No Excuse

Thirteenth Sunday of the Ordinary Time [C] – June 30, 2019 – Luke 9:51-62

carrying cross 2Today we listen to one of the most demanding and perhaps harsh teachings of Jesus. For those who follow Him, He demands total allegiance, and He shall become no less than their top priority in life. In both Jewish and Christian tradition, to honor our parents is one of the highest commandments. In fact, it is not a mere honoring, but it is to glorify [Hebrew word used is “kabad”] our parents. But, when a man asks Jesus to bury his father, Jesus tells him, “Let the dead bury the dead.” To one who requests to say goodbye to his family, Jesus says, “No one who sets a hand to the plow and looks to what was left behind is fit for the kingdom of God.” Very harsh. Is this truly Jesus whose heart is moved with pity towards the poor people? Is Jesus no longer observing the Ten Commandments?

We may uncover the reason at the beginning of the Gospel reading. Jesus knows the time has come for Him to go to Jerusalem, and He has set His face toward this city that will persecute, torture, and kill Him. The way of the cross has begun, and for those who wish to follow Him, it is no longer the time to be amused by His miracles or to be inspired by His preaching. They who desire to follow Jesus, shall also carry their cross with Jesus, and to walk with Jesus to His Calvary, one cannot but surrender his life to Jesus and make Jesus’s mission as his utmost concern.

However, we need to clarify also Jesus’ remarks that may sound too harsh. When Jesus says, “Let the dead bury the dead,” most probably the parent of that man is still very much alive, and he wishes to follow Jesus after his parent passes away. A subtle excuse not to follow Jesus. When Jesus says, “No one who sets a hand to the plow and looks to what was left behind is fit for the kingdom of God,” Jesus is alluding to the story of Elijah who called Elisha to follow him [1 Kgs 19:19-21]. When a prophet calls, the one summoned must respond immediately. Otherwise, the opportunity is gone for good. Jesus also points to the story of Lot’s wife. When the city of Sodom and Gomorrah were destroyed by God, the angel instructed Lot and his family to run and not to look back, and yet, his wife looked back. She became the pillar of salt [Gen 19:26]. Someone cannot effectively follow God’s words and new life in Christ if he always looks back and attaches himself to the past. Jewish farmers also know well the irony that when one plows the soil and keeps looking back at the result, he will just ruin the entire field. It is when one is focused and determined in his goal and decision, he will get the best result.

There is a story of an angel who appears to John. The angel said, “John, God calls you to serve Him.” John said, “Not now, I am still 18, and I want to focus on my study.” Then, the angel came again after some years. John said, “Not now, I am just 30, and I have my career.” Then, the angel appeared again after some year. John said, “Not now. I am just 40, and I have my family.” Then, the angel returned for the last time when John was 70. John said, “Now, I am ready to answer God’s calling.” The angel responded, “Yes, God calls you, but not to serve Him, but to see Him!”

A Christian who has a lot of excuses for Jesus is not a real Christian. It is only when we follow Him with determination, walk on His way of the cross without excuse, make Him as our top priority, we can humbly say that we are His disciples.

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Tanpa Melihat ke Belakang

Minggu Ketiga Belas pada Masa Biasa [C] – 30 Juni 2019 -Lukas 9: 51-62

carrying cross 3Hari ini kita mendengarkan salah satu ajaran Yesus yang paling sulit dimengerti dan diikuti. Bagi mereka yang ingin mengikuti Yesus, Dia menuntut kesetiaan total, dan menjadi prioritas utama mereka dalam hidup. Baik dalam tradisi Yahudi maupun Kristiani, untuk menghormati orang tua kita adalah salah satu perintah tertinggi dalam Sepuluh Perintah Allah. Tetapi, ketika seseorang meminta Yesus untuk menguburkan ayahnya, Yesus mengatakan kepadanya, “Biarkan orang mati menguburkan orang mati.” Kepada orang yang meminta untuk mengucapkan selamat tinggal kepada keluarganya, Yesus berkata, “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” Tidak terbayangkan! Apakah ini benar-benar Yesus yang hatinya tergerak oleh belas kasihan kepada orang-orang miskin? Apakah Yesus tidak lagi memperhatikan Sepuluh Perintah? Bagaimana kita bisa mengerti kata-kata Yesus yang keras ini?

Kita dapat mengungkap jawabannya di awal pembacaan Injil hari ini. Yesus tahu waktu-Nya telah tiba bagi-Nya untuk pergi ke Yerusalem, dan Dia telah mengarahkan wajah-Nya ke kota ini yang akan menganiaya, menyiksa, dan membunuh-Nya. Jalan salib Yesus telah dimulai, dan bagi mereka yang ingin mengikuti-Nya, bukan lagi waktunya untuk terhibur oleh mukjizat-mukjizat-Nya atau terinspirasi oleh khotbah-khotbah-Nya. Mereka yang berhasrat untuk mengikuti Yesus, juga harus memikul salib mereka bersama Yesus, dan berjalan bersama Yesus ke Kalvari. Mereka tidak bisa tidak menyerahkan hidup mereka kepada Yesus dan menjadikan misi Yesus sebagai perhatian utama mereka.

Namun, kita perlu mengklarifikasi juga ucapan Yesus yang mungkin terdengar terlalu keras. Ketika Yesus berkata, “Biarkan orang mati menguburkan yang mati,” orang tua dari yang bersangkutan sebenar masih hidup, dan dia ingin mengikuti Yesus setelah orang tuanya meninggal, yang tidak tahu kapan akan terjadi. Ini menjadi sebuah alasan halus untuk tidak mengikuti Yesus. Ketika Yesus berkata, “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” Yesus sebenarnya mengingatkan para pendengar-Nya tentang kisah Elia yang memanggil Elisa untuk mengikutinya [1Raj 19:19 -21]. Ketika seorang nabi memanggil, orang yang dipanggil harus segera merespons. Kalau tidak, kesempatan itu hilang untuk selamanya. Yesus juga menunjukkan kisah istri Lot. Ketika kota Sodom dan Gomora dihancurkan oleh Tuhan, malaikat itu memerintahkan Lot dan keluarganya untuk lari dan tidak melihat ke belakang, namun, istrinya melihat ke belakang. Dia menjadi tiang garam [Kej 19:26]. Seseorang tidak dapat secara efektif mengikuti kata-kata Tuhan dan memiliki kehidupan baru di dalam Kristus jika dia selalu melihat ke belakang dan melekatkan dirinya pada masa lalu. Para petani Yahudi juga tahu betul ironi bahwa ketika seseorang membajak tanah dan terus melihat ke belakang untuk mengecek hasilnya, dia hanya akan merusak seluruh ladang. Ketika seseorang fokus dalam tujuan dan keputusannya, ia akan mendapatkan hasil terbaik.

Ada kisah tentang seorang malaikat yang menampakkan diri kepada John. Malaikat itu berkata, “John, Tuhan memanggilmu untuk melayani Dia.” John berkata, “Tidak sekarang, aku masih 18 tahun, dan aku ingin fokus pada studiku.” Kemudian, malaikat itu datang lagi setelah beberapa tahun. John berkata, “Jangan sekarang, aku hanya 30, dan aku punya karier.” Kemudian, malaikat itu muncul lagi setelah beberapa tahun. John berkata, “Jangan sekarang. Saya baru berusia 40 tahun, dan saya punya keluarga. ”Kemudian, malaikat itu kembali untuk terakhir kalinya ketika Yohanes berusia 70 tahun. Yohanes berkata,“ Sekarang, saya siap untuk menjawab panggilan Tuhan.” Malaikat itu menjawab, “Ya, Tuhan memanggil kamu, tetapi tidak untuk melayani Dia, tetapi untuk menghadap Dia di surga!”

Seorang Kristiani yang memiliki banyak alasan untuk tidak mengikuti Yesus, dia bukanlah seorang Kristiani sejati. Hanya ketika kita mengikuti Dia dengan tekad, berjalan di jalan salib-Nya tanpa alasan, menjadikan Dia sebagai prioritas utama kita, kita dapat dengan rendah hati mengatakan bahwa kita adalah murid-murid-Nya.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Eating God

The Solemnity of the Body and Blood of Christ [June 23, 2019] Luke 9:11-17

benedict n first communicantToday the Church is celebrating the solemnity of the Body and Blood of Jesus Christ. In many countries like Indonesia, today is the best time for the children who are already prepared to receive their first Holy Communion. I still recall the day I partook of the sacred host and the holy wine. Many of us were around 10 years old, old enough to recognize the presence of Christ in the Eucharist and we were dressed in white. I was wearing long-sleeved white shirt with a tie and black pants. When the priest dipped the white bread into the chalice of wine and said, “the body and blood of Christ”, I said “Amen.” It was my first time to savor the sweetness of wine, and of course, alcoholic beverage!

At that moment, I just knew the reception of sacred host is necessary to complete the Eucharist, and I was aware I was receiving a blessing, but I never truly comprehend the profound meaning of the great mystery. For me, it was just enough that I attend the mass and consume the consecrated host. It has become a routine and tradition, from Sunday to Sunday, to from month to month, from year to year. Till we become parents and we also bring our children for their first communion. And when somebody asks us, “why do you bring your children to the first communion?”, our answer may be like, “Well, we want our kids to be like us. It is just a family tradition.” The answer is simple, but too simple that it draws more questions: why bread and wine? Why Body and Blood of Jesus? Why does it have to be eaten?

We often forget to realize that this sacred host and wine are the entire Jesus Christ Himself, with all humanity and divinity. Thus, God offers Himself to be eaten. Why eating God? The answers lie on the pages of our Old Testament. Firstly, we recall that our first parents fell because of the act of eating. Now, in the Eucharist, God uses the same act of eating to restore men and women into grace. Secondly, in the middle of the garden of Eden, there were two trees, the forbidden tree, the tree of the knowledge of good and evil, and the tree of life [Gen 2:9]. Unfortunately, our first parents chose to eat the fruits from the forbidden tree. Thus, to restore humanity to grace, now God offers us the fruits from the tree of life, the tree of the cross of Christ. Thirdly, we remember the first Passover was about the story of how God liberated Hebrew people from the slavery of Egypt. The Passover began with the slaughter of the lamb, and its blood was sprinkled on the doors of the Israelite house so that their firstborns would be saved from death. Yet, the slaughter and the sprinkling of blood were not the summit of Passover. The Hebrew people had to consume the lamb as to complete their first Passover [Exo 12:8]. Now, Jesus the Lamb of God, has been sacrificed on the cross, yet it is not the end. Like the Hebrew Passover, we need to consume the Lamb of God to complete our New Passover, the Eucharist.

There are so much themes and aspects we may ponder on the Eucharist, and particularly today, the Church reminds us that the Eucharist, especially the reception of the Holy Communion is not just our Sunday routine, a family tradition. It is of the essential plan of God for our salvation, so that we may have heaven, our Communion with God, the Holy Trinity.

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Memakan Tuhan

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus [23 Juni 2019] Lukas 9: 11-17

VATICAN-POPE-MEMORIALHari ini Gereja merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Yesus Kristus. Di banyak negara seperti Indonesia, hari ini adalah waktu terbaik bagi anak-anak yang sudah siap untuk menerima Komuni Suci pertama mereka. Saya masih ingat hari saya menerima hosti dan anggur suci. Banyak dari kami berusia sekitar 10 tahun, cukup dewasa untuk mengenali kehadiran Kristus dalam Ekaristi. Saya ingat bahwa saya mengenakan kemeja putih lengan panjang dengan dasi kecil dan celana hitam. Ketika pastor mencelupkan hosti putih ke dalam piala anggur, dan berkata “tubuh dan darah Kristus”, saya berkata “Amin.” Ini adalah pertama kalinya saya menikmati manisnya anggur, dan tentu saja, minuman beralkohol!

Pada saat itu, saya hanya tahu bahwa penerimaan hosti yang kudus diperlukan untuk melengkapi perayaan Ekaristi, dan juga menerima berkat, tetapi saya tidak pernah benar-benar memahami makna mendalam dari misteri agung ini. Bagi saya, cukuplah bahwa saya menghadiri misa dan mengonsumsi hosti yang dikuduskan. Hal ini telah menjadi rutinitas dan tradisi, dari Minggu ke Minggu, dari bulan ke bulan, dari tahun ke tahun. Mungkin banyak dari kita berpikiran yang sama dengan saya bahwa  ini hanyalah sekedar tradisi yang dihidupi sebagai seorang Katolik. Sampai saat kita menjadi orang tua dan kita juga membawa anak-anak kita untuk komuni pertama mereka. Dan ketika seseorang bertanya kepada kita, “mengapa Anda membawa anak-anak Anda ke komuni pertama?” Jawaban kita mungkin seperti, “Ya, kami ingin anak-anak kami seperti kami. Ini adalah tradisi keluarga. ”Jawabannya sederhana, tetapi terlalu sederhana sehingga memunculkan lebih banyak pertanyaan, seperti: Mengapa Tubuh dan Darah Yesus? Kenapa harus Tuhan harus dimakan?

Kita sering lupa untuk menyadari bahwa roti dan anggur yang kudus ini telah menjadi adalah Yesus Kristus yang seutuhnya, dengan segala kemanusian dan keilahian-Nya. Jadi, Tuhan sungguh menawarkan diri-Nya untuk dimakan. Kenapa harus memakan Tuhan? Jawabannya ada di Perjanjian Lama kita. Pertama, kita ingat bahwa orang tua pertama kita jatuh karena sebuah tindakan yakni makan. Sekarang, dalam Ekaristi, Tuhan menggunakan tindakan makan yang sama untuk memulihkan putra-putri dari Adam dan Hawa dalam rahmat. Kedua, di tengah taman Eden, ada dua pohon, yakni pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat yang adalah pohon terlarang, dan pohon kehidupan [Kej 2:9]. Sayangnya, orang tua pertama kami memilih untuk memakan buah dari pohon terlarang. Dengan demikian, untuk mengembalikan manusia kepada rahmat, sekarang Allah memberikan kepada kita buah-buah dari pohon kehidupan, dari pohon salib Kristus. Ketiga, kita ingat Paskah pertama adalah tentang kisah bagaimana Allah membebaskan orang-orang Ibrani dari perbudakan di Mesir. Paskah dimulai dengan penyembelihan anak domba, dan darahnya dipercikkan di pintu rumah orang Israel sehingga anak sulung mereka akan diselamatkan dari kematian. Namun, penyembelihan dan percikan darah bukanlah puncak dari Paskah Yahudi. Orang-orang Ibrani harus memakan domba untuk menuntaskan Paskah pertama mereka [Kel 12:8]. Sekarang, Yesus, Anak Domba Allah, telah dikorbankan di atas kayu salib, namun itu bukanlah puncaknya. Seperti Paskah Ibrani, kita perlu mengonsumsi Anak Domba Allah untuk menuntaskah Paskah Baru kita, yakni Ekaristi.

Ada begitu banyak tema dan aspek yang dapat kita renungkan tentang Ekaristi, dan khususnya hari ini, Gereja mengingatkan kita bahwa Ekaristi, khususnya penerimaan Komuni Kudus bukan hanya rutinitas hari Minggu kita, sebuah tradisi keluarga. Itu adalah rencana esensial Allah untuk keselamatan kita, agar kita bisa menerima kepenuhan hidup, bersekutu dengan Allah, Tritunggal Maha kudus.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Image of the Trinity

Trinity Sunday [John 16:12-15] June 16, 2019

sign of the crossThe distinctive mark of being Christian is the Holy Trinity. We share the claim of monotheism [only one God] with other prominent religions, yet our belief in one God in three divine persons enables us to stand unique among others. Doubtless, our God is one, yet the same undoubtedly, there are three persons in this one God. The Father is different from the Son and the Holy Spirit. The Son is also unique. And, the Holy Spirit maintains His personal identity. Yet, they remain always one! How is this possible?!

Relax! The greatest minds in the Church, like St. Augustine, St. Thomas Aquinas, and Benedict XVI, have tried to dive into the mystery, and yet they just scratched the surface of this highest Truth. This is the core of our faith, yet it is the most puzzling if not intriguing teaching of the Church. However, if this is the unfathomable mystery, why should we continue to ponder, live, and celebrate it? The answer lays on the faith God has planted in us.

Often, we think Trinity as far distant reality, but we forget that our daily lives as Christian are living within the Trinity. We were baptized, we were baptized in the name of the Father, of the Son and of the Holy Spirit. When we begin our prayer, we commence with the sign of the cross. This holy sign does not only point the victorious cross of Jesus but fundamentally to the Holy Name of Trinity. After we make the sign of the cross to open the Holy Mass, the priest will greet the people by saying, “The grace of the Lord Jesus Christ and the love of God and the fellowship of the Holy Spirit be with all of you.” This is the Trinitarian formula that comes St. Paul himself (see 2 Cor. 13:13). At the Eucharistic prayer, the core prayer of the Holy Mass, the priest in the name of the Church, asks the Father to send His Holy Spirit that He may transform the bread and wine to be the body and blood of Jesus Christ. At the heart of Eucharist, the source and summit of Christian worship, is the Holy Trinity. What I mention is just the tip of the iceberg on how the Trinity permeates our worship and prayer.

The real challenge is to live and celebrate the Trinity in our daily life. Our rule of prayer should be our rule of life, as well. “Lex orandi, Lex vivendi”. Otherwise, we will fall into the trap of double-life mentality. We become Christian only on Sunday, but we turn to be people who never know God on weekdays. A hypocrite!

To live in the Trinity means to manifest to our daily lives that we are the image of God, the image of Trinity.  If the Trinity is the God of justice, do we act justly to our ourselves, our neighbors and our earth? If the Trinity is the God of mercy, are we merciful and perform the traditional seven corporeal works of mercy [feed the hungry, give drink to the thirsty, clothe the naked, shelter the homeless, visit the sick, visit those imprisoned, and bury the dead]? If Trinity is the God who is love, do we love even the worst people in our lives and forgive our enemies? If Trinity is the God of Truth, are we eager to search for the truth around us or we uncritically believe in fake news?

We are people who are living in the name of the Father, of the Son and the Holy Spirit, and we are confidently looking forward to the day we are united to this Triune God.

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Citra Allah Tritunggal

Hari Raya Tritunggal Mahakudus [Yohanes 16: 12-15] 16 Juni 2019

sign of the cross 2Tanda khas menjadi Kristiani adalah iman kepada Tritunggal Mahakudus. Kita berbagi klaim monoteisme [hanya satu Tuhan] dengan agama-agama besar lainnya, namun kepercayaan kita pada satu Tuhan dalam tiga pribadi ilahi memungkinkan kita untuk berdiri secara unik di antara yang lain. Tidak diragukan lagi Allah kita adalah satu, namun tidak diragukan juga ada tiga persona dalam satu kodrat ilahi ini. Bapa berbeda dari Putra dan Roh Kudus. Sang Putra juga benar-benar unik. Dan, Roh Kudus menjaga identitas pribadi-Nya. Namun, mereka tetap selalu satu! Bagaimana ini mungkin?!

Tapi jangan kawatir! Pemikir-pemikir terhebat di Gereja, seperti St. Agustinus, St. Thomas Aquinas, dan Benediktus XVI, telah mencoba untuk menyelami misteri ini, namun mereka hanya menyentuh permukaan Kebenaran terbesar ini. Ini adalah inti dari iman kita, namun ini adalah ajaran Gereja yang paling sulit untuk dimengerti dan juga terkadang sulit diwartakan. Namun, jika ini adalah misteri yang tak terselami, mengapa kita harus terus merenungkan, menghidupi, dan merayakannya? Karena kita telah diciptakan dalam citra Allah Tritunggal.

Seringkali, kita menganggap Tritunggal sebagai realitas yang sangat jauh, tetapi kita lupa bahwa kehidupan keagamaan kita sehari-hari sebagai orang Katolik adalah kehidupan di dalam Trinitas. Kita dibaptis, kita dibaptis dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus. Ketika kita memulai doa kita, kita mulai dengan tanda salib. Tanda salib suci ini tidak hanya menunjukkan kemenangan Yesus, tetapi pada dasarnya adalah Nama Suci Tritunggal. Setelah kita membuat tanda salib untuk membuka Misa Kudus, imam akan menyapa umat dengan mengatakan, “Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus dan kasih Allah dan persekutuan Roh Kudus bersamamu.” Ini adalah formula Tritunggal yang berasal dari St. Paulus sendiri (lihat 2 Korintus 13:13). Pada doa Syukur Agung, yang adalah doa inti di Misa, sang imam atas nama Gereja, meminta Bapa untuk mengirimkan Roh Kudus-Nya agar Dia dapat mengubah roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Yesus Kristus. Di jantung Ekaristi, yang adalah sumber dan puncak dari liturgi kita, adalah Tritunggal Mahakudus. Apa yang saya sebutkan hanyalah puncak gunung es tentang bagaimana Tritunggal sungguh meresapi ibadah dan doa kita.

Tantangan sebenarnya adalah untuk hidup dan merayakan Tritunggal dalam kehidupan kita sehari-hari. Aturan doa kita harus menjadi aturan hidup kita juga. “Lex orandi, Lex vivendi”. Kalau tidak, kita akan jatuh ke dalam perangkap mentalitas ganda. Kita menjadi orang Kristiani hanya pada hari Minggu, tetapi kita menjadi orang yang tidak pernah mengenal Tuhan pada hari lain. Seorang munafik!

Hidup dalam Tritunggal berarti memanifestasikan kehidupan kita sehari-hari bahwa kita adalah citra Allah, citra Tritunggal. Jika Tritunggal adalah Allah keadilan, apakah kita bertindak adil terhadap diri kita sendiri, sesama kita, dan terhadap bumi kita? Jika Tritunggal adalah Tuhan kerahiman, apakah kita berbelas kasihan dan menjadikan tujuh karya kerahiman sebagai pola hidup kita? [memberi makan yang lapar, memberi minum kepada yang haus, memberi pakaian kepada yang telanjang, melindungi yang tidak memiliki rumah, mengunjungi yang sakit, mengunjungi yang dipenjara, dan mengubur yang meninggal]? Jika Tritunggal adalah Tuhan yang adalah kasih, apakah kita mencintai orang-orang terburuk dalam hidup kita dan mengampuni orang yang menyakiti kita? Jika Tritunggal adalah Allah Kebenaran, apakah kita terus mencari kebenaran di sekitar kita atau kita mudah percaya pada hoaks?

Kita adalah orang-orang yang hidup dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus, dan kita dengan penuh keyakinan menanti hari kita dipersatukan dengan Allah Tritunggal.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Heart

Reflection on the 8th Sunday in Ordinary Time [March 3, 2019] Luke 6:39-45

prisoner prayer
Prisoner praying during church ceremony at Naivasha Maxium Security Prison. During the church service some prisoners pray on their own. – 24.11.2012. Copyright: Ulrik Pedersen

These past three Sundays, we have been listening on the series of Jesus’ teachings given at the Plain [Luk 6:20-49]. Two Sundays ago, we read about the Beatitudes. This is the set of conditions that leads us to true happiness and blessedness. Last Sunday we discover some practical steps to achieve this Beatitude, like we shall love our enemies. And this Sunday, we find the heart of Jesus’ teachings: it is the formation of the heart.

In our contemporary world, the heart generally symbolizes the source of affection, passion and love. Filipinos love basketball, and they give their best support every time their national team compete in international tournaments. Their battle cry is “Laban! Puso!” literally translated as “Fight! Heart!” Surely, the heart here refers to the burning passion to overcome enormous challenges during the ball game.

When a lady is not sure whether to accept or not a man to be her boyfriend, we often advise her to follow her “heart”. When she has a new boyfriend and is in love, she calls him as her “sweetheart”. But, when she suddenly loses her boyfriend because of unexpected betrayal, she suffers an immense “broken heart”. Because of this traumatic experience, she refuses to love anymore, and she now possesses “the heart of stone.” Surely, a lot of hearts!

However, the word “Heart” in Bible has a slightly different meaning from our common understandings. Heart in the Bible is not just the source of our emotional life, but the center of the human life, vitality and personality. It is also the seat of human intellect, judgment and conscience. Thus, when Jesus says “A good person out of the store of goodness in his heart produces good…” it does not simply mean that person has the emotions that support him in doing good. It means a person has a fundamental judgement, stable attitude and permanent character to choose and do good, despite the contrary feelings he has. Good-hearted person can do good even person he hates. For Jesus, heart is not only affection, but it is also action.

In the context, the formation of the heart means the formation of the entire human person. Jesus understands that unless we possess the characters of a good man or woman, we are just staging a play, and become hypocrites [meaning actors] before other people.

How are we going to form our hearts? Jesus gives us a hint as He says, “from the fullness of the heart the mouth speaks.” The question then is: what fills our hearts? It is evil and wicked things, or good and holy things?

I am currently assigned in General Santos City, Mindanao, Philippines, and one of the highlights of my stay is when I visit and celebrate mass with the female inmates in the city jail. At first, I was hesitant and afraid to interact with them as I perceived them as being “criminals”. These are women with “wicked hearts”. But, I was totally wrong. When I prayed with them, I witnessed women prayed earnestly and deeply in faith. I met this woman, just call her Mary, and I listened to her story. She has been in the prison for five years, and due to ineffective justice system, her trial is still on going. She is a single mother with five children. She was caught using drugs, and she admitted it to escape from the reality of harsh life. She was crying as she narrated her story. And, I asked her what made endure her terrible situation. She simply answered, “I have God in my heart.”

We are living in much better condition than Mary, but do we have God in our heart? What fills our heart? Do we fill our hearts with Godly things? Do we allow God to reign in our hearts?

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Hati

Renungan pada Minggu ke-8 pada Masa Biasa [3 Maret 2019] Lukas 6: 39-45

bible-in-jailTiga hari Minggu terakhir ini, kita telah mendengarkan serangkaian ajaran Yesus yang diberikan di Dataran [Luk 6]. Dua Minggu yang lalu, kita membaca tentang Sabda Bahagia. Ini adalah serangkaian kondisi yang menuntun kita menuju kebahagiaan dan berkat sejati. Minggu lalu kita mendapatkan beberapa langkah praktis untuk mencapai Sabda Bahagia ini. Dan hari Minggu ini, kita menemukan inti dari ajaran Yesus: ini adalah pembentukan hati manusia.

Di dunia kontemporer, “hati” umumnya melambangkan sumber kasih sayang, perasaan, dan cinta. Orang Filipina sangat senang dengan permainan bola basket, dan mereka memberikan dukungan terbaik mereka setiap kali tim nasional mereka bersaing di turnamen internasional. Seruan mereka bagi tim national mereka adalah “Laban! Puso! ”Secara harfiah diterjemahkan sebagai“ Berjuang dengan sepenuh hati! ”Tentunya, hati di sini mengacu pada hasrat yang membara untuk mengatasi tantangan besar di setiap pertandingan.

Ketika seorang wanita tidak yakin harus menerima atau tidak seorang pria menjadi kekasihnya, kita sering menasihatinya untuk mengikuti  kata “hati”-nya. Ketika dia memiliki kekasih baru dan sedang jatuh “hati”, dia memanggilnya sebagainya sebagai “belahan hati”. Tapi, ketika dia tiba-tiba kehilangan kekasihnya karena pengkhianatan yang tak terduga, dia menderita “patah hati” yang sangat mendalam. Karena pengalaman traumatis ini, ia menolak untuk mencintai lagi, dan sekarang ia “berhati batu.”

Namun, kata “Hati” dalam Alkitab memiliki arti yang sedikit berbeda. Hati di dalam Alkitab bukan hanya sumber kehidupan emosional kita, tetapi juga pusat kekuatan hidup, dan kepribadian manusia. Ini juga merupakan tahta hati nurani manusia, akal budi dan kebebasan. Jadi, ketika Yesus berkata, “Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik …” ini bukan hanya berarti bahwa orang tersebut memiliki perasaan-perasaan yang mendukungnya melakukan perbuatan baik. Ini berarti seseorang memiliki orientasi mendasar, sikap stabil dan karakter permanen untuk memilih dan berbuat baik, walaupun terkadang perasaannya tidak mendukungnya berbuat baik. Bagi Yesus, hati bukan hanya perasaan, tetapi juga tindakan.

Dalam Kitab Suci pembentukan hati berarti pembentukan manusia secara total. Yesus memahami bahwa kecuali kita memiliki karakter pria atau wanita yang baik, kita hanya melakukan sandiwara, dan menjadi orang munafik di hadapan orang lain.

Bagaimana kita akan membentuk hati kita? Yesus memberi kita petunjuk ketika Dia berkata, “dari kepenuhan hati, mulut berbicara.” Pertanyaannya kemudian adalah: apa yang memenuhi hati kita? Apakah hal-hal yang jahat, atau hal yang baik dan suci?

Saat ini saya ditugaskan di General Santos City, Mindanao, Filipina, dan salah satu hal yang paling berkesan selama saya tinggal di sini adalah ketika saya mengunjungi dan merayakan misa bersama para narapidana wanita di penjara kota ini. Pada awalnya, saya ragu-ragu dan takut untuk berinteraksi dengan mereka karena saya menganggap mereka sebagai “criminal”.  Ada pemikiran bahwa mereka adalah wanita-wanita dengan “hati yang jahat”. Kalo hati mereka baik, kenapa harus masuk penjara? Tapi, saya benar-benar salah. Ketika saya berdoa bersama mereka, saya menyaksikan para wanita berdoa dengan kepenuhan iman. Sesuatu hal yang saya jarang lihat di luar penjara. Saya juga berbicara dengan seorang wanita, sebut saja namanya Maria. Dia telah berada di penjara selama lima tahun, dan karena sistem peradilan yang tidak efektif, persidangannya masih berlangsung, dan dia tidak tahu sampai kapan. Dia adalah ibu tunggal dengan lima anak. Dia kedapatan menggunakan narkoba, dan dia mengaku menggunakan narkoba karena ingin melarikan diri dari kenyataan hidup yang keras. Dia menangis ketika dia menceritakan kisahnya. Dan, saya bertanya kepadanya apa yang membuat dia bertahan dalam situasi yang mengerikan itu. Dia hanya menjawab, “Saya memiliki Tuhan di hati saya.”

Kita hidup dalam kondisi yang jauh lebih baik daripada Maria, tetapi apakah kita memiliki Allah di dalam hati kita? Apa yang memenuhi hati kita? Apakah kita mengisi hati kita dengan hal-hal yang saleh? Apakah kita membiarkan Tuhan berkuasa di hati kita?

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Merciful like the Father

7th Sunday in Ordinary Time [February 24, 2019] Luke 6:27-38

Last week, we listened to the core teaching of Jesus Christ, the Beatitudes. This is the set of conditions that leads a person to blessedness or true happiness. This Sunday, we discover the practical steps on how to achieve this genuine joy. Last week, we learned that Jesus’ Beatitudes is the reversal of worldly order of happiness. For the world, to become greedy rich, violently powerful, and sexually potent are the conditions for happiness. Jesus reverses the order and says that those who are generous, gentle, merciful, and chaste are the ones who are truly happy.

As the Beatitudes are the reversal of worldly order, so also Jesus’ practical teachings on how to achieve these Beatitudes. The world tells us to seek revenge, a tooth for a tooth, an eye for an eye, but Jesus teaches us to forgive, to bless those who curse us, and to pray for those who mistreat us. The world tells us to give something and expect something in return. It is business and investment. But, Jesus instructs us to give in the generosity of heart, without counting the cost, without expecting something in return. The world tells us to love people who love us back and to hate people who hate us, but Jesus preaches that we shall love our enemies and do good to who hate us.

Jesus’ instructions are easier said than done, and in fact, they go against the natural tendencies we have. We may forgive people who do petty and unintentional mistakes, like someone who steps on our foot. However, how are we going to love someone who bullies us, lowers our self-esteem, and causes us depression? How are we going to forgive someone betrays our trust, steals from us, and makes use of us for their personal interest? How are we going to accept someone who sexually and physically abuses us? How are we going to do good to someone who murdered a member of our family? How are we going to forgive someone who never asks our forgiveness?

Human as we are, it is nearly impossible to follow Jesus’ teachings. Yet, it is not totally impossible because we are not animals who blindly follow instincts, but we are created in the image of God who is mercy. Jesus does not teach us the impossible because He knows who we truly are, the children of God. If God can be merciful to the wicked and the ungrateful, if He showers rain for the good and the bad, if He provides for the saints and sinners, we have the potential to imitate Him.

Last Sunday, January 24, in the middle of the Eucharist celebration, two bombs exploded inside and outside the Cathedral of Our Lady of Mount Carmel, July, Philippines. They killed more than 20 mass-goers and injured a hundred more people. Every victim has a story, and every soul has a family. Daisy Delos Reyes, Rommy Reyes and his wife Leah are several regular mass-goers who actively served in the Church. Their bodies were blown apart and deformed. It was so painful, and the people close to them cannot but be in a rage. However, hatred will not solve anything and vengeance never bring true peace. Our brothers and sisters in Jolo were shattered, but they rise from the ashes and rebuild their Church and faith.

Quoting Ed Sheeran, an English singer and songwriter, in his song “Photograph”

“Loving can hurt, loving can hurt sometimes

But it’s the only thing that I know

When it gets hard, you know it can get hard sometimes

It is the only thing that makes us feel alive”

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Berbelas Kasih seperti Bapa

Minggu ke-7 dalam Masa Biasa [24 Februari 2019] Lukas 6: 27-38

Hendaklah kamu berbelas kasih, sama seperti Bapamu adalah berbelas kasih (Lk. 6:36)

father and child 2Minggu lalu, kita mendengarkan ajaran Yesus Kristus tentang Sabda Bahagia. Ini adalah serangkaian kondisi yang menuntun seseorang menuju hidup berkat atau kebahagiaan sejati. Minggu ini, kita menemukan langkah-langkah praktis tentang cara mencapai kebahagiaan sejati ini. Minggu lalu, kita belajar bahwa Sabda Bahagia Yesus adalah kebalikan dari tatanan kebahagiaan duniawi. Bagi dunia, menjadi tamak akan kekayaan, berpengaruh, terkenal, dan kuat secara seksual adalah syarat untuk kebahagiaan. Yesus membalik tatanan ini dan mengatakan bahwa mereka yang murah hati, berbelas kasih dan murni hatinya adalah mereka yang benar-benar bahagia.

Karena Sabda Bahagia adalah kebalikan dari tatanan duniawi, demikian juga ajaran praktis Yesus tentang bagaimana mencapai Sabda Bahagia ini. Dunia memberi tahu kita untuk membalas dendam, gigi ganti gigi, mata ganti mata, tetapi Yesus mengajarkan kita untuk mengampuni, memberkati orang-orang yang mengutuk kita, dan berdoa bagi mereka yang menganiaya kita. Dunia memberi tahu kita untuk memberikan sesuatu dengan mengharapkan balasannya. Ini bisnis dan investasi. Tetapi, Yesus memerintahkan kita untuk memberi dalam kemurahan hati, tanpa menghitung biayanya, tanpa mengharapkan imbalan. Dunia memberitahu kita untuk mencintai orang yang mencintai kita dan membenci orang yang membenci kita, tetapi Yesus mengajarkan bahwa kita mengasihi musuh kita dan berbuat baik kepada siapa yang membenci kita.

Instruksi Yesus sangat sulit karena pada kenyataannya, itu bertentangan dengan kecenderungan alami yang kita miliki. Kita mungkin memaafkan orang yang melakukan kesalahan kecil dan tidak disengaja, seperti seseorang yang menginjak kaki kita. Namun, bagaimana kita akan mangasihi seseorang yang menindas kita, menurunkan harga diri kita, dan menyebabkan depresi? Bagaimana kita akan memaafkan seseorang yang mengkhianati kepercayaan kita, mencuri dari kita, dan memanfaatkan kita untuk kepentingan pribadi mereka? Bagaimana kita akan menerima seseorang yang melakukan pelecehan seksual dan fisik terhadap kita? Bagaimana kita bisa berbuat baik kepada seseorang yang membunuh anggota keluarga kita? Bagaimana kita akan memaafkan seseorang yang tidak pernah meminta pengampunan kita?

Manusia seperti kita, hampir mustahil untuk mengikuti ajaran Yesus. Namun, itu tidak sepenuhnya mustahil karena kita bukan binatang yang secara membabi buta mengikuti naluri, tetapi kita diciptakan menurut citra Allah yang berbelas kasihan. Yesus tidak mengajarkan kita hal yang mustahil karena Dia tahu siapa kita sebenarnya, anak-anak Allah. Jika Allah bisa berbelas kasih kepada yang jahat dan yang tidak tahu berterima kasih, jika Ia menurunkan hujan untuk yang baik dan yang buruk, jika Ia menyediakan bagi orang kudus dan orang berdosa, kita juga bisa menjadi seperti Dia.

Beberapa Minggu lalu, 24 Januari, di tengah perayaan Ekaristi, dua bom meledak di dalam dan di luar Katedral Our Lady of Mount Carmel, Jolo, Filipina. Aksi ini menewaskan lebih dari 20 jemaat dan melukai seratus orang lebih. Setiap korban memiliki cerita, dan setiap jiwa memiliki keluarga. Daisy Delos Reyes, dan juga Rommy Reyes dan istrinya Leah adalah beberapa orang yang secara rutin menghadiri misa dan aktif melayani di Gereja. Tubuh mereka hancur berantakan dan tak dikenali. Itu sangat menyakitkan, dan orang-orang yang dekat dengan mereka tidak bisa tidak marah. Namun, kebencian tidak akan menyelesaikan apa pun dan pembalasan dendam tidak pernah membawa kedamaian sejati. Saudara dan saudari kita di Jolo hancur, tetapi mereka bangkit dari reruntuhan dan membangun kembali Gereja dan iman mereka. Memang, itu tidak mudah, tetapi itu karena Bapak kita adalah Allah yang berbelas kasih.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP