayaan baik dari orang Yahudi maupun Yunani; dia dipukuli di Sinagoga dan dipenjara oleh karena penghakiman orang-orang Yunani dan Romawi. Banyak orang yang marah dan mengincarnya. Orang-orang Yahudi menentang Paulus karena ia memberitakan Yesus Kristus. Orang-orang Yunani membenci Paulus karena ia menarik banyak orang dari kuil-kuil dewa-dewi kuno. Paulus juga mengalami bahaya yang mengancam nyawanya dalam perjalanannya: perampok, cuaca yang tidak bersahabat, dan kapal karam. Selain itu, ia juga bekerja di siang hari untuk menghidupi dirinya sendiri dan berkhotbah di malam hari, dan tenaganya dihabiskan dengan penuh kegelisahan untuk menangani berbagai masalah Gereja (lihat 2 Korintus 11:23-29). Paulus menjelaskan mengapa ia melakukan semua hal ini: “Sebab kasih Kristus yang menguasai kami (2 Kor. 5:14).”

Kasih Kristus sanggatlah besar; kasih itu memberdayakan Paulus untuk melakukan hal yang mustahil, yakni mengasihi seperti Yesus. Bukan hanya Paulus yang menerima kasih Yesus yang luar biasa ini, tetapi juga kita semua. Yesus sangat mengasihi kita sampai-sampai Ia menyerahkan nyawa-Nya untuk kita sehingga kita dapat menjadi ciptaan baru di dalam Dia (2 Kor. 5:17). Pertanyaannya adalah apakah kita mau menerima kasih ilahi ini dan menjadikannya berbuah dalam hidup kita? Apakah kita cukup berani untuk mengasihi seperti Yesus, seperti yang dicontohkan oleh Santo Paulus? Apakah kita siap menghadapi bahaya dan kesulitan dalam memberitakan Injil? Apakah kita bersedia bekerja keras siang dan malam untuk orang-orang yang dikasihi Yesus?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Manusia dan Benih

Minggu ke-11 dalam Masa Biasa [B]
16 Juni 2024
Markus 4:26-34

Ada sesuatu yang ‘tidak biasa’ dalam perumpamaan Yesus kali ini. Saya bukan seorang petani, tetapi saya dapat merasakan bahwa orang dalam perumpamaan ini sepertinya tidak mengerti apa yang sedang ia lakukan. Dia hanya melemparkan benih dan pergi tidur. Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Apa yang Yesus ingin ajarkan kepada kita melalui perumpamaan ini?

Meskipun cara pria dalam perumpamaan dapat menjadi cara untuk menanam tanaman, itu bukanlah cara terbaik untuk bertani. Petani yang baik akan memastikan bahwa benih akan tumbuh dengan baik melalui perawatan yang konstan. Mereka akan memilih jenis benih terbaik untuk musim tersebut. Benih untuk musim semi berbeda dengan benih untuk musim gugur. Kemudian, mereka akan menyiapkan tanah dan menebarkan benih, dengan mempertimbangkan jarak yang tepat. Air yang cukup dan juga pupuk sangat penting untuk pertumbuhan tanaman yang sehat. Para petani juga selalu memperhatikan hal-hal yang dapat merusak hasil panen mereka, seperti binatang buas, hama, dan pencuri.

Namun, orang dalam perumpamaan itu hanya menabur benih dan pergi. Ia tidak bertindak seperti seorang petani yang baik. Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Untuk menjawabnya, kita harus melihat dengan seksama teks ini. Yesus tidak pernah menggambarkan orang itu sebagai seorang petani. Yesus berkata, ‘seorang manusia’ (Yunani: ἄνθρωπος, Anthropos). Hal lain yang menarik adalah bahwa Yesus tidak menggambarkan orang itu sebagai ‘penabur benih’, melainkan ‘melempar benih’ (bahasa Yunani: βάλλω, ballo). Dari informasi ini, kita dapat menyimpulkan bahwa orang dalam perumpamaan ini tidak bermaksud untuk menanam benih, melainkan membuangnya. Namun, meskipun ditolak, benih itu secara misterius tumbuh dan menghasilkan buah.

Maka, Kerajaan Allah adalah benih yang ditolak yang bertahan dan bahkan menghasilkan panen yang besar. Kerajaan Allah ini dapat merujuk kepada Yesus, sang Raja Kerajaan Allah, yang ditolak oleh para tua-tua dan disalibkan oleh bangsa Romawi, namun bangkit dari kematian dan menjadi sumber keselamatan bagi mereka yang percaya. Kerajaan Allah juga dapat menunjuk kepada Gereja sebagai tubuh Kristus yang pada awalnya dianiaya dengan kejam, dan para pemimpin serta anggotanya disiksa dan menjadi martir. Namun, pada akhirnya, Gereja bertumbuh menjadi komunitas manusia yang paling besar di dunia.

Perumpamaan ini juga berbicara kepada kita, terutama ketika menghadapi penderitaan dan iman kita ditantang. Bagi sebagian orang, dengan menjadi murid-murid Kristus, kita harus menanggung kebencian, diskriminasi, kekerasan, dan bahkan ancaman kematian. Bagi yang lain, sebagai bagian dari Gereja Katolik, iman kita dipertanyakan dan diejek. Namun, bahaya rohani juga mengancam mereka yang beriman dalam situasi damai. Kita mungkin menganggap remeh iman kita ketika segala sesuatunya aman dan mudah. Kita pergi ke Gereja hanya karena semua orang pergi ke Gereja atau karena kita merasa ‘senang’. Pemahaman kita tentang iman kita menjadi sangat dangkal. Bahaya lainnya adalah kita menjadi sombong dan merasa paling benar, memandang rendah orang-orang Kristen lainnya dan dengan demikian gagal untuk mengasihi mereka. Kita berubah menjadi ‘orang’ dalam perumpamaan yang membuang benih.

Bagi kita yang seperti ‘benih yang ditolak’, kita memiliki iman bahwa Allah bekerja dengan cara yang misterius untuk membawa kita bertumbuh dalam penderitaan. Namun, pada saat yang sama, ketika kita bertumbuh dalam iman, kita harus berhati-hati agar tidak menjadi seperti ‘orang yang menolak dan membuang benih’ di dalam perumpamaan.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kita dan Ekaristi

Hari Raya Corpus Christi [B]

2 Juni 2024

Markus 14:12-16, 22-26

Hari ini, kita merayakan hari raya Corpus Christi, atau hari raya Tubuh dan Darah Yesus Kristus. Melalui perayaan ini, Gereja mengingatkan kita akan nilai Ekaristi yang tanpa batas. Santo Yohanes Paulus II pernah menulis, “Ekaristi, sebagai kehadiran Kristus yang menyelamatkan dalam komunitas umat beriman dan makanan rohaninya, merupakan harta paling berharga yang dapat dimiliki Gereja dalam perjalanannya melalui sejarah.” (Ecclesia de Eucharistia, 9). Dalam refleksi ini, saya mengundang semua untuk menghargai berkat yang paling berharga ini; semoga kita menjadi lebih layak untuk menerima Ekaristi, dan juga menjadi lebih kudus karenanya.

Banyak dari kita yang telah menghadiri Ekaristi selama bertahun-tahun bahkan puluhan tahun. Namun, sayangnya, alih-alih bertumbuh dalam rasa hormat dan devosi, beberapa dari kita kehilangan devosi yang sejati dan bahkan menjadi tidak hormat terhadap Ekaristi. Kita melewatkan misa-misa hari Minggu tanpa alasan yang sah. Kita merasa cukup menghadiri misa pada saat Paskah dan Natal saja. Kita terlambat mengikuti misa dengan alasan yang tidak tepat. Kita sibuk dan terganggu dengan banyak hal dalam Ekaristi dan mencari kesempatan untuk menggunakan gadget kita. Beberapa orang tidak lagi mau repot-repot menghadiri Misa dan tidak lagi menganggapnya sebagai sesuatu yang berarti. Beberapa dari kita masih menerima Komuni Kudus dalam kondisi yang tidak layak.

Namun, hal-hal yang tidak pantas ini tidak hanya dilakukan oleh umat awam, tetapi juga oleh kami, para imam. Beberapa mempersembahkan Ekaristi dengan cara-cara yang tidak pantas. Di satu sisi, ada yang memperlakukan Misa seperti sebuah pertunjukan atau teater; dengan demikian, kami bertindak berlebihan, melanggar ritus (tata ibadat yang benar) hanya untuk menghibur umat dan mencari tepuk tangan. Di sisi lain, beberapa dari kami terlalu malas untuk merayakan Misa Kudus; oleh karena itu, kita secara tidak adil datang terlambat atau tidak mempersiapkan homili dan bahkan mempersembahkan misa secara ugal-ugalan. Ini adalah pelanggaran! Ini sangat serius karena pelanggaran-pelanggaran ini dapat menyebabkan domba-domba tersesat, dan para gembala bertanggung jawab atas hilangnya jiwa-jiwa ini.

Memang, ada banyak alasan, tetapi alih-alih saling menyalahkan, saya ingin fokus pada satu hal. Kita perlu mengenali dan menghargai apa itu Ekaristi. Dengan kata-kata yang paling sederhana, Ekaristi adalah Yesus Kristus sendiri. Menerima komuni berarti menerima Yesus sendiri. Ekaristi terutama adalah tentang Allah, bukan tentang kita dan bagaimana kita dihibur. Oleh karena itu, cara kita menghormati (atau menghina) Allah dalam Ekaristi akan secara signifikan memengaruhi keselamatan kita. Memang, Ekaristi diperlukan untuk keselamatan kita justru karena Ekaristi adalah tentang Allah, yang mengasihi kita dan ingin kita menjadi kudus seperti Dia yang kudus.

Kabar baiknya adalah kita masih memiliki waktu untuk bertobat. Kita dapat menerapkan prinsip “lex orandi, est lex credendi, est lex vivendi.” (secara harfiah, hukum berdoa adalah hukum percaya, adalah hukum hidup). Ini berarti cara kita berdoa dan beribadah akan membentuk kepercayaan kita, dan pada gilirannya, kepercayaan kita akan membentuk hidup kita. Jika kita dengan setia mengikuti cara-cara beribadah yang benar, dengan niat dan disposisi batin yang benar, gerakan dan tindakan yang benar, dan dengan upaya untuk menghindari gangguan, kita memperdalam iman kita kepada Tuhan. Kemudian, saat kita memiliki iman yang dalam kepada Tuhan, kita akan hidup dengan cara-cara yang berkenan pada Tuhan. Semakin kita beribadah dengan benar, semakin dalam iman kita. Begitu juga sebaliknya, semakin kita beribadah dengan salah, semakin dangkal iman kita.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Tritunggal Mahakudus dan Pembaptisan

Hari Raya Tritunggal Mahakudus [B]
26 Mei 2024
Matius 28:16-20

Hari ini, kita merayakan misteri Tritunggal Mahakudus, dan Gereja mengundang kita untuk merenungkan Pembaptisan kita. Kita dibaptis dalam rumusan yang diberikan oleh Yesus sendiri. Yesus memerintahkan para murid-Nya, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus (Mat 28:19).” Namun, apa artinya dibaptis dengan rumusan Tritunggal ini?

Kita dibaptiskan ‘di dalam’ nama Bapa, Anak dan Roh Kudus. Dalam bahasa Yunani Perjanjian Baru, kata depan ‘di dalam’ adalah ‘εἰς’ (baca: eis), dan ini menunjukkan perpindahan dari satu tempat ke tempat lain atau dari suatu kondisi yang lama ke kondisi yang baru. Dengan demikian, Baptisan memungkinkan kita untuk memasuki tempat, keadaan, dan status yang baru.

Dalam Pembaptisan, kita tidak lagi berada di luar Allah, tetapi sekarang kita berada di dalam Allah. Kita tidak lagi menjadi milik dunia, tetapi sekarang menjadi milik Allah. Kita tidak lagi berada di bawah pengaruh Iblis, tetapi sekarang kita digerakkan oleh rahmat Allah. Rahmat Baptisan menciptakan kembali kita dari anak-anak Adam yang telah jatuh ke dalam dosa, menjadi anak-anak Allah yang kudus. Rahmat yang sama mengubah kita menjadi anggota yang telah ditebus dari Tubuh Yesus. Dan akhirnya, rahmat ini juga menguduskan kita dan membuat kita menjadi bait Roh Kudus.

Karena Pembaptisan membawa kita kepada persekutuan dengan Tritunggal Mahakudus dan surga tidak lain adalah persekutuan yang permanen dengan Allah, maka Pembaptisan sangat penting bagi keselamatan kita. Tidak heran jika Santo Petrus mengajarkan dengan penuh otoritas bahwa Baptisan menyelamatkan kita (1 Pet. 3:21). Namun, kita harus ingat bahwa rahmat yang kita terima dalam Pembaptisan harus diterima dengan benar dan dinyatakan dalam hidup kita.

Persatuan dengan Allah bukan hanya sesuatu yang bersifat rohani dan tidak terlihat, tetapi juga nyata dan dapat dilihat. Di dunia ini, kita percaya bahwa keluarga Allah, Tubuh Kristus, dan Bait Roh Kudus memiliki manifestasi yang dapat dilihat, yakni Gereja. Dari sini, kita bisa menyimpulkan bahwa Baptisan juga merupakan pintu gerbang menuju keanggotaan kita di dalam Gereja. Oleh karena itu, kita menunjukkan bahwa kita milik Tritunggal Mahakudus ketika kita menyatakan keanggotaan kita dalam Gereja lokal, di paroki-paroki, dan juga Gereja universal, yakni kesatuan dengan Paus.

Kita mengekspresikan persatuan rohani kita dengan Tritunggal Mahakudus ketika kita merayakan liturgi Ekaristi dengan layak. Dengan demikian, kita tidak dapat mengatakan bahwa kita berada dalam kesatuan dengan Tritunggal Mahakudus, tetapi kita tidak pernah menghadiri misa karena kemalasan atau menerima Komuni dengan tidak layak.

Kita menyatakan kasih kita kepada Tritunggal Mahakudus ketika kita mengasihi sesama umat Kristiani dan bahkan mereka yang belum percaya kepada Tritunggal. Itulah sebabnya Santo Yohanes berkata, “Jikalau seorang berkata: ‘Aku mengasihi Allah,’ dan ia membenci saudaranya, ia adalah pendusta, sebab barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang telah dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya (1 Yoh. 4:20).”

Kita menunjukkan persekutuan kita dengan Tritunggal Mahakudus ketika kita memisahkan diri kita dari Iblis dan pekerjaannya. Kita tidak dapat mengatakan bahwa kita adalah anak-anak Allah, tetapi kita hidup dalam dosa, kita mencuri dan merugikan dari orang lain, kita terlibat dalam praktik-praktik esoterik, dan kita percaya pada takhayul.

Sakramen Baptisan tidak berhenti dengan penuangan air, tetapi diwujudkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Iman kita kepada Tritunggal tidak hanya berarti penerimaan intelektual atas kehadiran Allah tetapi juga mengubah hidup kita di dunia.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Sabda Tuhan Membentuk Kita

Minggu ke-5 Paskah [B]

28 April 2024

Yohanes 15:1-8

Yesus adalah pokok anggur, dan kita adalah ranting-ranting-Nya. Dia kemudian menyatakan bahwa ranting yang tidak berbuah akan dipotong, dan ranting yang sehat akan ‘dibersihkan’. Bahkan, Yesus berkata, “Kamu telah dibersihkan karena firman yang telah Kukatakan kepadamu (Yohanes 15:3).” Apa artinya? Bagaimana firman-Nya ‘membersihkan’ kita?

Jika kita berkesempatan untuk mengunjungi kebun anggur, kita akan melihat bagaimana para petani anggur bekerja. Di antara hal-hal yang mereka lakukan untuk ‘membersihkan’ pohon anggur adalah dengan memotong ranting-ranting yang tidak sehat dan mati serta memangkas ranting-ranting yang sehat. ‘Pembersihan’ itu sendiri dilakukan agar pokok anggur dapat memasok nutrisinya ke cabang dan ranting yang sehat. Tetapi juga, para tukang kebun anggur akan memangkas dan merampingkan beberapa ranting yang tumbuh terlalu besar karena ranting ini biasanya tidak menghasilkan buah anggur yang baik dan menyedot nutrisi dari ranting-ranting di sekitarnya. Semua itu dilakukan untuk satu tujuan: menghasilkan anggur berkualitas baik.

Lalu, bagaimana firman Yesus memangkas ranting-ranting kita? Pertama, kita menyadari bahwa kita adalah makhluk yang menggunakan bahasa. Bahasa yang kita dengarkan dan pelajari membentuk diri kita. Anak-anak yang terbiasa mendengar kata-kata kasar cenderung bertumbuh menjadi pribadi yang kasar. Anak-anak yang terus diberi kata-kata celaan cenderung memiliki self-esteem yang rendah. Namun, anak-anak yang tidak pernah diberitahu kata-kata koreksi dan disiplin yang tepat akan menjadi karakter yang lemah dan selalu menyalahkan orang lain. Anak-anak perlu mendengar kata-kata yang membesarkan hati dan penuh kasih dan juga kata-kata koreksi yang membangun. Kata-kata yang baik akan membuat mereka tumbuh percaya diri, dan disiplin yang tepat akan membuat mereka terhindar dari kegagalan dan bahaya di masa depan.

Demikian pula halnya dengan Firman Tuhan. Mendengarkan firman Tuhan dalam Alkitab, kita menemukan banyak kata-kata yang meneguhkan dan kisah-kisah yang menghangatkan hati. Namun, Alkitab yang sama juga berisi kata-kata, instruksi, dan kisah-kisah yang kuat dan bahkan menuntut. Injil memiliki kisah-kisah yang indah seperti kisah Yesus, yang memberkati anak-anak dan merangkul orang-orang berdosa. Namun, Alkitab yang sama juga menceritakan tentang Yesus yang berkata, “bertobatlah dari dosa-dosamu dan percayalah kepada Injil.” Yesus, yang membuka surga bagi kita semua, juga merupakan Yesus yang sama yang mengajarkan realitas neraka.  

Mendengarkan Kitab Suci setiap hari Minggu dalam Ekaristi, atau bahkan setiap hari dalam bacaan pribadi kita, memungkinkan firman Tuhan untuk membentuk kita. Jika kita juga melakukan bagian kita untuk merenungkan firman dan menghayatinya, kita bertumbuh dalam kekudusan. Pada saat pencobaan, firman Tuhan menguatkan kita untuk berharap. Saat ragu, firman Tuhan memberikan kejelasan iman. Ketika kita melakukan kesalahan, firman Tuhan mengoreksi kita dan mengundang kita untuk bertobat. Ketika dalam ketakutan, firman Tuhan mendorong kita untuk lebih mengasihi dan melakukan perbuatan baik. Inilah panen anggur rohani.

Hal lain yang menarik adalah Yohanes menggunakan kata ‘καθαίρω’ (kathairo, aku membersihkan). Kata ini dapat berarti tindakan pemangkasan dalam konteks kebun anggur, tetapi kata yang sama juga digunakan untuk menggambarkan tindakan Yesus menyembuhkan orang kusta (lihat Markus 1:40-41). Firman Tuhan tidak hanya membentuk karakter kita, tetapi juga secara langsung menyembuhkan dan memurnikan jiwa kita. Gereja mengajarkan bahwa kita menerima indulgensi ketika kita membaca Alkitab dalam kondisi doa dan setidaknya selama 30 menit. Sudahkah kita membaca firman Tuhan hari ini?

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Panggilan dan Profesi

Minggu ke-4 Paskah [B]

21 April 2024

Yohanes 10:11-18

Profesi dan panggilan sepertinya dua hal yang serupa. Seorang perempuan merasa bahwa ia terpanggil untuk menyembuhkan orang lain dan memutuskan untuk menjadi seorang dokter. Setelah bertahun-tahun menjalani pelatihan, ia mulai bekerja di rumah sakit atau klinik, melayani pasien, dan akhirnya membantu menyembuhkan orang yang sakit dan juga menghidupi dirinya dan keluarganya. Dari contoh ini, tidak ada perbedaan yang signifikan antara profesi dan panggilan. Namun, jika ditelusuri lebih dalam, dua hal ini pada dasarnya berbeda. Namun, apa saja perbedaannya? Dan bagaimana hal ini mempengaruhi iman dan kehidupan kita?

Sederhananya, profesi adalah apa yang kita lakukan, dan panggilan adalah siapa diri kita. Profesi adalah tentang ‘aksi’, dan panggilan adalah tentang ‘identitas’. Kita melakukan profesi untuk mencari nafkah, sementara panggilan adalah hidup kita. Profesi tetap ada selama kita bekerja atau dipekerjakan, tetapi ketika kita tidak lagi bekerja, kita kehilangan profesi tersebut atau beralih ke profesi lain. Namun, panggilan mendefinisikan siapa diri kita. Kita tidak kehilangan panggilan kita ketika kita berhenti bekerja; pada kenyataannya, panggilan kita memberikan identitas pada setiap tindakan kita. Beberapa panggilan hanya berhenti ketika kita mati, tetapi beberapa lainnya berlanjut hingga kekekalan.

Contoh terbaik yang kita miliki adalah Yesus, gembala yang baik. Yesus membedakan diri-Nya dengan ‘orang-orang upahan’ yang melakukan hal yang sama seperti gembala tetapi hanya untuk mendapatkan keuntungan. Dengan demikian, mereka akan memprioritaskan diri mereka sendiri, sehingga mereka lari dan meninggalkan kawanan domba ketika bahaya datang. Panggilan Yesus adalah sebagai gembala, oleh karena itu, domba-domba-Nya adalah bagian integral dari identitas Yesus. Seorang gembala bukanlah gembala tanpa domba-dombanya. Namun, tidak cukup hanya dengan menerima panggilan; kita harus menghidupi panggilan kita sepenuhnya. Seperti Yesus, tidak cukup hanya menjadi gembala biasa, tetapi Yesus memilih untuk menjadi gembala yang baik, gembala yang mengorbankan nyawa-Nya demi keselamatan domba-domba-Nya.

Ada beberapa jenis panggilan dalam Gereja Katolik. Pertama, panggilan kita adalah menjadi orang Kristen. Kemudian, ada yang dipanggil untuk hidup berumah tangga, sebagai suami dan istri, untuk berkeluarga, menjadi ayah dan ibu. Beberapa orang juga dipanggil untuk menjadi rohaniawan wanita dan pria, serta menjadi imam yang ditahbiskan. Semua itu merupakan panggilan karena panggilan-panggilan itu membentuk identitas, misi, dan kehidupan kita. Sebagai seorang bapa, dia tidak hanya melakukan hal-hal yang kebapakan; dalam segala hal yang ia lakukan, ia melakukannya sebagai seorang bapa. Hal yang sama juga berlaku untuk panggilan-panggilan lainnya.

Suatu hari, seorang umat datang dan menceritakan bahwa dia baru saja mengalami keguguran. Dia sangat sedih. Kehilangan bayi perempuannya sangat menyakitkan, dan tanpa seorang anak, dia percaya bahwa dia telah gagal menjadi seorang ibu. Kemudian, saya mengatakan bahwa dia tidak gagal, dan sekali dia menjadi seorang ibu, dia akan selalu menjadi seorang ibu. Meskipun ia kehilangan putrinya di dunia, ia masih memiliki putrinya di alam sana. Iman Katolik mengajarkan bahwa ia harus tetap mencintai putrinya meskipun dengan cara yang berbeda, yaitu dengan cara rohani. Panggilannya sebagai seorang ibu adalah abadi.

Kita semua memiliki panggilan, tetapi tidak cukup hanya dengan menerimanya. Seperti Yesus, gembala yang baik, kita harus memilih untuk menghidupi panggilan kita sepenuhnya.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP